
"Aku tidak menyangka sekali Kak Zen akan bernasib malang seperti ini." ucap Ken lirih.
"Iya. Aku juga tidak menyangka malam itu dia akan mengejarku ..." kataku lirih.
"Kak Zen adalah orang yang sangat baik. Tentu saja saat melihatmu saat dalam bahaya dia akan bertindak seperti ini, Yuko." sahut Ken pelan.
"Tapi aku sangat merasa bersalah jika seperti ini, Ken. Rasanya akulah penyebab semua kejadian ini. Bahkan aku terus saja membuat kak Zen terpuruk ..." tiba-tiba aku teringat ucapan kak Ave kemarin malam. Sangat membuatku merasa bersalah kepada kak Zen.
"Jangan menyalahkan dirimu terus, Yuko. Kak Zen pasti bisa melewati semua ini. Kita harus percaya itu!" ucap Ken pelan. "Oh iya aku harus menemui Sora dulu. Ponselku aku titip sama dia tadi."
"Hhm ..." aku mengangguk pelan lalu Ken segera bergegas meninggalkanku. Kini hanya ada kak Zen dan aku saja.
Aku terus menatap wajah pucat itu. Hatiku kembali terasa ngilu sekali melihatnya sedang dalam kondisi seperti ini. Aku meraih jemarinya pelan, seperti biasa jemarinya terasa sangat hangat.
"Kak Zen. Bangunlah, Kak ... Buka mata kakak ..." ucapku pelan dan sedikit mempererat genggamanku. "Apa kakak masih ingat pertemuan pertama kita saat di Taman Bermain Hokkaido, Kak? Maaf aku sempat melupakannya, Kak. Tapi aku sekarang sudah mengingatnya kembali. Bahkan aku sangat mengingat kedua anak yang sedang bertemu saat itu." aku sedikit tersenyum mengingatnya kembali.
"Mereka berdua sangat manis. Ice cream strawberry dan cake buatan kakak yang sedang mereka nikmati di musim panas saat itu ... Aku sangat mengingatnya, Kak. Dan itu adalah cake terenak yang pernah aku makan. Sangat enak bahkan aku selalu menginginkannya untuk kembali menikmatinya." kini air mataku kembali membasahi pipiku.
"Kak, Bangunlah! Mari kita menikmati ramen dan melihat festival kembang api musim panas lagi." kataku sedikit mempererat genggaman tanganku. "Kita hanya punya waktu dua minggu lagi untuk bisa melihatnya kembali, Kak. Jadi kakak harus bangun ya! Kakak mau kan melihatnya bersamaku?" tangisku mulai pecah kembali saat ini.
Tanpa aku sadari seseorang sudah berdiri di sampingku. Dan dia tersenyum dan menyapaku dengan hangat.
"Yuko ... Benar kan itu namamu, Nak?" tanyanya lembut dan tersenyum padaku. Ternyata Mama kak Zen yang datang.
Aku segera melepas tangan kak Zen dan mengusap air mataku dengan cepat.
"Uhm ... Iya, Tante." kataku sedikit salah tingkah. Sejak kapan Mama kak Zen datang ya? Aku sama sekali tidak menyadarinya deh. Jangan-jangan sudah lama. Aduh, Malu sekali rasanya ...
"Sejak kapan kau mengenal Li?" tanya Mama kak Zen ramah.
"Li? Maksudnya kak Zen?" tanyaku sedikit bingung dan mengerutkan keningku.
"Iya. Tante lebih suka memanggilnya Li." ucapnya tersenyum ramah. "Bahkan dari kecil tante lebih suka memanggilnya dengan nama itu."
"Oh, begitu ya." jawabku sedikit nyengir. "Saya baru saja mengenal kak Zen semenjak saya melakukan study di Todai. Baru 3 bulan saya mengenal Kak Zen, Tante."
"Hhm ... Baru ya berarti."
__ADS_1
"Iya, Tante."
"Apa kau tau sesuatu, Yuko ... Kenapa Li masih sendirian sampai saat ini? Berkali-kali tante memintanya mengenalkan teman wanitanya. Tetapi dia selalu bilang tidak ada. Atau jangan-jangan Li sering membuat masalah saat di kampus sehingga dijauhi gadis-gadis?"
"Oh tidak, Tante. Kak Zen adalah orang yang baik dan ramah. Bahkan dia sangat disukai banyak orang. Dan banyak sekali yang mengaguminya." kataku jujur dan bersemangat.
"Benarkah itu?" wanita paruh baya itu sedikit mengerutkan keningnya.
