
Agatha menepuk pundakku, mempersilakan diriku untuk masuk ke dalam. Setelah menarik napas dalam dan memberanikan diri, aku mengetuk ruangan itu sebelum masuk.
Di dalam sana, terdapat beberapa rak buku dengan buku buku yang tertata rapi. Disana juga ada meja, kursi, sofa yang diposisikan dengan teratur.
Jaden Arshon duduk di salah satu kursi dan sedang membaca sebuah buku.
Aku mengucapkan kata permisi, Jaden Arshon yang tadinya membaca buku kini dia telah menutup bukunya.
Dia menatapku dengan tatapan agak kecewa, mungkin karena pekerjaan yang aku lakukan tidak pernah beres.
Dia memintaku untuk duduk di kursi seberangnya, aku mengangguk.
"Ehem, nona. Melihat pekerjaan anda saya masih kurang puas dengan hal tersebut."
"Anda seharusnya tidak bekerja sendirian jika anda masih belum bisa terbiasa."
Nada ucapan pria itu terdengar kecewa.
Aku menunduk, mungkin ini adalah awal yang buruk karena aku tidak berpikir untuk meminta bantuan ketika aku bingung.
Jaden Arshon menghela napasnya, mencoba untuk tenang.
"Saya masih bisa memaklumi hal tersebut karena ini merupakan hari pertama anda bekerja. Namun, saya harap kedepannya anda tidak membuat masalah atau merasa ingin berhenti di tengah-tengah kontrak. "
"Akan saya usahakan." Ucapku dengan yakin.
Pria itu tersenyum, sembari memberiku sebuah buku agenda.
"Ini adalah jadwal tuan, anda bisa mengikuti semuanya dari sana. Jika anda mengalami kesulitan, anda bisa hubungi kami."
"Baiklah, seperti yang saya katakan ketika kita bertemu pertama kali. Anda perlu tahu tentang beberapa hal peraturan di rumah ini selain yang saya sebutkan sebelumnya."
Sebuah buku kecil dia berikan padaku, buku itu cukup tebal dengan 195 halaman. Pada sampul itu tertulis jika buku itu berjudul 'Buku Panduan Bekerja dan Peraturan Rumah Bagian Tingkat A' aku membolak-balikkan halaman pertama buku itu.
Jaden Arshon menarik napas dalam, dia berpamitan untuk pergi. Mengizinkanku untuk berada di sini selama yang aku mau dan kembali memperingatkan diriku tentang pekerjaanku.
Setelah aku mengucapkan terimakasih, dia pergi.
Aku memutuskan untuk duduk lama di sana. Sambil membaca beberapa halaman pertama pada bukunya. Pada lembar pertama tersebut adalah panduan cara berpakaian dalam bekerja. Kemudian pada lembar kedua, itu tentang jam makan dan istirahat.
Aku pikir itu lebih bisa disebut sebagai aturan pegawai ketika bekerja.
Aku membalik halaman ke halaman awal untuk melihat daftar isi karena tadi halaman itu aku lewati.
Dan ternyata, itu benar.
Pada bagian awal memang aturan seorang pegawai dalam pekerjaannya. Kemudian pada bagian tengah adalah panduan untuk kami yang masih belum memahami penuh tugas kami. Dan pada bagian akhir adalah peraturan rumah atau bisa disebut tempat kerja kami.
__ADS_1
Aku melihat jam dinding yang terbuat dari kayu. Waktu menunjukkan pukul satu siang. Aku melihat buku agenda yang diberikan Jaden Arshon. Membuka halaman pertama yang bertuliskan tangan.
'Agenda Harian Tuan Nizcholn.
Catatan: Jadwal Mungkin Berubah Tergantung Pada Kondisi'
Kurang lebih itulah yang tertulis pada halaman buku paling awal setelah sampul. Aku melihat warna pembatas buku yang berbeda-beda.
Pada setiap pembatas itu tertulis beberapa hal berbeda.
Seperti waktu istirahat tuan, waktu makan, waktu untuk mengkonsumsi obat, waktu jalan-jalan dan banyak lainnya.
Aku membuka pada bagian waktu istirahat.
Tertulis keterangan waktu dan bagaimana tuan seharusnya beristirahat pada waktu-waktu yang telah disebutkan itu.
Aku beranjak setelah melihat jam yang menunjukkan pukul dua siang. Tanpa aku sadari, aku sudah lama di sana.
