
Aku dan Haku kembali menyusuri Lumine Est Shinjuku Mall. Dan kita segera menuju sebuah cafe dimana mereka akan melakukan makan malam bersama.
Ternyata rekan kerja Haku sudah datang. Kali ini mereka hanya datang berempat. Dua orang pria dan dua orang gadis. Dan salah satu gadis itu adalah Anzu, tentu saja.
Mereka menyambut hangat kedatanganku bersama Haku. Ehm ... bukan. Lebih tepatnya menyambut Haku, karena Haku adalah bos dari mereka.
"Selamat malam, Pak!" sapa seorang pria rekan kerja Haku.
"Malam. Maaf sedikit terlambat." sahut Haku dengan ramah.
"Tidak apa-apa, Pak. Kita juga baru sampai kok, Pak." sahut Anzu dengan senyum lebar.
Haku menarikkan kursi untukku lalu dia juga menarik kursi untuknya sendiri.
Kita segera memesan makanan. Mereka berlima terlihat begitu asyik mengobrol, sementara aku hanya menjadi pendengar saja dan sesekali ikut tertawa bersama mereka.
Tiba-tiba ponselku berdering, dan aku ijin untuk mengangkat panggilan itu sebentar. Aku segera pergi menjauh dari mereka dan mulai mengangkat panggilan itu.
"Hallo ..." sapaku.
"Yuko, kau sedang apa?"
"Aku sedang makan malam di luar, Ran. Ada apa ya?"
"Oh, kirain sedang di kontrakan. Tadinya mau mampir sebentar."
"Wah. Maaf ya. Tapi aku sedang di luar."
"Tidak apa-apa kok. Ya sudah kamu lanjutkan dulu makan malamnya."
"Baik, Ran. Kalau begitu sudah dulu ya. Bye ..."
"Bye ..."
Aku mematikan panggilan itu dan segera kembali bergabung bersama yang lainnya lagi.
"Sudah selesai?" tanya Haku begitu lembut saat aku datang.
"Ehm. Sudah ..." sahutku dengan senyum manis lalu duduk kembali di sebelah Haku.
"Kalau begitu mari makan. Selagi masih panas."
__ADS_1
"Hhm." sahutku lalu mengambil sumpitku dan mulai menikmati makan malamku.
Mereka menikmati makan malam diselingi dengan obrolan ringan tentang pekerjaan sehingga aku hanya menjadi seorang pendengar saja. Dan sesekali ikut tertawa bersama mereka.
"Setelah ini kita nonton apa jadinya?" tanya salah satu rekan kerja pria.
"Apa saja deh. Kita ngikut aja." celutuk Anzu.
"Aksi, horor, roman, atau apa nih?" tanya rekan kerja yang pria.
"Bagaimana, Pak Haku?" tanya Yuri kepada Haku.
"Semua film saya suka. Jadi saya juga ngikut saja." jawab Haku dengan ramah.
"Kalau begitu aku pesan online saja ya." celutuk Anzu lalu meraih ponselnya dan mulai memesan beberapa tiket untuk nonton.
"Boleh ..." sahut Yuri dengan bersemangat.
Mereka berdua sangat bersemangat memilih film dan tempat duduk. Sementara aku, Haku dan kedua rekan kerja pria itu kembali melanjutkan makan malam kita. Menikmati malan malam kita selagi masih hangat.
...⚜⚜⚜...
Suasana di dalam terater kini menjadi sedikit remang-remang karena lampu yang mulai dipadamkan. Semuanya kembali terdiam dan mulai fokus menonton sebuah film.Termasuk Haku yang sedang duduk di sebelahku.
"Apa kau tidak suka, Yuko?" tanya Haku juga dengan suara yang pelan.
"Ehm. Bukan tidak suka sih. Tapi musiknya sering membuatku terkejut, Haku." sahutku masih dengan suara yang pelan.
Haku hanya menanggapinya dengan senyum manis dan malah merangkulku. Sedangkan aku hanya nyengir saja.
"Udah. Kalau seperti ini tidak akan terlalu terkejut. Kau sudah kupeluk!" ucapnya begitu pelan.
"Eh ... iya. Hehe ...."
Aku sempat melihat Anzu yang duduk di sebelah Haku menatap kita dengan sedikit cemberut. Namun saat mata kita saling bertemu, dia segera mengalihkan pandangannya menatap layar proyektor kembali. Lalu dia menikmati pop cornnya dengan wajah yang sedikit murung.
