
Aku dan Sora memutuskan untuk segera kembali bergabung bersama mereka.
Dan ternyata mereka semua sedang asyik meminum b*r bersama-sama. Bahkan Jessica dan Ken juga sudah ikut bersulang bersama senior-senior itu. Karena beginilah tradisi orang Jepang. Sebelum minum s*ke harus meminum b*r terlebih dahulu.
Aku dan Sora segera duduk kembali di bangku kita masing-masing.
" Kalian lama sekali pergi ke toilet.." celutuk Ken.
" Biasa. Urusan cewek..." sahut Sora asal.
Jessica terlihat sudah sedikit mabuk. Dia meletakkan kepalanya di atas meja. Sesekali dia ikut bersulang bersama.
" Ayo bersulang....!!" celutuk kak Sano bersemangat lalu mereka semua bersulang kecuali aku dan Sora yang masih sedikit kikuk dan merasa sedikit aneh. Semua mata menatap ke arah kita.
" Kalian cepat ambil minuman kalian..!!" perintah kak Sena yang sudah mulai mabuk.
Sora segera menyikutku lalu mengambil sebuah gelas yang ada dihadapannya. Aku dengan ragu ikut mengambil punyaku juga. Dan ikut bersulang bersama mereka.
Lalu aku dan Sora dengan terpaksa ikut meminumnya juga. Semoga tak terjadi apa-apa deh. Apa aku akan mabuk hanya dengan meminum segelas saja? Oh aku tidak tau.
Setelah mereka menghabiskan 5 botol b*r, mereka melanjutkannya dengan meminum s*ke.
Ini adalah pertama kali aku meminumnya. Rasanya sangat aneh sekali menurutku. Mereka bilang s*ke itu rasanya sangat manis. Tapi menurutku ini sangat pahit. Mengapa mereka bisa sangat menyukainya ya? Orang dewasa memang sedikit aneh. Atau apakah jangan-jangan aku yang aneh?
" Kanpai ( bersulang )..!!" kata mereka serempak. Lalu meneguk minumannya masing-masing.
Aku meminum 2 gelas b*r saja tadi dan masih baik-baik saja. Tapi setelah meminum 1 gelas s*ke aku merasa sedikit pusing. Pandanganku sedikit buram. Dan rasanya kepalaku sedikit sakit.
Lalu seorang waitress mengantarkan beberapa makanan seperti Salad, Okonomiyaki, Sushi, Ramen, Takoyaki, Yakisoba, Ikayaki, Nikumaki, Onigiri, Taiyaki dan masih banyak makanan lainnya lagi. Meja kita sangat penuh dengan makanan saat ini.
" Itadakimasu ( selamat makan )!" seru mereka semua lalu menikmati makan malam itu. Sesekali mereka masih meminum s*ke. Entah sudah botol ke berapa mereka meminumnya. Tapi di meja sudah ada banyak botol yang sudah kosong.
" Aku tak tahan!" Sora meletakkan kepalanya di atas meja. "Dunia ini seperti sedang berputar-putar.."
Aku masih memegangi kepalaku karena sedikit pusing.
__ADS_1
" Yuko. Kau baik-baik saja?" ucap kak Zen yang disebelahku. Aku menoleh ke arahnya memicingkan mataku menatapnya.
" Ah iya. Aku baik-baik saja, Kak." kataku.
" Hhm. Maaf ya mereka telah memaksamu untuk meminumnya. Seharusnya kakak mencegahnya saja tadi."
" Tidak kak. Aku tidak apa-apa. Aku akan pergi ke toilet sebentar. Kepalaku sedikit pusing dan perutku sedikit mual." aku berusaha bangkit untuk berdiri.
Tapi baru berjalan beberapa langkah saja aku sudah sempoyongan dan mau terjatuh.
Dan seseorang dengan sigap menangkap tubuhku.
" Kau tidak apa-apa, Yuko?"
Siapa ini? Aku meliriknya untuk melihat siapa yang sedang menangkap tubuhku saat ini. Aku melihat seorang pria dengan rambut coklat, bermata biru, dan memiliki alis yang tegas sedang menahan tubuhku yang hendak terjatuh. Ternyata dia adalah kak Zen.
