
Aku segera mengalihkan pandanganku. Apa yang sedang kau lakukan, Yuko? Jangan pernah melakukan hal aneh apapun! Malam ini tujuanmu pergi dengan kak Zen adalah untuk melihat Festival kembang api! Ingat itu baik-baik, Yuko!
"Silly girl. Ada sesuatu di bibirmu ..." ucap Kak Zen dengan sedikit tawa.
Ahahaha ... Ternyata seperti itu ya? Aku sudah berpikiran macam-macam. Bahkan aku sudah berburuk sangka kepada kak Zen. Maafkan aku kak! Rasanya malu sekali dan ingin menghilang begitu saja dari hadapannya. Oh My!
Aku segera menyeka bibirku dan menyembunyikan rasa malu.
"Ayo! 15 menit lagi festival kembang api akan segera dimulai." Ucap Kak Zen segera bangkit dari duduknya.
Kak Zen langsung meraih tanganku dan menarikku sebelum aku sempat menjawab ucapannya tadi. Dia hanya sedikit tersenyum dan menatapku. Kemudian kita mulai berjalan kembali.
Ketika kita tiba di Shinjuku City Square. Saat ini adalah pukul 10.50 PM. Hanya tinggal 10 menit lagi Festival kembang api akan segera dimulai.
Alun-alun ini tidak seramai yang aku bayangkan. Namun masih ada beberapa pengunjung juga.
"Mari kita berjalan ke tengah untuk melihat pertunjukan!" ajak kak Zen.
"Hhm ..."
Aku mulai melangkahkan kaki untuk mengikutinya. Dan dia masih menggandeng tanganku.
"Kak. Uhm, Anu ... Sebenarnya aku bisa jalan sendiri ..." ucapku merasa sedikit canggung.
"Tidak! Kakak takut kamu tiba-tiba hilang." ucapnya tanpa menatapku sama sekali.
Aku bukan anak kecil, Kak Zen ... Masa tiba-tiba hilang dan nyasar begitu saja sih? Eh, tapi memang pernah sih aku nyasar saat pertama kali datang ke Tokyo. Ya, waktu itu aku sedang karya wisata ke Tokyo. Dan aku tertinggal oleh rombonganku. Saat itulah aku bertemu dengan Haku kembali. Pertemuan yang sangat manis.
Ah, Aku jadi rindu Haku ... Apa dia sudah pulang ya? Ingin sekali aku menghubunginya. Tetapi sebentar lagi Festival kembang api akan segera dimulai.
Eh, malah sudah dimulai ternyata. Kembang api-kembang api itu mulai meluncur dan menghiasi langit malam ini yang gelap. Indah sekali ...
Aku terus menatapnya dengan takjub. Begitu juga dengan Kak Zen. Kita berdua terpana saat melihat kembang api itu.
Hanabi adalah salah satu aktivitas yang menjadi puncak sekaligus ikon musim panas, yaitu Festival Kembang Api. Hanabi biasanya di gelar saat tahun baru. Namun di Jepang hanabi justru dirayakan saat musim panas.
__ADS_1
Andai saja aku bisa melihatnya bersama Haku juga ...
"Kak. Aku boleh menelpon seseorang?" tanyaku meminta izin kepada kak Zen.
"Tentu saja ..." sahutnya dengan senyum manis. Lalu kemudian kak Zen mulai menatap kembang api itu.
Aku segera meraih ponselku dan aku mulai menghubungi Haku.
Tut ... Tut ... Tut ...
Haku tidak mengangkatnya. Apa dia belum pulang? Atau sedang di jalan sehingga tidak mendengar panggilanku? Atau dia sudah pulang dan tertidur?
Oh, Aku tidak tau sedang dimana dia saat ini.
Tiba-tiba ponselku berdering. Dan aku segera meraih dan melihat nama si pemanggil. Ternyata Haku.
"Hallo ..." sapaku bersemangat.
"Yuko, Maaf tadi aku tidak dengar saat kau menelponku." ucapnya dari seberang.
Aku mendengar suara berisik dari tempat Haku. Seperti suara canda tawa dan juga suara musik yang sangat keras.
"Oh, Sebentar ..."
Setelah menunggu beberapa saat akhirnya sudah sedikit tenang.
