
Kini Kak Zen dipindahkan ke ruang ICU. Sementara Kak Ave dan aku masih di luar ruangan menunggu hingga para perawat keluar dari ruangan kak Zen. Dan setelah beberapa saat perawat-perawat itupun keluar dari ruangan kak Zen.
"Bolehkah aku masuk, Kak?" tanyaku kepada kak Ave.
"Masuklah! Dia sangat membutuhkanmu ..." ucap kak Ave pelan. Entah apa maksud kak Ave, tapi aku sama sekali tidak mengerti dengan ucapan kak Ave barusan.
Aku bangkit dari dudukku dan melangkahkan kakiku perlahan memasuki ruang ICU. Langkah kakiku terasa begitu berat ketika memasuki ruangan itu. Dan dadaku rasanya sedikit sesak.
Aku membuka pintu itu perlahan. Dan mulai berjalan mendekati sosok yang sedang terbaring lemah itu. Kini dia berjuang antara hidup dan mati. Banyak sekali selang dan perban yang melilit pada tubuh kak Zen. Bahkan dia juga memakai alat bantu pernapasan.
Hatiku sakit sekali menyaksikan semua ini. Air mataku kembali tumpah kembali menyaksikan kak Zen yang dalam kondisi seperti ini. Kondisinya terlihat sangat memprihatinkan.
Rasanya akulah yang menyebabkan semua ini! Ini semua terjadi karena dia yang berusaha menolongku saat itu. Aku yang menyebabkan kak Zen menjadi seperti ini! Aku tak akan pernah memafkan diriku sendiri jika kak Zen tidak membuka matanya kembali ...
Aku duduk perlahan di kursi disamping ranjangnya. Baru beberapa waktu yang lalu aku melihat senyuman hangatnya. Baru beberapa saat yang lalu aku masih mendengar suara lembutnya. Dan baru beberapa saat yang lalu kita bersama menyaksikan festival kembang api. Kini tangisku mulai pecah kembali.
__ADS_1
"Kak ... Maafin aku." ucapku parau. Aku memberanikan diri meraih jemarinya pelan-pelan. Jemarinya terasa begitu hangat menandakan masih ada kehidupan disana.
"Kakak harus segera bangun ..." ucapku pelan dan hampir terdengar tak jelas karena aku masih menangis. "Bukankah kita mau makan ramen bersama tadi? Bangun, Kak!" aku kembali menangis dan menyandarkan kepalaku di atas ranjang kak Zen.
Tanpa sadar aku sudah ketiduran disitu.
Tiba-tiba aku merasa seperti ada yang mengelus bahuku. Dan aku segera membuka mataku. Aku melihat Sora sudah berdiri di sampingku.
"Sora ..." kataku yang langsung memeluk Sora.
"Haku?"
"Iya. Sudah lama sekali dia menunggu di luar. Temuilah dia dulu!"
"Hhm ..." aku menatap sebentar Kak Zen yang terlihat seperti sedang tertidur. Lalu aku mulai bangkit perlahan.
__ADS_1
"Aku akan keluar sebentar, Sora." ucapku pelan. Lalu meninggalkan Sora. Saat di pintu aku berpapasan dengan Kak Ave yang hendak masuk ke dalam ruangan. Dia hanya menatapku datar dan wajahnya terlihat sedikit bersedih.
Aku membungkukkan sedikit badanku saat berpapasan dengannya lalu segera ke luar dari ruangan ICU. Aku melihat seorang pria sedang berdiri bersandar pada dinding rumah sakit. Dia masih mengenakan setelan jaz lengkap. Tatapannya begitu datar bahkan sesekali aku melihat sedikit kekhawatiran pada raut wajahnya.
Aku berjalan mendekatinya. "Haku ..." kataku pelan.
Dia yang mendengar aku memanggil namanya segera menoleh ke arahku. Tatapan kita saling bertemu, namun tatapan ini penuh dengan kesedihan dan dia terlihat sedikit dingin.
Berbeda dengan yang biasanya. Haku terlihat begitu dingin malam ini. Alisnya yang tampan berkerut sewaktu dia berjalan ke arahku dengan tatapan matanya yang begitu tajam. Tatapan Haku tampaknya telah terpaku disana dan menunggu lama.
"Apa ini semua?" ucap Haku. Tidak ada kehangatan dalam suaranya.
Aku menarik nafas dalam-dalam dan mengepalkan tanganku. Aku bingung mau berkata apa. Kata-kata yang hampir keluar dari mulutku itu kembali terkunci dan aku menelannya kembali.
Hanya mata kita yang saling bertemu saat ini.
__ADS_1