
Mata Haku menyempit dan dia terlihat seperti sedikit tidak senang. Kemudian Haku sedikit mendekatkan wajahnya pada telingaku dan tulang belakangku. Dengan dada yang berdebar aku menunggunya untuk mendengarkan apa yang akan dia katakan selanjutnya.
"Kau adalah milikku. Dan akan segera menjadi milikku sepenuhnya. Aku tak akan pernah memberikannya kepada siapapun." bisiknya pelan dan nafasnya terasa seperti sedang menggelitiki telingaku.
Kata-kata itu langsung membuat dadaku kembali menegang dengan cara yang begitu manis. Dan tentu saja membuatku bahagia tak terkira.
Beberapa saat, Haku mulai mundur kembali dan menatapku lagi dengan begitu hangat.
Mata Haku begitu berkilauan namun Haku menatapku dengan tatapan penuh kecemburuan. Perlahan Haku kembali mendaratkan kecupannya di bibirku, kali ini terkesan lebih agresif. Seperti seokor elang yang melahap mangsanya. Dan untuk sesaat aku lupa cara untuk bernafas.
Kemudian dia membuka dan menerobos mulutku dengan lidahnya yang panas dan menyelipkannya begitu saja. Aku sedikit mengerang pada saat lidahnya menyerang dan membelit diriku.
Sesekali jari-jarinya meluncur masuk ke dalam blouse yang sedang aku pakai dan mencapai kulitku, lalu dia menggerakkan tangannya di bawah blouse. Seketika tubuhku sedikit tersentak dan menggeliang dibuatnya hingga sedikit mengerang.
Ciumannya yang intens mampu mencuri nafasku hingga membuat penglihatanku menjadi tidak fokus kembali dan membuat dadaku naik turun terengah seperti habis melakukan maraton.
Ketika Haku perlahan-lahan mengangkat kedua tangannya di atas pahaku, kini aku tidak bisa menahan d*sahan yang begitu rendah.
Aku bisa merasakan tubuhku yang kini menjadi panas hanya dari implikasinya. Sentuhannya begitu hangat dan manis.
"Apa kau yakin akan bersuara seperti itu, Yuko? Seseorang tetanggamu nanti bisa mendengarmu." ucap Haku setengah berbisik setelah menghentikan ciuman itu. Wajahnya kini dihiasi senyuman manis khas Haku.
Reflek ucapannya membuatku menutup dan membungkam mulutku sendiri.
Haku kembali tersenyum manis dan kini Haku mulai mencari bagian yang paling sensitive dari tubuhku dan merangsang mereka sebagai dorongan untuk menantang tekadku.
Kini aku juga sudah tidak fokus lagi. Aku segera meraih kerah baju Haku dan sedikit menariknya hingga ciuman itu terjadi lagi. Ya ... Aku menariknya hingga bibir kami saling menyatu kembali. Kini aku menciumnya dengan penuh gairah. Dan tentu saja Haku membalasnya dengan begitu hangat.
Tak lama kemudian Haku menggerakkan tangannya dan mundur. Lalu dia tersenyum lebar menatapku.
__ADS_1
"Mau bermain malam ini?" tanya Haku dengan nada jenaka menggodaku.
Bukannya menjawab pertanyaannya, wajahku kini malah semakin memanas saja. Dan aku tidak bisa berkata-kata karena malu.
"Kenapa diam? Baru saja tubuhmu seperti berkata sedang menginginkannya , Yuko ..." ucap Haku sambil melepas satu persatu kancing pakaiannya. Seketika mataku membelalak menyaksikan dan mengikuti setiap gerakan dari jemarinya.
Wah ... Sampai seberapa Haku akan membuka kancing bajunya?! Oh ... Tidak! Bagaimana ini?!
"Akan aku tunjukkan padamu, Yuko. Betapa cemburunya aku sampai tubuhmu benar-benar lemas saat menikmatinya." kini semua kancing itu sudah terlepas setengahnya.
"Ah ... Aku selalu saja cemburu saat ada pria yang dekat denganmu. Dan aku tidak tau kenapa selalu saja seperti ini, Sayang. Apalagi saat kau sering bersama kak Zen, yang jelas-jelas dia sangat menyukaimu dan masih mengharapkanmu saat itu! Bahkan dia sampai mempertaruhkan nyawanya untukmu saat itu ..." kancing pakaian Haku kini sudah terlepas semuanya dia dia menanggalkan pakaiannya begitu saja. Membuat mataku membelalak lebih lebar lagi.
