
Aku meringis dan merasa sangat malu sekali di hadapan Haku. Padahal ini masih jam 11 malam dan tadi sudah makan sepuasnya saat di Rokkasen Restaurant. Pasti Haku akan berpikir kalau aku ini gadis yang rakus.๐ฃ
Haku tertawa kecil lalu membalik tubuhku. Dia masih terduduk, sedangkan aku berdiri.
"Aku akan masak sesuatu untukmu." kata Haku sambil tersenyum sangat manis. "Kau tunggu disini ya!"
Haku segera bangkit dari duduknya lalu hendak meninggalkanku di kamar.
"Haku!" aku menahan tangannya sebentar. "Aku ikut turun ya."
"Boleh.."
Aku dan Haku bergegas turun dan menuju ke dapur. Dia mencari sesuatu di dalam kulkas. Dan dia mengambil semangkok ramen dan nasi kari instant dari dalam kulkas.
"Biarkan aku saja yang memasaknya, Haku." kataku sedikit tak enak padanya. Iya donk. Aku udah numpang di rumahnya. Malah dia yang melayaniku. Nggak tau diri sekali kan kesannya aku.
"Tidak, sayang. Kau tunggu disini dulu!" Haku memaksaku untuk duduk di meja makan. Lalu dia kembali de dapur dan menyalakan kompor.
"Tapi Haku.."
"Tidak ada kata tapi." katanya lembut. "Tunggu sebentar ya, Yuko. Aku akan memasak ramen dan nasi kari untukmu." Haku tersenyum menatapku yang duduk di meja makan. Sementara dia mulai memasak.
Aku melihat dia yang mulai memasak. Tak henti aku menatapnya terus sambil tersenyum dengan angan konyolku. Wah.. Aku benar-benar sangat terpana saat ini.
Seorang pria tampan dan imut sedang memasak di dapur. Dan dia sedang memasak untuk kekasihnya.
Ah.. Haku benar-benar sudah membuat hatiku luluh. Dia sangat mempesona.๐
"Ta-ra. Sudah jadi!" Haku menyodorkan semangkok ramen dan nasi kari padaku. " Sekarang makanlah, Yuko." kata Haku lalu duduk di hadapanku.
"Wah.. Harum sekali." aku mencium aroma ramen itu dan sangat menggugah selera. "Aku makan ya."
"Hhm.. Silakan Tuan Putriku." Haku bertopang dagu dan menatapku sambil tersenyum.
Aku segera mengambil sumpit dan mulai memakannya perlahan.
"Ini enak sekali, Haku!" kataku bersemangat. "Kau jago memasak yah ternyata. Baru kali ini aku makan ramen instant seenak ini."
Haku tertawa kecil mendengar celotehku. "Karena ini aku buat dengan cinta." candanya.
"Ah.. Kau bisa saja." aku ikut tertawa. "Ajari aku cara membuatnya dong, Haku!" rengekku.
"Tidak mau!"
"Ke. Kenapa? Terus kalau aku lagi kepingin makan yang seperti ini gimana dong?"
"Aku yang akan memasaknya untukmu."
"Masa kau terus yang masak, Haku? Aku kan jadi nggak enak."
"Aku suka melakukannya kok. Dan ini adalah resep rahasiaku. Jadi tak seorangpun boleh mengetahui rahasia resepku!" katanya yang masih bertopang dagu menatapku.
"Ah.. Baiklah. Aku akan menghormati keputusan itu." sahutku lalu kembali memakan ramenku.
Setelah menghabiskannya aku dan Haku kembali ke kamarku. Tapi aku berhenti tiba-tiba saat sudah melewati pintu kamar, sehingga Haku menabrak tubuhku. Dan aku hendak jatuh tersungkur ke depan, tapi dia segera meraih tubuhku.
"Oh.. Maaf Yuko." kata Haku.
"Ah.. Ini salahku yang berhenti tiba-tiba."
__ADS_1
"Tapi.. Kenapa mendadak berhenti?"
"Itu.. Ehm.. Anu.. Kau masih mau disini?" tanyaku sedikit gagu.
"Tentu saja. Aku kan tadi sudah bilang akan menjadi orang pertama yang mengucapkannya secara langsung."
"Ah.. Baiklah!" aku segera menutup pintu, lalu Haku menguncinya.
"Kenapa dikunci?" aku mendongak menatap Haku.
"Supaya Mirae nggak gangguin kita." dia tersenyum nakal padaku lalu tiba-tiba menggendongku begitu saja. Dan berjalan menuju ranjang.
"Haku. Kenapa menggendongku?"
"Hanya sedang ingin menggendongmu saja." lagi-lagi dia tersenyum nakal lalu membaringkanku di atas ranjang.
...11.59 Pm...
.......
.......
...00.00 Am...
"Happy Birthday, Yuko. I love you." kata Haku lalu perlahan mendekatiku yang masih setengah berbaring. Dia semakin mendekat..Dan semakin mendekat.
