
POV HAKU
14 Februari 2020.
Pagi ini aku bangun dan langsung mandi. Hari ini sekolahanku akan mengadakan wisata ke Edo Museum. Yeap, setidaknya mengurangi rasa bosan tidak berada dalam kelas terus. ๐๐
"Ayah, Ibu. Aku berangkat ya." aku langsung ngeloyor pergi setelah sarapan. Tak lupa kucium ibuku tersayang.
"Haku, tumben sekali kau begini." kata ibuku keheranan melihat sikapku hari ini.
"Paling ada maunya aja tuh kak Haku." kata Mirae, adikku curiga.
"Jangan berburuk sangka terus donk sama kakakmu ini!" teriakku karena aku sudah berada di depan pintu memakai sepatuku.
Sementara ayahku masih sibuk membaca koran paginya.
Aku berangkat ke sekolah dengan menaiki bus. Dan aku bertemu dengan Kiro sahabatku. Lalu aku langsung duduk disebelahnya.
"Haku, kau terlihat senang sekali. Ada apa?" tanya Kiro penasaran.
"Ehm, Kau tau tugas Fisika dari Pak Tatsuya?"
"Hhm. Yang kita disuruh buat radio?"
"Yeap.." aku nyengir lebar.
"Apa hubungannya tugas itu sama mukamu yang berseri-seri hari ini?" Kiro terlihat sangat bingung memperhatikanku.
"Bukannya harusnya dikumpulkan hari ini?"
"Yeap. Lalu?"
"Kelas kita hari ini dialihkan dengan kunjungan ke Edo Museum. Jadi tugas Fisikanya deadlinenya diundur jadi minggu depan. Ini sungguh keren sekali, Kiro! " kataku bersemangat. "Kau tau, aku lupa belum mengerjakan tugas itu soalnya. Ahaha... Memang aku sedang beruntung deh kayaknya." aku terkekeh.
"Ah, Kau ini!" Kiro menimpukku dengan ranselnya. "Kukira kau sedang ditembak cewek karena terlihat bahagia sekali." kata Kiro sedikit kecewa mendengar jawabanku.
"Ah, Kalau soal itu kan kau juga tau, Kiro." aku tersenyum membayangkan seseorang. Seseorang yang mampu meluluhkan hatiku untuk pertama kalinya. Bahkan sampai sekarang aku masih mengingat dia. Sudah 9 tahun aku tak bertemu dengannya. Aku bahkan tak berani menanyakan kabarnya. Begitu pengecut sekali kan aku ini?
Hhm.. Aku tumbuh menjadi seorang cowok yang sangat pemalu dan sedikit pendiam. Sebenarnya aku sering mendapatkan surat pernyataan cinta dari gadis-gadis ditempatku sekolah. Tapi aku tak terlalu menanggapinya.
__ADS_1
Aku lebih suka menghabiskan waktuku dengan membaca komik dan bermain game bersama Kiro. Tak sedikitpun aku berniat pacaran dengan gadis-gadis itu. Karena aku hanya menunggu dia, Yuko. Yeap, aku selalu menunggunya. Menunggu kehadirannya di Tokyo.
Aku membuka ponselku dan melihat Instagram dia.
Aku tertawa kecil melihat foto-foto lucunya bersama teman-temannya. Salah satu temannya menandai fotonya dan memberikan julukan padanya "Si Ratu Jomblo". Lagi-lagi aku tertawa sendiri sambil melihat ponselku.
Ternyata Yuko juga masih sendirian ya? Apa dia juga sedang menungguku selama ini ya? Ah kapan sih dia datang ke Tokyo? Dia kan sudah janji padaku dulu akan datang ke Tokyo.
"Hei, sampai kapan kau akan jadi stalker seperti ini? Kau membuatku merinding deh." kata Kiro membuyarkan anganku. "Cepat kau hubungi dia deh! Mau sampai kapan kau akan melihatnya dari kejauhan terus?!" kata Kiro sedikit kesal melihatku yang seperti ini.
"Aku malu, Kiro. Aku kan tidak punya pengalaman percintaan." kataku sedikit minder. "Kau ajari aku donk!" pintaku padanya.
"Ish..! Kau mau berguru padaku? Bahkan aku saja belum pernah pacaran tau!!" sahut Kiro.
"Cukup kau hubungi dan tanyakan kabarnya! Itu saja dulu! Maka perlahan semua akan mengalir dengan alami."
