My Little Prince

My Little Prince
Foto


__ADS_3

Sudah 3 jam kak Zen berada di ruang medis menemaniku. Dan dia menyibukkan dirinya dengan membaca dan mengutak-atik laptopnya. Mungkin dia sedang mengerjakan tugas kuliahnya.


Sementara aku selama 3 jam hanya mencorat-coret buku sketch-ku saja. Aku menggambar kak Zen yang sedang duduk dan sibuk dengan laptopnya. Ahaha. Habis aku bosan sih. Hehe..


Kak Zen mulai merapikan buku dan laptopnya. Dan memasukkannya ke dalam ranselnya. Setelah selesai dia menghampiriku lagi.


"Kita sudah bisa pulang. Ayo kuantar kau pulang."


"Ah, Iya kak." aku segera meraih ranselku dan memasukkan buku dan barang-barangku yang lainnya lalu turun dari ranjang.


Kita berjalan menyusuri koridor kampus bersama. Kak Zen menggiringku menuju parkiran motor.


"Ehm.. Anu kak.. Sebenarnya aku bisa pulang sendiri kok." kataku merasa tak enak.


"Aku hanya akan mengantarmu sampai di rumah saja kok."


"Tapi kak. Aku bisa naik subway atau kereta saja kok."


"Kau mau berdesak-desakan dan lukamu akan tersenggol dan jahitannya terlepas lagi di dalam subway? Baiklah kalau itu memang maumu."


"Ah, Tidak! Tidak kak! Baiklah kalau begitu." kataku nurut saja. "Tapi kak, aku hari ini akan pindahan. Aku akan mengambil beberapa barangku sebentar di rumah temanku."


"Kakak akan antar."


"Baiklah!" kataku pasrah.


Akhirnya Kak Zen mengantarku ke rumah Haku. Dia menunggu di depan rumah, sementara aku langsung saja berniat mengambil barang-barangku.


Aku memencet bel rumah dan tak lama pintu sudah terbuka.


"Yuko, Kok pulang lagi? Bukankah hari ini kalian ke Kanto Utara?" tanya Ibu Haku bingung.


"Ehm. Iya, Ibu. Yuko ijin tidak ikut."


"Kenapa? Kau sakit?"


"Tidak, Ibu. Jadi tadi ada kecelakaan kecil di fakultas Yuko. Beberapa orang jadinya tidak diperbolehkan ikut ke Kanto."


"Kecelakaan?" tanya Ibu Haku khawatir.


"Iya, Bu. Lampu gantung di aula fakultas Sastra tiba-tiba terjatuh dan mengenai beberapa senior."

__ADS_1


"Tapi kau baik-baik saja kan, Sayang?" ibu Haku memegang kedua pundakku dan menatapku khawatir.


Aku sedikit menahan nafas saat luka di lenganku tersentuh. Untung saja kak Zen meminjamkan coatnya padaku. Jadi ibu Haku tidak akan curiga.


"Ehm, Iya ibu. Yuko baik-baik saja kok." aku tersenyum menatapnya. " Okaa-san, Yuko sudah mendapat kontrakan. Jadi Yuko akan mulai tinggal disana.Terima kasih selama ini sudah memperbolehkan Yuko tinggal disini." aku tersenyum haru menatap ibu Haku.


"Secepat itukah? Ibu akan merindukanmu, Sayang." ibu Haku terlihat sedikit murung dan dia mengelus pipi kiriku lembut.


"Yuko akan sering datang mengunjungi Ibu kok." hiburku.


"Hhm, Baiklah!" katanya sambil tersenyum manis. Benar-benar mirip sekali dengan Haku, apalagi senyumannya.


Setelah itu aku mengambil barang-barangku dan segera pamit kepada ibu Haku. Ternyata kak Zen masih menungguku di luar dengan sabar. Aku jadi merasa tak enak.


"Maaf ya kak agak lama." kataku setelah menghampirinya. Kak Zen hanya tersenyum lalu memandang sebuah tas besar yang aku bawa.


Dia mengangkat tas itu lalu meletakkan diatas motornya.


"Naiklah!" katanya pelan. Aku segera naik ke atas motor. Lalu dia memberiku helm dan aku segera memakainya.


Kita langsung menuju ke kontrakan baruku. Kak Zen memarkir motornya di halaman kontrakan itu.


