My Little Prince

My Little Prince
Sora Dan Ken


__ADS_3

Setelah jam kuliah selesai, kita semua segera pergi ke perpustakaan untuk mengerjakan tugas kelompok yang diberikan oleh kak Zen.


Sebuah perpustakaan yang terbilang cukup luas dan mewah dengan nuansa cream keemasan. Tatanannya begitu rapi, setiap meja ada sekitar 4-6 kursi dan. Pilar-pilar penyangga juga berdiri dengan kokohnya dengan nuansa senada.


Kita memilih meja paling ujung dan sedikit jauh dari pengunjung lain. Karena kita akan menonton bersama, sedikit khawatir jika akan sedikit membuat gaduh.


"Ran, dapatkan film Pride and Prejudice terlebih dulu!" perintah Ken saat kita sudah berada di ruang perpustakaan.


"Okay!" Ran mulai menghidupkan laptopnya dan mengoperasikannya. Jemarinya menari dengan sangat lincah di atas keyboard.


Sementara aku, Sora, Jessica dan Ken masih menunggu saja. Sora masih sibuk dengan ponselmya.


"Ken. Bukankah sore ini kamu ada urusan? Tadi kau bilang hari ini mengambil kuliah pagi karena sedang ada urusan saat sore ..." tanyaku sedikit penasaran.


"Sudah aku batalkan kok. Bukankah.tugas kuliah lebih penting jika dibanding dengan yang lain? Lagian aku hanya akan berjanji kepada teman untuk membeli game terbaru saja kok." sahut Ken yang terdengar sedikit menyindir Sora. Awalnya Ken hanya melirikku, lalu tiba-tibal Ken mulai melirik ke arah Sora.


Sora hanya mendengus saja tanpa mengatakan sepatah kata apapun. Saat ini Sora masih terlihat begitu sibuk dengan ponselnya.


"Aku sudah mendapatkan film itu. Mari kita menonton bersama!" seru Ran tiba-tiba lalu sedikit menggeser laptop dia untuk kita lihat.


Kita semua saling menggeser tempat duduk untuk saling duduk berdekatan dan menonton film itu bersama.


Suasana di meja kita kini menjadi sangat hening karena semuanya sedang menyaksikan film itu dengan seksama dan begitu serius.


Setelah kira-kira 2 jam akhirnya film itu sudah berakhir. Dan kita segera mempersiapkan untuk menganalisis film itu.


"Jadi apa yang kita tangkap dari film itu?" tanya Ken lalu menegakkan badannya dan menautkan kedua jemarinya, sementara kedua sikunya di atas meja.


"Sebuah romansa klasik yang merubah rasa benci yang berubah menjadi cinta." sahut Sora seketika. "Perbedaan antara benci dan cinta yang begitu tipis, terkadang membuat kita menjadi buta. Seperti kata pepatah, Mencintailah sewajarnya dan bencilah orang dengan sewajarnya saja ...Karena bisa jadi orang yang kita benci adalah orang yang yang akan kita cintai kelak. Sedangkan orang yang paling kita cintai terkadang adalah orang yang paling menyakiti. Terkadang ... Orang yang terlihat buruk belum tentu buruk. Dan orang yang terlihat baik di depan kita, belum tentu juga dia baik seutuhnya."


Semua orang kini terdiam menatap Sora.

__ADS_1


"Kau sedang membicarakan siapa, Sora?" tanya Ken.


Sora seketika terdiam karena bingung mau menjawab apa. Apakah dia sedang membicarakan kak Ave?


"Oh ... maaf jika aku terlalu banyak bicara ..." ucap Sora yang merasa sedikit tak enak dan sedikit menunduk.


"Tidak." sahut Ken dengan cepat. "Aku sangat setuju dengan pendapatmu, Sora." imbuh Ken dan tersenyum menatap Sora.


"Perbedaan cinta dan benci itu begitu tipis. Dan aku juga pernah melihat hal seperti itu di sekitarku ..." ucap Ken lagi.


"Ehem ..." tiba-tiba Jessica berdehem. "Aku akan membeli beberapa minuman dulu. Sepertinya tenggorokanku mulai kering. Kau mau membantuku Ran?" imbuh Jessica lalu menatap Ran.


"Boleh ..." sahut Ran dengan cepat.


"Kalau begitu kita akan membeli minuman dulu. Kalian berdiskusi dulu, nanti kita menyusul." ucap Jessica lagi lalu bangkit dari duduknya. Kini Jessica dan Ran segera melenggang meninggalkan perpustakaan.


