
"Apa ini semua?" ucap Haku. Sama sekali tidak ada kehangatan dalam suaranya. Dan itu sedikit membuat hatiku sedih.
Aku menarik nafas dalam-dalam dan mengepalkan tanganku. Aku bingung mau berkata apa. Kata-kata yang hampir keluar dari mulutku itu kembali terkunci dan aku menelannya kembali.
Hanya mata kita yang saling bertemu saat ini.
"Haku ..." kataku lirih. Aku melangkakahkan kakiku beberapa langkah dan kini tepat di hadapanku sudah ada sosok Haku yang berdiri tegap dengan tatapan dinginnya. Dan wajahnya sedikit murung.
"Aku ..." ucapku belum selesai
Tanpa mengatakan sepatah kata apapun Haku segera menarikku ke dalam pelukannya. Dan aku kembali terisak. Perasaan dan pikiranku saat ini sudah sangat kacau dan berantakan. Aku hanya bisa meluapkan dengan tangisan.
"Bukankah aku memintamu untuk segera pulang tadi?" ucap Haku yang masih terdengar dingin.
"Hhm, Maaf ..." ucapku lirih.
"Kenapa bisa bersama kak Zen?"
"Iya. Aku bertemu kak Zen saat mau pulang ..." ucapku pelan. "Aku hendak menyelamatkan bayi itu saat kereta bayi itu berjalan sendiri dan bergerak ke jalan raya. Sementara ibu dari bayi itu tidak menyadarinya. Aku segera berlari untuk menyelamatkan bayi itu. Tapi ... Tiba-tiba saja kak Zen malah menyelamatkan kita. Aku dan bayi itu selamat. Tetapi dia malah tertabrak mobil itu ..." ucapku pelan.
__ADS_1
Haku masih terdiam dan saat aku mendongak aku melihatnya wajahnya yang masih murung.
"Haku, Saat ini Kak Zen koma. Dan entah kapan dia akan sadar. Dan dia seperti ini karena berusaha menyelamatkanku. Aku mohon ijinkan aku untuk sedikit merawatnya ..." pintaku kepada Haku pelan.
Haku menunduk dan menatapku tajam tapi sedikit murung.
"Aku mohon, Haku!" aku meraih kedua tangannya dan memohon kepadanya kembali.
"Baiklah ..." ucapnya dengan begitu berat.
Aku tersenyum lega menatapnya. "Terima kasih, Haku." aku kembali memeluknya. Butuh beberapa waktu untuk dia membalas pelukanku.
"Kamu tidak akan meninggalkanku kan, Yuko?" ucap Haku pelan.
Perlahan Haku mulai mengelus pelan kepalaku dan dia menciumnya.
"Kau boleh merawat kak Zen. Tapi ada syaratnya!" katanya pelan. Dia melepas pelukannya dan menatapku dengan ekspresi datar. "Kau harus tetap kuliah seperti biasanya. Kau boleh kesini setelah pulang kuliah. Dan kau harus pulang kembali sebelum jam 8 pm. Kau harus berjanji untuk tetap menjaga kesehatanmu juga ..."
Meskipun banyak sekali syaratnya tapi aku mengiyakan saja. Aku mengangguk pelan menandakan aku setuju.
__ADS_1
"Gadis pintar!" katanya sambil mengelus kepalaku dan kini dia sedikit tersenyum samar.
"Yuko. Kau pulanglah! Biar aku yang menunggu Zen malam ini." ucap kak Ave yang tiba-tiba saja datang bersama Sora.
"Tidak, Kak. Biarkan malam ini aku disini!" ucapku memohon kepada kak Ave.
"Yuko. Kau ingat janji yang baru saja kau buat padaku?" sindir Haku padaku. Benar, Haku tidak mengijinkan aku untuk bermalam di rumah sakit. Tapi ...
"Pulanglah! Besok kau boleh datang lagi." ucap Kak Ave.
"Sora juga akan disini bersama kakak?" tanyaku sambil melirik Sora.
"Tidak. Aku akan mengantarnya nanti. Tapi aku sedang menunggu Yuki dan yang lainnya dulu. Mereka sedang dalam perjalanan kesini." kata Kak Ave.
"Baiklah. Kalau begitu kita pulang duluan ya, Kak." ucap Haku lalu menarik tanganku.
"Hhm ..."
"Sora, aku duluan ..." bisikku kepada Sora.
__ADS_1
"Oke ..." sahutnya.
Sebenarnya aku masih belum mau pulang. Aku masih ingin menemani kak Zen. Aku ingin sedikit lebih lama bersamanya. Kak Zen ... Semoga dia segera bangun kembali.