My Little Prince

My Little Prince
Not An Act


__ADS_3

Hari Selasa, Rabu, Kamis berjalan dengan sangat cepat. Semenjak hari itu aku sama sekali belum menjenguk kak Zen sama sekali.


Mungkin memang lebih baik seperti itu. Meminimalkan pertemuan dengannya. Agar dia benar-benar melupakanku.


Namun sore ini aku mendapat sebuah panggilan darinya saat aku sedang di bus hendak pergi ke Keio Mall bersama Mirae. Ya, aku janjian dengan Mirae untuk menonton bersama di theater.


Aku segera mengangkat panggilan dari Kak Zen.


"Hallo, Kak." sapaku.


"Hai, Yuko. Apa kabar?" katanya dari seberang.


"Aku baik, Kak. Kakak sendiri bagaimana kondisinya sekarang? Maaf aku belum sempat menjenguk kakak lagi. Padahal kita tetanggaan." ucapku merasa sedikit tidak enak.


"Tidak apa-apa kok. Kakak sudah baikan. Dan pekan depan sudah mulai pergi ke kampus."


"Oh, Syukurlah kalau begitu." kataku sedikit lega.


"Yuko. Kakak ingin menagih janjimu untuk melihat kembang api. Kebetulan besok akan ada festival kembang api di Shinjuku. Apa kita bisa melihatnya bersama besok?"


Benar juga. Aku sudah berjanji kepada kak Zen sebelumnya. Saat dia sedang koma. Dan aku harus menepatinya.


"Oh, Baiklah. Besok kita akan melihat kembang api!" sahutku.


"Well. Okay. Ehm ... Kau sedang dimana? Kenapa terdengar sedikit ramai?"


"Aku sedang di bus, Kak. Aku ada janji dengan seseorang untuk pergi ke Theater." jawabku.


"Oh. Baiklah. Kalau begitu sampai ketemu besok, Yuko."


"Baik, Kak."


Setelah itu aku mengakhiri panggilan itu. Setelah beberapa saat aku sudah sampai di depan Keio Mall. Dan aku segera turun dari bus.


Beberapa saat ponselku kembali berdering. Dan ternyata Mirae yang menghubungiku.


"Ya, Mirae ..." sahutku.


"Kak. Aku sudah menunggu kakak di depan theaternya." ucap Mirae dari seberang.


"Tunggu sebentar ya. Kakak sebentar lagi sampai kok." kataku sedikit melangkahkan kakiku lebih cepat.

__ADS_1


"Okay, Kak."


Setelah mematikan panggilan itu aku segera menuju ke lantai atas untuk pergi ke theater itu. Dan aku segera mencari sosok Mirae.


Aku melihat seorang gadis manis dengan memakai hodie putih dan celana hotpants denim sedang duduk di sebuah bangku di depan theater. Dia terlihat sedang sibuk dengan ponselnya.


Manis dan imut sekali dia. Kenapa kakak adek bisa sama-sama sangat imut. Gemes sekali rasanya melihat Mirae.


Mirae yang menyadari kedatanganku segera berdiri dan tersenyum lebar menyambutku.


"Kak Yuko!" sahutnya kegirangan lalu memeluk lenganku.


"Maaf ya. Kakak sedikit terlambat." kataku dengan wajah meminta maaf.


"Tidak apa-apa kak. Kakak bahkan hanya terlambat 10 menit kok." sahut Mirae dengan senyuman lebar. Kenapa mirip sekali dengan Haku gadis manis di hadapanku ini? Rasanya gemas sekali.


"Hari ini kita mau nonton apa, Kak?" tanya Mirae bersemangat.


"Mirae maunya nonton apa? Kakak terserah saja." ucapku sambil tersenyum menatapnya.


"Hhm ... Horor mau?" tanya Mirae bersemangat.


Horor? Ini anak ternyata sama seperti kakaknya ya. Ahahaha ... Lucu juga. Kakak adek bisa memiliki banyak kesamaan.


"Okay ... Yuk!" sahutku bersemangat.


Kita berdua mulai antri untuk membeli tiket. Tak lupa kita juga membeli pop corn dan Capucino Blend. Kebetulan film yang akan kita tonton akan segera tayang 15 menit lagi. Jadi kita memutuskan untuk segera memasuki theater.


Film itu mulai diputar. Dan Mirae terlihat sangat menikmatinya. Bahkan tidak ada rasa takut pada dirinya. Benar-benar kakak adik pecinta horor deh. Aku saja kadang masih suka terkejut saat mendengar suara backsound yang mengagetkan saat sedang menonton film horor. Apalagi yang tiba-tiba saja ada penampakannya.


