
Behind The Schene ...
Kali ini aku dan Haku sedang bersama-sama menghabiskan akhir pekan dengan membuat beberapa kue.
"Haku ..." ucapku sambil mengaduk adonan selai yang berwarna keemasan itu.
"Hhm ... ya." sahut Haku tanpa menatapku. Dia terlihat masih terlihat fokus menguleni adonan kue.
"Tau tidak. Ada reader yang ingin melihat kita berantem lo, Haku." ucapku sambil melirik Haku.
"Memang kenapa? Apa mereka tidak suka ketika melihat kita selalu bersama dan akur?" tanya Haku dengan nada datar.
"Entahlah. Aku juga tidak tau, Haku. Jadi bagaimana dong?"
"Bagaimana apanya? Apa kau ingin kita bertengkar, Yuko?" Haku menjawab dengan tawanya yang begitu renyah.
"Eh ...?"
"Baiklah. Ayo kita berperang!" ucap Haku lalu mencelupkan jari telunjuknya pada adonan kue yang masih sangat cair dan basah lalu menempelkannya pada hidungku.
Aroma manis bisa aku cium dan menyeruak begitu saja melalui indera penciumanku. Seketika Haku tertawa renyah melihatku saat ini.
"Ih ... awas! Aku akan membalasmu!" ucapku lalu mencelupkan jari telunjukku pada adonan kue yang basah itu dan mengejar Haku, karena dia berusaha untuk melarikan diri.
Akhirnya terjadilah drama kejar-kejaran antara aku dan Haku. Tawa bahagia menyelimuti bahkan saat perperang dengan adonan kue. Ini benar-benar sangat lucu. Dan sangat manis. Hal-hal yang aku lalui bersama Haku terasa begitu manis dan mendebarkan. Aku sangat bahagia saat bersamanya. Hidupku begitu hangat karenanya.
...***...
Setelah selesai merapikan kontrakan, aku dan Haku segera mandi secara bergantian. Sembari menunggu Haku selesai mandi, aku mulai bersiap dan sedikit berdandan tipis dan natural.
Hari ini aku mengenakan kemeja lengan panjang putih dengan memadukannya dengan scarf. Aku memakai bawahan rok dan memakai booth putih setengah betis.
Tak lupa aku melakukan beberapa self camera setelah selesai berdandan.
Namun tiba-tiba saja Haku sudah ada di belakangku. Dia memelukku dari belakang dan mendaratkan dagu indahnya pada bahuku. Tentu saja ini sangat membuatku sedikit terkejut.
"Ayo! Ambil fotonya!" ucap Haku dengan lembut.
"Tapi ... kamu bahkan belum merapikan rambutmu yang basah. Dan juga kamu sedang memakai handuk baju, Haku ..."
"Tidak apa-apa. Ayo ambil saja fotonya, Yuko!" perintahnya lagi.
"Ehm. Baiklah ..."
Akhirnya aku mengambil beberapa gambar.
"Emhh ... Wangi ..." Haku sedikit mengendusku dan memejamkan matanya.
__ADS_1
"Ahahaha ... iya ....aku baru saja memakai parfum!" sahutku seadanya.
"Aku bersiap dulu ya. Setelah ini kita berangkat."
"Ehm. Iya."
Cup ...
Haku mengecup pipiku sebelum dia melepaskan pelukannya. Manis sekali. Dan dia selalu membuatku tersenyum bahagia dan selalu membuatku merona.
Kini Haku mulai memakai pakaiannya. Dia mengenakan blouse sweet cream dan memakai coat hitam. Dipadukan dengan celana jeans yang tidak terlalu longgar dan juga tidak terlalu ketat.
"Sudah siap?" tanyaku padanya.
"Sudah. Ayo berangkat!" Haku mengulurkan tangannya padaku dan aku menerimanya dengan senyum lebar.
Sore ini aku dan Haku berangkat ke Lumine Est Shinjuku Mall. Kita berkeliling terlebih dahulu sebelum bertemu dengan rekan kerja Haku untuk makan malam bersama.
"Yuko. Coba pakai!" tiba-tiba Haku memakaikan sebuah wirstband manis berwarna pink kombinasi putih ungu yang sangat cantik pada lengan kiriku.
"Manis sekali ..." ucapku dengan jujur.
"Kau suka?"
"Hhm. Ini manis sekali, Haku!" sahutku dengan senyum lebar.
"Hhm. Baiklah ..."
