
"Okaa-san! Yuko kangen sekali!" kataku saat video call dengan Ibuku.
"Ibu juga kangen, Yuko. Kau sedang apa sekarang?" tanya Ibu dari seberang.
"Di kontrakan saja nih, Ibu. Ayah dimana ya? Apa masih belum pulang dari kantor?"
"Iya. Ayahmu sering lembur akhir-akhir ini. Ibu jadi sering sendirian di rumah deh." kata ibuku yang sedikit cemberut.
"Wah. Kasihan sekali ibuku." kataku cemberut dan sedikit bersedih. Biasanya aku yang selalu menemaninya selepas pulang sekolah.
"Bagaimana kuliah di Todai?" tanya Ibuku yang kemudian terlihat sangat antusias.
"Menyenangkan sekali, Ibu. Kampusnya sangat besar dan sangat megah. Aku juga mendapat teman-teman yang baik disini." kataku sangat bersemangat.
"Syukurlah kalau begitu, Sayang. Ibu sempat khawatir sekali. Soalnya Yukonya Ibu kan sangat pendiam sekali."
Aku tertawa kecil mendengar celoteh Ibu. Memang iya sih. Aku ini sedikit pendiam. Tidak sih, lebih tepatnya aku ini introvert. Dan susah sekali bergaul. Teman-temanku juga tidak banyak. Bahkan teman-temanku saat di Sapporo pun masih bisa dihitung dengan jari.
"Jangan khawatir, Ibu! Aku mendapatkan teman-teman yang baik kok disini." aku tersenyum lebar menatap Ibu, berharap dia tidak mengkhawatirkan aku lagi.
"Hhm, Baiklah. Hari ini kau masak apa, Yuko?"
"Masih ada sisa makanan tadi pagi sih. Sup gomtang." sahutku.
"Sup apa itu, Sayang?" tanya ibuku sedikit keheranan. Dia mengerutkan keningnya yang sudah sedikit keriput. Tapi menurutku Ibuku masih terlihat cantik sih.
"Makanan Korea, Ibu. Haku yang memasaknya tadi pagi. Dan teman-temanku juga berkunjung semalam." jelasku kepada Ibu.
"Lalu kemana sekarang mereka semua? Ibu juga ingin mengenal teman-teman Yuko."
"Mereka sudah pulang semua, Bu."
"Haku juga sudah pulang?"tanya ibu lagi.
"Hhm. Sekarang dia sibuk sekali sih. Selain kuliah, dia juga sedang magang di perusahaan ayahnya."
"Wah, kamu harus beri dia semangat dong, Yuko!"
"Iya, Bu." jawabku sedikit tertawa.
"Ibu tidak sabar ingin melihatmu segera menikah, Yuko." kata Ibu yang tersenyum berbinar.
"Aku kan baru masuk kuliah, Ibu. Menikahnya nanti saja deh setelah lulus!" kataku cengengesan.
"Kau tidak takut kalau Haku keburu diambil orang lain?" kata Ibu menggodaku. Dia juga sedikit tertawa.
"Memangnya barang, Ibu? Main ambil saja ..." kataku sedikit terkekeh.
"Yah. Mana tau. Kau pernah bilang kan kalau Haku itu sangat populer."
"Hhm, populer sekali! Bahkan di kampus dia juga sudah sangat populer ..." kataku sedikit cemberut.
"Selalu terbuka dan saling percaya saja! Itu pesan Ibu pada kalian."
"Hai, Okaa-san."
__ADS_1
"Yuko. Sudah dulu ya. Ibu belum selesai memasak nih."
"Oke. Kapan-kapan lagi Yuko telpon ya."
"Oke, Sayang."
Ibu segera mematikan panggilanku.
Aku menghidupkan Tv karena merasa bosan di kontrakan.
Sudah jam 4 pm. Tapi belum ada telpon dari Haku. Apa dia belum pulang ya? Hhm ...
Aku terus mengecek ponselku tiap menit. Berharap ada pesan atau telpon dari Haku. Hingga jam 8 malam aku juga belum mendapat kabar darinya. Akhirnya aku pun ketiduran.
...***...
Keesokan harinya ponselku berdering dan aku segera meraih dan mengangkat panggilan itu.
"Pagi, Yuko ..." sapa seorang pria dari seberang.
"Kenapa baru menghubungiku?" tanyaku datar.
"Maaf. Semalam aku pulang agak telat. Dan ponselku mati kehabisan batrei saat pulang. Aku berencana mengecharge-nya dulu baru mau menelponmu. Tapi aku malah ketiduran, Yuko. Maaf ya ..."
