
Aku menaikkan tanganku ke atas dan terus menatap gelang itu sambil tersenyum lebar.
Sementara Kak Zen hanya tersenyum lebar menatapku.
"Oh iya. Aku baru ingat!" aku segera mengambil dan memberikan totebag yang berisi dua buah coat milik kak Zen. "Maaf baru bisa mengembalikannya ya, Kak. Soalnya kemarin baru selesai dicuci dan disetrika."
"Tidak masalah kok." sahut kak Zen tersenyum ramah lalu menerima totebag itu.
"Dan malam itu. Malam perayaan di Cafe, terima kasih ya kak, sudah menemaniku menunggu Haku. Bahkan aku sampai pingsan saat itu. Dan kakak masih menemaniku." kataku tulus.
"Apa Haku yang memberitahumu, Yuko?" kak Zen tersenyum samar dan wajahnya begitu tenang.
Aku mengangguk pelan. "Hhm. Haku bilang malam itu aku pingsan, dan malah tertidur di bahu kakak. Maaf ya, Kak." kataku pelan. Sungguh aku merasa tak enak sekali dengan kak Zen.
Sepertinya aku sering sekali menyusahkan dan merepotkan Kak Zen selama ini.
"Kenapa meminta maaf?" Kak Zen tertawa kecil. "Seharusnya kakak yang meminta maaf karena membiarkanmu mabuk malam itu."
"Itu bukan salah kakak kok." aku tersenyum menatap kak Zen.
Tiba-tiba aku jadi teringat dengan pria misterius yang mengantar Sora pulang malam itu. Apa aku tanya kak Zen saja ya?
"Kak ..."
"Ya ... Ada apa, Yuko?"
"Kalau boleh tau, siapa yang mengantar Sora pulang malam itu saat dia mabuk ya?"
"Apa Sora tidak mengingatnya?" kak Zen bertanya sambil sedikit tertawa kecil.
"Dia tidak ingat kak. Makanya aku tanya kakak."
"Uhm. Malam itu Ave yang mengantarnya. Bahkan malam itu Sora sempat muntah dan mengenai coat Ave ." kata Kak Zen berusaha mengingat kejadian itu.
Aku sedikit terkejut dengan ucapan kak Zen barusan. Ternyata kak Ave yang mengantar Sora malam itu. Dan malam itu Sora muntah dan mengenai coat kak Ave? Wah, pasti kak Ave marah besar deh. Bisa kubayangkan seperti apa dia saat itu. Pasti sangat menakutkan!
Tiba-tiba aku melihat sebuah foto yang terpampang di dinding belakang kak Zen. Aku melihat foto seorang anak laki-laki yang kira-kira berumur 9 atau 10 tahun yang sangat manis. Dia berambut coklat dan bermata biru. Dan dia sedang berfoto di sebuah taman bermain. Sepertinya aku pernah melihat taman bermain itu. Mirip sekali dengan taman bermain di Hokkaido.
"Apa anak kecil itu kakak? Lucu sekali!" tanyaku kepada kak Zen.
Kak Zen segera menoleh ke arah belakangnya untuk melihat foto itu.
"Iya ..." sahutnya lalu berbalik menatapku dan tersenyum. "Apa kau tak pernah melihat anak itu sebelumnya, Yuko?"
__ADS_1
"Apa maksud kakak?" tanyaku sedikit kebingungan.
Belum sempat menjawab pertanyaanku, tiba-tiba kita mendengar teriakan Sora di lantai 2. Ada apa ya?
Aku dan kak Zen segera naik ke lantai 2 untuk melihat apa yang sedang terjadi.
Tapi kita bertemu dengan Sora yang tiba-tiba berlari keluar dari sebuah kamar. Wajahnya sedikit memerah.
"Sora, ada apa?" tanyaku khawatir.
Sora hanya menggeleng pelan dan menunduk. Tak lama kemudian dari kamar tadi keluar seorang Pria yang sangat familiar. Kak Ave? Ternyata dia sedang di rumah kak Zen juga?
"Apa yang terjadi, Ave?" kini kak Zen yang bertanya kepada kak Ave.
"Tanya aja sama junior itu! Kenapa dia main masuk ke kamar orang sembarangan!" kata kak Ave sambil bersandar pada dinding dan menyedakepkan kedua tangannya.
Sedangkan Sora masih menunduk dengan wajahnya yang merona. Bahkan dia tak berani menatap kak Ave.
"Kak. Sebaiknya kita pulang dulu saja. Kita pamit dulu ya kak." kataku sopan lalu menggandeng Sora yang masih terlihat begitu shock.
