
Setelah beberapa lama kemudian Haku masuk untuk menyusulku. Dia tersenyum ramah padaku dan kak Zen.
"Maaf aku baru datang. Tadi habis menelpon seseorang dulu. Dan menemuinya sebentar dulu ..." ucap Haku lalu berdiri di sebelahku.
"Tidak apa-apa kok." sahutku pelan.
"Kak Zen. Aku turut senang akhirnya kakak bisa sadar kembali." ucap Haku begitu tulus.
Kak Zen tersenyum lebar menatap Haku.
"Ini semua adalah karena kalian semua yang sering memberi kakak semangat dan dorongan untuk tetap berjuang." ucap kak Zen dengan seulas senyuman.
"Tidak, Kak. Ini semua karena semangat pada diri kakak yang sangat kuat!" sahutku.
"Haku, Yuko ... Kalian harus selalu bersama! Selagi masih diberi kesempatan bersama maka manfaatkanlah dengan baik. Sebelum kematian benar-benar datang untuk memisahkan."
Haku sedikit terkejut mendengar ucapan kak Zen. Aku bisa melihat dari mimik wajahnya.
"Benar, Kak. Bahkan kita sudah pernah merasakan saling kehilangan." ujar Haku sedikit murung.
Kak Zen mengernyitkan keningnya bingung. "Maksud kalian?"
"Uhm. Ceritanya panjang, Kak. Kakak tidak boleh memikirkan yang berat-berat dulu!" kataku cepat-cepat. Dan aku sempat melihat Haku yang sedikit murung, tapi saat menyadari aku melihatnya dia segera tersenyum.
"Sepertinya banyak sekali yang kakak lupakan ya ..." ujar kak Zen pelan.
"Kakak melupakan sebagian memory kakak?" tanya Haku.
"Sepertinya begitu ..." ujar kak Zen.
"Sudah. Tidak apa-apa, Kak. Perlahan pasti kakak bisa mengingat semuanya kok." kataku menyemangatinya.
Tak lama kemudian Kak Keisuke, Kak Sena, dan Kak Sano memasuki ruangan.
"Zen. Sepertinya Mamamu meninggalkan ponselnya." ucap kak Keisuke lalu mencari sesuatu di meja dan laci meja. "Nah ini dia!" ucapnya setelah senemukan sebuah ponsel.
"Oh ya. Aku mau mengantarnya dulu ke rumahmu ya, Zen!" ucap kak Keisuke lagi. Sedangkan kak Zen hanya mengangguk dan tersenyum.
"Uhm, Kak. Aku dan Yuko juga pamit dulu ya. Aku harus menyusul Ayahku juga." ucap Haku tiba-tiba.
"Hhm ... Terima kasih sudah datang ya." ucap Kak Zen ramah.
"Kalau begitu kita pulang dulu ya, Kak." ucapku ramah.
"Iya. Hati-hati ya ..."
"Hai ..."
...***...
Haku segera mengantarku pulang sore itu. Kita menaiki sebuah taxi menuju kontrakanku. Di sepanjang perjalanan dia terlihat begitu murung. Apa yang sedang dia pikirkan saat ini ya?
__ADS_1
Aku terus menatapnya dari samping dan perlahan aku meraih jemarinya. Menyadari itu dia menunduk dan menatap genggamanku.
"Ada apa?" tanyaku pelan. "Apa yang sedang kau pikirkan, Haku?"
Haku masih menatapi genggaman itu dan dia sedikit tersenyum.
"Aku tidak apa-apa. Jangan terlalu memikirkanku ..." katanya pelan.
"Bukankan kau sudah berjanji padaku mau berbagi semuanya denganku, Haku?"
Seketika dia mengalihkan pandangannya dan menatapku dengan sebuah senyuman hangat. Salah satu tangannya yang lain mengelus pelan pipiku.
"Aku hanya sedikit merasa sedih saat melihatmu bersama kak Zen. Tapi aku tetap akan percaya padamu kok. Jadi jangan khawatirkan aku. Perasaan ini pastinya sangat wajar bukan?"
"Haku ... Kak Zen telah melupakan gadis kecilnya."
"Apa maksudmu, Yuko?"
"Koma itu menyebabkan beberapa potong memory kak Zen terhapus. Dan salah satunya adalah kenangan tentang masa kecilnya bersama gadis kecil itu. Dia tidak mengingat tentang cinta pertamanya."
"Benarkah itu, Yuko?" tanya Haku menatapku lekat-lekat.
"Hhm ..." aku mengangguk padanya. "Aku merasa sedikit lega. Karena Kak Zen tidak akan terbebani dengan hal itu lagi. Dan kini aku harap dia bisa menemukan kebahagiaannya."
Haku yang mendengarnya kini sedikit tersenyum samar.
