My Little Prince

My Little Prince
CHAPTER 4 : Make A New Life


__ADS_3

"Selamat pagi, Edwin. Selamat pagi Zara dan selamat pagi kucing manis."


Anak laki-laki tersebut tersenyum kearah anak kucing yang berada dalam gendongan Zara.


Dia menarik kursi miliknya untuk dia tempati duduk.


"Selamat siang Samm. Ini sudah siang, apa kau bangun kesiangan dan langsung pergi tanpa mau melihat jam?"


"Hm, aku pikir masih pagi."


Kedua anak tersebut menggeleng-gelengkan kepala mereka.


"Permisi tuan muda. Ini sarapan yang telah disiapkan untuk anda." Wanita berseragam pelayan tersebut membungkuk setelah meletakkan nampan di atas meja.


"Apakah anda membutuhkan yang lain?"


"Tidak. Terima kasih."


Wanita tersebut berpamitan pergi.


Setelah wanita itu pergi, Samm mengambil selembar roti dan menawarkan sarapannya yang kesiangan pada Edwin dan Zara. Keduanya kompak menggeleng.


Mereka melihat Samm yang sibuk mengoleskan selai kacang di atas selembar roti miliknya. Tanpa ba-bi-bu anak laki-laki tersebut melahap sampai habis roti miliknya.


"Apa ayah dan ibu kalian sudah pergi ke aula?"


"Masih pukul sebelas siang, Samm. Pertemuan orang tua kita diadakan sore nanti."


"Kenapa kita di ajak kemari?" Edwin menatap Zara dan Samm secara bergantian.


"Hm, entahlah. Aku kurang tahu pastinya, namun ini semua perihal bisnis." Ucap anak laki-laki tersebut setelah menelan rotinya.


Samm mengangkat gelas berisi susu, kemudian meminumnya setelah menarik napas dalam karena terlalu banyak bicara dengan dua orang yang usianya berjarak cukup jauh dengan dirinya.


Seorang pria berusia setengah baya datang ke meja mereka sambil membawa sebuah gulungan kertas. Pria tersebut menyapa ketiganya, memberi senyuman pada Edwin.


"Edwin, bisa kau ikut denganku?"


Edwin mengangguk, dia segera berdiri dari tempat duduknya.


"Tunggu sebentar.." Pria tersebut melirik Samm yang menikmati sarapannya, dia tampak tenang memakan lahap rotinya yang kedua.


Dia memiringkan sedikit kepalanya ke arah kiri. Mengamati wajah Samm dengan teliti sambil mengingat-ingat sesuatu di dalam kepalanya.


"Wah, wah.. Kau pasti pangeran kecil keluarga Nizcholn. "


"Benar. Apa ada masalah, tuan Woskn?"


Samm yang tadinya tidak mengacuhkan pria tersebut, dia melihat ke arah belakang. Dave tersenyum pada tuan Woskn. Pria itu memegang kedua pundak Samm dengan erat. Seolah tidak ingin Samm beranjak dari tempat duduk ataupun bereaksi meskipun dia datang.


"Oh, tentu tidak ada masalah. Sama sekali tidak. Memang siapa aku berani mencari ribut dengan tuan Davernso si pemilik senyum mematikan."


Dave hanya tersenyum sambil menatap tajam pada pria itu.


"Sampai jumpa, tuan Davernso."


"Selamat tinggal." Jawab Dave masih dengan senyumnya yang terlihat menawan jika dilihat sekilas.


Edwin dan pria tersebut berjalan pergi meninggalkan tempat itu.


Zara terlihat lesu, ia menarik napas dan membuang napas secara berulang sambil mengusap bulu kucingnya yang lembut.


Melihat itu, Dave tersenyum. Kali ini senyumnya benar-benar menawan dan memikat.


Pria berusia akhir dua puluhan tersebut menarik kursi dan duduk di sana. Mengamati wajah Zara yang berekspresi sedih.


"Aku mengerti, kau khawatir pada tuan Edwin. Namun tenanglah, dia akan baik-baik saja."


"Ya, aku akan tenang. Mungkin."


Zara mendongak, melihat seorang wanita yang sedang berjalan mendekati mereka. Dia hanya bisa tersenyum kecut ketika wanita itu tersenyum ke arahnya."


"Sepertinya giliranku." Dave mengalihkan pandangannya pada objek yang dilihat oleh Zara. Pria itu tersenyum paham atas sikap Zara pada kedatangan wanita itu.


"Hai, selamat siang."


"Apa kabar tuan Davernso?"


"Cukup baik nyonya Groel."


Sammuel menatap wanita itu dengan tatapan heran. Dia mengulum bibirnya saat wanita yang berpakaian glamor dan riasan tebal itu menatap Zara dengan tatapan memaksa.

