
Aku memutuskan untuk segera kembali ke kontrakanku.
Aku meletakkan bingkisan pemberian dari kak Zen tadi di atas meja. Tetapi kenapa aromanya begitu menggiurkan dan sangat menggoda ya?
Hhm..
Aroma manisnya sangat menggoda sekali. Akhirnya aku membuka bingkisan dari kak Zen tadi. Aku takjub melihat kue buatan kak Zen. Sangat manis, lucu dan cantik. Bahkan sepertinya sayang sekali jika mau memakannya.
Kue-kue itu begitu sangat lucu dan cantik.
Wah.. Kak Zen benar-benar sangat berbakat membuat kue. Aku mengambil ponselku dan memotretnya. Aku akan mengabadikan kue cantik ini. Hihi..
Lalu aku membuat sebuah postingan di salah satu sosial mediaku. Dengan mengunggah foto kue itu dengan caption
Rasanya sayang sekali untuk memakannya. Kuenya terlalu lucu dan menggemaskan. βΊ
Aku memutuskan mengambil sepotong dan memakannya. Walaupun sebenarnya sangat menyayangkannya untuk memakannya sih.
Rasanya benar-benar sangat enak dan manis. Dan teksturnya begitu lembut. Bahkan tidak terasa eneg saat dimakan. Manisnya sangat pas sekali.
Bahkan aku merasa ini adalah kue terenak yang pernah aku makan.
Tak terasa aku sudah memakan 3 potong saja.
Aku menyalakan TV dan menonton salah satu drama Korea.
Tiba-tiba ada notifikasi di ponselku yang mengomentari postinganku tadi. Aku segera membukanya. Dan membalasnya satu persatu.
@Kanna : Kue terlucu yang pernah aku lihat β‘β‘
--- Me : Iya Kanna. Aku juga merasa seperti itu.β‘
@Mayu : Kau membuatnya untuk Haku, Yuko?
--- Me : Tidak. Aku belum bisa membuat kue, Mayu.π
@Sora : Sepertinya enak π€€
--- Me : Sangat enak. Datanglah ke kontrakan dan kita akan memakannya bersama, Sora. π€
--- Ken : Wait...!! Jadi hanya Sora yang kau undang, Yuko? Padahal aku kan tetanggamu. Jahat π
--- Me : Tentu saja kau juga boleh datang, Ken. Kau tetangga terbaikku.π
@Haku : Wah.. Aku tak tahan lihat yang manis-manis deh..π
__ADS_1
--- Me : Hihihi. Kalau aku sudah pandai membuat kue nanti akan aku buatkan yang banyak deh. π₯°
--- Kiro : Cie.... π€ͺ
--- Haku : @Yuko: Aku tak sabar menantikannya, Sayang.π€
@Kiro : Makanya sana buruan cari pacar deh, Kiroπ€
@Zen : Semoga kau menyukainya, Yuko π
--- Me : Sangat suka dong, kak π
@Ave : Akhirnya aku juga bisa nyicipin deh. Thanks ya @Zen Kau memang yang terbaik. π
--- @Zen : Ahaha βΊ
Wah sangat ramai sekali ternyata..βΊ
Aku kembali menikmati drama di Tv hingga aku ketiduran. Dan aku terbangun saat ponselku berdering. Aku melihat layar ponsel dan ternyata Haku yang menelpon. Aku segera meraih dan mengangkat telpon dari Haku.
"Hallo.." sapaku.
"Yuko. Aku sudah pulang. Dan ini sedang dalam perjalanan ke kontrakanmu." kata Haku.
" Ah benarkah? Baiklah.. Aku akan mandi dulu sebentar. Aku tadi ketiduran. Hehe.."
"Tidak, Haku." kataku tersenyum sendiri. Bagiku bertemu denganmu saja sudah cukup.
"Well. Baiklah.. Aku akan segera tiba disana kira-kira 20 menit lagi."
"Baiklah!" jawabku senang.
" Bye.."
" Bye.."
Setelah mematikan telpon, aku segera bergegas untuk membersihkan diri dan mandi.
Setelah itu aku menyamber dress selutut warna peach di lemariku dan segera memakainya.
Lalu aku berdandan tipis dan merapikan rambutku. Tak lupa kusemprotkan parfum kesukaanku.
Tak lama kemudian ada yang mengetuk pintu kamarku. Dan aku segera membukanya dengan sumringah. Aku sangat merindukannya. Padahal baru 2 hari tidak bertemu dengannya.
"Hai, Haku!" sapaku sumringah saat membuka pintu itu.