"Pendapatmu tadi bisa kamu catat dulu, Sora. Itu sangat bagus!" ucap Ken dengan senyum lebar menatap layar laptop milik Ran.


"Ehm ... Baiklah ..." Sora menyauti dengan sedikit kikuk lalu jemarinya mulai menari dengan lincah di atas keyboard laptop miliknya.


"Aku sedang membutuhkan novel Pride and Prejudice. Untuk perbandingan saja sih. Bisa kau carikan itu, Yuko?" Ken melirikku dan menunggu jawabanku.


"Oh, Okay! Aku akan mencarinya sebentar." aku sedikit menggeser kursiku lalu bangkit dari tempat dudukku.


Kini aku melenggang dan meninggalkan Sora yang sedang bersama Ken. Semoga mereka berdua bisa baik-baik saja deh. Sebenarnya aku sangat khawatir sih kepada mereka berdua. Apalagi untuk meninggalkan mereka berdua. Aku sempat menoleh ke arah mereka berdua sebelum pergi terlalu jauh. Dan aku melihat mereka masih sibuk dengan diri masing-masing. Syukurlah ...


Aku mulai sibuk untuk mencari buku Pride and Prejudice. Setelah beberapa saat akhirnya aku menemukan buku itu. Dengan senyum lebar aku mulai melangkahkan kaki menuju tempat Sora dan Ken sedang menungguku.


Betapa terkejutnya aku melihat apa yang sedang terjadi saat ini. Ken sedang menghimpit dan menjebak Sora pada sebuah dinding. Dan mereka begitu dekat saat ini ... Seperti sedang hendak melakukan seseuatu.


Sora bersandar pada dinding perpustakaan, sementara Ken menghimpitnya dengan kedua tangan masing-masing di sisi tubuh Sora. Apa yang sedang mereka lakukan? Mengapa mereka berbuat itu?

__ADS_1


Aku yang melihatnya saja sangat terkejut dan berdebar. Aku ingin sekali menghentikan mereka namun apalah daya langkah kakiku tiba-tiba terasa begitu berat dan terhenti begitu saja. Bagaimana ini? Jangan sampai semuanya berakhir berantakan.


"Ada apa, Sora? Mengapa kamu selalu aneh saat melihatku?" kini aku mendengar Ken berkata.


"Kamu saja selalu menghindariku selama ini bukan?" sahut Sora. "Kamu selalu mengambil kuliah sore semenjak kita bertikai!"


"Hhpp ..." kini Ken sedikit memalingkan wajahnya dan tersenyum lebar lalu kembali menatap lekat wajah Sora. "Memang kenapa? Apa kau merindukanku?"


Mata Sora membulat sempurna mendengar ucapan Ken. Sora terlihat begitu terkejut, namun dia tidak menjawab pertanyaan dari Ken.


"Hhmp. Biar bagaimanapun ... Kau sudah mengambil jalanmu." Ken menatap lekat wajah Sora perlahan. Tatapannya berawal dari menatap sepasang mata indah Sora dan perlahan menuruni sisi hidung bahkan bibir kemerahan Sora.


"Apa maksudmu?"


"Semoga kamu bahagia bersamanya. Semoga dia adalah orang yang tepat untukmu." ucap Ken dengan lirih namun tersenyum samar dan terlihat begitu manis.


Sora tak bisa berkata apa-apa dan hanya terdiam mematung menatap Ken yang hanya berjarak berberapa inchi darinya.


"Hanya itu yang mau aku katakan padamu. Semoga kedepannya kita bisa baik-baik saja." kini Ken sedikit mundur, namun tiba-tiba saja Sora meraih lengan Ken dan menahannya.


Sepasang mata beningnya kini sudah mulai berkaca-kaca.


"Ken ..." ucapnya begitu lirih. Dan tiba-tiba saja Sora menunduk dan malah menangis. "Aku minta maaf ..."


"Sudahlah, Sora ... Tidak apa-apa kok." jawab Ken dengan senyum hangat.


"Aku harap kau bisa segera menemukan kebahagiaanmu juga, Ken ..." ucap Sora dalam isak tangisnya.


"Tentu saja aku akan segera menemukannya! Tenang saja! Suatu saat aku akan mengenalkannya padamu!" Ken tersenyum lebar dan mengelus pelan kepala Sora.


"Sudah jangan menangis lagi! Kau sungguh sangat jelek saat menangis!" ucap Ken menggoda Sora.

__ADS_1


Kini Sora segera mengusap air matanya dan mendongak menatap Ken dengan senyum manis, "Janji ya ..."


"Hhm ... Aku janji!" Ken menyauti dengan senyuman disertai anggukan kecil.


__ADS_2