
"Haku, ada yang ingin aku katakan padamu ..." ucapku pelan dan hati-hati.
"Hhm. Katakan saja ..." ucapnya lembut dan tersenyum hangat padaku. Haku selalu saja bersikap lembut dan hangat padaku. Dan aku sangat merasa nyaman sekali saat bersamanya.
Apa ini adalah saat yang tepat untuk menceritakan semua itu kepadanya? Haku baru saja sakit. Bahkan kemarin dia sampai drop karena kecapekan. Aku takut ini akan membebaninya lagi. Aku tidak mau dia menderita lagi.
"Uhm ... Tidak. Bukan apa-apa sih." kataku berbohong karena sedikit ragu untuk mengatakannya sekarang.
"Katakan saja, Yuko. Apapun itu ..." katanya lembut dan menatapku lekat. Aku menatap sepasang mata bening itu. Sangat tenang dan menyejukkan. Baiklah, aku tidak akan menundanya lagi. Aku akan mengatakannya hari ini.
"Haku ... Ini ... Soal Kak Zen ..." ucapku hati-hati.
"Hhm?" Haku mengernyitkan dahinya kali ini. "Ada apa dengan kak Zen?"
Aku terdiam beberapa saat menatap manik-manik indah di hadapanku itu. Kenapa bibirku terasa berat sekali untuk menceritakan padanya?
"Yuko ..." ucap Haku membuyarkan lamunanku.
"Haku ... Sebenarnya ..."
"Katakan saja ... Aku akan mendengarnya ..." katanya sangat lembut dan disertai senyumannya lagi.
Aku menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan. Baiklah, Aku akan menceritakan semuanya!
"Kak Zen pernah menceritakan tentang cinta pertamanya padaku. Saat itu dia masih berumur kira-kira 9 tahun. Dia bertemu dengan seorang gadis kecil di sebuah taman bermain saat dia sedang berkunjung ke rumah kerabatnya di Hokkaido. Gadis itu berusia kira-kira berusia 6 tahun saat itu."
Haku masih dengan seksama mendengarkan ceritaku. Dia juga menatapku serius.
"Mereka bertemu saat itu. Itu adalah pertemuan pertama dan terakhir, sebelum kak Zen benar-benar menemukan gadis itu kembali. Dia kembali ke Tokyo. Namun setelah dia dewasa dia berusaha mencari gadis itu kembali dengan pergi ke Hokkaido. Namun dia tak pernah menemukannya, Haku."
Aku menatap Haku dan dia masih dengan seksama mendengarkan ceritaku. Kenapa hatiku sedikit terasa sakit. Bahkan aku merasa mataku sudah sedikit berair.
__ADS_1
"Kak Zen tidak mengetahui keberadaan gadis itu. Dia hanya berharap suatu saat bisa melihat dan mengetahui keberadaannya saja. Namun, suatu hari tanpa sengaja dia bertemu kembali dengan gadis itu. Awalnya dia tidak menyadari kalau gadis itu adalah gadis kecil yang selama ini dia cari. Namun setelah melihat foto masa kecil gadis yang baru dia temui itu, Kak Zen baru menyadarinya."
Aku merasa mataku sudah sangat berair, seakan mereka sudah mau memberontak untuk keluar membasahi pipiku.
Sementara Haku masih menatapku dengan sangat serius, dia mendengarkan setiap ceritaku.
"Haku ... Apa kau tau? Akulah gadis kecil itu ..." kataku sedikit bergetar. Bahkan aku sudah merasakan air mataku yang sudah terjatuh membasahi pipiku.
Haku terpaku menatapku beberapa saat. Tatapannya berubah menjadi penuh dengan kesedihan.
"Jadi aku harus bagaimana, Yuko? Apa aku harus mundur kali ini?" kata Haku pelan dan terdengar sangat memilukan. Hatiku sangat sakit dan sedikit bergejolak mendengar ucapannya.
Aku segera meraih jemarinya dan aku menggelengkan kepalaku dalam isak tangisku.
"Aku tidak mau berpisah darimu, Haku!" ucapku parau.
Haku menunduk menatapi genggaman tanganku dan menggenggam kembali dengan tangannya yang lain.
