
Hari ini kita berangkat ke kampus hanya bertiga. Aku, Sora dan Jessica.
"Ken mengirimkan sebuah pesan padaku. Katanya dia akan kuliah sore hari ini. Jadi kita tidak usah menunggu dia." ucap Jessica saat kita bertemu di bawah.
"Oh ... Kuliah sore ya?" ucapku sedikit curiga.
Apa dia sedang menghindari Sora? Sora belum menceritakan soal kejadian semalam kepadaku. Karena setelah pulang mencari kak Ave kita berdua ketiduran begitu saja karena terlalu lelah dan mengantuk.
...***...
Hari ini berlalu dengan begitu cepat untukku. Namun sepertinya tidak untuk Sora. Dia terlihat sedikit tidak tenang hari ini.
Itu karena dia belum bisa menghubungi kak Ave sama sekali. Bahkan hari ini dia juga belum bisa menemukan kak Ave di kampus.
Sebenarnya aku juga sedikit kepikiran dan penasaran. Kemana kak Ave pergi? Dari semalam dia tidak bisa dihubungi sama sekali. Bahkan di kampus dia juga tidak ada.
Tiba-tiba aku dan Sora melihat kak Zen yang sedang berjalan di salah satu koridor kampus, dan dia terlihat sedang buru-buru.
Aku dan Sora segera berlari kecil untuk menghampiri kak Zen. Yeap, tentu saja kita akan mencari tau tentang kak Ave kepada kak Zen.
"Kak Zen ..." teriak Sora memanggil kak Zen.
Kak Zen menghentikkan langkahnya dan berbalik melihat kita.
"Ya?" katanya seadanya. "Ada apa, Sora ... Yuko?" tanya kak Zen yang menatap kita secara bergantian.
"Uhm. Apa kak Ave tidak kuliah hari ini?" tanya Sora sedikit ragu.
"Hhm?" kak Zen terlihat sedang sedikit berpikir. "Iya. Ave tidak kuliah hari ini." imbuhnya lagi.
"Oh ... Ponselnya kenapa tidak aktif dari kemarin, Kak?" tanya Sora lagi.
"Sebenarnya Ave sedang dirawat di rumah sakit."
"Apa?" ucapku bersamaan dengan Sora. Kita berdua benar-benar sangat terkejut mendengar ucapan kak Zen.
__ADS_1
"Kemarin malam dia mengalami sedikit kecelakaan. Seorang pengendara yang ugal-ugalan menyerempetnya begitu saja dan melarikan diri." kata kak Zen pelan. "Setelah mendapat panggilan darimu kakak mendapat telpon dari rumah sakit. Maaf kakak tidak sempat mengabarimu lagi kemarin malam, Yuko." imbuh kak Zen lagi.
Sora terlihat begitu shock mendengar penjelasan dari kak Zen. Dia hanya terdiam mematung dan terlihat sedang memikirkan banyak hal.
"Kak Ave dirawat di rumah sakit mana, Kak?" tanyaku pada kak Zen.
"Kalian mau kesana? Kalau begitu kita pergi bersama saja. Kebetulan kakak juga akan pergi kesana sekarang."
"Hhm. Iya, Kak!" sahutku lalu menggandeng Sora.
Kita bertiga segera bergegas untuk pergi ke rumah sakit dimana kak Ave dirawat. Kita menaiki subway bersama. Di sepanjang perjalanan Sora hanya terdiam dan masih terlihat banyak pikiran.
Aku kembali menggenggam tangannya. Dan berusaha untuk sedikit menghiburnya.
"Sora. Tenanglah ... Semua akan baik-baik saja ..." ucapku pelan.
"Yuko. Aku takut sekali ... Bagaimana kalau kak Ave kenapa-kenapa? Semalam kita sedang sedikit ada masalah ..." ucapnya pelan.
"Tenangkan dirimu, Sora ... Semua akan baik-baik saja." ucapku lagi dengan seulas senyum menatap Sora.
Kak Zen berjalan di depan, sementara aku dan Sora mengikutinya dari belakang. Dia terus menyusuri lorong rumah sakit lalu mulai menaiki lift. Dan kita berhenti di lantai 5.
Kak Zen mulai berjalan kembali menyusuri sebuah koridor. Dan di ruangan paling ujung aku melihat kak Keisuke yang sedang terduduk dengan menyangga dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Kita bertiga segera menghampirinya, dan ada sedikit yang begitu mengejutkan untuk kita.
