My Little Prince

My Little Prince
Harapan Selalu Ada


__ADS_3

"Haku pasti akan baik-baik saja. Kita harus percaya itu." ucap ibu Haku yang semakin membuat hatiku semakin sesak.


"Maaf, Ibu. Ini semua salah Yuko ... andai Haku tidak mengambil kalung itu, pasti Haku akan baik-baik saja saat ini." ucapku dalam isak tangisku.


"Semua sudah takdir, Sayang. Jangan menyalahkan diri sendiri ... yang terpenting sekarang jangan berhenti untuk mendoakannya! Haku pasti bisa melewati semua ini." ucap ibu Haku sambil mengusap kepalaku dengan hangat.


Sedangkan aku hanya mengangguk pelan saja dan menahan air mataku. Karena jujur, rasanya sakit sekali hati ini. Begitu sesak ...


"Yuko, siapa yang ada di dalam? Mengapa kamu berada di luar?" tanya ibu Haku setelah melepas pelukannya.


"Di dalam ada Anzu, Ibu ..." ucapku dengan pelan.


"Anzu? Oh Anzu yang itu ... baiklah, ayo masuk bersama!" ajak ibu Haku.


"Tapi kita hanya boleh masuk secara bergantian, Ibu."


"Tidak apa-apa. Ibu ingin masuk bersamamu, Yuko." ibu Haku menyauti dengan sangat ramah dan kembali mengusap sisa air mataku.


Aku mengangguk pelan dan berusaha untuk tersenyum padanya.


Ketiga rekan kerja Haku kini mulai mendekati kita.


"Selamat malam, Nyonya Mizaki!" sapa mereka bertiga bersamaan.


"Selamat malam. Terima kasih sudah membantu dan menjaga Haku. Jika kalian mau pulang tidak apa-apa kok. Malam ini saya dan Mirae akan menginap untuk menjaga Haku." ucap ibu Haku dengan ramah.


"Iya, Nyonya. Kita sedang menunggu Anzu." jawab Yuri.


"Baiklah. Sebentar. Saya akan masuk dan akan memanggilnya. Ayo Yuko!" ajak ibu Haku sambil menggandeng tanganku. "Mirae, kamu sama kak Sora tunggu disini dulu ya." imbuhnya sambil menatap Mirae dan Sora.


"Baik, Okaa-san." sahut Mirae masih dengan wajah yang sedikit murung.


Setelah itu ibu Haku segera menggiringku untuk memasuki ruangan dimana Haku dirawat.

__ADS_1


Tok ... tok ... tok ...


Ibu Haku mulai mengetuk pintu kemudian membukanya.


DDRRKK ...


Terlihat Anzu yang sedang duduk di samping brankar Haku dan dia segera berdiri menyambut kedatangan kita.


"Nyonya ... selamat malam." ucap Anzu lalu membungkukkan badannya.


"Anzu. Terima kasih sudah membantu menjaga Haku. Malam ini saya dan Mirae akan menjaganya. Jadi kamu boleh pulang bersama yang lainnya untuk beristirahat."


"Tapi, Nyonya ... uhm maksudku ... sebaiknya Nyonya beristirahat saja. Biarkan saya yang menjaga Haku." elak Anzu.


"Terima kasih, Anzu. Tapi disini bahkan ada Yuko. Dan tentu saja Yuko ingin menjaga Haku." ucap ibu Haku dengan tersenyum ramah menatap Anzu.


'"Tap ... tapi ..."


"Besok kan masih harus bekerja kembali. Kamu harus pulang segera beristirahat." ucap ibu Haku masih ramah.


Kini aku mulai menatap Haku yang sedang terbaring di atas brankar. Dia memakai alat pernafasan dan selang infus.


Ah ... rasanya nyeri sekali hati ini menyaksikan Haku dalam kondisi seperti ini. Dia yang sedang tak berdaya dan terbaring lemah juga membuat diriku semakin melemah. Seolah seluruh kekuatanku sirna begitu saja, seolah cahaya dalam hidupku seketika meredup begitu saja, kehangatan itu seakan sirna dan menjadikan begitu hampa dan dingin.


Haku ... bangunlah ... jangan pernah kau pergi lagi seperti saat itu. Aku tidak bisa tanpamu. Aku bisa gila tanpamu! Bangunlah, Haku! Bangun!


Perlahan aku mulai mendekati tubuh itu dan ibu Haku memintaku untuk duduk di kursi di sebelah Haku.