"Yuko ... Aku sedang di tempat karaoke. Setelah makan malam tadi mereka mengajakku untuk ikut bersama."
"Oh ..." kataku yang hanya bisa berkata itu.
"Apa kau sudah pulang?"
"Belum. Festivalnya baru saja dimulai." aku kembali menatap kembang api di langit. Sementara kak Zen masih menikmati hanabi malam ini.
"Setelah selesai segera pulang ya."
"Iya. Kapan kau juga akan pulang? Apa kalian juga minum bersama?" tanyaku sedikit khawatir. Lebih tepatnya Anzu lah yang sedikit membuatku khawatir.
__ADS_1
"Sebentar lagi juga pulang kok. Dan jangan khawatir. Aku tidak akan mabuk." katanya dengan tawa kecil. Baiklah, nikmatilah dulu perayaan kembang apinya. Setelah pulang aku akan menghubungimu lagi."
"Baiklah ..." kataku sedikit tidak bersemangat.
"Bye, Sayang ..."
"Bye ..."
Setelah mengakhiri panggilan itu aku segera menikmati hanabi bersama kak Zen kembali.
Langit malam yang begitu gelap dan dingin kini telah menjadi sangat memukau dan indah sekali. Kembang api yang berwarna-warni dan sangat cantik kini telah menghiasi langit malam ini.
Sebentar lagi musim panas akan berlalu. Aku akan merindukan musim panas lagi. Kini saatnya bersiap menyambut musim gugur.
"Musim panas akan segera berlalu. Rasanya sedikit sedih ... Seperti kehangatan akan berlalu meninggalkan kita saja ..." ucapku tanpa sadar.
"Kehangatan akan selalu ada." ucap kak Zen pelan. Dan dia masih menatap kembang api itu. "Untuk apa kau bersedih, Yuko? Saatnya menyambut musim gugur yang cantik. Daun-daun dari pohon ginko akan berubah menjadi keemasan. Daun maple akan berubah warna memerah. Dan itu juga akan sangat indah." ucap kak Zen yang masih terus menatap kembang api di langit yang gelap.
Saat musim gugur, daun-daun akan berubah warna menjadi kemerahan, jingga, atau pun kuning sebelum akhirnya jatuh berguguran.
Proses perubahan warna daun tersebut lah yang diberi istilah koyo, atau lebih dikenal dengan momiji.Momiji ini menciptakan pemandangan berwarna-warni yang menyejukkan. Banyak lokasi di Jepang yang memiliki pemandangan dedaunan musim gugur yang luar biasa termasuk prefektur Nagano, gunung Takao di Tokyo, gunung Hachimantai di Tohoku, atau lokasi kuil dan taman manapun.
Tidak akan lama dedaunan ini berjatuhan dan musim dingin akan datang menghapusnya, sehingga momiji merupakan hal yang baik untuk dikunjungi dan disaksikan di Jepang pada bulan Oktober atau November.
"Kakak benar sekali. Musim gugur juga sangat indah. Tapi aku akan mengucap salam perpisahan dengan es serut, mi somen dan semangka deh." candaku dengan sedikit tawa kecil.
Kak Zen melirikku dan ikut tertawa kecil.
"Tapi kita bisa menikmati sajian yang terbuat dari labu, ubi, jamur matsutake, salmon dan kastanye Jepang. Makanan-makanan yang sangat bernutrisi yang bisa kita nikmati saat musim gugur." ucapnya dengan senyuman hangatnya.
"Hhm. Kakak benar!" aku tersenyum lebar menatapnya.
Berakhirnya musim panas bukan berarti harus bersedih. Akan tetapi harus tetap bersemangat untuk menyambut musim gugur yang tak kalah cantiknya. Bahkan biasanya akan ada bazar-bazar untuk diskon besar-besaran pakaian musim panas.
Ja matte ne musim panas! Kita akan bertemu kembali tahun depan. Aku akan selalu menantikannya. Karena kau sangat hangat.
Aku akan merindukan awan putih yang terbentang di langit biru, suara jangkrik, kerumunan orang yang mengenakan yukata, kibasan dari uchiwa (kipas dari plastik, bambu dan kertas yang biasa dipakai saat musim panas), dan kembang api.
__ADS_1
Aku juga akan merindukan suara dari furin atau lonceng angin dan tiupan angin sepoi-sepoi.
...***...