"Love you too, Haku." bisikku lalu aku memejamkan mataku.
Tapi setelah beberapa saat tak terjadi sesuatu. Hingga aku membuka mataku kembali. Kulihat Haku sedang berusaha memakaikan kalung untukku.
"Ini adalah hadiah dariku." katanya sambil tersenyum manis padaku.
Untuk apa aku tadi memejamkan mata?!
Huhuhu. ๐ญ Aku mengharapkan dia menciumku?
Oh tidak..! Malu sekali rasanya
Semoga Haku tidak menyadari ini.
"Kau tidak menyukainya, Yuko?"
"Ah.. Bukan seperti itu. Aku sangat menyukainya kok."๐
"Syukurlah." katanya lalu mengelus rambutku.
"Kau kenapa, Yuko?" Haku menatapku dengan sangat dekat. Memperhatikkan wajahku lekat-lekat.
"A.. Aku tidak apa-apa kok." aku segera mengalihkan pandanganku.
"Apa kau sedang mengharapkan yang lain?" Haku kembali tersenyum nakal padaku.
"Ah.. Tentu saja tidak!" kataku berpura-pura.
"Ketahuan sekali bohong."
"Aku tidak bohong!"
"Tambah ketahuan, Sayang."
__ADS_1
"Jangan panggil aku, Sayang!" kataku sedikit kesal.
"Cinta..!"
"Haku..!"
Dia tertawa kecil melihatku semakin kesal.
"Maaf. Maaf. Aku tak tahan ingin selalu menggodamu."
"Ini tidak lucu."
"Maaf, Yuko. Tapi aku juga menginginkannya kok."
" Menginginkan apa?"
Haku mengangkat kedua alisnya lalu menyentuh bibirku pelan. Dan aku menatapnya waspada. Takut dia akan mengerjaiku lagi.
Dia kembali mendekatiku yang sedang duduk di atas ranjang. Aku masih menatapnya waspada dan sedikit mudur. Tapi dia masih berusaha mendekatiku hingga aku benar-benar sudah mentok di tembok. Tepat kira-kira wajah kita berjarak 5 cm, dia berhenti.
Aku masih menatapnya waspada.
"I love you, Yuko." Haku kembali mendekat dan aku reflek menutup mataku begitu saja. Dasar Yuko! Bagaimana kalau Haku sedang mengerjaimu lagi? Mudah sekali kau percaya!
Beberapa saat kurasakaan sesuatu yang lembut dan manis menyentuh bibirku. Ah.. Aku tidak bisa menolaknya.. Bahkan sesekali aku membalas ciumannya dan malah menarik dan meremas rambutnya.
"Love you too, Haku." balasku saat ciuman kita berhenti beberapa saat. Haku menatapku dan tersenyum manis padaku lalu dia kembali mengecup bibirku lagi.
Salah satu tangannya memegang tanganku dan tangannya yang lain menjelajahi pahaku dan mulai perlahan naik.
Kini dia berusaha membuka beberapa kancing bajuku. Menyibak rambutku dan dia menciumi bahuku dengan sangat lembut. Lalu mengecup telingaku. Hembusan nafasnya yang sudah tidak teratur bisa ku rasakan dengan sangat jelas saat ini.
"Apa aku boleh melakukannya, Yuko?" bisiknya padaku.
Aku menatapnya dan menggenggam erat tangannya.
"Haku.. Kau boleh melakukannya.." kataku dengan terbata dan sangat berdebar.
"Aku akan melakukannya dengan lembut." katanya pelan.
Dia tersenyum padaku lalu kembali melanjutkan aksinya. Dia kembali menciumi tengkukku dan leherku. Lalu dia menuruni dan menciumi bahuku. Hingga akhirnya aku merasa dibuat terbang saat itu. Dia mengecup perlahan dadaku. Sesekali dia berhenti dan menatapku. Lalu dia kembali mengecupnya dengan sangat lembut.
Aku seperti terbang, melayang dibuatnya. Dan aku merasa sangat malu sebenarnya. Haku, dia adalah pria pertama yang sudah menjamah tubuhku hingga seperti ini. Dia yang sudah melihat tubuhku.
Oh.. Aku rasanya malu sekali.
Kini kancing bajuku sudah terlepas semua. Dan dia mulai menanggalkan bajuku.
Dia berhenti sejenak lalu menanggalkan T-Shirtnya. Aku terpaku dan malu melihat dia bertelanjang dada.๐ณ
Sangat atletis dan seperti roti sobek di dalam komik-komik saja. ๐ณ
Haku kembali mengecup lembut bibirku, menuruni leher dan tengkukku. Perlahan dia membuka pengait Bra ku.
Dia kembali mengecup bahuku dan menuruninya hingga dadaku lalu menuruni ke perutku.
Dia menciumi setiap jengkal tubuhku. Jemarinya menari indah di setiap tubuhku. Membuatku sangat melayang dan serasa mabuk bukan main.๐
Hingga akhirnya terjadilah sesuatu...
__ADS_1