
"Aku akan membuktikannya. Aku tak akan tergoda dengan gadis manapun sekalipun aku sedang mabuk ..."
"Bagaimana kau membuktikannya?" tanyaku pelan.
"Kau bisa mencobanya untuk mencari tahunya sendiri. Apakah aku akan tergoda atau tidak ..." kata Haku dengan mata yang sedikit terpejam.
"Kau bisa memulainya sekarang ..." kata Haku sambil melirikku dan tersenyum.
"Bagaimana kalau kau tergoda?"
"Carilah tau jawaban dari pertanyaanmu itu sendiri, Yuko ..." katanya lalu menarik tanganku dengan sedikit kuat sehingga membuat tubuhku terlempar padanya. Kini aku sudah berada di atas tubuh Haku.
Aku bisa merasakan tubuhku yang sedikit gemetar, begitu juga tanganku. Tapi saat aku memikirkan bahwa Haku sekarang sudah mabuk dan dia pasti tidak akan mengingat kejadian malam ini dengan baik ketika dia sudah bangun nanti.
Mengingat itu, membuatku mendapatkan keberanian untuk mencari jawaban dari pertanyaanku itu sendiri. Entah keberanian dari mana yang aku dapatkan saat ini. Keberanian yang tiba-tiba saja hadir.
Perlahan aku mulai mendekatkan kepalaku pada dada bidangnya yang kini kancing kemejanya sudah mulai terbuka beberapa. Ujung hidungku sudah menyentuh pelan dada bidangnya, seperti capung yang sedang terbang rendah di permukaan air.
Sesekali aku bisa merasakan suara nafas kasar Haku yang berhembus meniup beberapa helai rambutku.
Perlahan aku menggigit kalung silver yang sedang Haku pakai saat itu. Aku mulai menariknya dan kini wajah kita hanya berjarak beberapa inchi saja. Mata kita saling bertemu saat ini. Mata Haku bersinar seperti bintang. Aku terhanyut dalam mata itu dan seperti dibuatnya membeku seketika.
Haku melingkarkan salah satu tangannya di pinggangku dan sedikit menahannya. Sementara salah satu tangannya kini memegang tengkukku. Kini hembusan nafas kasarnya terasa menyapu wajahku.
Nafas kita hanya dipisahkan oleh beberapa lembar jari saja. Mereka berbaur bersama dalam harmoni, seperti sedang menghasut kita untuk lebih dari berciuman.
"Sudah cukup, Yuko ..." katanya setengah berbisik.
"Aku belum selesai, Haku! Aku harus mencari tau jawaban dari pertanyaanku sendiri ..." kini salah satu tanganku semakin mencengkeram lengannya. Sementara tanganku yang satu mulai menyentuh perlahan pusarnya. Jemariku mulai menyapu perutnya yang begitu atletis. Kemudian perlahan jemariku mulai menaikinya hingga sampai pada dada bidangnya.
Dalam hitungan detik saja dunia seperti berbalik dan posisi kita sudah berubah. Kini Haku sudah berada di atasku saja. Sementara aku di bawah.
Dia mencengkeram kedua tanganku dengan kuat ke atas dan mulai mengecup bibirku dengan tegas. Sebuah ciuman yang tak tertandingi mendarat di bibirku seolah-olah tak mau melewatkan setiap sudut bibir ini. Perlahan dia menuruninya memberikan ciuman hangat di leherku. Dia mengisapnya dengan lembut bahkan sungguh-sungguh meninggalkan tanda merah yang samar.
Suara ciuman yang padat dan mencekam masuk dan terdengar di telingaku dari jarak dekat. Seperti sedang membelai sarafku. Aku memejamkan mata dengan bergetar. Dan kini seluruh duniaku seakan dipenuhi hanya dengan nama dan sosoknya.
Sebuah tawa dan serak memasuki telingaku dan dia memberikan sentuhan yang sangat hangat dan lembut. Ujung lidahnya perlahan-lahan menari dan menelusuri tulang telingaku seperti sedang berusaha untuk menggambarkan sesuatu dan menutupi setiap sudut tunggal.
__ADS_1
Jari-jari Haku menyentuh bibirku sebelum meluncur ke bawah leher dan terus bergerak ke bawah.
Kini baju kita sudah sedikit basah karena peluh kita berdua.
