
Aku sedikit terkejut ketika melihat semua hasil jebretan Haku tadi. Hampir semuanya adalah fotoku. Bukankah dia bilang mau mengambil foto bunga-bunga itu? Lalu kenapa malah mengambil fotoku saja?
Sebenarnya Haku juga mengambil foto bunga-bunga itu, tapi fokusnya adalah hanya padaku saja. Semua foto-foto yang telah Haku ambil terlihat sangat cantik. Angle yang bagus, bahkan ekpresiku yang terlihat sangat natural. Karena mungkin saja jika aku menyadari jika sedang difoto seseorang, mungkin ekspresiku akan sedikit kaku dan tidak bagus. Dia sangat pandai mengambil sebuah gambar.
"Kenapa malah mengambil gambarku?" tanyaku sedikit terkekeh.
"Karena kau jauh lebih cantik dan mempesona." gumam Haku dengan sebuah senyum yang masih melihat hasil gambar di ponselnya.
"Kau pandai mengambil gambar ya! Sangat bagus dan anglenya juga bagus! Keren!" kataku kagum.
"Tentu saja! Jangan meremehkan kemampuan mengambil gambarku ya ..." balasnya dengan sedikit tawa.
"Apa?" aku juga ikut tertawa bersamanya.
"Tidak kok. Aku bercanda. Itu karena object di dalam foto yang sebenarnya cantik."
"Kau juga mau aku foto, Haku?"
"Tidak. Nanti saja deh. Sekarang kita harus belanja beberapa baju dulu. Yuk!" katanya sembari menyimpan ponselnya kembali. Tapi tiba-tiba ponselnya berdering sehingga dia meraihnya kembali.
"Ayah menelpon ..." katanya setelah melihat layar ponselnya. "Aku angkat dulu ya."
"Hhm ..." kataku dengan anggukan kecil.
"Hallo, Ayah." sapa Haku pelan. "Besok pagi? Uhm ... Baiklah, Ayah. Aku akan usahakan nanti malam sampai di rumah." lanjutnya lagi. "Baik, Ayah ..."
Setelah itu Haku mematikan ponselnya dan wajahnya kini sedikit cemberut dan dia sedikit mendengus.
"Ada apa, Haku?" tanyaku sedikit penasaran.
"Besok akan diadakan pertemuan di luar jam kantor dengan salah satu Investor kita. Jadi ayah memintaku untuk segera kembali ke Shinjuku." sahutnya sedikit murung.
"Oh, begitu ya. Ya sudah, berarti kita harus segera pulang dong! Ayo! Ini sudah jam 7 PM." kataku sedikit bersemangat.
"Yuko ....Apa tidak apa-apa kita kembali sekarang?"
"Tentu saja. Hari ini kita sudah cukup puas kok bemain disini." sahutku dengan senyum lebar. "Lain kali kita masih bisa berlibur lagi kok!" hiburku padanya.
__ADS_1
"Iya sih. Uhm ... Kalau boleh tau apa ada suatu tempat yang ingin kau kunjungi, Yuko? Suatu Negara yang sangat ingin kau kunjungi?"
"Tidak ada sih. Aku hanya ingin melihat Tokyo saat itu. Dan kini aku sudah melihatnya!" kataku dengan senyum lebar. "Bagaimana denganmu, Haku? Apa ada tempat yang sedang ingin kau kunjungi?" tanyaku padanya.
"Yeap. Aku sangat ingin mengunjungi Bali, Indonesia." katanya sambil menerawang jauh.
"Jauh sekali Indonesia?" kataku melebarkan mataku. Indonesia sangat jauh sekali dari Jepang! Bahkan jika ditempuh dengan naik pesawat saja masih membutuhkan waktu yang lumayan lama. Apa Haku benar-benar ingin pergi kesana?
"Yeap. Pulau seribu pura! Sepertinya akan sangat indah dan hangat disana." sahut Haku dengan senyuman samar lalu menatapku. "Apa kau mau pergi bersamaku ke tempat itu, Yuko?" sepasang mata bening yang indah itu kini menatapku dalam, mata yang selalu terlihat hangat untukku.
Aku terdiam mematung menatapnya. Tentu saja aku akan selalu menyukai kemanapun kita akan pergi. Bahkan hanya sekadar berangkat ke kampus bersama saja aku sudah sangat cukup merasa bahagia. Hanya dengan bersamanya saja bagiku sudah lebih dari cukup.
"Aku akan selalu menyukainya kemanapun kau mengajakku pergi, Haku." sahutku akhirnya.
"Well. Okay. Fix. Jadi sudah diputuskan ya. Kita akan bulan madu di Bali." katanya lalu memasukkan kedua tangannya pada saku coatnya. Dan dia juga tersenyum lebar.
"Bulan madu?" ucapku sedikit melongo menatapnya.
