
Kita bertiga memesan taksi online dan segera menuju ke kediaman keluarga Mizaki. Di sepanjang perjalanan aku lebih banyak diam karena sebenarnya aku masih sangat gugup.
Taxi itu terus melaju dan berhenti tepat di depan sebuah rumah. Rumah yang sangat familiar untukku. Dan kita segera turun. Aku membantu Ibu dan Ayahku untuk membawa beberapa bingkisan yang entah aku tidak tau apa isinya itu.
Ayah segera memencet bel rumah Haku. Tidak terlalu lama menunggu kini pintu telah terbuka. Terlihat seorang wanita paruh baya tersenyum lebar melihat kedatangan kita. Senyumannya terlihat begitu hangat. Mirip sekali dengan senyuman Haku.
"Wah. Apa kabar? Sudah lama sekali tidak bertemu dengan keluarga Matzuo!" sambut Ibu Haku dengan ramah dan hangat lalu memeluk Ibuku.
"Benar sekali. Sudah cukup lama tidak bertemu! Kami baik-baik saja. Bagaimana dengan kalian?" kini Ibuku melepas pelukannya dan masih saling bertatapan dengan Ibu Haku.
"Kita juga baik. Mari masuk ..." Ibu Haku menatap Ayahku lalu menatapku penuh kegembiraan.
Kita semua segera memasuki rumah dan mengikuti Ibu Haku. Di dalam sudah ada Mirae dan Ayah Haku juga. Kita semua duduk di ruang tamu bersama. Tapi dimana Haku? Aku tidak melihatnya daritadi. Apa dia tidak jadi cuti kuliah hari ini? Aku sedikit celingukan masih mencari sosoknya.
"Haku dimana ya?" tiba-tiba Ayahku menanyakan keberadaan Haku.
"Dia akan segera datang. Dia sedang bersiap karena tadi sedikit pulang terlambat dari kantor." ucap Ayah Haku ramah.
Mereka sedang asyik mengobrol bersama kembali. Saling melepas kerinduan karena sudah cukup lama tidak saling bertemu. Kalau tidak salah sudah 4 tahun mereka tidak bertemu.
Keluargaku dan keluarga Haku sudah sangat dekat sejak kita masih tinggal di Sapporo. Bahkan aku sudah memanggil orang tua Haku dengan panggilan Ibu dan Ayah sejak dulu saking dekatnya.
Disaat mereka masih asyik mengobrol, aku melihat sosok yang sedang menuruni tangga dan mulai berjalan ke ruangan kita semua berada. Haku datang dan segera menyalami kedua orang tuaku. Malam ini dia terlihat sangat bersinar. Wajahnya juga sangat bersinar dan terlihat sangat bahagia.
Dia mengenakan kemeja putih lengan panjang namun sedikit dilipat bagian lengannya. Malam ini dia juga sedikit merubah gaya rambutnya dengan menyisirnya kesamping belakang. Terlihat sangat tampan dan begitu menawan.
"Om, Tante ... Sudah lama ya?" ucap Haku lalu duduk di seberangku.
"Tidak kok. Baru saja kita datang." sahut Ayahku dengan ramah.
__ADS_1
"Mirae sudah tumbuh besar ya. Terakhir kali bertemu sepertinya masih SD ya ..." ucap Ibuku yang tersenyum menatap Mirae. "Sekarang sudah kelas berapa, Sayang?"
"Sudah kelas X, Tante." sahut Mirae dengan ramah dan tersenyum manis.
"Wah tidak terasa waktu berjalan begitu cepat ya ..." ucap Ibuku dengan tawa kecil. Lalu mereka juga tertawa bersama.
Mereka kembali berbincang dengan obrolan-obrolan ringannya. Sementara aku hanya mendengarkannya saja dan sesekali ikut tertawa bersama mereka.
Aku dan Haku yang duduk saling berseberangan terkadang saling mencuri pandang satu sama lain. Dan saat mata kita saling bertemu dia selalu tersenyum lebar kepadaku.
Tiba-tiba aku kefikiran soal ucapan Haku tadi pagi. Dia mengatakan malam ini punya kejutan untukku. Tapi apa itu ya? Hadiah? Kado? Ehm ... Tapi aku sedang tidak berulang tahun. Jadi apa ya?
Aku terus memikirkan itu tapi tidak menemukan satupun jawaban yang membuatku puas.
