My Little Prince

My Little Prince
Silly Girl


__ADS_3

"Hati-hati dan segera pulang setelah melihat Festival kembang api ya!" ucap Haku saat dia menelponku.


"Hai. Lagian aku hanya melihat kembang api di Shinjuku City Square kok. Tidak terlalu jauh dari kontrakan." ucapku dengan sedikit tawa kecil.


"Biar bagaimanapun kau kan pergi bersama pria lain. Sebenarnya aku juga sedikit kepikiran sih." ucap Haku pelan. Dan aku bisa membayangkan dia sedikit cemberut kali ini.


"Uhm, Hanya sekali ini saja kok! Dan aku harus menepati janjiku, Haku ... Jangan bersedih ya! Aku tidak akan berbuat aneh-aneh kok."


"Iya ... Tidak apa-apa kok." kata Haku dengan sedikit tawa kecil. "Malam ini juga akan ada makan malam bersama dengan beberapa divisi. Jadi aku juga tidak bisa menemanimu melihat kembang api. Pergilah bersama kak Zen. Dan ingat semua pesan-pesanku!" katanya pelan.


"Hai. Kau hati-hati ya nanti." ucapku pelan.


"Yeap. Aku akan selalu berhati-hati!" sahutnya sedikit tegas.


"Uhm ... Apa gadis yang bernama Anzu itu juga akan ikut makan malam bersama kalian?" tanyaku pelan dan hati-hati.


Sebenarnya aku sedikit khawatir. Apalagi tadi Ken mengatakan bahwa hampir setiap hari Haku mendapatkan pernyataan cinta saat di kampus. Apakah di kantor juga seperti itu? Bahkan gadis bernama Anzu itu terlihat sangat care dan memahami Haku saat itu. Kenapa aku jadi sedikit merasa takut?


"Tentu saja dia akan ikut. Ayah telah mempromosikannya untuk menjadi sekretarisku. Dan aku tidak punya pilihan lain."


Apa? Sekretaris Haku? Rasanya sedikit terkejut dan membuatku terdiam beberapa saat. Bahkan aku tak bisa berkata-kata. Ketakutanku kini semakin bertambah besar. Mereka akan selalu bersama untuk bekerja. Kenapa rasanya sedikit kesal?


Haduh, Yuko! Sebenarnya wajar saja sih di lingkungan Haku bekerja maupun kuliah ada beberapa gadisnya. Bahkan bekerja bersama dengan seorang gadis bukanlah hal yang tidak mungkin. Tiba-tiba saja pikiranku membayangkan hal yang tidak-tidak.


"Pak. Aku sudah buatkan Americano Coffe yang tidak terlalu manis. Dan ini aku buat special lho." kata Anzu dengan nada menggoda lalu memberikan secangkir Americano Coffe untuk Haku.


"Terima masih, Anzu ..." sahut Haku lalu meminum kopi itu perlahan. Setelah itu Haku meletakkan secangkir kopi itu di meja.


"Aduh, bahuku pegal dan terasa sangat sakit!" Haku meringis dan memegang pundak kirinya dengan tangan kanannya. Sesekali dia memijatnya sendiri.


"Tenang saja, Pak! Selain sebagai sekretaris, aku juga pandai memijat kok!" kata Anzu lalu segera berjalan pelan ke belakang Haku yang sedang duduk di kursinya. Perlahan dia mulai memijat pundak Haku dengan jemarinya yang cantik. Sesekali mereka tertawa kecil bersama dengan obrolan-obrolan ringan.


"Bagaimana pijatanku?" ucap Anzu dengan tersenyum menggoda. Dia juga sedikit menundukkan kepalanya dan menoleh ke arah Haku. Bahkan hampir saja dia mendaratkan dagunya di atas pundak Haku.


"Lumayan ..." sahut Haku. "Terima kasih ya. Beruntung sekali aku punya sekretaris multitalent sepertimu." Haku juga sedikit menoleh menatap Anzu dan tersenyum padanya. Sesaat pandangan mereka saling bertemu dengan senyuman hangat mereka berdua.


"Oh iya. Berkas-berkas ini tolong kau cek semua dulu! Setelah itu berikan lagi padaku!" ucap Haku lalu memberikan beberapa berkas untuk Anzu. Tapi tak sengaja siku Haku malah menyenggol cangkir kopi tadi dan cangkir itu terjatuh. Kopi itu sedikit mengenai rok Anzu, dan gelas tadi terjatuh ke lantai pecah.

