
Pernikahan adalah sesuatu yang sangat spesial dan paling berharga bagi sepasang kekasih yang saling mencintai. Puncak tertinggi yang harus diraih dari sebuah ikatan bersama orang terkasih. Menikah bersama orang adalah yang sangat dicintai adalah impian dan dambaan bagi semua orang.
Rasanya tidak sabar menantikan bulan depan. Waktu berjalan dengan begitu cepat. Dan tepat di bulan depan adalah pernikahanku bersama Haku. Kita sudah banyak melalui jalan berliku dan berduri bersama. Semoga kelak juga kita bisa melewati segala apapun bersama.
Aku bahagia, dan aku tidak sabar menantikan hari itu sekarang. Karena aku segera menginginkan hari-hari bersama Haku.
Untuk Anzu, Haku sudah membicarakan bersama ayahnya agar memutasi Anzu ke divisi lain bagian Library. Sementara Haku mulai merekrut seorang sekretaris pria, karena takut kejadian seperti selama ini akan terulang lagi.
Aku merasa menjadi gadis paling bahagia di dunia ini! Karena Haku hidupku terasa begitu berwarna, manis dan sangat menyenangkan. Dia sudah mewarnai hari-hariku bahkan sejak kecil. Dan janjinya saat itu untuk menikahiku kini akan segera dipenuhinya.
Sore itu kita berjalan-jalan di taman kota ditemani oleh rintik hujan. Beberapa lantunan musik dari beberapa cafe terdengar saling bersahutan. Namun ada salah satu lagu yang sedang dimainkan oleh salah satu kafe itu dan membuatku sangat bersemangat.
"Haku ..."
"Hhm ... ya?"
"Haku, apa kamu mendengar lantunan lagu dari pavilion itu?" tanyaku menatapnya dengan begitu bersemangat.
"Musik ini bukankah sebuah musik penutupan sebuah acara?" ucap Haku yang malah seperti sedang bertanya padaku.
Mendengar ucapannya, aku menjadi sedikit cemberut dan tidak berdaya. Kemudian aku mencoba berkata dengan setengah berbisik padanya.
"Apa kau tidak mengingat hal lain, Haku? Apa kau tidak merasa musik ini sangat familiar?"
Haku terdiam beberapa saat tidak mengatakan sepatah kata apapun. Keningnya berkerut dan terlihat sedang berusaha mengingat-ingat sesuatu.
Aku tidak memberinya waktu lagi untuk berfikir, aky berlari ke arahnya dengan langkah kecil dan mengulurkan tangan dengan senyuman.
"Haku, maukah kau berdansa denganku?" ucapku dengan senyum lebar. "Lagu ini adalah lagu pertama saat kau mengajariku menari saat kecil. Apa kau melupakannya?"
Rasanya seperti seluruh dunia tiba-tiba saja berhenti dan hanya terdengar suara degup jantungku yang sedang berdetak.
Haku tersenyum begitu hangat dan menerima uluran tanganku. Jemari kita saling bertaut. Yeap, jemari hangatnya kini terjebak di telapak tanganku. Belum sempat berkata apapun, Haku sudah merangkulku dalam pelukannya begitu saja.
"Tentu saja aku mengingatnya. Mari berdansa bersama ..." ucalnya begitu hangat.
Dalam lantunan nada minor yang dimainkan biola mengikuti langkah Haku, dengan lembut dan menari perlahan memutar. Meskipun hari sudah semakin gelap, namun aku seperti melihat cahaya yang begitu bersinar di hadapanku. Yah ... Haku sangat bersinar.
Aku melihat tetesan-tetesan hujan yang membasahi rambutnya dan cahaya redup yang mulai berkedap-kedip di sepasang matanya yang dalam.
__ADS_1
Lampu jalanan mulai menyala satu per-satu dalam kegelapan dan mulai menerangi taman kota yang sudah semakin gelap. Bayangan kita mengikuti kita menari-nari.
Rasa bahagia dan kegembiraan seakan meledak di dalam hatiku begitu saja. Seperti kembang api yang terbang tinggi di langit malam. Bertabur di langit dan menghiasi langit malam yang begitu gelap bersama bintang-bintang.
Tidak ada kata-kata yang cukup untuk menggambarkan perasaanku saat ini. Begitu bahagia tak terkira.
Setelah makan malam bersama, Haku mengantarku pulang ke kontrakanku.