"Aku harus bagaimana, Haku?" ucapku dalam isakku.
"Saat ini mungkin hanya kaulah yang sangat dibutuhkan oleh Kak Zen, Yuko! Dan saat ini dia sangat butuh dorongan dan semangat darimu ..." suara Haku terdengar begitu berat.
Ucapan Haku seperti sebuah jarum yang perlahan menusukku. Rasanya sakit sekali ... Apa maksud dari ucapannya itu? Aku tidak mau berpisah darinya!
"Haku, aku tidak mau berpisah darimu!" ucapku semakin terisak.
"Aku juga, Yuko!" kini Haku mulai menatapku kembali. Dia menyunggingkan sebuah senyuman padaku lalu mengusap air mataku perlahan. "Tapi saat ini kak Zen sedang membutuhkanmu ..."
Aku menggeleng dalam tangisku. "Aku tidak mau berpisah darimu!" kataku semakin terisak.
"Kita akan tetap bersama. Tapi kau harus selalu memberikan dukungan dan semangat untuk Kak Zen. Aku tidak akan melarangmu untuk selalu datang mengunjunginya. Yang terpenting kak Zen bisa segera melewati ini semua. Dan jangan khawatirkan aku, Yuko. Aku akan baik-baik saja ..."
__ADS_1
"Kita akan selalu bersama kan, Haku?" jujur aku sangat merasa takut untuk berpisah darinya. Aku tidak mau kejadian menyedihkan itu terulang lagi dalam hidupku!
Rasanya seperti sudah kehilangan salah satu organ tubuhku saat itu.
Haku hanya terdiam menatapku tanpa sepatah kata apapun. Aku hanya menatap kedua matanya yang penuh kesedihan itu.
Kemudian dia mengangguk pelan dan sedikit tersenyum.
"Aku akan benar-benar pergi saat kau yang memintanya sendiri, Yuko ..."
"Tidak! Aku tidak akan pernah memintamu untuk pergi! Aku bisa gila tanpamu, Haku ..."
"Begitu juga denganku. Aku juga akan gila tanpamu." Haku kembali mengusap air mataku. "Sudah, Jangan menangis lagi. Semua akan baik-baik saja. Percayalah padaku, Yuko." ucapnya begitu lembut.
Setelah beberapa saat akhirnya aku sudah merasa tenang kembali.
"Ini ..." tiba-tiba Haku memberiku sebuah coklat. "Menikmati beberapa coklat akan bisa sedikit menenangkan hatimu. Apa kau ingat, Yuko? Saat kita kecil ... Saat kau sedang menangis aku selalu memberimu coklat dan permen. Dan saat itulah kau berhenti menangis."
Yang membuatku tenang dan merasa lebih baik sebenarnya bukanlah coklat dan permen itu. Melainkan kamu, Haku. Aku sudah sangat merasa nyaman disisimu bahkan sejak kita kecil.
"Terima kasih ..." ucapku sambil mengambil coklat itu.
"Sampai kapanpun aku akan selalu bersamamu. Aku akan selalu menemanimu seperti saat-saat ini. Aku ingin melewati sisa hidupku bersamamu, Yuko. Bahkan sampai rambutku mulai memutih dan kulitku berkerut nanti ... Aku ingin selalu bersamamu."
Aku terdiam dan terpana mendengar ucapan Haku. Angin yang dingin berhembus menyapu perlahan tubuh kita.
Melihatku yang terdiam dan tidak menjawab ucapannya Haku tersenyum dan mengusap kepalaku dengan lembut.
"Terima kasih, Haku ..." ucapku akhirnya. Aku begitu terharu setelah mendengar ucapannya tadi. Aku melempar tubuhku dan langsung memeluknya dengan sangat erat. Dan dia juga membalasnya.
Rasanya sangat hangat dan membuatku begitu tenang. Detak jantungnya terdengar begitu teratur dan indah. Seperti melody yang selalu menenangkan hatiku di setiap saat. Rasanya aku tak ingin untuk berpaling dari pelukan itu sedetik saja. Aku ingin selalu mendekapnya dengan hangat. Aku ingin selalu pada dekapannya.
__ADS_1
Haku, Jangan pernah pergi dariku! Dan jangan pernah memintaku untuk pergi darimu!