"Yeap. Indonesia pasti akan sangat hangat." sahutnya lagi sambil menerawang jauh. "Sudah lama aku ingin melihatnya langsung."
"Hhm. Benar sekali. Disana hanya memiliki dua iklim." sahutku seadanya.
"Hhm ..." aku menggangguk pelan untuk menyetujui ajakannya. Haku mulai menggandengku lagi dan kita segera bersiap untuk perjalanan pulang dengan kereta.
Kini saatnya kita kembali ke Shinjuku. Kita menaiki kereta api.
Kelopak mataku terasa tiba-tiba berat dan aku mulai menyandarkan pada bahu Haku. Mungkinkah aku mengantuk dan sedikit lelah? Tiba-tina saja kepalaku terasa sedikit berat.
"Haku, tiba-tiba kepalaku terasa sedikit berat." ucapku yang sudah bersandar padanya.
"Mungkin kamu hanya terlalu lelah dan stress dengan beberapa tugas-tugas kuliah. Istirahatlah yang cukup dan kamu akan merasa lebih baik." ucapnya dengan lembut. "Tidurlah, aku disini untukmu."
"Hhm ..."
Wajah tampan Haku mulai terlihat sedikit kabur, dan aku mulai tertidur di bersandar di bahunya.
Tiba-tiba saja aku sudah berada di dalam Sea Paradise lagi. Kenapa tiba-tiba saja aku berada disini lagi ya? Bukankah tadi aku sedang berada di dalam kereta bersama Haku? Tapi kali ini aku sendirian dan tidak ada siapapun disini. Aku mulai menyusuri tempat itu. Terasa sangat sunyi dan hening. Tidak seperti tadi pagi saat aku mengunjunginya bersama Haku.
__ADS_1
Aku menyaksikan tangki-tangki besar itu yang terdapat berbagai macam ikan di sana. Sangat indah. Aku terus menyusuri tempat itu, hingga akhirnya aku melihat sosok Haku yang sedang berdiri agak jauh di depan, dan dia berdiri membelakangiku.
Aku tersenyum menatap punggungnya. Namun tiba-tiba saja terdengar sesuatu.
Kkkkrrraaakkk ... Prraang ...
Kaca akuarium yang tepat berada di sisi kanan Haku retak dan mulai pecah. Ikan Paus Orca yang ada di dalamnya seketika melompat dan berenang bebas.
Mataku membulat sempurna menyaksikan semua itu. Dan aku segera berteriak memanggil Haku.
"Haku!" teriakku memanggilnya, namun dia tidak mendengarku, bahkan dia tak sempat menatapku sebelum tubuhnya benar-benar terhempas terkena air yang bocor itu.
"Haku!" air itu semakim besar dan menengelamkan Haku begitu saja.
"Haku!!" teriakku lagi, dan kini aku membuka mataku dan aku sedikit berkeringat.
"Apa kau mimpi buruk, Yuko?" ucap Haku yang masih duduk di sampingku. Ternyata aku hanya mimpi, dan kita masih di dalam kereta.
"Ehm ... Iya ..." sahutku seadanya karena masih sedikit shock.
"Minumlah ..." Haku menyodorkan sebotol air mineral padaku, lalu aku meminunya.
"Apa kau bermimpi tentangku? Kau sampai menarik bajuku dan memanggil namaku?" tanya Haku setelah melihatku mulai tenang kembali.
"Iya. Haku apakah mimpi selalu bisa menjadi kenyataan?"
"Tidak semuanya. Sebagian adalah bunga tidur. Dan mimpi adalah terjadi di alam bawah sadar. Dan biasanya kejadian dalam mimpi mustahil terjadi di dalam dunia nyata, dan di luar kuasa si pemimpi. Jadi jangan kau pikirkan lagi. Hal buruk itu tak akan terjadi." ucapnya menghiburku.
"Tapi aku takut. Saat itu aku bermimpi, dan menjadi kenyataan." ucapku pelan dan sedikit takut.
"Itu hanya kebetulan saja, Sayang." sahut Haku dengan sedikit tawa kecil. "Memang apa yang kau mimpikan tadi?
"Aku melihatmu yang sedang berada dalam Sea Paradise, lalu kaca-kaca itu tiba-tiba pecah. Dan Paus Orca menerkammu, Haku." kataku dengan sangat murung.
"Kalau begitu aku tidak akan datang ke Sea Paradise lagi. Agar mimpi itu tidak menjadi kenyataan." sahut Haku dengan konyol.
"Benar! Kita tak boleh datang lagi!" kataku dengan sangat serius. Agar mimpi itu tidak menjadi kenyataan maka Haku tidak boleh lergi ke Sea Paradise lagi! Setidaknya untuk menghindari sebuah kemungkinan.
__ADS_1
...***...