"Besok aku akan menjemputmu setelah pulang kuliah. Kita akan fitting baju ke butik." ucap Haku sebelum aku turun dari mobilnya.
"Memang kau tidak kuliah sore, Haku?"
"Aku akan ijin beberapa hari karena harus mengurus beberapa surat untuk pernikahan kita. Dan paling jam bekerja pun juga sebentar beberapa hari ini." jelas Haku yang sedikit melirikku. "Jaga kesehatan ... jangan sampai kau sakit lagi. Waktu pernikahan sudah semakin dekat." imbuhnya dengan hangat dan mengusap kepalaku lembut.
"Iya ..." jawabku pelan dan tersenyum padanya. "Kamu juga harus selau menjaga kesehatan."
"Sekarang pulang dan istirahatlah." ucapnya begitu lembut dan mengusap kepalaku.
Terkadang aku merasa aku dan Haku seperti bertaut umur yang cukup jauh, karena melihat dia yang selalu bersikap dewasa dan memperlakukan aku seperti anak kecil. Padahal kita seumuran.
Memang benar, kedewasaan bukanlah dilihat dari umur. Tapi kedewasaan adalah merupakan fase menyesuaikan diri dengan pola kehidupan baru yang lebih luas.
"Hhm. Hati-hati di jalan ..." ucapku dengan memberikan senyuman terbaikku.
"Bye ..."
"Bye ..."
Setelah Haku berlalu dan meninggalkan kompleks kontrakanku, aku segera bergegas memasuki kontrakanku.
...***...
"Yuko!!!" tiba-tiba Sora berteriak begitu histeris lalu duduk di sebelahku.
"Ada apa?" tanyaku begitu penasaran.
"Tidak apa-apa sih." sahutnya dengan senyum lebar dan bertopang dagu menatapku.
"Kenapa kamu tersenyum-senyum melihatku, Sora? Apa ada sesuatu yang menempel di wajahku?" tanyaku lalu meraba-raba wajahku. Namun aku tidak menemukan apa-apa di sana.
__ADS_1
Sora hanya menggeleng dan tersenyum manis menatapku.
"Lalu?" tanyaku sedikit kebingungan.
"Aku hanya bahagia, kini sebentar lagi kamu akan segera menikah, Yuko. Rasanya tidak sabar ingin segera melihat kamu memakai gaun pengantin. Pasti akan cantik sekali!!" ucap Sora sangat bersemangat.
"Ahahah ... tapi masih satu bulan lagi kok." jawabku sedikit tersipu malu.
"Sebentar lagi itu, Yuko. Selamat ya ... akhirnya kalian akan bersatu untuk selamanya. Aku bahagia sekali!" Sora langsung memelukku karena gemas sendiri.
"Terima kasih ya, Sora." ucapku tulus. "Kamu sama kak Ave kapan nih?" imbuhku menggodanya.
"Kalau kata kak Ave sih, nunggu dia lulus dan mendapat pekerjaan dulu. Aku tak masalah sih mau kapan. Dia mau melanjutkan S2 dulu juga nggak masalah kok ..." jawab Sora dengan santai dan melepas pelukannya.
"Serius kamu, Sora? Jika melanjutkan S2 dulu berarti masih akan sangat lama." ucapku sedikit terkejut.
"Hhm. Aku sih nggak masalah. Tapi kata kak Ave ya setelah lulus dia akan mencari pekerjaan dan akan melamarku." ucap Sora.
"Oh. Iya. Seperti itu saja juga tidak masalah kok."
"Hhm. Pulang kuliah kau mau kemana?"
"Aku akan fitting baju bersama Haku."
"Sudah jadi? Cepat sekali ya."
"Iya. Sebenarnya sudah satu bulan lebih sih."
"Wah. Nanti foto ya! Aku mau lihat ..." ucap Sora bersemangat.
"Ahaha ... aku akan coba. Tapi sepertinya tidak akan diijinkan oleh Haku." ucapku sedikit tak enak.
"Memang kenapa, Yuko?" tanya Sora mengernyitkan keningnya menanapku.
"Karena pakaian itu akan kita pakai saat acara pernikahan. Dan tidak mungkin aku mengekspos ke media sebelum saatnya tiba." ucapku dengan tawa kecil menggoda Sora.
"Ahahaha ... benar juga sih. Ya sudah, tidak usah saja. Aku akan melihatmu memakai gaun itu kok bulan depan."
"Hhm ..."
__ADS_1
"Ah ... rasanya tidak sabar!!"
...***...