
Kak Zen mulai menarik tanganku dan menggiriringku untuk pergi ke suatu tempat yang tak jauh dari situ.
Yeap, dia membawaku memasuki sebuah gedung yang tak jauh dari situ. Kita menaiki lift dan menuju lantai atas. Setelah beberapa saat pintu lift sudah terbuka. Dan ternyata kita sudah di atap sebuah gedung.
Aku mulai melihat langit malam ini yang sangat indah dengan beberapa kembang api yang berwarna warni menghiasinya.
"Whoa ... Cantik sekali!" gumamku pelan sambil menatapnya takjub.
"Kau benar. Kembang apinya sangat cantik dan penuh dengan warna." kata Kak Zen pelan. "Apa sudah merasa lebih baik sekarang?" dia menatapku dengan bibir yang menyunggingkan sebuah senyuman.
Ah ... Apa maksud kak Zen berkata seperti itu? Apa dia tau suasana hatiku tadi sedang tidak baik? Apa begitu mudah terbaca?
"Hhm ..." aku hanya menjawabnya pelan dan sedikit melirik kak Zen lalu kembali menatap kembang api itu.
Sedangkan kak Zen juga memperhatikanku terus dari tadi. Dia juga selalu tersenyum saat menatapku.
__ADS_1
Angin malam mulai terasa sedikit kencang, membuatmu sedikit terhempas dari tempatku berdiri. Dan aku terjatuh dalam pelukan kan Zen. Aku mendongak menatapnya. Dan dia juga sedang menatapku dengan kedua tangannya yang sedang menahan kedua tanganku. Angin itu meniup dan membuat rambutku sedikit berkibar di udara. Bahkan aku juga melihat rambut coklat kak Zen yang berkibar terkena hembusan angin. Mata birunya seperti tak lepas untuk menatapku terus, seakan ada sesuatu yang sedang dia pendam dan tahan. Begitu misterius tapi sangat hangat.
"Kau baik-baik saja, Yuko?" ucapan kak Zen kini membuyarkan lamunanku.
"I-Iya, Kak. Maaf ..." kataku segera melepaskan diriku dari kak Zen.
"Angin sudah semakin kencang. Dan udara sudah semakin dingin. Kita turun yuk!" ucap kak Zen sangat lembut. Aku hanya menganguuk saja untuk menyetujuinya.
Kita berdua segera menuruni gedung itu bersama. Kini kak Zen mengajakku untuk makan malam di sebuah cafe di daerah situ. Tapi aku menolaknya. Aku malah mengajaknya menikmati ramen di depan sebuah minimarket. Dan dia juga mau.
Aku hanya mengangguk pelan dengan seulas senyum tipisku yang menghiasi bibirku.
Lalu kak Zen bergegas untuk memasuki minimarket itu. Aku menebarkan pandanganku untuk melihat sekelilingku. Tidak ada yang spesial. Bahkan festival kembang api tadi sudah berakhir begitu saja. Hanya tersisa malam yang sedikit dingin.
Aku memandang ke arah seberang jalan. Aku melihat beberapa orang yang sedang ingin menyeberangi jalan itu. Tiba-tiba lampu penyeberangan sudah mau berubah kembali menjadi merah.
__ADS_1
Tetapi aku melihat sebuah kereta bayi yang sedikit berjalan pelan menuju jalan raya. Sementara sang ibu tak menyadari itu. Aku segera bangkit dan membulatkan mataku menyaksikan itu.
"Yuko, kakak sudah bawakan ramennya ..." ucapan kak Zen yang baru datang tak aku hiraukan sama sekali.
Pandanganku masih menatap lurus-lurus menatap seberang. Sementara dari arah kiri sudah ada sebuah mobil yang melaju dengan sedikit kencang.
Tanpa pikir panjang aku mulai berlari tanpa mempertimbangkan apapun. Aku berlari ke arah kereta bayi itu dengan mengerahkan seluruh kekuatanku. Bayi itu bahkan masih belum melihat dunia ini sepenuhnya. Aku terus berlari untuk segera mencapai kereta bayi itu.
Sorot lampu dari mobil itu sudah mulai menyilaukan mataku, membuatku menutup pelipis kiriku dengan tanganku. Namun aku masih tetap berlari hingga akhirnya tanganku sudah berhasil mencapai kereta bayi itu.
Aku hendak mendorong kereta bayi itu tetapi tiba-tiba cahaya yang begitu menyilaukan itu sudah sangat dekat dan dekat. Aku kembali menutupi pelipisku dengan tanganku. Dan tiba-tiba saja dunia seperti sedang berputar dan sedikit gelap.
Bruuughhh ...
__ADS_1