__ADS_1


"Well, maaf karena mengganggu waktu kalian. Aku diminta tuan untuk menjemput nona Zara."


Zara tersenyum masam, dia beranjak dari tempat duduknya kemudian berpamitan pergi kepada


Sammuel dan Dave.


"Sampai jumpa tuan Davernso. Juga, tuan muda Nizcholn. Benar, bukan? "


Dave kembali menunjukkan senyumnya yang mematikan, tatapannya tajam pada wanita tersebut.


Wanita itu tersenyum ke arah Samm. "Senang bertemu denganmu, pangeran kecil keluarga Nizcholn. "


"Permisi."


Dave mendekat pada Samm, memberikan segelas susu yang tinggal setengah pada Samm.


Meminta anak laki-laki itu untuk segera menghabiskan susunya.


"Um, apa yang terjadi dengan mereka berdua?"


Dave mengedikkan bahunya, mengangkat alisnya saat Samm kembali meletakkan gelas yang sudah kosong.


"Kenapa kalian terlihat begitu serius?"


Dave beranjak dari tempatnya duduk, segera menunduk memberi hormat pada Masson.


"Dad."


Laki-laki yang datang bersama Laurent itu tersenyum. Mengacak-acak rambut Sammuel, kemudian ikut duduk di sebelah putranya.


"Bangun kesiangan, ya."


"Aku sangat lelah selama perjalanan."


"Nanti malam tidurlah lebih awal." Samm mengangguk pelan.


Dia melihat seorang anak kecil yang sedang bermain di tempat bermain. Anak laki-laki itu tersenyum, ingin pergi bermain dengannya.


Sammuel segera beranjak dari tempatnya duduk. Membuat Masson yang sejak tadi sedang berbincang dengan Laurent dan Dave mengalihkan perhatiannya pada Samm.


"Samm? Kau mau kemana?"


"Bermain di sana sebentar. Ya?"


Masson tersenyum tipis melihat anak laki-lakinya berlari pergi ke tempat bermain.


Sammuel menghela napas panjang, mencari anak kecil yang tadi sedang bermain di tempat itu. Matanya mencari ke setiap sudut ruang bermain. Tidak ada yang dia cari di sana. Anak laki-laki tersebut duduk di atas ayunan, mengayunkan ayunan tersebut pelan.


Masson berjalan mendekati putranya, tersenyum ke arah anak laki-laki tersebut. Mengajaknya untuk segera pergi.


><><><><><


"Terima kasih. Anda bisa menghubungi saya kapanpun anda mau."


"Tentu, senang bertemu denganmu." Masson tersenyum tipis pada pria yang telah membuat kesepakatan kerja dengan perusahaan miliknya.


Pria yang duduk di seberang Masson menjabat tangan laki-laki tersebut. Dia beranjak dari kursinya, kemudian pergi meninggalkan Masson dan Laurent.


Setelah pria tersebut pergi, Masson menghela napasnya panjang. Pertemuan bisnis yang membuatnya lelah karena belum ada jeda waktu untuknya istirahat.


"Masih ada satu pertemuan lagi, bukan?"


"Benar tuan. Kali ini pertemuan itu diadakan di bar."


"Siapa?"


"Tuan Chamst. Dia tidak ingin membahas pekerjaan sekarang, tuan Chamst hanya ingin menyapa anda. Itu sebabnya dia meminta diadakan pertemuan di bar."


Masson mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Jika Samm sudah datang, suruh Dave memberitahu hal itu padaku."


Laurent mengangguk, pria tersebut berjalan mengikuti Masson. Sesekali dia melihat handphone miliknya.


"Tempat ini lumayan bagus. Pantas saja bar milik Froell menjadi tempat para kalangan kelas kakap." Gumam laki-laki tersebut saat kakinya melangkah masuk ke dalam bar.


Laurent segera mengarahkan Masson ke sebuah ruangan tempat pertemuan diadakan.


"Tuan, anda ingin minuman apa?"


"Tidak, aku hanya akan melakukan pertemuan ini."

__ADS_1


Laurent mengangguk pelan, ia berdiri menyambut seorang pria yang datang bersama dengan seseorang yang tampak asing di pertemuan yang diadakan oleh Froell.


Tidak lama setelah keduanya masuk, datang dua orang pria lain. Laurent menyapa salah seorang dari mereka.


Masson tersenyum, dia beranjak dari tempatnya duduk. Menjabat tangan kedua pria tersebut.


"Selamat malam tuan Nizcholn. Bagaimana kabar anda?"


"Cukup baik. Bagaimana dengan anda?"


"Masih sama saja. Aku sudah semakin tua." Pria itu tertawa.


