
Aku membuka mataku perlahan.
Dan aku sedikit terkejut melihat pemandangan yang sedang berada di depanku sekarang.
Pemandangan yang sangat indah, melebihi pemandangan pantai Enoshima.
Menurutku sih. Hihi..
Aku melihat Haku yang masih tertidur dengan pulas di hadapanku.
Haku sudah seperti cowok Ikemen saja. Cowok dengan mata sipit yang cerdas dan dewasa.
Haku memiliki mata yang sangat menawan. Tatapannya begitu menghanyutkan. Mata yang hanya menatap seseorang seolah bisa berbicara. Dari tatapan mata saja seakan bisa langsung berkata-kata.
Tatapan matanya selalu memiliki emosi yang sedang terjadi dalam dirinya. Bahkan, ketika dia sedang murung atau bersedih, mata ini bisa menjadi lebih menarik dan lebih menawan. Saat menatap matanya ketika dia sedang mencoba mengatakan perasaan sayangnya, bisa membuat jantungku berdegup kencang seperti drum dan membuat jantungku seakan jadi melorot sampai ke lutut.
Haku juga memiliki suara yang berat, dewasa dan sedikit sexy. Ketika dia berbicara, suaranya saja sanggup merobohkan dinding pertahanan diri.
Oh My!
Haku memiliki kulit yang putih, bersih dan sehat. Menjadikannya semakin menawan dan sangat bersinar saja. Cahayanya seperti mentari yang begitu menghangatkan.
Haku memiliki badan yang sangat ramping dan atletis. Badannya tinggi, kekar, namun tidak terlalu berotot. Dia juga memiliki bentuk rahang, jari-jari tangan, dan juga struktur tulang yang sangat tegas.
Haku juga sangat stylish. Dia selalu tampil modis, trendy dan sophisticated. Bahkan dalam pakaian paling santai pun, dia akan terlihat sangat trendy.
Ah, Manisnya dia ...
Perlahan aku membelai pelan wajahnya dan itu membuatnya sedikit terbangun. Kini dia membuka matanya perlahan.
"Ohayoo, Haku ..." kataku pelan dan memberikan senyuman terbaikku padanya.
"Emmhh ..." dia sedikit bersuara dan tersenyum padaku.
"Ohayoo, Yuko." katanya pelan lalu melingkarkan kembali tangannya di tubuhku.
"Haku, bangun! Ini sudah siang." kataku pelan.
"Sebentar lagi deh ..." Haku sedikit merubah posisinya tapi masih memelukku.
__ADS_1
"Kalau begitu aku mandi dulu ya."
"Hai ..."
Aku mengecup pelan pipinya lalu hendak bangkit tapi dia malah menahan punggungku.
"Jangan bertingkah terlalu manis padaku saat pagi, Yuko ..." katanya. Jarak antara wajah kita hanya beberapa Inchi saja.
"Kenapa?" tanyaku tak mengerti.
"Itu sangat menggodaku ..." Haku menatapku dengan matanya yang membuatku meleleh.
Dan tepat pada saat ini, satu-satunya yang bisa aku lihat hanyalah mata Haku yang begitu mendalam dan sangat menawan. Menjulang besar di depanku.
Apa maksud Haku? Aku tidak mengerti. Aku sedikit bingung dengan ucapannya.
"Ehm, Baiklah." kataku mengiyakan saja perintahnya. Setelah itu dia melepaskanku dan membiarkanku pergi.
Aku segera pergi ke kamar mandi dan melakukan ritual mandiku.
Ah, sabun-sabun ini sungguh harum dan sangat lembut sekali. Sama seperti saat aku menginap di Mitzui Garden Hotel Nihonbashi Premiere dulu.
Tuhan, terima kasih telah memberiku kesempatan untuk bertemu dengannya lagi.
Kisah ini sungguh sangat unik sekali ...
Bagaimana kalau aku membuatnya menjadi sebuah novel ya? Wah, sepertinya akan menarik. Baiklah, aku akan mencobanya nanti deh.
Setelah beberapa saat aku sudah menyelesaikan ritual mandiku. Aku segera berganti pakaian dan segera kembali ke kamar. Dan ternyata Haku masih belum bangun.