"Ehemm ... Begini ..." tiba-tiba Ayah Haku berdehem dan terlihat mulai berbicara dengan serius. Aku mendengarkannya, namun saat ini aku dan Haku masih saling membuat kontak mata.
"Sebenarnya ini terlalu mendadak untuk mengatakannya. Bahkan bisa dibilang terlalu mendadak untuk mengambil keputusan ini. Tapi menurutku ... Ini yang terbaik untuk Haku dan Yuko ..."
"Karena kita saling berjauhan maka sulit untuk membuat sebuah acara yang besar, apalagi ini juga mendadak sekali." ucap Ayah Haku lagi. "Tapi aku berjanji pada acara puncaknya nanti aku akan mengadakan perayaan yang layak."
"Maksud kamu apa ya, Mizaki?" tanya Ayahku sedikit mengkerutkan keningnya yang sudah sedikit keriput.
Aku sendiri sebenarnya juga tidak mengetahui maksud pembicaraan Ayah Haku.
"Haku sangat menyukai Yuko. Dan dia ingin menikahinya kelak. Bagaimana kalau malam ini mereka membuat janji pernikahan dulu? Tunangan dulu, baru setelah itu kita mencari waktu yang tepat untuk menikahkan mereka?"
Ucapan Ayah Haku sangat membuatku terkejut. Aku terdiam membeku beberapa saat dan tak bisa berkata apa-apa. Ini sungguh sangat mengejutkanku. Aku tidak menyangka malam ini akan menjadi seperti ini. Janji pernikahan? Tunangan? Itu berarti aku akan segera menikah?
"Yuko ..." kali ini Ayah Haku menatapku dan tersenyum ramah. "Apa kamu bersedia menjalani janji pernikahan bersama putraku, Haku?"
Jujur saja aku semakin berdebar mendengar pertanyaan Ayah Haku. Bahkan kedua bola mataku seperti bergetar sedikit seperti tak percaya dengan apa yang sedang terjadi saat ini.
__ADS_1
Semua mata kini menatap ke arahku dan membuat kegugupanku seketika meningkat.
"Sayang ..." tiba-tiba Ibu menyentuh salah satu jemariku dan aku menatapnya . "Apa kamu mau bertunangan dengan Haku?" ucapnya begitu lembut.
Aku memberanikan diri untuk menatap Haku dan kini dia sedang tersenyum manis menatapku dan sedikit menganggukkan kepalanya. Jadi inikah yang kau maksut kejutan itu, Haku?
Baiklah ... Kali ini aku akan menjawabnya dengan benar. Aku tersenyum padanya lalu menatap Ayah Haku.
"Baik, Ayah. Yuko bersedia ..." ucapku hati-hati.
Seketika mereka seperti bernafas lega dan suasana menjadi sedikit riuh.
"Syukurlah ... Ibu sangat senang malam ini." ucap Ibu Haku terharu.
"Tapi apa tidak apa-apa pertunangannya hanya dilangsungkan sederhana antar keluarga seperti malam ini?" ucap Ayah Haku sedikit ragu-ragu.
"Itu bukan masalah besar." sahut Ayahku dengan sedikit tawa. Disertai Ibuku yang tersenyum lebar.
"Ini hanya sebagai pengikat saja sementara. Lalu untuk pernikahan kira-kira kapan akan dilaksanakan?" tanya Ibuku bersemangat.
"Yuko, Haku ... Apa kalian tidak keberatan jika menikah tahun depan? Pada musim semi? Bagaimana?" tanya Ayah Haku menatapku dan Haku secara bergantian.
"Aku terserah keputusan Ayah, Ibu, Tante dan Om saja ..." ucap Haku begitu tenang.
"Bagaimana denganmu,Yuko?" Ayah Haku kini menatapku dan sedang menungguku mendengar jawabanku.
"Iya, Ayah. Yuko juga terserah saja." kataku akhirnya.
Hhm ... Padahal rasanya aku ingin sekali menikah setelah lulus kuliah nanti. Tapi ... Tidak apa-apa deh. Setelah menikah aku akan selalu bersama dengan Haku. Bahkan seharian dengannya. Ah, Senangnya ...
"Baiklah kalau begitu." ucap Ayah Haku. "Tolong bawa kemari cincinnya, Mirae!" perintah Ayah Haku kepada Mirae.
__ADS_1