"Keisuke ..." sapa kak Zen.
Kak Keisuke mendongak perlahan dan dia terlihat dengan ekspresi sangat sedih. Bahkan dia terlihat seperti habis menangis. Sebenarnya ada apa ini?
"Zen ..." sahut kak Keisuke dengan suara yang sedikit parau.
"Kei, ada apa sebenarnya?" tanya kak Zen yang terlihat begitu bingung.
"Ave ... Ave ..." kata kak Keisuke yang kembali menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya lagi. Dan dia sedikit terisak kembali.
__ADS_1
Sebenarnya ada apa? Kenapa kak Keisuke sampai menangis seperti ini? Apa yang sebenarnya sudah terjadi dengan kak Ave?
"Ave kenapa?" tanya kak Zen yang terlihat sedikit tak sabaran mendengar ucapan kak Keisuke yang sedikit berbelit. "Apa yang terjadi dengan Ave?" imbuhnya lagi menandaskan.
"Ave ... Ave ... Dia ..." kak Keisuke tidak melanjutkan kata-katanya dan kembali menangis lagi.
Karena sangat penasaran dan tak sabar mendengar ucapan kak Keisuke, akhirnya kak Zen langsung memasuki ruangan kak Ave dirawat. Aku dan Sora juga segera mengikutinya dari belakang.
Betapa terkejutnya kita bertiga setelah menyaksikan semua ini. Seorang pasien yang terbaring di atas brankar dan sekujur tubuhnya sudah ditutup dengan kain putih.
Mata kita bertiga membelalak dan Sora menutup mulutnya yang terbuka dengan salah satu telapak tangannya.
Mata Sora kini sudah berkaca-kaca saja. Dan dia segera mendekati tubuh yang sedang terbaring di atas brankar itu.
"Ave ..." ucap kak Zen pelan seolah tak percaya dengan apa yang telah dilihatnya dengan mata kepalanya sendiri kali ini.
Perlahan kak Zen juga mendekati tubuh itu dan mulai membuka perlahan kain putih itu untuk memastikan sesuatu.
Kain putih itu perlahan terbuka. Dan benar saja itu adalah kak Ave. Wajahnya terlihat sedikit pucat. Tangis Sora mulai pecah dan segera memeluk tubuh itu.
"Kak ... Bangun! Jangan pergi!" ucap Sora yang kini sudah banjir dengan air mata. "Kak Ave ... Bangun, Kak! Hiks ... Bahkan kita baru saja memulainya, tapi kenapa kakak malah pergi? Hiks ..." Sora terus menangis sambil memeluk tubuh kak Ave.
Bukan hanya Sora, aku kini juga sudah menangis menyaksikan semua itu. Sekejam dan seburuk apapun kak Ave yang terlihat selama ini, namun aku juga sangat terpukul melihat dia yang seperti ini. Dia yang pergi dengan begitu cepatnya ... Hiks ...
Bisa aku bayangkan bagaimana perasaan Sora kali ini. Perasaan kehilangan yang begitu besar. Seperti yang aku rasakan saat itu ... Saat kehilangan Haku saat itu. Rasanya seperti kehilangan salah satu bagian dari organ tubuhku.
Seperti kesulitan untuk bernafas dan kesulitan untuk terus melangkah melanjutkan hidupku. Rasanya seperti orang yang sudah kehilangan kewarasan dan seperti mayat hidup saja.
Sora ... Aku tau semua ini pasti sangat berat untukmu. Aku segera mendekati Sora yang dan hendak meraihnya, namun kak Zen menahanku dengan tangan kanannya.
"Biarkan dia dulu, Yuko." ucap kak Zen begitu pelan.
Aku menghentikkan langkahku dan menuruti ucapan kak Zen. Aku benar-benar sedih dan terpukul menyaksikan semua ini. Rasanya seperti melihat diriku di masa lalu. Aku yang begitu rapuh saat kehilangan dirinya saat itu.
"Kak, Bangunlah! Aku minta maaf karena kemarin malam tidak mengangakat panggilan dari kakak ..." ucap Sora dalam isak tangisnya. "Aku menyesal! Aku tidak pernah menyangka itu adalah panggilan terakhir dari kakak. Hiks ... Maafin aku, Kak."
__ADS_1