Perlahan aku membuka tirai dan jendela kamar. Hamparan pasir yang sangat luas terlihat dari sini. Pantai Enoshima di kala pagi hari juga tak kalah cantik. Ah, rasanya jadi ingin bermain lagi di pantai.
Haku terbangun karena cahaya mentari yang begitu menyilaukannya. Kini dia segera duduk dan sedikit mengucek matanya.
"Ohayoo ..." sapaku lagi sambil menatapnya dari kejauhan.
"Ohayoo. Ima nanji desu ka, Yuko-chan?" ( Selamat pagi. Jam berapa sekarang, Yuko? )
"Sekarang sudah tepat jam 9 pagi."
__ADS_1
"Ah, sudah agak siang ya." katanya lalu turun dari ranjang. "Aku akan mandi sebentar dulu ya."
"Hhm. Bolehkah aku keluar sebentar melihat pantai, Haku?"
"Tentu saja. Tapi jangan jauh-jauh ya." kata Haku sambil tersenyum hangat menatapku.
"Hhm." aku tersenyum lebar dan mengangguk.
Haku segera bergegas untuk mandi sementara aku pergi keluar untuk melihat pantai.
Musim panas yang begitu hangat. Cocok sekali untuk mengunjungi pantai seperti ini. Banyak sekali kujumpai toko-toko penjual makanan dan minuman dan loker penyimpanan barang yang berdiri di sepanjang pantai. Musim panas adalah waktu favorit orang-orang untuk mengunjungi pantai di Enoshima.
Ombak di Pantai Enoshima sangat cocok bagi yang ingin mencoba berselancar atau sekadar berenang. Berbeda dengan Pantai Kamakura yang sulit diprediksi kondisi lautnya (kadang-kadang gelombang dan arus berubah dengan cepat), Pantai Enoshima lebih aman untuk berselancar dan berenang. Pantai berpasir juga membuat para pengunjung dapat berjemur sepanjang hari atau yang ingin bermain dan berkejaran. Seru sekali!
Selain itu, aku melihat ada banyak fasilitas yang tersedia di Pantai Enoshima. Di sisi barat pantai, tersedia lapangan voli yang dapat digunakan secara gratis. Pengunjung bisa bermain bersama dengan para pengunjung lainnya. Selain itu, tersedia panggangan untuk pengunjung yang ingin menghabiskan malam bersama-sama dalam acara barbeque.
Bahkan kita juga bisa melihat gunung Fuji dari sini. Aku bisa melihat Gunung Fuji di sebelah kanan!
Wah, itu semua sungguh keren sekali.
Aku juga bisa melihat jembatan Bentenbashi di sisi kanan. Jembatan Bentenbashi adalah jembatan yang menghubungkan pantai Kamakura dengan pulau Enoshima, yang selalu ramai dikunjungi pada saat musim liburan. Itu karena waktu hari yang cerah, saat menyeberang ke Pulau Enoshima, kita bisa melihat Gunung Fuji di sebelah kanan!
Angin laut yang begitu segar bisa kurasakan dari sekarang. Wuuuh ... Segar sekali. Aku masih berjalan santai si bibir pantai. Aku menyusuri bibir pantai Enoshima.
Tiba-tiba ada yang memegang bahuku dari belakang.
"Sendirian saja, Nona?"
Aku berbalik dan menatap si pemilik suara. Seorang pria yang tak kukenal menyapaku. Pria yang berbadan besar dan sedikit bertato itu menatapku terus. Siapa dia? Apa dia seorang penculik?
"Ah. Aku bersama temanku." kataku sambil melepas tangannya dari bahuku dengan sopan.
Lalu dia celingukan mencari seseorang.
"Tapi tak ada orang lain disini. Ayo ikut aku saja!" katanya lalu menarik tanganku dengan kasar. Dan aku berusaha melepaskannya, tapi kuat sekali dia menarikku.
"Lepas! Jangan sembarangan menyentuh orang!" kataku sedikit kasar.
"Diamlah! Aku hanya ingin bersenang-senang denganmu, Nona." katanya lalu menarik tanganku lagi. Aku masih berusaha menahan badanku agar tidak mengikuti langkahnya. Tapi dia terlalu kuat.
__ADS_1
"Lepas!" aku masih berusaha melepaskan tangannya tapi ternyata sia-sia saja. Dia malah semakin menarikku dengan kuat.