"Kau fikir hanya kamu yang merasa seperti itu, Haku?" ucapku begitu pelan. "Gadis yang menyukaimu sangat banyak bahkan tak terhitung lagi. Dan aku juga sangat cemburu dengan Anzu yang setiap hari selalu bersamamu. Bahkan dia juga mengetahui semua hal yang kau suka." imbuhku yang tiba-tiba menjadi murung.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu apalagi mengkhianatimu. Aku hanya ingin hidup untuk membahagiakanmu. Dan membuatmu lebih banyak untuk tersenyum, Yuko. Dan aku ingin kamu mencintaiku tanpa hambatan apapun lagi."
Perlahan bibir kita saling menyatu kembali, seperti magnet yang tertarik satu sama lain. Ketika kita berciuman lagi dan lagi. D*sahan lembut yang menyelinap keluar melalui bibir kita memecah keheningan malam ini.
Perlahan tubuh Haku mulai mendorong tubuhku, dan aku berpegangan pada lengannya yang begitu kuat dan hangat.
Rasanya seolah-olah suasana seperti dipenuhi oleh keinginan dan kebutuhan untuk meredam suaraku sendiri, meningkatkan indraku dan melelehkan semua fikiranku.
Kini Haku tepat sudah di atasku saja dan sudah menindih tubuhku. Bibir kita masih bertaut satu sama lain. Dan aku mulai mengalungkan kedua tanganku melingkar pada lehernya.
Nafas kita saling bertaut dan berciuman penuh gairah. Perlahan tangan kanan Haku mulai menyibak dress dan mengelus pelan pahaku.
Ciumannya kini berpindah perlahan dan lembut menuruni leherku dan bahuku. Perhalan dia mulai menurunkan tali penggantung dressku dan masih mendaratkan kecupan hangatnya disana. Bahkan Haku mengisapnya dengan lembut dan meninggalkan tanda kemerahan di sana.
Tok ... Tok ... Tok ... Tok ...
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara ketukan teratur dari pintu. Dan membuat kita berhenti seketika. Namun tiba-tiba Haku kembali lagi melanjutkan mengecup bahuku.
"Uhm ... Haku ... Ada orang." ucapku dengan pelan.
"Biarkan saja, Yuko! Lagian sudah malam kok. Siapa yang bertamu malam-malam seperti ini?"
"Tapi, bukankah kau bilang tadi memesan makanan, Haku?"
"Hhm? Benar juga ya. Astaga ..." kini Haku segera bangkit dan memakai pakaiannya kembali. Setelah itu dia bergegas untuk melihat siapa yang datang.
Sedangkan aku kembali terduduk dan sedikit merapikan rambut dan pakaianku. Beberapa saat Haku sudah datang dengan mententeng sebuah bingkisan lalu meletakkannya di atas meja.
Kini dia berdiri di hadapanku yang sedang terduduk, lalu mencondongkan badannya ke arahku. Sementara kedua tangannya digunakan untuk tumpuan badannya dan menjebak tubuhku di antara kedua tangannya.
"Kita lanjutkan, Yuko?" tanya Haku begitu pelan.
"Eh? Uhm ... Haku ... Aku ..." ucapku sedikit terbata dan sedikit mendongak menatapnya.
Belum sempurna aku menyelesaikan perkataanku, namun Haku malah semakin mendekatkan wajahnya padaku. Belum sepenuhnya bibir lembutnya mendarat pada bibirku, tiba-tiba saja terdengar sesuatu yang berasal dari perutku.
Oh My! Memalukan sekali! Ini seperti dejavu pada saat itu.
Haku segera menghentikkan niatnya dan menatapku dengan tersenyum geli. Dan sebenernya aku juga sangat malu saat ini.
"Baiklah. Mari kita makan terlebih dahulu ..." ucapnya tersenyum geli lalu mundur.
Kini Haku duduk di sebelahku dan segera membuka bingkisan besar itu.
Ada beef blackpaper, cumi tepung, okonomiyaki dan takoyaki. Semua itu dikeluarkan Haku dari dalam kantong plastik.
__ADS_1