"Apa tidak apa-apa jika aku menghubunginya?" tanyaku polos. "Aku sungguh tegang sekali, Kiro! Membayangkannya saja sudah membuat jantungku berdegup kencang sekali!" aku menarik tangan Kiro dan meletakkan di dadaku.
"Haku! Kau ini sungguh!" Kiro dengan cepat menarik tangannya lagi.
"Oke! Oke! Aku akan mencoba menghubunginya nanti malam deh." kataku akhirnya.
"Oke!"
Baiklah! Aku akan mencoba untuk menghubungi Yuko nanti malam. Semoga saja aku bisa mengatasi ke-grogi-anku deh nanti malam.๐ญ
...***...
Pukul 9 kita semua sudah sampai di Edo Museum. Aku dan teman-temanku mulai memasuki museum itu. Aku merogoh ponselku di saku jaketku, tapi tidak ada. Lalu kubuka ranselku untuk mencari ponselku. Dan ternyata juga tidak ada. Ah, pasti ketinggalan di bus deh. Aku meminta ijin untuk kembali ke bus untuk mengambil ponselku yang tertinggal.
Sesampai di bus aku mencarinya. Dan benar saja, ponselku ketinggalan di kursi bus yang aku duduki tadi. Lalu aku memutuskan untuk kembali menyusul rombonganku. Tapi belum sampai masuk Museum aku tak sengaja bertemu Ayumi, sepupu jauhku yang selama ini tinggal di Hokkaido.
"Haku, Kaukah itu?" katanya tak percaya.
"Ayumi?" tanyaku tak percaya juga.
"Iya. Apa kabar, Haku?" katanya sambil tersenyum lebar.
"Baik. Kau sendiri?"
__ADS_1
"Yah, Beginilah. Aku baik." dia tersenyum lebar. "Kau sedang apa disini?"
"Kelasku ada wisata hari ini. Kau sendiri?"
"Aku juga sedang ada wisata dengan teman sekelasku."
"Wah.. Bisa kebetulan begini ya." aku tertawa kecil. Dia juga ikut tertawa.
Aku dan dia mengobrol asyik sambil berjalan menyusuri jalan menuju pintu masuk Edo Museum. Hingga tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggil namaku.
"Haku...!!" teriaknya.
Aku menoleh kearahnya. Kulihat seorang gadis berada diseberang jalan. Aku terdiam mematung melihatnya. Aku bahkan seperti tak percaya dengan apa yang kulihat saat ini.
Aku melihat seorang gadis yang begitu familiar. Meski sudah lama aku tak bertemu dengannya.
Yuko. Bukankah itu Yuko? Sedang bermimpikah aku saat ini? Kaukah itu? Tatapannya wajahnya penuh dengan kekhawatiran. Ada apa? Apa yang sedang terjadi?
Yuko segera berlari kearahku. Berlari dengan sangat cepat, mengerahkan seluruh tenaganya. Aku masih terdiam mematung melihatnya. Aku belum bisa mencerna apa yang sedang terjadi saat ini.
"Haku..!! Awas..!!" Yuko berlari dengan sangat cepat kearahku. Dia mendorong tubuhku dan Ayumi hingga membuat kita terjatuh. Tapi Yuko sedikit terserempet oleh sebuah mobil yang kebetulan melaju dengan sangat kencang. Dan kepalanya terbentur pembatas jalan.
Aku segera bangun untuk menghampiri Yuko yang terjatuh di aspal. Aku segera meraih dan memangkunya. Oh tidak..!! Banyak darah yang keluar dari kepalanya.
Aku sempat melihat Yuko tersenyum manis padaku sambil mengelus pipiku, hingga akhirnya dia memejamkan matanya.
"Yuko..!! Bangun, Yuko..!!" kataku sangat panik. "Ayumi, cepat kau telpon ambulance!" perintahku. Ayumi dengan cepat langsung menghubungi ambulance.
"Yuko, kau harus bertahan! Kau harus kuat!" kataku sangat panik.
Tak lama ambulance pun datang. Aku dan Ayumi segera membawanya ke rumah sakit terdekat.
Di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit aku tak pernah melepas genggamanku untuknya.
Aku sangat ketakutan sekali saat ini. Tubuhku bergetar sangat hebat. Aku takut dia kenapa-kenapa. Aku takut sekali.
Wajahnya sangat pucat. Dan darah ini masih mengalir terus. Tuhan, jangan kau ambil dia!
"Yuko. Bertahanlah!" kataku sudah hampir menangis saja. "Kau harus kuat!"
__ADS_1
...***...