"Iya, Tante." jawabku sambil tersenyum samar menatap wanita paruh baya itu.
"Lalu kenapa Li tidak pernah memiliki teman wanita? Atau jangan-jangan dia ..."
"Tidak, Tante." jawabku sambil sedikit tertawa geli karena merasa lucu mendengar mama kak Zen berpikir yang tidak-tidak.
"Kak Zen bukan orang yang seperti itu kok, Tante. Dia pasti akan mengenalkannya kepada tante pada waktu yang tepat." ucapku sambil tersenyum menatap mama kak Zen.
"Hhm ... Semoga saja begitu, Yuko. Dan semoga saja Li segera bangun dan pulih kembali." wanita itu kembali memandangi kak Zen dengan tatapan yang begitu sedih. Namun kemudian dia berusaha untuk tersenyum kembali.
"Iya, Tante. Semoga kak Zen bisa segera melewati ini semua." ucapku pelan.
Tiba-tiba pintu terbuka. Kak Misha sudah datang kembali dengan membawa beberapa bunga lavender yang indah.
"Baru saja kok." sahut Mama kak Zen.
"Om belum datang lagi, Tan?"
"Nanti malam akan datang kok. Malam ini kita akan menginap disini."
"Wah, padahal Misha bisa selalu menjaga Zen lo, Tan. Tante dan Om bisa beristirahat."
"Tidak, Sayang. Dari kemarin bahkan kamu belum pulang. Pulang dan istirahatlah dulu."
Aku hanya terdiam mendengar percakapan mereka berdua. Sepertinya mereka sudah sangat akrab ya. Kenapa kak Zen dan kak Misha tidak bersama saja ya? Kak Misha juga sangat baik. Begitu juga kak Zen. Aku rasa mereka akan sangat serasi.
"Tante, Kak . Aku mau keluar sebentar ya ..." ucapku menyela mereka karena sedikit merasa tidak enak dengan mereka.
"Baiklah, Yuko." sahut kak Misha ramah.
__ADS_1
Sedangkan mama kak Zen hanya tersenyum menatapku. Aku membungkukkan badanku lalu segera bergegas meninggalkan ruangan ICU.
Diluar sudah ada kak Sano dan Kak Yuki. Kak Ave, Sora dan Ken tidak tau entah dimana mereka. Mereka berdua sedang sibuk dengan ponsel mereka masing-masing.
"Yuko. Kau sudah keluar ..." kata kak Yuki setelah menyadari kedatanganku.
"Iya, Kak. Sudah ada kak Misha dan tante di dalam." ucapku lalu duduk di bangku kosong sebelah kak Sano.
"Hhm. Iya, Misha sudah sangat dekat dengan Zen. Mereka seperti kerabat saja. Mereka sudah berteman sari SMU." ucap kak Sano.
"Oh, Begitu rupanya ya ..." ucapku pelan.
Setelah beberapa saat Ken, Sora dan kak Ave sudah datang lagi. Mereka bertiga habis darimana ya?
"Yuko. Kita pulang sekarang yuk." ucap Ken padaku. "Ini juga sudah mulai malam."
"Hhm. Iya. Kalau begitu kita pamit dulu ya, Kak." kataku pamit kepada para senior itu.
Saat kita bertiga hendak pergi tiba-tiba saja kak Ave menghentikkan kita.
"Sora kau mau kemana?" tanya kak Ave tajam.
"Tentu saja aku mau pulang, Kak." sahut Sora.
"Kau tidak boleh pulang dulu!"
Sora yang mendengar ucapan Kak Ave membulatkan matanya sempurna. Bahkan Ken terlihat sangat bingung dengan Kak Ave yang tiba-tiba melarang Sora untuk pulang.
"Ada sesuatu yang sedang ingin aku beli. Dan kau harus ..."
"Oh, Iya ... Iya ... Kak! Aku akan membelikannya untuk kakak." potong Sora cepat-cepat karena takut mereka akan mengetahui semua itu. Kenyataan bahwa kak Ave sedang menjadikan Sora sebagai pesuruhnya.
"Kakak mau beli apa? Biar aku saja yang membelikannya. Kasihan Sora jika pergi sendirian. Dan hari juga sudah mulai gelap." ucap Ken tiba-tiba.
Kak Ave berjalan beberapa langkah ke arah Ken dan menatap tajam Ken.
"Dia akan pergi bersamaku! Jadi kau tidak usah merasa khawatir ..." kak Ave tersenyum dan menepuk bahu Ken. Tapi senyuman itu terlihat begitu menakutkan menurutku. Sangat dingin dan tajam.
__ADS_1
...***...