Aku melihat jadwal istirahat tuan.
Pukul tiga sore adalah waktu biasanya tuan selesai istirahat.
Itu adalah hal yang baru aku ketahui setelah membaca tulisan buku agenda yang diberikan oleh Jaden Arshon padaku.
Aku menarik napas dalam, pergi ke kamar tuan Nizcholn untuk melihat kondisinya.
Ketika aku berada di kamar tuan, aku terkejut dan semakin merasa jika pekerjaanku tidak dilakukan dengan benar.
"Astaga, apakah sejak tadi dia tidak tidur?"
Aku mendekat ke arah ranjang, melihat tuan Nizcholn yang terbaring namun tidak memejamkan matanya, dia hanya melamun menatap langit-langit kamar.
Aku membantu laki-laki itu untuk kembali duduk di atas kursi rodanya.
Membawanya ke kamar mandi.
Dan, ini adalah masalah terbesar menurutku.
Tertulis dalam buku panduan, jika aku juga yang harus membantunya membersihkan tubuh.
Ketika aku hendak membuka balutan perban di kepalanya, aku menahan diriku untuk berteriak.
Aku berlari keluar, sambil menggeleng.
Jaden Arshon sedang duduk sambil membaca berkas pekerjaannya.
Aku segera pergi menemuinya dengan dada yang kembang kempis.
__ADS_1
"Permisi Jaden Arshon. Aku tidak bisa melakukannya, aku tidak bisa membantunya untuk membersihkan tubuhnya."
Jaden Arshon mendongak, menatapku heran dan terkejut dalam satu waktu.
Dia menatapku lama, seolah mencerna kembali setiap ucapanku dan berusaha untuk memahaminya.
"Anda tidak perlu melakukannya. Itu adalah pengecualian bagi anda."
Mendengar hal itu membuatku bernapas lega.
"Silakan anda kembali ke kamar tuan setelah pukul setengah empat sore."
Aku mengangguk, setelah mengucapkan kata permisi aku masuk ke kamarku.
Bergegas untuk menyegarkan tubuhku sebelum kembali bekerja.
Setelah pukul setengah empat, aku pergi ke kamar tuan. Tuan sudah berganti pakaian dan perbannya juga sudah di ganti.
"Selamat sore, tuan. " sapaku dengan nada yang mungkin ramah, aku rasa begitu.
Aku mendorong kursi roda menuju ruang baca.
Mengambil salah satu buku dan membacakannya untuk tuan Nizcholn.
Dia masih tidak merespon, namun sepertinya dia mendengarkan aku.
Aku melanjutkan membaca buku tentang bisnis yang sebenarnya aku tidak memahami hal itu dan merasa bosan. Aku melirik jam, menandai halaman terakhir aku membaca buku itu.
Selesai dengan kegiatan membaca buku, aku melihat buku agenda. Kegiatan sore hari tuan berikutnya adalah jalan-jalan di kebun belakang rumah.
Aku membawa tuan ke sana.
Kebun itu cukup luas, terdapat pohon yang telah berbunga. Aku membawa tuan ke dekat bangku piknik. Aku duduk di bangku sambil menemani laki-laki yang masih diam membisu itu.
Matahari sudah terbenam, kami kemudian masuk ke rumah. Sebentar lagi satu hari akan aku lewatkan di tempat ini.
Agatha menyapaku, dia memberitahu agar aku pergi untuk beristirahat sebelum makan malam. Setelah tuan aku bawa ke kamar, aku pergi ke kamarku.
Aku duduk termangu di bawah jendela, melihat keluar jendela. Untuk sesaat, aku berpikir tentang saudariku. Apakah dia baik-baik saja?
Aku hanya duduk di sana hingga pelayan memberitahuku tentang makan malam yang telah siap.
Malam ini aku akan berusaha agar tuan mau untuk makan. Namun, harapanku masih menggantung. Dia tidak mau makan dan membuat Jaden Arshon kecewa sekaligus khawatir.
Aku hanya terduduk diam saat Jaden Arshon memintaku untuk makan malam, sedangkan dia pergi membawa tuan ke kamar.
Aku ingin pekerjaanku kulakukan dengan benar.
__ADS_1
Malam ini, aku diam dalam kebisuan meskipun aku sendiri tidak mengerti.