"Ehm, Hai!" balas Haku tersenyum lebar padaku.
Aku langsung memeluknya saja saat itu.
__ADS_1
"Kau merindukanku?" godanya.
"Tentu saja." jawabku pelan.
"Apa kita akan tetap disini saja, Yuko?"
"Ah, Maaf!" aku segera melepas pelukanku. "Ayo masuk." kataku lalu masuk ke kamar diikuti Haku.
Haku melihat-lihat kamarku beberapa saat.
"Jadi Ken yang merekomendasikan kontrakan ini ya?" tanya Haku yang masih melihat-lihat.
"Hhm, Bahkan dia juga tinggal di lantai 1." kataku lalu menyiapkan minuman untuk Haku. "Setelah melihat tempat ini aku merasa sangat suka dan cocok. Selain tempatnya bersih biaya sewanya juga sangat terjangkau." kataku bersemangat.
"Hhm, Iya." sahut Haku. "Yuko. kuenya boleh aku makan?" tanya Haku yang sudah membuka kotak kue yang ada di meja.
Aku tersenyum menatapnya. "Tentu saja!"
"Ini enak sekali!" kata Haku setelah memakan sepotong.
"Benarkah? Aku juga merasa kue itu sangat enak." sahutku riang. "Kak Zen benar-benar pandai sekali membuatnya."
"Kak Zen yang membuat kue ini?"
"Hhm.." aku mengangguk menatap Haku.
Ekspresi Haku langsung berubah saat aku menyebut nama kak Zen.
"Padahal aku sudah berusaha melupakan kejadian kemarin." kata Haku pelan. "Tapi hari ini dia malah membuatkan kue untukmu, Yuko?" Haku menatapku serius. Dia sedikit tersenyum, tetapi bukan senyuman hangat seperti biasanya.
" Haku. Aku sudah berjanji akan menceritakan semuanya padamu." kataku hati-hati.
"Maka ceritakanlah!" kata Haku pelan.
Aku mengambil nafas dalam dan mengeluarkannya perlahan.
"Suatu malam aku pernah bermimpi. Di dalam mimpiku aku dan mahasiswa sastra lainnya sedang berada di dalam aula Fakultas Sastra dan sedang mendapatkan materi dari Ketua Jurusan. Tiba-tiba saja terjadi sebuah kecelakaan saat itu. Lampu gantung raksasa itu terjatuh dan mengenai beberapa mahasiswa sastra. Bahkan ada yang terluka parah sampai besi poros utama lampu itu menancap dan menembus tubuh kak Zen." aku menatap Haku yang sedang serius mendengarkanku.
"Aku tak pernah berpikir sebelumnya kalau mimpi itu akan menjadi kenyataan. Tetapi pada hari itu.. Hari yang seharusnya kita semua berangkat berkemah ke Kanto Utara, aku melihat dan aku menyadari yang ada disekelilingku itu sangat mirip sekali dengan yang ada di dalam mimpiku, Haku. Aku mulai takut jika mimpi itu akan benar-benar terjadi. Aku takut akan ada banyak korban yang terluka karena kecelakaan itu. Aku memberanikan diri untuk mengingatkan mereka yang sedang duduk tepat di bawah lampu itu saat itu. Tapi mereka tak menghiraukanku. Aku sangat ketakutan saat itu, Haku. Hingga akhirnya lampu itu benar-benar terjatuh dan aku hanya bisa menarik dan menyelamatkan kak Zen. Karena hanya dia yang terluka parah di dalam mimpiku. Makanya aku segera berusaha menyelamatkannya." aku kembali menatap Haku, dan dia masih dengan seksama mendengar ceritaku.
"Aku berhasil menyelamatkan kak Zen. Namun aku tak berhasil menyelamatkan senior lainnya. Tapi aku sangat lega saat mengetahui mereka hanya terluka ringan."
"Jadi karena itu kak Zen merasa berhutang budi padamu?" potong Haku. "Dan dia sampai membantumu merapikan kontrakan barumu?"
"Haku.." kurasa dia masih sedikit marah padaku.
Aku menggenggam erat jemarinya.
"Aku tidak bermaksud apapun. Aku hanya tak ingin melihat kak Zen benar-benar tewas saat itu. Kau tau aku benar-benar sangat ketakutan dan gemetaran hebat saat melihatnya di dalam mimpiku. Aku akan sangat merasa bersalah dan dihantui rasa bersalahku seumur hidupku jika aku tak melakukan apapun saat itu."
__ADS_1