"Ibu akan keluar sebentar. Tolong jaga Haku, Yuko." ucap ibu Haku yang sepertinya sangat memahami isi hatiku. Sedari tadi aku memang sangat ingin melihatnya aku ingin menemani dan bersama dengannya.


"Baik, Ibu." sahutku dengan sangat pelan.


Ibu Haku tersenyum hangat dan mengelus kepalaku. Selanjutnya dia segera meninggalkan ruangan ini.

__ADS_1


Aku mulai menatap nanar ke arah Haku. Lagi-lagi aku tidak bisa menahan tangisku. Perlahan aku mulai meraih jemari Haku. Terasa begitu hangat aku rasakan. Aku mulai menggenggamnya dengan kedua belah tanganku.


Tangan yang selalu ada untukku. Tangan yang selalu menggenggamku di saat lemah, tangan yang selalu menghapus air mataku, tangan yang selalu memberi kehangatan dan cinta.


"Haku ...bangunlah ... aku berjanji akan lebih banyak memahamimu melebihi yang lain! Aku berjanji tidak akan membahayakanmu lagi." ucapku begitu lirih.


"Kembalilah, Haku! Aku mohon kembali dan buka matamu! Jangan pergi lagi!" aku hampir tidak bisa mendengar suaraku sendiri. Rasanya sudah sangat tidak bertenaga dan begitu lelah.


Perlahan aku merasakan ada pergerakan pada jemarinya secara perlahan.


"Haku ... apa kamu mendengarku? Haku ... bangunlah ..." ucapku begitu panik.


Karena tidak ada respon lagi aku segera bergegas meninggalkan ruangan ini untuk mencari dokter. Sementara aku mencari dokter, Mirae, ibu Haku dan Sora segera memasuki ruangan Haku untuk melihat apa yang terjadi.


Beberapa saat aku sudah kembali dengan seorang dokter. Dia segera memeriksa kondisi Haku saat ini.


Rasaanya sangat tidak karuan hatiku saat ini. Aku selalu berharap untuk mendengarkan sebuah harapan yang akan disampaikan oleh dokter itu. Semoga saja ...


Ibu Haku terlihat memeluk Mirae, karena Mirae juga terlihat begitu sedih dan ketakutan. Sementara Sora memeluk bahuku, berusaha untuk menenangkan aku.


Sementara dokter itu terlihat masih dengan serius memeriksa kondisi Haku saat ini. Hingga beberapa saat akhirnya Haku mulai membuka matanya perlahan. Namun masih terbuka sedikit dan masih terlihat begitu lemah.


Rasanya sangat lega sekali melihat Haku yang kini mulai membuka matanya kembali. Syukurlah Haku bisa baik-baik saja.


Alat pernafasan itu juga sudah mulai dilepas oleh dokter itu. Pandangan Haku masih terlihat seperti orang ling lung. Apakah dia baik-baik saja? Perlahan aku mendekati brankarnya. Tak sabar untuk menyapa dan berbicara dengannya.


"Pasien sudah sadar. Namun pelan-pelan saja mengajaknya berbicara. Karena terlalu banyak asap panas yang sudah dia hirup mengakibatkan inflamasi pada paru-parunya dan jalur pernafasannya mengakibatkan membengkak dan menghalangi oksigen. Namun syukurlah kita masih belum terlambat untuk bertindak dan menanganinya. Dan lagi ... pasien memiliki sebuah trauma dengan kebakaran. Jadi pelan-pelan saja jika berbicara dengan pasien. Jangan terlalu memberikan obrolan-obrolan berat." ucap seorang pria paruh baya dengan almamater putih bersinar itu.


Aku menghembuskan nafas lega. Rasanya sungguh baru bisa bernafas dengan lega saat ini ketika mendengar Haku bisa melewati masa sulit itu. Bukan hanya aku, namun Sora, Mirae dan ibu Haku juga terlihat begitu lega saat ini.


"Baik, Dokter. Terima kasih banyak." ucap ibu Haku dengan senyum menghiasi wajahnya yang sudah sedikit keriput dan sembab dikarenakan menagis.


"Sama-sama. Kalau begitu saya permisi. Jika ada sesuatu jangan sungkan untuk memanggil saya kembali." dokter itu menyauti dengan sangat ramah.

__ADS_1


"Baik, Dokter." sahut ibu Haku.


Dokter itu segera meninggalkan ruangan. Sementara aku, Mirae dan ibu Haku sedikit mendekati brankar untuk menemani Haku.


__ADS_2