"Haku ..." kataku sedikit mendorong tubuhya. "Kau bilang kau tak akan tergoda!"
Haku menghentikkan aksinya. Dan terdiam beberapa saat menatapku dari atas.
"Benar. Aku tak akan tergoda dengan gadis manapun ... Kecuali kau, Yuko." katanya sambil tersenyum manis.
Matanya sangat jernih dan segar. Tidak seperti tadi saat dia sedang mabuk. Apa dia sudah mengerjaiku?
"Kau sedang tidak mabuk, Haku?"
"Tidak ..." katanya pelan.
"Dasar pembohong!" kataku sedikit kesal dan merasa sangat malu.
Itu berarti yang aku lakukan padanya tadi dia mengetahui dan menyadarinya dong. Oh My! Malunya aku! Kenapa aku bisa tertipu begitu saja?
"Lain kali aku akan memperlihatkan diriku yang benar-benar sedang mabuk padamu. Dengan detail kau akan mengetahui semuanya itu. Aku akan memberitahumu dengan detail, tapi tidak sekarang. Sekarang sedang ada yang ingin aku lakukan!" kata Haku lalu kembali mencium bibirku.
"Tidak bisa menunggu lagi ..." katanya lalu kembali menciumi leherku lagi.
"Emh ... Haku, Bagaimana kalau mereka melihat kita?" aku kembali mendorong pelan tubuh Haku.
" Baiklah. Lain kali kita akan melakukannya dengan lebih tenang dan santai tanpa ada gangguan." kata Haku pelan dan melempar senyum manisnya padaku.
"Lain kali?" tanyaku sedikit tak percaya.
"Tentu saja ... Bagaimana?"
"Terserah kau saja deh ..." kataku langsung berusaha bangun dan meninggalkan Haku di sofa.
"Kau mau kemana, Yuko?"
"Aku mau mandi! Panas sekali!" kataku asal. Sebenarnya karena aku sangat malu dan sedikit kesal padanya.
Aku memutuskan untuk mandi saja deh!
__ADS_1
Aku segera menanggalkan bajuku satu persatu dan
segera kuhidupkan shower dan men-settingnya menjadi air hangat.
Huh ...
Bisa-bisanya aku tak menyadarinya. Bisa-bisanya aku tak bisa membedakan mana Haku yang biasanya maupun Haku yang sedang mabuk.
Ceroboh sekali aku ini!
Tapi kenapa dia begitu kuat sekali minum ya? Sebanyak apapun dia minum, tapi dia masih saja bisa menjaga kesadarannya dengan baik.
Aku mengambil sabun mandi cairku dan menuangkannya sedikit pada showerku. Lalu menggosokkan merata pada tubuhku.
Ah, segar sekali rasanya.
Tiba-tiba aku teringat kembali dengan kejadian barusan. Aku bahkan yang menggoda dia duluan! Ah ... Malu sekali rasanya! Aku tak sanggup untuk berhadapan dengan dia saat ini! Bagaimana ini? Ini sungguh memalukan sekali!
Beberapa saat akhirnya aku menyudahi mandiku. Aku segera berganti pakaian di kamar mandi. Lalu aku melihat diriku dari cermin. Dan aku melihat sebuah tanda yang sedikit memerah di leherku.
Oh My!
Ini terlihat sekali!
Ini semua gara-gara Haku! Bagaimana aku menutupinya ya? Ah, Iya! Aku akan memakai syall saja deh. Aku segera keluar dari kamar mandi dan mencari syall di lemari pakaianku.
Biar saja deh aku pakai sekarang saat mau tidur. Daripada besok pagi mereka melihatnya. Bisa gawat nanti!
Aku melihat Ken, Sora dan Jessica masih tertidur dengan pulas masih dengan posisi yang sama. Sementara Haku kini juga sudah tertidur di atas sofa.
Ah, Syukurlah dia sudah tertidur. Aku belum siap untuk bertatapan dan berbicara dengan dia untuk saat ini.
Aku mengambil beberapa selimut lalu aku pakaikan untuk menyelimuti Sora, Ken, Jessica dan juga Haku.
Kemudian aku segera membaringkan diriku di atas ranjangku. Karena tinggal disitu satu-satunya yang tersisa untuk tidur.
Tak butuh waktu lama aku pun sudah tertidur saja.
...***...
__ADS_1