"Syukurlah ..." ucapnya.
Aku segera bergegas untuk kembali ke kontrakanku. Dan aku menghempaskan tubuhku di atas ranjangku.
Syukurlah, rasanya memang sedikit lega karena kak Zen tidak mengingat masa lalunya lagi. Namun sebenarnya ada sedikit rasa sedih juga. Namun aku segera membuang jauh-jauh perasaan itu. Sekarang adalah saatnya kak Zen bangkit kembali. Dan sekarang saatnya kak Zen akan memperoleh kebahagiaannya sendiri.
Tidak sempat untuk membersihkan diri aku malah ketiduran saat itu juga.
...***...
"Ken. Aku menyukaimu ... Maukah kau menjadi kekasihku?" ucap seorang gadis kepada Ken.
Tak sengaja aku dan Sora melihat situasi itu di dekat lapangan taman kampus. Seorang gadis yang manis telah menyatakan cintanya kepada Ken.
Ken terlihat sedikit terkejut dan kebingungan saat itu. Bahkan aku yang mendengarnya juga sangat terkejut. Dan tiba-tiba saja dia melihat ke arahku dan Sora. Bukan, lebih tepatnya dia melihat Sora. Dan aku sempat melirik Sora yang terdiam menatap Ken dan gadis itu.
"Ehm. Maaf ... Tapi sebenarnya aku sudah menyukai seorang gadis." sahut Ken dengan ramah.
Gadis itu terlihat sedikit cemberut dan sangat kecewa mendengar penolakan dari Ken.
"Maaf ya ..." kata Ken lagi lalu segera meninggalkan gadis itu. Dia berjalan ke arah kita dengan senyuman mengembang.
"Hai Yuko, Sora ..." sapanya berbinar.
"Hai, Ken!" sahutku.
__ADS_1
Sementara Sora masih terlihat sedikit murung. Kenapa dia ya? Masa dia cemburu dengan gadis itu? Padahal Ken baru saja menolak gadis itu.
"Ke kantin yuk!" ajak Ken bersemangat.
"Maaf, aku harus mengambil sesuatu yang tertinggal." ucap Sora segera ngeloyor pergi.
Aku dan Ken sangat keheranan melihat tingkah Sora kali ini. Ada apa dengannya?
"Apa yang terjadi dengannya?" tanya Ken padaku.
"Entahlah ..." ucapku juga sangat bingung. "Aku akan menyusulnya ..."
"Hhm. Oke ..."
Aku segera berlari menyusul Sora. Dan dia ternyata malah pergi ke kantin. Dia duduk di sebuah bangku sendirian. Aku segera menghampiri dan duduk di sebelahnya.
"Tadi diajak Ken ke kantin bareng nggak mau ..." sindirku menggodanya.
Sora yang sedang minum langsung tersedak mendengar ucapanku. Dan dia segera minum kembali.
"Sory, Sora ..." ucapku merasa bersalah.
"Kenapa mengikutiku, Yuko?" ucapnya kebingungan.
"Sora. Selama ini aku selalu menceritakan apapun padamu. Kenapa kamu tidak menceritakan masalahmu padaku?"
Sora memandangiku beberapa saat, kemudian dia segera meminum minuman dinginnya kembali.
"Apa yang harus aku ceritakan padamu, Yuko?" katanya pelan.
"Apa kau menyukai Ken?" tanyaku to the point.
"Jangan bahas soal itu, Yuko. Lagian Ken juga sudah menyukai seseorang kok ..." ucap Sora begitu cemberut dengan mengaduk-aduk minuman di hadapannya itu. "Lagian aku sudah berkomitmen tidak akan sembarangan jatuh cinta."
"Tapi tak ada salahnya membuka hati Sora ... Saat benar-benar ada seseorang yang tulus denganmu." kataku sambil bertopang dagu menatap wajah cemberut Sora yang terlihat menggemaskan.
"Lalu kalau Kak Zen dan Haku benar-benar tulus padamu. Siapa yang akan kau pilih?" ucap Sora mengalihkan pembicaraan.
"Tentu saja aku pilih Haku! Aku sudah berjalan merangkak cukup jauh hingga saat ini!"
"Tapi kau adalah cinta pertama kak Zen yang selalu dia tunggu. Bahkan 15 tahun dia menunggu dan mencarimu. Dia juga mengorbankan nyawanya sendiri demi untuk menyelamatkanmu malam itu."
"Sora! Jangan berkata seperti itu lagi ... Itu membuatku sangat sedih!" ucapku pelan.
Seketika Sora tertawa renyah melihat ekspresi sedihku.
"Makanya jangan menyudutkanku dengan Ken terus deh ..."
"Oke deh ..."
...***...
__ADS_1