"Kak, Terima kasih untuk hari ini." kataku lalu berusaha meraih tas besarku. Tapi ternyata kak Zen lebih cepat dariku. Dia segera meraih dan menenteng tas itu.


"Tidak usah kak. Sungguh aku bisa melakukannya sendiri." sergahku cepat-cepat karena merasa tak enak dengan kak Zen.


"Yuko. Kau terluka karena berusaha menyelamatkan kakak. Jadi ijinkan kakak melakukan sedikit saja untukmu."


"Tapi kak, Aku tidak mau merepotkan kakak." kataku pelan.


"Kakak tidak merasa direpotkan kok." katanya ramah. " Dimana kamarmu?" kak Zen menatap dan melihat kontrakan di hadapannya itu.


"Ehm, Lantai 2 kak." jawabku.


Kak Zen segera berjalan menuju tangga dan aku mulai mengikutinya.


"Kamar nomor 18 kak." kataku setelah kita sampai di lantai 2.


Kak Zen masih berjalan mencari kamarku. Hingga akhirnya dia berhenti di depan sebuah kamar. Aku segera membuka pintu kamar itu dan segera memasukinya. Kak Zen mengikutiku masuk.


"Baiklah. Kau istirahatlah. Kakak akan menyulapnya dalam sekejap." kata kak Zen lalu melepas coatnya dan menggantungnya.

__ADS_1


"Ehm, Aku akan keluar sebentar untuk membeli sesuatu."


"Hhm.." sahutnya tanpa menatapku. Dia sedang sibuk melihat-lihat kontrakanku.


Aku segera turun dan pergi ke minimarket di depan kontrakan itu. Aku membeli beberapa minuman dingin dan beberapa cemilan. Lalu segera membali ke kamarku.


Kulihat kak Zen yang sedang sibuk menata kamarku. Aku segera meletakkan cemilan dan minuman yang aku beli tadi di atas meja.


Lalu aku membantu kak Zen merapikan kontrakan ini. Dan beberapa saat akhirnya semua sudah rapi dan bersih.


Aku mengangkat sebuah kotak kecil yang berisi beberapa barangku. Aku berniat untuk merapikannya. Tetapi tiba-tiba beberapa figura terjatuh. Aku berniat meletakkan kotak tadi ke meja belajarku terlebih dulu lalu berniat memungut beberapa figura itu.


Tetapi kak Zen sudah memungutnya terlebih dahulu.


Dia terdiam menatap foto-foto itu agak lama. Dan seakan seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Kak.." panggilku membuyarkannya.


"Ah, Iya!" kata kak Zen seperti sangat terkejut. Mimik wajahnya sangat berubah. Seakan banyak sekali yang sedang dia pikirkan saat ini.


Kemudian dia menatapku beberapa saat. Bahkan sebenarnya menatapku cukup lama. Tatapannya seperti orang yang sedang bersedih tapi tiba-tiba terlihat bibirnya yang sedikit menyunggingkan sebuah senyuman. Dia masih menatapku dengan ekspresi itu cukup lama.


"Kakak baik-baik saja?" tanyaku ramah.


"Ehm, Iya. Kakak baik-baik saja kok." katanya sedikit tergagap.


"Terima kasih banyak ya, Kak. Kakak hari ini sudah sangat membantuku." kataku tulus. "Bahkan aku sudah sangat merepotkan kakak. Maaf..!"


"Kakak senang melakukannya kok." kulihat kak Zen yang tersenyum sangat manis sambil meletakkan dan memajang foto-foto itu di atas meja belajarku.


Kak Zen masih menatap foto-foto itu dan tersenyum lama.


Aku merasa sedikit bingung. Kenapa dia terlihat begitu bahagia saat menatap foto-foto itu? Sebenarnya ada apa? Apa dia juga menganggap kedua anak kecil itu sangat lucu dan menggemaskan?


Foto-foto itu adalah fotoku saat kecil bersama Haku. Haku yang memberikannya kepadaku. Bukan sih. Lebih tepatnya aku yang meminta sih.


Sebenarnya foto-foto itu awalnya dipajang di kamar Haku. Karena aku merasa gemas melihat foto itu akhirnya aku memintanya. Begitu lucu dan sangat menggemaskan.


Entah, Kok aku bisa tidak mempunyai satupun foto-foto itu saat aku berada di Sapporo. Padahal Haku mempunyai beberapa foto kita saat kecil.


__ADS_1



__ADS_2