"Hhm. Hati-hati ..." kata kak Zen ramah.
"Iya, Kak."
"Sora, Sebenarnya apa yang terjadi tadi?" tanyaku saat kita sudah sampai di rumah.
"Aku shock sekali tadi, Yuko!" kata Sora setelah meminum beberapa teguk minuman dinginnya.
"Memang apa yang terjadi tadi?" tanyaku sangat penasaran.
"Tadi saat aku masih melihat-lihat rumah kak Zen. Dan tiba-tiba saat aku memasuki kamar itu. Aku melihat Kak Ave yang sedang melepas T-shirtnya. Dan aku melihatnya! Sungguh itu memalukan sekali!" Sora merengek dan seperti hendak menangis.
"Tenanglah, Sora!" aku menepuk-nepuk pelan bahunya.
"Tapi aku malu sekali, Yuko!" katanya sambil menutup matanya dengan kedua tangannya. "Bisa rusak mataku!"
Aku tertawa kecil melihat tingkah lucu Sora. Sangat menggemaskan sekali.
"Kenapa malah menertawakanku sih, Yuko?" katanya sedikit cemberut.
"Karena kau sangat lucu dan menggemaskan sekali, Sora!" kataku yang masih sedikit tertawa kecil.
"Yuko ..."
__ADS_1
"Baiklah. Maaf ..." kataku lalu menghentikkan tawaku. "Jadi gara-gara itu kau tadi berteriak histeris?"
Sora hanya mengangguk dan sedikit cemberut.
"Baru pertama kali aku melihat langsung seorang pria dewasa yang sedang bertelanjang dada seperti itu selain ayah dan kakakku. Apalagi kak Ave terlihat sangat dewasa sekali!" Sora kembali menutup matanya dengan kedua tangannya.
"Jujur, aku juga awalnya seperti itu kok Sora. Dan sekarang pun aku masih belum terbiasa dan masih malu jika melihat yang seperti itu."
"Siapa yang kau lihat?" kini Sora menatapku lurus-lurus. "Haku?"
Aku mengangguk pelan dan masih menatap Sora lurus-lurus.
"Bahkan kemarin saat di pantai dia juga melepas bajunya karena kotor. Udah gitu ditambah dia main surf. Apa nggak tambah meleleh aku? Hiks ..." kataku memelas.
"Wah, si Haku memang niat banget menggodamu deh." canda Sora yang akhirnya tertawa kembali.
"Iya kan?"
"Hhm. Oh iya, kau bilang akan menceritakan semuanya padaku. Saat kalian bertemu kembali setelah terpisah lama. Ayo ceritakan, Yuko!" kata Sora sangat antusias.
"Tapi ceritanya panjang lho. Nanti kamu bosan gimana?"
"Tidak kok. Ayo cepat ceritakan!" desaknya lagi.
"Baiklah. Aku akan menceritakan semuanya padamu."
Aku mulai menceritakan kisah itu kepada Sora. Dia pendengar yang baik. Dia mendengarkan dengan seksama dan sangat serius.
Aku menceritakan padanya dari saat aku dan Haku berteman sejak kecil dan akhirnya Haku pindah ke Tokyo bersama keluarganya. Hingga akhirnya aku bertemu kembali dengan Haku saat sekolahku mengadakan study tour ke Tokyo. Aku menceritakan bahwa Haku yang aku temui saat itu adalah bukan sosok manusia, melainkan arwah.
Aku juga menceritakan bahwa aku tiba-tiba kembali ke masa lalu dan aku bisa menyelamatkan Haku dan merubah takdir. Hingga akhirnya Haku masih tetap hidup dan kini kita bisa bersama.
Sora mendengarkan ceritaku dengan sangat serius tanpa bosan sedikitpun.
"Kau pasti akan mengira aku sudah gila, Sora. Ceritaku sungguh tidak masuk akal bukan? Aku sendiri terkadang juga masih bingung kenapa bisa seperti itu?" kataku menerawang jauh.
"Aku percaya padamu, Yuko. Meskipun aku baru mengenalmu. Tapi aku sangat percaya padamu!" Sora memegang kedua bahuku dan tersenyum manis sekali.
"Terima kasih, Sora. Aku beruntung sekali menemukan teman sepertimu." kataku terharu.
"Aku juga beruntung sekali bisa bertemu dan berteman denganmu, Yuko." kata Sora lalu memelukku.
Rasanya sangat terharu. Hingga aku sampai hendak mau menangis saja.
__ADS_1