My Little Prince

My Little Prince
Di Perustakaan Bersama Kak Zen


__ADS_3

"Kakak beneran sedang tidak sibuk?" tanyaku pada kak Zen yang akhirnya ikut bersamaku ke perpustakaan.


"Hhm. Lagian ada buku yang sedang ingin kakak cari."


"Oh. Buku apa itu kak?" tanyaku sedikit penasaran.


"To Kill The Mockingbird karya Harper Lee." sahut kak Zen sambil terus berjalan disampingku.


"Untuk tugas ya, Kak?"


"Hmm. Kau sendiri sedang ingin mencari buku apa, Yuko?" kini kak Zen menatapku sedikit penasaran.


"Uhm. Sebenarnya aku belum tau sih mau mencari buku apa." kataku sambil meringis malu. Aku kan pergi ke perpustakaan karena bosan di rumah.


"Hhm. Kalau begitu kakak akan coba bantuin carikan buku yang bagus nanti." jawab kak Zen dengan mata berbinar.


"Oh. Iya kak ..." jawabku sambil tertawa kecil.


"Aku baru tau hari ini, kalau kakak ternyata adalah asisten Dosen!" aku menatap kak Zen takjub.


"Itu karena baru sekali ini kau melihat kakak melakukannya." kak Zen tersenyum dan matanya terlihat begitu sipit.


"Ahahaha. Benar sekali, Kak."


Setelah sampai di perpustakaan kita mulai mencari buku masing-masing. Hhm ... Kira-kira buku apa yang mau aku baca ya? Hhm ... Bingung sekali. Banyak sekali buku-buku bagus disini.

__ADS_1


"Nih. Coba baca ini!" tiba-tiba saja kak Zen menyodorkan sebuah novel padaku. Dan aku menerimanya.


"Pride & Pejudice by Jane Austen ?" kataku sambil membaca judul novel tersebut.


"Kau suka genre romance, Yuko?"


"Sedikit ..." kataku tersenyum malu.


"Kalau begitu kau pasti akan suka." sahut kak Zen antusias. "Pride and Prejudice menceritakan kisah cinta dan kehidupan sosial dengan detail yang memikat. Berlatarkan suasana abad ke-18, Pride and Prejudice menyoroti kehidupan kaum menengah ke atas pada masa itu. Karakter Elizabeth Bennet dan Fitzwilliam Darcy berhasil membuat novel sastra klasik ini menjadi salah satu cerita roman paling populer sepanjang masa."


Aku mengangguk dan tersenyum padanya. Setelah itu kita mulai membaca buku itu di sebuah bangku perpustakaan. Aku membaca novel dengan serius, begitu juga dengan kak Zen. Dia sangat serius sekali membaca bukunya.


Hingga akhirnya kita memutuskan untuk pulang karena sudah terlalu sore.


"Kalau begitu aku pulang dulu ya, Kak. Aku akan naik bus." kataku ramah.


"Eh? Oh, Oke deh." kataku sedikit kikuk. Tapi akhirnya kita pulang bersama, karena kita searah. Bahkan kita bertetangga.


Lalu kita menuju ke halte untuk menunggu bus. Tiba-tiba ponselku berdering. Aku melihat layar ponselku, ternyata Haku yang menghubungiku.


"Kak. Aku angkat telpon sebentar ya." kataku kepada kak Zen.


"Hhm ..." sahut kak Zen sambil tersenyum ramah.


Aku pun segera mengangkat telpon dari Haku.

__ADS_1


"Hallo ..." sapaku.


"Yuko, maaf baru bisa menghubungimu. Tadi aku buru-buru sekali datang ke kampus."


"Oh, tidak apa-apa kok." kataku pelan.


"Kamu sedang apa?"


"Aku baru menunggu bus di halte nih."


"Kamu dari mana, Yuko?"


"Aku tadi ke perpustakaan dulu. Dan ini baru pulang."


"Oh, kalau begitu hati-hati ya. Kabari aku setelah sampai di rumah."


"Hai ..." kataku sambil tersenyum bahagia.


"Nanti malam akan aku telpon lagi deh."


"Oke deh ..."


"Bye ..."


" Bye ..." aku mematikan telponku dan menyimpan ponselku di dalam tasku.

__ADS_1


Tak lama bus sudah datang. Aku dan kak Zen segera menaiki bus itu. Busnya tidak terlalu ramai. Malah sepi, dan cuma ada beberapa penumpang saja.


Aku duduk di dekat jendela dan kak Zen duduk di sebelahku. Tak sengaja aku melihat sesuatu terjatuh dan aku memungutnya.


__ADS_2