"Pilih yang lain lagi, Yuko. Gelang, kalung, scarf, syall, atau apapun yang kau mau ..."
"Tidak ... tidak ... wirstband ini saja sudah cukup kok." jawabku dengan tulus.
"Ehm ... atau mau belanja di tempat lain juga boleh. Mau beli baju, tas, sepatu?"
"Tidak, Haku ... ini saja. Ayo!" aku segera menarik Haku untuk pergi ke cashir dan membayar wirstband ini.
"Sungguh hanya ini?" bisik Haku padaku.
"Hhm ..." sahutku dengan senyum lebar menatapnya.
"Baiklah! Setelah ini kita beli kalung saja!"
"Eh? Apa? Kalung?"
"Iya. Akan aku belikan kalung untukmu."
"Bukankah sudah kubilang tidak usah, Haku ..."
__ADS_1
"Aku belum benar-benar membelikanmu sesuatu yang benar, Yuko."
"Tidak masalah kok."
Haku hanya melirikku dan tersenyum tipis lalu mulai menggandengku kembali setelah membayar wristband tadi.
Dia mulai mengajakku pergi ke toko perhiasan. Namun saat tiba di pintu masuk aku sedikit menahan tangannya, sehingga di tertahan.
"Ada apa, Yuko."
Aku menatapnya dan menggeleng pelan, "Tidak usah, Haku ..."
"Tidak apa-apa kok. Ijinkan sekali saja aku membelikan sesuatu dengan benar." ucapnya begitu lembut sehingga membuatku meleleh kembali. Hingga akhirnya dia kembali mengajakku memasuki toko perhiasan itu.
Semua tertata dengan rapi dan sangat mewah. Berbagai macam perhiasan juga terpajang dengan apik di balik kaca-kaca itu.
Jujur saja aku sangat tidak enak. Perhiasan itu pasti bukan sesuatu yang sedikit mengeluarkan uang. Semua yang ada disini pasti bisa merogoh banyak uang.
Haku mulai melihat-lihat kalung di dalam kaca bening itu dan terlihat begitu bersemangat.
"Yuko ... ayo coba pilih ..." ucap Haku lalu sedikit menarikku.
"Ehm ... aku mau kamu yang pilihkan saja, Haku." ucapku dengan hati-hati.
"Ehm ... baiklah kalau begitu." ucap Haku sambil melihat-lihat kembali kalung-kalung itu pada kaca yang lainnya.
"Apakah bisa saya bantu, Tuan?" seorang penjaga toko menawarkan dengan ramah.
"Hhm. Iya. Saya sedang mencari kalung untuk tunangan saya. Apakah ada rekomendasi ya?" tanya Haku dengan ramah.
"Baik. Sebentar ..." petugas itu tiba-tiba mengambilkan sebuah kalung dengan kotaknya yang berwarna soft tosca. Sebuah kalung yang terlihat simple dengan dua liontin hati. Satu liontin berwarna silver, sementara liontin satunya berwarna soft pink. Cantik dan manis sekali.
"Bagaimana dengan ini, Tuan? Sepertinya sangat cocok dengan tunangan anda."
"Tiffany merupakan merek perhiasan mewah teratas. Berhubungan dengan perhiasan tahan lama yang sempurna untuk segala kesempatan. Kualitas selalu dijamin oleh Tiffany. Perhiasan batu permata dan berlian adalah selalu pesisi dan tanpa cela. Merek ini telah menjual perhiasan klasik sejak pendiriannya pada tahun 1837. Perusahaan ini juga telah memproduksi perhiasan untuk klien elit." penjaga toko menjelaskan dengan sangat ramah kepada kita.
Wah, pasti ini akan sangat mahal. Dengan cepat aku meraih lengan Haku. Namun dia tidak melihatku sama sekali. Justru sepertinya Haku malah terlihat begitu tertarik dengan kalung itu.
Oh tidak!
"Yuko ... kau suka ini?" kini Haku mengambil kalung itu manatapku dengan mata berbinar.
Aku hanya terdiam menatapnya dan mengkerutkan keningku. Semoga dia bisa faham apa yang aku maksud, karena tidak mungkin aku mengatakan tidak di depan penjaga toko itu.
Haku hanya tersenyum lebar menatapku dan dia mengatakan sesuatu di luar dari yang aku harapkan, "Baiklah. Saya akan mengambil kalung ini."
Oh tidak! Bagaimana mungkin kamu membeli kalung mahal itu, Haku?!
__ADS_1