"Tidak apa-apa kok." kataku pelan.
"Nanti pulang dari kantor aku akan mampir deh. Kita jalan-jalan sebentar. Bagaimana?"
"Tidak usah, Haku. Kau pasti sangat lelah."
"Memang kenapa? Dengan bertemu denganku apa rasa lelahmu akan hilang?"
"Kita akan mencoba mencari tahu nanti." sahutnya sambil tertawa kecil. "Oya apa kau sudah sarapan dan mandi?"
"Hhm, Sudah. Baru saja."
"Pasti kau sangat cantik dan harum sekali sekarang ini. Uhm, kangen ..."
"Apaan sih ..." kataku malu-malu dan wajahku sudah mulai memerah.
"Serius, Yuko. Aku selalu kangen tau! Atau jangan-jangan kau bosan ya selalu bertemu denganku?"
"Tidak, Haku!" kataku cepat-cepat. "Aku juga sama kok." kataku pelan.
"Aku nggak dengar deh. Kau bilang apa, Yuko?"
"Aku juga kangen, Haku." kataku pelan.
"Apa? Nggak dengar nih. Suara kamu pelan sekali, Yuko."
"Aku juga kangen, Haku." kini aku mengulanginya dengan sedikit lebih keras.
Tapi aku malah mendengar Haku yang sedikit tertawa.
"Kau sedang mengerjaiku lagi?" kataku agak kesal.
__ADS_1
"Maaf, Sayang. Kau sangat lucu saat ngambek sih! Coba sekarang ada di hadapanku, aku sudah gemas sekali!" Haku masih tertawa kecil.
"Kamu nyebelin, Haku!"
"Ahaha. Maaf deh. Ehm, Kalau begitu sampai jumpa nanti ya. Aku harus segera berangkat bersama ayah."
"Uhm. Okey."
"See you ..."
"See you ..."
Akhirnya Haku mematikan telponnya.
Aku menyibukkan diri dengan bersih-bersih rumah dan mencuci hari ini. Lalu aku memutuskan untuk pergi ke minimarket dan berbelanja sabun dan beberapa kebutuhan lainnya.
Dan aku tak sengaja aku bertemu kak Ave di minimarket. Kenapa kak Ave sering berada di daerah sini juga ya? Apa jangan-jangan dia tinggal bersama dengan kak Zen juga? Tapi kak Zen bilang kemarin dia tinggal sendirian. Hhm ...
"Selamat siang, Kak!" aku menyapa dan membungkukkan badanku saat berpapasan dengan kak Ave.
"Kau sendirian?" tanya Kak Ave sambil celingukan seperti mencari seseorang.
"Iya, Kak. Aku sendirian." jawabku. "Apa kakak juga tinggal di daerah sini juga ya?" tanyaku basa-basi.
"Tidak. Aku hanya sedang menginap di rumah Zen." kata Kak Ave sambil mengambil 2 botol minuman dingin di dalam kulkas. "Oya. Bilangin ke temenmu itu. Besok akhir acara puncak aku tunggu di taman kampus!"
"Sora maksud kakak?"
"Ya ..." sahut Kak Ave lalu memasukkan beberapa cemilan ke dalam keranjangnya.
"Baik. Nanti akan aku sampaikan pada Sora, Kak."
"Oh ya. Apa kau sama sekali tidak mengingat Zen?" pertanyaan kak Ave kali ini sedikit membuatku kebingungan.
"Maksud kakak apa ya?" aku mengerutkan keningku dan menatap kak Ave bingung.
"Ah, Sudahlah!" kak Ave mengibaskan tangannya. "Lupakan saja! Anggap saja aku tak mengatakan apa-apa!" kata kak Ave lalu berjalan menuju kasir.
Apa maksud kak Ave berbicara seperti itu ya? Sebenarnya apa aku pernah bertemu dengan kak Zen sebelumnya ya? Hhm ... Aku tak mengerti.
Aku berjalan menuju kasir dan antri di belakang kak Ave.
"Junior, Aku duluan ya ..."
"Iya, Kak." kataku sambil membungkukkan sedikit badanku.
Setelah itu kak Ave segera bergegas pergi dari minimarket.
"Semuanya 41.200 yen." kata seorang kasir padaku.
"Uhm. Ini ..." kataku lalu membayar belanjaanku.
Setelah itu aku segera bergegas pergi dari minimarket dan segera kembali ke kontrakanku kembali.
...***...
__ADS_1