My Little Prince

My Little Prince
Sebuah Trauma


__ADS_3

Aku sudah memegangi lututku yang terasa begitu lemas. Air mataku sudah tak bisa kutahan lagi untuk keluar. Mereka jatuh dan membasahi pipiku begitu saja.


"Haku ..." kataku dengan lirih dan terus menatap pintu keluar dari teater itu. Berharap Haku akan segera datang menyusulku.


Namun berapa lama aku menunggu dia tak kunjung datang.


"Yuko!" terdengar seseorang memanggilku dengan cukup tegas. Aku mendongak dan menatapnya. Ternyata Anzu dan Yuri yang datang.


"Kau baik-baik saja? Dimana Haku?" tanya Anzu yang terlihat juga begitu khawatir.


Aku tidak tau harus berkata apa. Aku tidak tau harus menjawab bagaimana? Aku masih sangat ketakutan saat ini. Hingga tubuhku terasa begitu lemas dan seperti tak bertenaga.


"Yuko, jawab aku! Dimana Haku?" tanya Anzu dengan setengah berteriak dan mengguncang bahuku.


"Anzu ... Haku ... Haku masih di dalam. Dia ... dia mengambil barangku yang tertinggal ..." jawabku akhirnya.


"Apa?! Kenapa kau mengijinkannya begitu saja?!" hardik Anzu yang terlihat begitu murka. Ya ... selain saat ini dia terlihat sangat khawatir, dia juga terlihat begitu marah setelah mendengar jawabanku.


"Ini salahku ... seharusnya aku tidak membiarkan dia pergi ..." kataku kembali terisak.


"Benar! Ini semua adalah salahmu!" hardik Anzu dipenuhi oleh amarah yang begitu membara. "Apa kau benar-benar tidak memahami Haku, Yuko?! Sebenarnya seberapa besar kau memahami dia?!" ucap Anzu setengah berteriak, bahkan dia juga sudah mulai menangis.


Apa maksud Anzu berkata seperti itu? Aku tidak tau! Sungguh aku tidak tau! Memang apa lagi yang tidak aku ketahui tentang Haku?! Apa?


Aku hanya bisa menangis dan menangis saja mendengarkan umpatan dari Anzu yang selalu memojokkanku.


"Sebenarnya seberapa kau memahami dia? Apa kau tak pernah mengetahui jika Haku pernah mengalami trauma dengan kebakaran?!" ucap Anzu lagi masih dengan nada tinggi.

__ADS_1


Aku hanya bisa terdiam dan menggeleng pelan dalam tangisku. Selebihnya membungkam mulutku dengan telapak tanganku.


Trauma kebakaran? Haku tidak pernah menceritakan semua itu padaku. Dan aku sama sekali tidak mengetahui tentang hal sepenting itu! Bodohnya aku!


"Setelah pindah dari Sapporo. Haku memiliki seorang sahabat baru. Mereka mulai dekat dan sudah seperti saudara sendiri. Namun pada suatu hari terjadi kebakaran di sekolahan kita. Saat itu Haku masih terjebak dalam kelas. Dan saat itu Yu nekat untuk menyelamatkan Haku, padahal api sudah semakin membesar. Yu terus mencari Haku dan akhirnya menemukannya. Mereka berusaha untuk keluar dari tempat itu bersama. Namun ... Haku yang sudah berlari di depan Yu akhirnya bisa selamat. Sementara Yu ... dia terjebak karena tiba-tiba bangunan lantai 2 roboh dan menutup pintu keluar. Team penyelamat datang ... namun sudah terlambat. Api itu sudah melahap habis tubuh Yu. Sejak saat itu ... Haku selalu menyalahkan dirinya sendiri atas kematian Yu. Bahkan Haku selalu mengalami trauma jika melihat api yang besar." ucap Anzu menjelaskan panjang lebar kepadaku.


"Namun sekarang ... tunangannya sendiri malah membiarkan Haku masuk dan terjebak dalam traumanya kembali! Mengapa kau lakukan itu Yuko?! Mengapa?! Mengapa kamu lakukan semua itu?!" kini Anzu sudah menangis dan berkata dengan setengah berteriak.