Aku dan Haku kembali fokus menonton dengan posisi yang masih sama. Haku masih merangkulku dan memang itu membuatku sedikit tenang saat menikmati film horor itu.
"Haku, kau mau?" ucap Anzu tiba-tiba sambil menyodorkan sekotak besar pop corn.
"Ehm.Tidak, Anzu. Terima kasih." Haku menolak dengan sopan.
__ADS_1
"Kalau begitu ini untukmu. Aku baru saja membeli Capucino blend dan ternyata kelebihan satu." ucap Anzu sambil menyodorkan segelas plastik capucino blend ice.
Namun ternyata Anzu malah tidak sengaja menjatuhkannya sebelum Haku menerimanya. Dan minuman itu tumpah dan mengenai coat Haku.
"Oh ... maaf, Haku. Aku tidak sengaja!" ucap Anzu masih dengan suara pelan dan berusaha membersihkan coat milik Haku dengan sapu tangannya.
"Mari ke kamar mandi sebentar dan akan aku bantu membersihkannya!" ucap Anzu.
"Baiklah." jawab Haku akhirnya. Lalu Haku beralih menatapku. "Yuko. Aku akan ke kamar mandi sebentar."
"Baiklah ..." jawabku seadanya.
Setelah itu Haku segera bangkit dan meninggalkan teater diikuti oleh Anzu di belakangnya.
Ada apa ini? Apakah Anzu memang sengaja melakukannya? Tapi kenapa dia seperti itu. Karena merasa sedikit tak enak, akhirnya aku mengikuti mereka berdua untuk ke kamar mandi.
Ternyata mereka berdua ke kamar mandi bersama. Namun Haku menunggu di lorong luar, sementara Anzu membawa coat Haku yang tadi tersiram ice Capucino blend itu. Belum sempat aku menghampiri Haku, Anzu sudah keluar dari dalam kamar mandi wanita dengan mententeng sebuah coat berwarna abu-abu. Dia menghampiri Haku kembali dengan wajah sedikit murung.
"Maaf, Haku. Tapi nodanya tidak bisa hilang. Jadi aku akan membawanya pulang dan akan mencucinya terlebih dulu." ucap Anzu dengan rasa menyesal.
"Tidak apa-apa kok." jawab Haku dengan ramah.
"Ah ... kemejamu juga sedikit bernoda karena minuman itu, Haku." kini Anzu mengelus pelan dada kanan Haku yang dimana pakaian Haku juga terkena noda kopi itu. "Bagaimana ini? Aku memang ceroboh sekali!"
Apa-apaan semua ini? Terlihat begitu sengaja sekali gadis bernama Anzu ini. Apa yang sebenarnya dia inginkan? Hiks ...
Baru melihat mereka berdua sekilas saja sudah membuatku sedih. Lantas bagaimana keseharian mereka saat bekerja? Ah ... entahlah! Ini sangat menyiksaku!
Apa sebaiknya aku terima saja tawaran Haku untuk bekerja di perusahaannya ya? Dengan begitu aku akan selalu bisa melihatnya. Benar, aku akan mempertimbangkannya lagi.
"Ah, tidak perlu khawatir, Anzu. Hanya terkena sedikit saja kok. Nanti kalau dicuci juga akan hilang kok." ucap Haku dengan begitu ramah.
"Tapi, saat ini kamu jadi memakai pakaian yang kotor donk." ucap Anzu dengan cemberut.
"Sudah. Jangan berlebihan. Hanya kotor sedikit kok. Tidak apa-apa. Ayo kita segera kembali ke dalam!" Haku berbalik dan hendak melenggang, namun Anzu segera meraih tangan Haku dan menahannya.
"Ada apa, Anzu?" tanya Haku sedikit kebingungan menatap Anzu.
"Ehm. Anu ..." ucap Anzu yang terlihat sedikit kebingungan. "Begini ... nanti malam aku akan mencucinya. Dan besok akan aku bawakan saat bekerja." ucap Anzu dengan begitu bersemangat.
Haku tertawa kecil mendengar ucapan Anzu, "Tidak perlu terburu-buru, Anzu. Lakukan saja saat kau tidak sibuk dan tidak lelah."
__ADS_1
Setelah mengucapkan hal itu Haku segera melenggang dan Anzu mulai mengikutinya kembali untuk memasuki ruangan teater. Semenrara aku memutuskan untuk ke kamar kecil terlebih dahulu.