"Kenapa bahasa anda begitu serius. Laurent mengatakan jika pertemuan kita bukan pertemuan yang formal."


"Hahaha, benar. Kau memang benar, pertemuan ini tidak formal. Namun karena aku mengajak seseorang, jadi ini mendadak formal."


Masson mengangguk pelan sebelum menanggapi ucapan tuan Chamst. "Ini lebih terdengar familiar bagi saya."


Pria yang usianya sudah menginjak angka enam tersebut menepuk bahu pria di sampingnya.


"Dia Andromeda Kyrien Eiklesn."


Masson mengangguk ke arah pria yang duduk di samping tuan Chamst.


"Aku Masson. Senang berkenalan denganmu."


Andromeda balas tersenyum pada Masson.


"Jadi, bagaimana kabar putramu?"


"Dia tumbuh dengan baik."


"Ada rencana untuk menjodohkan dia?"


Masson tertawa pelan. Menertawakan hal yang paling lucu baginya.


"Dia masih kecil, aku baru satu tahun mengasuhnya sendiri. Lagi pula aku tidak terburu-buru."


Tuan Chamst menoleh pada Andromeda yang sedang di ajak bicara secara berbisik oleh salah seorang pria yang mengikuti Andromeda.


Pria yang berbisik pada Andromeda segera menjauh dari Andromeda saat sadar jika Chamst menoleh pada tuannya.


"Benar kau juga punya seorang anak, bukan?" Ucap tuan Chamst pada Andromeda yang segera melihat ke arah pria itu.


"Ya, dia masih sebesar ini." Andromeda menyentuh bagian lututnya.


Pria tersebut beranjak, meminta izin pada tuan Chamst dan Masson untuk pergi terlebih dahulu karena ada urusan yang mendadak.


Setelah Andromeda pergi, tuan Chamst tertawa pelan. Dia meminta tangan kanannya untuk menuangkan sebotol minuman ke dalam gelas.


"Kau tidak minum?"


Dengan sopan Masson menggeleng. Laki-laki tersebut melihat Laurent yang sibuk dengan layar telepon genggamannya. Pria tersebut mendekati Masson untuk membisikkan pesan yang baru saja dia baca.


"Tuan, tuan muda sudah hampir sampai." Masson hanya menanggapi dengan anggukan pelan.


"Tuan Chamst, saya sangat menyayangkan hal ini. Namun, saya punya urusan pribadi yang harus segera diselesaikan. Jadi sebagai ganti dari pertemuan yang sedikit kacau ini, saya mengundang anda untuk datang makan siang bersama keluarga kami. Saya akan merasa senang apabila anda datang ke undangan saya sebagai bentuk permintaan maaf kepada anda."


"Tentu, aku akan datang. Kau tidak perlu meminta maaf, urusan pribadi terkadang datang secara tiba-tiba. "


Masson beranjak, dia menjabat tangan tuan Chamst seraya mengucapkan terimakasih.


Laki-laki tersebut segera kembali menuju vila tempatnya menginap. Bersamaan dengan sampainya Masson di villa, sebuah mobil datang ke sana. Mobil hitam tersebut berhenti tepat di depan pintu masuk vila. Seorang anak laki-laki turun dari dalam mobil. Dia langsung terjatuh ke lantai saat melihat sang ayah yang sedang menyambut dirinya dengan senyuman.


Matanya sangat berat akibat kantuk. Segera Masson mengangkat tubuh Samm untuk dibawa ke kamar. Dengan sigap Laurent melepas sepatu yang dipakai Samm sebelum Masson membaringkan putranya di atas ranjang. Laki-laki tersebut tertawa pelan saat melihat Samm yang langsung nyaman ketika sudah berbaring di atas ranjang.


Masson berjalan mundur setelah membaringkan tubuh putranya di atas ranjang dan memasang selimut untuk menghangatkan tubuh Samm. Dia menarik napas dalam.


"Dave, kau tahu bukan. Pertemuan ini bukan hanya menyangkut bisnis kami semua."


Dave yang mengikuti Masson untuk membawa beberapa barang milik Samm mengangguk paham.


"Saya akan menjauhkan tuan muda dari mereka."


Masson mengangguk, menepuk bahu Dave perlahan. "Aku percayakan itu padamu."


Masson berjalan pergi meninggalkan kamar tersebut. Dia ingin melihat suasana malam di pinggiran pantai.


Laki-laki tersebut melihat seseorang yang sedang duduk di atas pasir pasir pantai. Karena tampak tidak asing bagi dirinya, laki-laki itu berjalan mendekat ke arah pria yang sedang duduk menghadap ke arah lautan lepas.


"Oh, hai!"

__ADS_1


><><><><><


__ADS_2