
"Haku ... Selama ini kamu selalu ada untukku. Dan jika kau butuh pundak untuk bersandar ... Aku akan selalu ada untukmu." ucapku pelan.
Aku tidak pernah melihat Haku yang sedikit gugup dan sedikit tertekan seperti malam ini sebelumnya. Aku selalu melihat Haku yang ceria, kuat, dan hangat. Aku melupakan sesuatu jika juga dia bisa menjadi seperti ini ...
Haku meraih tanganku perlahan dan sedikit menundukkan kepalanya. Dan dia mencium punggung telapak telapak tanganku yang sedikit dingin.
Bibirnya yang lembut dan hangat berlama-lama disana. Membuat wajahku kembali memerah.
"Aku merasa sangat senang hari ini bersamamu disini." kata Haku tersenyum menatapku. "Hari itu adalah hari yang indah di musim gugur. Aku melihat daun ginko keemasan yang beterbangan tertiup angin. Dan aku juga sempat melalui waktu yang cukup gelap saat itu. Dialah yang mengatakan padaku untuk hidup lebih kuat. Dan dia juga mengatakan padaku untuk bisa menjalani kehidupan yang baik dan lembut." ucapnya begitu hangat dan masih menggenggam jemariku. Sepasang mata yang indah dan sangat jernih itu menatapku dalam.
"Di masa depan aku akan memberikan segalanya untuk selalu bersamanya. Untuk selalu merawat dirinya. Untuk selalu mencintainya. Aku tidak pernah merasa sendirian setelah bertemu dengannya. Dan aku ingin selalu bersamanya. Gadis itu adalah kau, Yuko." katanya dengan tatapan hangatnya. Dan aku juga menatap matanya lekat-lekat. Jantung dan hatiku tiba-tiba terasa sedikit aneh. Sedikit berdebar tapi terasa nyeri.
Ya, aku ingat pertemuan pertama kita saat itu. Saat itu kita masih pra TK dan kita belum saling mengenal baik. Bahkan aku belum mengetahui namanya saat itu.
Aku melihat beberapa anak SD yang sedang mengkeroyok Haku kecil saat itu. Aku yang melihat kejadian itu segera mendatanginya dan mengancam mereka akan melaporkannya kepada guruku. Setelah menghajar dan memalak Haku kecil senior-senior itu meninggalkan Haku sendirian. Dan aku segera mendatanginya yang sedang terduduk.
"Apa kau baik-baik saja?" aku masih berdiri. Lalu dia mendongak ke atas menatapku. Aku melihat sudut bibirnya yang berdarah. Dan aku segera mengambil sapu tangan di dalam saku seragamku dan memberikan padanya.
"Terima kasih ..." ucapnya pelan lalu mengelap sudut bibirnya dengan sapu tangan itu.
"Lain kali kalau mereka mengganggumu lagi laporkan saja kepada guru!" ucapku saat itu.
"Hhm ... Iya."
"Lain kali kau harus lebih kuat! Dan kau harus menjalani hidupmu dengan baik dan lembut. Jangan seperti senior-senior itu. Sangat jahat!"
"Iya ... Aku akan menjalani hidupku lebih baik lagi!"
Angin mulai berhembus dan aku melihat daun-daun ginko keemasan mulai beterbangan tertiup angin saat itu. Musim gugur yang sangat indah ...
__ADS_1
Aku dan Haku menatap daun ginko yang menari-nari di udara itu. Sangat indah ...
"Haku ..." teriak seseorang lalu menghampiri Haku yang kini sudah berdiri bersamaku.
Itu adalah pertama kali aku mengetahui namanya. HAKU ... Jadi namanya adalah HAKU ? Padahal aku adalah teman sekelasnya ....Tapi aku tidak mengetahui namanya.
"Kau kemana saja? Kenapa bibirmu berdarah? Apa senior itu melakukannya lagi?" tanya teman Haku tadi terlihat sangat khawatir.
"Aku baik-baik saja, Kiro ..." sahut Haku kecil meringis.
"Ayo kita pulang!" ajak Kiro.
"Terima kasih, Yuko ... Dan aku akan segera pulang. Ja matte ne ..." ucap Haku tersenyum padaku saat itu.