" Kak Zen. Aku baik-baik saja kok." aku berusaha melepaskan pegangannya dan kembali berjalan lagi tapi kenapa dunia ini seperti sedang berputar-putar? Dan aku hendak terjatuh lagi. Dan seseorang kembali menangkap tubuhku. Dia menarik salah satu tanganku lalu mengalungkannya pada lehernya.
Pusing sekali rasanya. Kenapa bisa seperti ini efeknya? Ah, Aku kapok!
"Aku akan mengantar Yuko pulang. Kalian lanjutkan saja tanpaku." terdengar ucapan Kak Zen yang samar-samar.
Kak Zen mulai memapahku keluar dari Cafe itu. Dia melepas coatnya lalu memakaikannya untukku.
"Hati-hati, Yuko."
"Aku bisa pulang sendirian kok, Kak. Jangan cemaskan aku."
"Tidak, Yuko. Itu akan sangat berbahaya. Kakak akan mengantarmu." katanya pelan.
" Tidak, Kak. Aku tak mau merepotkan kakak terus." aku menyipitkan mata menatap kak Zen. "Dan Haku juga akan datang menjemputku kok, Kak." aku tersenyum menatap kak Zen.
Kak Zen terdiam beberapa saat menatapku. Lalu dia tersenyum manis.
" Baiklah. Kalau begitu kakak akan menemanimu untuk menunggunya." kata kak Zen ramah. "Ayo.." kak Zen menggandengku dan menggiringku untuk menuju ke sebuah bangku yang berada di luar Maidreamin Shibuya Cafe. Lalu kita berdua duduk disana.
"Kak.." kataku yang masih sedikit pusing.
" Hhm.."
__ADS_1
"Ceritakan soal gadis kecil itu.." kataku yang sudah sedikit tidak sadar. "Sepertinya kakak sangat menyukainya."
Kak Zen tersenyum manis dan menatap langit malam ini. Dia terlihat sangat bahagia sekali.
"Kakak tidak memiliki banyak kenangan bersamanya, Yuko. Karena kakak hanya pernah bertemu dengannya sekali saat itu." kata kak Zen menerawang jauh. "Tapi kini kakak merasa sangat lega karena mengetahui dia baik-baik saja. Dan dia hidup dengan baik. Bahkan dia telah menemukan seseorang yang mencintainya dengan tulus."
Aku sedikit terkejut mendengar ucapan kak Zen barusan.
"Kakak sudah menemukannya?" aku menatap kak Zen tidak percaya.
" Hhm, Iya." kak Zen masih tersenyum sambil menerawang jauh.
"Dan dia sudah mempunyai kekasih? Lalu bagaimana dengan kakak?" tanyaku sedikit sedih.
"Kakak bahagia kok melihat dia bahagia." kata kak Zen tulus.
"Ini sungguh tidak adil. Kakak bahkan sangat baik dan sempurna. Dan selama ini kakak selalu menunggu dia. Tapi dia malah dengan yang lain."
Kak Zen tertawa kecil mendengar celotehku.
"Bukan salah dia, Yuko. Selama ini kan memang kita tak pernah bertemu dan tak pernah bertegur sapa." kini kak Zen menatapku dengan senyum manisnya.
"Ehm. Iya sih. Tapi setidaknya kakak harus mengatakan perasaan kakak kepadanya."
"Tidak, Yuko. Mengetahui dia baik-baik saja dan dia bahagia saja itu sudah cukup untuk kakak."
"Kakak baik sekali sih." kataku. "Boleh aku lihat fotonya kak? Aku jadi penasaran, seperti apa gadis itu."
"Kau mau lihat fotonya?" kak Zen menatapku tak percaya. Dia terlihat sedikit kebingungan saat ini.
" Hhm.."
"Kakak tidak punya foto dia yang sekarang. Kakak hanya punya foto dia saat kecil." kata kak Zen pelan. "Saat itu, tak sengaja dia menjatuhkannya. Lalu kakak memungutnya."
Aduh! Kenapa pusingnya tambah parah ya? Rasanya berat sekali kepalaku saat ini. Aku memegangi kepalaku yang terasa begitu berat ini. Dan aku merasa sangat mengantuk
" Yuko. Kau baik-baik saja?"
Masih bisa kudengar samar-samar suara kak Zen.
__ADS_1
Ah! Pusing! Dan tiba-tiba semuanya menjadi gelap.
...***...