__ADS_1


"Oh ... Maaf!" ucap Haku cepat-cepat lalu mengambil sapu tangan dari jaznya lalu membersihkan noda kopi yang mengenai rok Anzu.


Tapi Anzu sedikit mundur. "Tidak apa-apa, Pak. Akan aku bersihkan nanti saja. Sekarang akan aku bersihkan pecahan cangkir ini dulu ..." Anzu segera jongkok dan memunguti pecahan gelas itu.


"Argghh ..." rintihnya tiba-tiba.


Haku segera jongkok untuk melihat apa yang sedang terjadi.


Ternyata jemari Anzu terluka terkena pecahan kaca itu.


"Hati-hati, Anzu ..." ucap Haku lalu meraih jemari Anzu dan melihatnya. Setelah itu Haku segera bangkit untuk mengambil kotak P3K di ruangannya lalu kembali untuk mengobati luka itu.


"Terima kasih, Pak." ucap Anzu pelan dan terus menatapi Haku. Dari tatapan matanya sangat terlihat bahwa saat ini dia benar-benar sangat terpana oleh Haku.


"Lain kali berhati-hatilah ..." kata Haku ramah dan terdengar sangat lembut.


"Uhm ... Iya ... Pak, Sebenarnya sudah lama aku menyukaimu. Maukah Bapak menjadi kekasihku?"


Haku kembali menatap gadis itu. Dan dia terlihat sedikit terkejut mendengar ucapan Anzu.


"Tapi aku sudah memiliki kekasih. Dan aku berencana akan segera menikahinya." ucap Haku ramah.


"Baiklah ..." kata Haku akhirnya dan sedikit membuatku melotot kali ini.


Tiba-tiba Anzu mendekati Haku perlahan dan saat mereka hendak berciuman ...


"Tidak boleh ..." teriakku histeris.


"Yuko? Kau kenapa? Daritadi kau diam saja saat aku ajak bicara. Dan sekarang tiba-tiba kau berteriak seperti itu." ucap Haku sangat kebingungan.


Oh My!


Ternyata daritadi aku hanya berkhayal yang bukan-bukan! Bisa-bisanya kamu seperti ini, Yuko! Haduh ...


"Maaf, Haku. Aku hanya khawatir padamu ..." kataku pelan.


"Khawatir soal apa?"

__ADS_1


"Itu ... Uhm ... Anu ... Aku khawatir terkadang kau bekerja sampai pulang larut malam saat akhir pekan. Belum lagi di hari biasa kau harus kuliah juga." kataku berbohong. Tidak sepenuhnya berbohong sih, aku juga memang khawatir soal itu sih.


"Makanya kita menikah saja yuk!"


"Menikah?" tanyaku sedikit kebingungan. "Memang apa hubungannya dengan menikah?" Aku sungguh tidak mengerti maksud ucapan Haku.


"Jelas ada dong, Sayang. Saat kita sudah menikah nanti, setiap aku pulang ke rumah akan selalu ada seorang istri yang mengurus dan memanjakanku nantinya. Dan itu adalah obat terampuh untuk mengobati segala lelahku."


"Uhm ... Soal itu ..."


"Kenapa? Apa kau tidak mau?"


"Aku juga sangat menantikannya, Haku. Tapi bukankah sekarang yang terpenting adalah kau harus fokus kuliah dan kerja dulu, Haku?"


"Aduh. Capek deh ngomong sama kamu, Yuko." sahut Haku dengan tawa kecil. "Bagaimana kalau ayah dan ibu segera menyuruhku untuk menikah?"


"Eh? Ayah dan ibumu ingin kau segera menikah?" tanyaku sedikit tak percaya.


"Tentu saja! Apalagi aku sudah memiliki kekasih."


"Ahahaha ... Aku akan memikirkannya lagi soal itu. Dan aku akan berunding dengan ayah dan ibuku juga." sebenarnya aku agak terkejut. Aku kira selama ini dia hanya bercanda dan tidak serius dengan ajakannya untuk menikah dalam waktu dekat ini.


"Baiklah. Yuko, Aku akan mandi dan bersiap pergi untuk acara makan malam itu."


"Hhm. Aku juga mau bersiap untuk ke Shinjuku City Square."


"Bye, Yuko ..."


"Bye, Haku ..."


Setelah mematikan panggilan itu aku segera mandi dan bersiap untuk pergi bersama Kak Zen.


...***...


...Hallo semuanya ......


...Author ingin memberikan recommendasi novel yang nggak kalah seru dan menarik nih dari karya Author kece satu ini. Jangan lupa mampir ya ♡♡...

__ADS_1



__ADS_2