Dia mengetahui namaku? Bahkan aku saja baru mengetahui namanya. Dan aku merasa sedikit bingung saat itu. Tapi aku memutuskan untuk segera pulang saja.
Setelah kejadian itu aku menjadi lebih akrab dengan Haku. Bahkan aku hanya mau bermain bersamanya. Rasanya sangat nyaman sekali saat bersamanya. Ternyata dia sangat baik dan lebih dewasa dariku. Disaat aku menangis dan merengek karena sesuatu dia terlihat sangat kebingungan. Dia pergi dan membeli permen dan coklat untukku. Disaat itulah aku baru berhenti menangis.
Sejak saat itu, aku tidak pernah dekat bahkan tidak memiliki teman laki-laki lagi. Aku juga tidak pernah menjalin ikatan bersama pria lain.
Mengingat itu semua membuatku merasa sangat sedih. Tak terasa mataku sudah sedikir berair saat ini.
"Maaf jika aku terlalu banyak bicara ..." kata Haku membuyarkan kenangan masa laluku. Dia terlihat sedikit murung.
Mata kita saling bertemu, aku merasa seperti hati dan jantungku berhenti bekerja untuk sesaat. Ini terlihat seperti sebuah harapan untuk selalu bersama. Bahkan seperti kita tak akan bisa jika tidak hidup bersama di masa depan.
Ternyata Ibu dan Bibiku sudah kembali menyaksikan kita. Tetapi kita tak menyadari kedatangan mereka. Mereka sedikit tersentuh. Bahkan Ibu dan Bibiku sempat mengeluarkan air mata.
"Wah ... Benar-benar menyentuh hati. Benar-benar awal musim gugur yang terbaik dan paling indah." celutuk Ayana.
__ADS_1
Aku dan Haku saling mengalihkan pandangan dan aku segera menarik tanganku karena merasa sedikit malu. Namun lagi-lagi Haku menahannya.
"Jangan biarkan makanannya menjadi dingin, Haku! Ayo kita makan ..." ajak Ibuku lalu menyiapkan makanan di meja.
"Itu adalah kata-kata yang manis dan indah. Tapi tindakan yang nyata akan lebih baik dari kata-kata." ucap Bibiku dengan tegas. "Kita sudah semakin tua, dan kita juga tidak akan bisa selalu membersamainya selamanya. Bibi harap kamu bisa menepati ucapan dan janjimu untuk selalu bersamanya, untuk selalu menjaganya, dan mencintainya." lanjut bibiku pelan tapi penuh penekanan.
Mendengar itu, Haku semakin menggenggam jemariku dengan kuat.
"Iya. Aku akan memegang semua ucapan dan janjiku!" sahut Haku percaya diri.
"Baiklah. Sekarang mari menikmati makanan penutup dulu, Sayang ..." ucap Ibuku mencairkan suasana kembali. Karena tak mungkin membahas pernikahan hanya dengan Haku saja. Kita juga membutuhkan kehadiran keluarga Haku.
Kita semua segera berkumpul kembali untuk menikmati beberapa dessert.
Setelah itu Haku segera pamit untuk pulang karena waktu sudah menunjukkan 10 Pm. Dan aku mengantarnya hingga di luar.
Haku membelai rambutku dengan lembut. Dan dia menatapku dengan senyuman hangatnya.
"Terima kasih sudah datang malam ini. Maaf jika malam ini sedikit menyusahkanmu ..." ucapku pelan.
"Aku sudah mengatakannya sebelumnya, Yuko. Tidak ada kata terima kasih dan maaf untuk ikatan kita ..." dia tersenyum samar. Dan dia terlihat sangat tampan ketika cahaya lampu jalan yang menyinari wajahnya.
"Aku kira kau tidak akan datang karena ponselmu tidak bisa dihubungi ..." aku sedikit menundukkan kepalaku.
"Itu salah Ken. Dia memakai ponselku untuk bermain game tadi sore."
"Ken datang ke rumahmu?"
"Aku yang ke kontrakan dia. Dia berjanji akan mengajariku sesuatu."
__ADS_1
"Mengajari sesuatu?" ucapku bingung.
Haku yang sudah genius ini mau belajar apa lagi dari Ken? Aku jadi sedikit penasaran ...