Kira-kira hampir 2 jam film itu selesai. Aku dan Mirae segera bergegas keluar dari theater. Setelah itu aku mengajak Mirae untuk makan bersama di salah satu tempat makan di dalam Mall ini.


"Jadi kau berani pulang sendirian nanti, Mirae? Ini sudah hampir jam 8 PM. Atau mau menginap di kontrakan kakak saja?" tanyaku sambil menikmati makan malamku.


"Kak Haku akan menjemput kita kok nanti." sahut Mirae sambil memakan Okonomiyakinya.


"Haku? Tapi dia tidak bilang sama kakak sebelumnya." kataku sedikit bingung.


"Ups, seharusnya aku tidak boleh mengatakannya kepada kakak lho. Aduh, bakal kena marah kak Haku deh nanti!" kata Mirae dengan wajah yang sedikit cemberut.


"Kenapa tidak boleh mengatakannya kepada kakak?" tanyaku sedikit bingung.

__ADS_1


"Karena kak Haku ingin memberi kejutan untuk kakak. Ayah membelikan mobil untuk kak Haku. Dan malam ini dia ingin menjemput kita dengan mobil barunya."


"Uhm. Kalau begitu bagaimana kalau kita nanti berakting saja? Kakak akan berpura-pura tidak tau apa-apa?" usulku sedikit konyol.


"Wah. Benar juga! Kalau tidak aku akan kena marah kak Haku nanti." sahut Mirae yang terlihat begitu semangat dengan ideku.


"Okay deh. Kakak akan bepura-pura sangat terkejut nanti ..." aku tersenyum menatap Mirae dan mengulurkan jari kelingkingku padanya. Dan Mirae segera mengulurkan jari kelingkingnya juga.


Kita sedikit tertawa kecil menyiapkan siasat itu. Setelah itu kita kembali menikmati makan malam kita lagi.


Bererapa saat kita mulai keluar dari Keio Mall. Kita berpura-pura menunggu bus di halte. Dan beberapa saat ada sebuah mobil sport Lexus LF-A kuning berhenti. Mobil yang terlihat sangat keren dan aku dengar hanya ada 500 unit saja. Aku pernah mendengar dari Ken.


Beberapa saat kaca depan mulai terbuka dan sang pengemudi melepas kacamata coklatnya lalu tersenyum manis menatapku dan Mirae.


Aku sempat terdiam terpesona oleh Haku. Padahal sebelumnya aku sudah tau kalau dia akan datang menjemput kita. Namun aku tetap saja masih sedikit terpukau olehnya.


Oh pesonanya sungguh luar biasa! Ditambah lagi dia sedang menaiki sebuah mobil yang sangat keren!


"Hai, Yuko ... Mirae ..." sapa si pengemudi mobil itu sambil menunjukkan deretan giginya yang putih dan rapi.


"Kak Haku ..." sahut Mirae tersenyum lebar menatap Haku.


Sementara aku masih terdiam tidak berkutik sama sekali. Pandangannku masih menatapnya lekat-lekat seolah telah terkena mantra sihir olehnya. Hingga akhirnya Mirae menarik tanganku dan berjalan mendekati mobil itu.


"Masuklah. Aku akan mengantarmu, Yuko!" ucap Haku tersenyum lebar.


"Yuk, Kak!" Mirae tersenyum lebar padaku lalu segera mengajakku untuk memasuki mobil itu. Kita berdua duduk di belakang.


Setelah di dalam Mirae membisiku sesuatu. Dia mengatakannya sangat pelan, sehingga Haku tidak bisa mendengarnya.


"Acting yang bagus, Kak. Kak Yuko keren sekali!" bisiknya disertai dengan sedikit tawa kecil.


Aku hanya tersenyum samar menatap Mirae.


Mirae ... Sebenarnya aku sedang tidak berakting. Tapi aku benar-benar sangat terpesona oleh kakakmu. Dia selalu mengalihkan duniaku. Dia seperti bintang yang menyinari kegelapanku. Menjadi matahari yang begitu menghangatkanku. Bahkan menjadi pelangi yang selalu menghiasi hariku dan selalu mewarnai hariku.


"Apa yang kalian bicarakan?" ucap Haku setelah melihat tingkah aneh kita berdua.


"Tidak! Ini urusan wanita! Kakak tidak boleh tau!" ucap Mirae lalu kembali tertawa kecil. Dan aku juga ikut tertawa bersama Mirae.


...***...

__ADS_1



__ADS_2