
Pulang dari kuliah aku segera pulang ke kontrakan untuk mandi dan mengambil puding yang sudah aku buat untuk menjenguk kak Zen. Lalu aku segera pergi ke rumah sakit menaiki bus untuk menjenguk Kak Zen.
Aku merasakan sebuah getaran dari dalan tasku, dan aku segera mengambil ponselku. Ternyata ada sebuah pesan dari Haku.
📱 Hati-hati ke rumah sakitnya ya. Dan jangan pulang terlalu malam lagi. Haku
Aku mengetik pesan balasan untuk Haku.
📱Iya. Aku akan pulang sebelum jam 8 Pm kok. Kamu sudah di kampus, Haku?
Aku memencet tombol kirim. Dan beberapa saat Haku sudah membalas pesanku lagi.
📱Iya. Semangat! Aku tidak sabar menunggu akhir pekan tiba.
Aku sedikit tersenyum membaca pesan itu. Dan aku segera membalas pesannya.
📱Oh ya? Aku malah sedikit berdebar mengingat akhir pekan kita akan makan malam bersama keluarga pamanku.
Tak lama kemudian Haku sudah membalas pesanku lagi.
📱Benar. Semoga mereka akan menyukaiku ya. Aku merasa sedikit nervous ...
📱Mengapa tidak? Pasti mereka akan menyukaimu kok. ^^
Bus berhenti di halte dekat rumah sakit, dan aku segera turun. Aku mulai melangkahkan kaki memasuki rumah sakit. Tak sengaja aku bertemu dengan kak Ave yang juga baru memasuki rumah sakit.
Aku berusaha menyapanya walaupun aku masih sedikit takut padanya. Mengingat saat itu, jujur saja aku masih sedikit takut untuk berbicara padanya.
"Sore, Kak!" aku sedikit membungkukkan badan saat sudah di dekatnya. Ternyata dia juga sedang menungguku.
"Hhm. Ayo!" balasnya dengan sedikit nada rendah.
Lalu kita mulai berjalan beriringan untuk ke kamar kak Zen di rawat. Di sepanjang jalan aku hanya terdiam saja, hingga kak Ave memulai membuka pembicaraanya kembali.
"Maaf ya. Saat itu aku sudah marah-marah padamu." ucap Kak Ave tiba-tiba. "Aku hanya khawatir dengan Zen. Aku takut dia pergi begitu saja."
"Daijoubu. Aku mengerti kok, Kak." ucapku pelan sambil terus berjalan di samping kak Ave.
"Tapi kini aku sedikit lega. Zen sudah bangun kembali. Bahkan dia juga melupakan kenangan masa kecilnya."
"Hhm. I-Iya..."
Akhirnya kita sudah tiba di depan ruangan kak Zen dirawat. Dan kita mulai memasukinya. Ternyata di dalam ada kak Misha. Kak Misha sedang menyuapi kak Zen rupanya.
__ADS_1
"Hai, Sory aku baru datang. Dosen memberiku sedikit tugas tadi." sahut kak Ave lalu duduk di sofa.
"Well. Okay. Kan ada aku yang menjada Zen!" sahut kak Misha sambil menyuapi kak Zen kembali.
"Uhm .... Aku bawa puding untuk kakak." ucapku lalu meletakkan puding itu di atas meja.
Kak Zen menatap ke arah puding itu dan tersenyum.
"Thanks ya, Yuko." ucap kak Zen ramah. "Misha, aku mau puding itu ..." kata kak Zen lalu menatap kak Misha.
"Hhm. Baiklah ..." sahut kak Misha lalu mengambil sekotak puding itu. Dia membukanya lalu menyuapi kak Zen perlahan.
"Kau pandai membuat puding, Yuko! Ini enak sekali!" ucap kak Zen berbinar.
"Aku hanya belajar otodidak, Kak." ucapku sedikit malu.
"Tapi ini memang enak kok. Kau mau coba, Misha?" kak Zen mengambil sendok lalu menyuapi kak Misha.
Aku sedikit terkejut melihat situasi ini. Tidak biasanya kak Zen seperti ini. Bahkan biasanya dia terlihat sedikit pendiam.
"Bagaimana menurutmu, Misha?" tanya kak Zen membulatkan matanya menatap kak Misha.
"Zen benar! Ini enak sekali, Yuko! Boleh kakak belajar padamu?" kata kak Misha bersemangat.