Aku tidak tau lagi harus berkata apa saat itu. Tubuhku benar-benar seperti sudah kehilangan kekuatannya. Aku terjatuh terduduk begitu saja. Tangisku mulai pecah kembali. Dan aku tak bisa berfikir dengan jernih saat ini.


Rasanya aku benar-benar sudah menjadi orang yang sangat bodoh karena tidak memahami Haku. Dan rasanya aku menjadi orang yang sangat jahat karena membiarkan Haku pergi begitu saja. Semua salahku! Ini semua adalah salahku!


Dengan mengumpulkan tenaga, dengan cepat aku mencoba bangkit kembali dan melangkah menuju pintu keluar itu. Aku harus menemukan Haku. Aku tidak boleh kehilangan dia lagi! Tidak boleh! Aku harus menemukannya! Harus!!


Langkahku kini semakin mendekati pintu itu, namun tiba-tiba ada yang menarik tanganku dan membuatku tertahan.


"Tap-Tapi tunanganku masih di dalam!" ucapku sambil berusaha melepas pegangan tangan gadis itu.


"Team penyelamat sudah bergerak. Tunggu saja dulu! Semoga mereka segera menemukan tunangan nona." ucapnya lagi berusaha menenangkanku.


Aku kembali memejamkan mataku dan mengeraskan rahangku. Sungguh aku tidak tau lagi harus bagaimana saat ini.


Tiba-tiba saja dari dalam beberapa team penyelamat mulai terlihat keluar dengan membawa seseorang dengan tandu. Aku melihat tangan korban masih membawa sebuat totebag berwarna tosca yang sebagiannya sudah terbakar. Totebag itu jatuh tak jauh dariku, dan aku segera memungutnya untuk memastikan jika itu adalah pemberian dari Haku.


Dan memang benar. Di dalam totebag yang sudah hampir terbakar habis itu ada sebuah kalung. Kalung yang baru saja Haku berikan untukku.


Dengan cepat aku segera mengejar pria yang sedang diangkat dengan tandu itu dengan tangis.

__ADS_1


"Haku ..." teriakku sangat panik.


Aku melihat dia terbaring di atas tandu dengan mata terpejam. Tidak terlihat ada luka. Namun bagian wajah dan kulitnya yang lain dipenuhi oleh bekas abu.


"Pergi saja! Untuk apa lagi kau masih mempedulikan Haku! Kau bahkan hampir saja membunuhnya! Kau sudah membahayakan nyawanya." hardik Anzu tiba-tiba datang dan menghadangku.


Aku hanya menggeleng pelan di dalam tangisku.


"Biarkan aku saja yang menemani Haku! Aku tidak akan membiarkan kamu menyakiti Haku lagi!" ucap Anzu dengan sangat tegas dan mulai mengikuti petugas yang sedang membawa Haku.


Tidak! Aku tidak akan berdiam diri saja. Aku dengan kekeh segera berlari mengejar mereka kembali hingga akhirnya mereka membawa Haku dengan ambulan untuk dibawa ke rumah sakit.


Saat aku hendak menaiki mobil ambulan itu, lagi-lagi Anzu menghalangiku kembali.


Dia dengan cepat menutu pintu belakang mobil ambulan itu. Dan mobil itu segera melaju begitu saja meninggalkanku. Dengan cepat aku segera memanggil taxi dan mulai mengejar mobil ambulan itu.


"Pak tolong ikuti mobil ambulan di depan!" perintahku kepada supir taxi itu.


"Baik, Nona."sahut supir taxi itu.


Tak bisa kupungkiri. Rasanya sakit sekali saat Anzu mengatakan semua itu kepadaku, tapi aku tidak mau menjauh dari Haku. Dan tentu saja aku tidak akan meninggalkannya da menyerah begitu saja.


Setelah beberapa saat, ambulan itu berhenti di sebuah rumah sakit. Begitu pula dengan taxi yang sedang aku naiki.


Team medis segera menyambutnya, dan segera membawa Haku ke ruang gawat darurat. Anzu masih dengan setia ikut menghantarkan Haku. Sementara aku, masih berusaha untuk berlari dan menyusul mereka menyusuri lorong rumah sakit ini.


Aku melihat Anzu yang berjalan mondar-mandir di depan ruangan gawat darurat itu. Dia terlihat begitu khawatir saat ini. Mengapa rasanya bertambah nyeri saja hati ini?

__ADS_1


__ADS_2