"Baiklah, kapan-kapan kakak akan ke rumahmu deh untuk belajar membuat puding." kata kak Misha lalu kembali menyuapi kak Zen lagi.
"Kapan kau boleh pulang, Zen?" tanya Kak Ave yang sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
"Besok aku sudah boleh pulang kok." sahut kak Zen. "Dan semoga saja pekan depan aku sudah bisa pergi ke kampus."
"Yeap. Mereka semua sudah sangat merindukanmu, Zen! Apalagi mahasiswi yang pernah kau ajar!" canda kak Ave sedikit tertawa kecil.
Kak Zen hanya tersenyum lebar menampakkan deretan gigi putihnya yang tersusun sangat rapi.
"Kenapa sih kau tidak memacari salah satu dari mereka?" canda kak Ave lagi.
"Tidak. Aku belum menemukan gadis yang tepat, Ave." sahut kak Zen sedikit termenung.
"Memang seperti apa sih kriteria gadis impianmu?"
"Aku sendiri sangat bingung. Dan aku juga tidak tau kenapa sampai saat ini aku juga belum memiliki kekasih ..." ucap kak Zen sedikit termenung.
"Sudahlah, Ave! Zen belum benar-benar pulih. Jangan membahas hal seperti itu!" kata kak Misha.
__ADS_1
"Misha. Kenapa kau tidak mencobanya saja dengan Zen? Kalian juga terlihat sangat serasi ..." lagi-lagi kak Ave terkekeh.
"Bicara apa kau, Ave! Aku dan Zen tidak akan memiliki hubungan seperti itu!"
"Benarkah? Tapi ucapan dan sikapmu sangat tidak sinkron, Misha. Kau selalu menangisi Zen saat dia koma. Setiap hari kau selalu menangis disisinya." guman Kak Ave sedikit menggoda kak Misha.
Seketika aku melihat wajah kak Misha yang sedikit merona. Dan kak Zen hanya tersenyum samar menatap kak Misha.
"Benarkah itu, Misha?" tanya kak Zen akhirnya.
"Oh! Itu karena aku sangat khawatir padamu! Kau sudah sangat dekat denganku. Kita sudah seperti saudara. Bukannya kau tau itu?" ucap kak Misha yang menurutku sedikit salah tingkah.
Kak Ave dan kak Zen kini malah tertawa kecil melihat tingkah kak Misha.
Oh, rasanya aku disini seperti patung saja. Seharusnya aku tidak datang tadi. Lagian sudah selalu ada teman-teman kak Zen yang sangat peduli dengannya. Lebih baik aku pulang saja.
"Kak. Aku ijin pamit dulu ya." ucapku menyela obrolan mereka bertiga.
"Kenapa cepat sekali, Yuko?" sahut Kak Zen sambil menatapku. "Kau bahkan baru datang."
"Benar, Yuko. Kenapa buru-buru mau pulang?" tambah kak Ave.
"Uhm. Iya, Kak. Aku harus segera mengerjakan tugas kuliah juga." sahutku.
"Oh begitu. Baiklah. Hati-hati ya. Dan terima kasih untuk puding hari ini." kata kak Zen ramah dan dihiasi oleh senyuman khasnya.
"Iya, Kak. Kalau begitu aku permisi." ucapku lalu membungkukkan badanku dan segera meninggalkan ruangan itu.
"Hati-hati, Yuko!" teriak kak Misha padaku.
Aku menoleh dan tersenyum menatap kak Misha lalu menganggukkan kepalaku.
Aku mulai berjalan menyusuri lorong rumah sakit ini. Dan aku memutuskan untuk segera pulang saja.
Semoga saja kali ini kak Zen benar-benar akan menemukan kebahagiaanya. Kakak juga harus bahagia! Meskipun tidak bersama dengan gadis kecil itu!
Meskipun kakak sudah berusaha untuk mencari gadis kecil itu dan hampir 15 tahun kakak menunggunya. Bahkan kakak rela untuk mempertaruhkan nyawa malam itu untuknya.
Namun takdir tetaplah tidak bisa berubah. Kakak tetap tidak akan bersama dengannya. Bahkan saat ini kakak sudah benar-bebar melupakannya. Melupakan potongan kenangan-kenangan itu, kenangan yang indah namun kini sangat menyakitkan.
Kak, Zen. Semoga engkau segera menemukan kebahagianmu.
__ADS_1