My Little Prince

My Little Prince
CHAPTER 3 : Not Bad


__ADS_3

Jika seseorang beranggapan bahwa pekerjaannya dilakukan dengan buruk, maka itu akan menjadi buruk.


Entah apa yang dikatakan Jaden Arshon pada gadis itu.


Aku baru saja membuka mataku setelah tidur beberapa waktu. Tentu saja aku masih berbaring menatap langit-langit kamar sambil menunggu rasa kantuk yang masih ada untuk menghilang.


Namun, aku tidak mengerti kenapa gadis itu beranggapan jika aku tidak tidur.


Dia membantuku berpindah ke kursi roda, gadis manis itu membawaku ke kamar mandi.


Apa ini serius?


Dia akan membantuku mandi?


Astaga.


Rubby menyentuh perban yang melilit di kepalaku, dia tampaknya merasa tidak nyaman dengan apa yang sedang dilakukannya.


Gadis itu beranjak, dia berlari keluar meninggalkan ku sendirian di dalam sini. Baiklah, dia sepertinya benar-benar tidak mau melakukan tugas yang satu ini.


Tapi, syukurlah aku masih bisa mandi sendiri tanpa bantuan orang lain.


Aku segera membersihkan tubuhku, mengganti perban dan mengobati beberapa luka yang tidak perlu diperban.


Sejujurnya, aku menikmati hariku saat sakit setelah gadis itu datang. Bisa dibilang jika gadis itu sungguh ceroboh. Membiarkan orang yang sedang sakit duduk di atas kursi roda di dalam kamar mandi.


Aku membuang napas kasar. Menatap ke arah luar jendela, melihat pemandangan sore di rumah ini. Aku tidak tahu, berapa lama aku sudah berada di sana. Yang pasti, sore ini aku benar-benar merasa tenang.


"Selamat sore, tuan."


Suara lembut itu. Oh Tuhan, rasanya aku ingin segera terbang dan membawa gadis itu bersamaku pada malam yang menyenangkan.


Kami akan makan malam bersama dan menghabiskan waktu bersama semalaman.


Gadis itu menarik kursi rodaku mundur, dia membawaku keluar dari kamar. Jalan-jalan sore menuju ruang baca yang biasanya membosankan, sekarang terasa agak menyenangkan.


Sepanjang perjalanan menuju ruang baca, aku membayangkan seorang gadis bernama Rubby dengan suara yang lembut nan indah itu membacakan buku untukku.


Sesampainya kami di ruang baca, tanpa ba bi bu Rubby langsung membaca salah satu buku di sana.


Sesuai apa yang aku bayangkan, suaranya begitu merdu. Aku sedikit kagum pada suara lembutnya itu.


Namun, segera ku tepis rasa kagumku karena tidak akan bisa aku dengarkan selamanya suara indah tersebut.


Gadis yang duduk di dekatku itu berhenti membaca. Dia membuka buku agenda sebelum melanjutkan tugasnya.


Agenda pengganggu yang aku buat tempo hari. Seharusnya aku menambah jam baca pada buku agenda itu.


Rubby membawaku pergi keluar menuju kebun belakang rumah. Dia duduk di bangku kayu yang memang sudah ada di sana sedari dulu. Hanya seperti itu sampai waktu matahari mulai terbenam.


Entah kenapa, tapi sepertinya gadis itu sedang memikirkan hal yang mengganggu pikirannya.

__ADS_1


Kami tidak sengaja bertemu dengan Agatha yang hendak memberitahu jika Rubby diperbolehkan istirahat sebentar sebelum waktu makan malam tiba.


Mungkin itu bisa digunakan oleh Rubby sebagai waktu merenungkan segala hal yang mengganggu dirinya.


Gadis itu pergi setelah membawaku kembali ke kamar. Dia benar-benar murung sejak siang hari tadi.


><><><><><


"Tuan, nona sudah dipanggil. Apa anda mau memulai kegiatan makan malam anda ini?"


Aku mengibaskan tanganku. Mendengar langkah kaki yang mulai familiar di telingaku, membuatku segera memasang posisi awal.


Gadis manis itu menyapaku dengan ramah. Dia kembali berusaha untuk menyuapiku lagi.


Dia nampaknya merasa bingung karena aku tetap diam saja.


Saat gadis itu menunduk pasrah, aku segera memberi aba-aba pada Jaden Arshon supaya membawaku pergi.


Gadis yang tertunduk lesu itu menatapku takut. Seolah aku adalah sosok menyeramkan. Atau itu hanya prasangka ku saja?


Aku meminta Jaden Arshon untuk membawaku ke lantai atas. Sedetik kemudian, dengan hati-hati beberapa orang mengangkat kursi roda ini melewati tangga. Bukankah itu merepotkan?


Seolah paham dengan niat awalku pergi ke lantai atas, Jaden Arshon segera membawaku ke depan salah satu kamar di sana.


Aku mengetuk pintu kamar milik wanita yang telah membuatku harus tinggal di sini.


Meskipun tahu jika bukan wanita itu yang akan membukakan pintunya.


Dia masih terbaring.


Wanita itu terbaring lemah diatas ranjang, namun dia masih meninggalkan banyak tanggung jawab.


"Bagaimana perkembangannya?"


"Sejauh ini, tidak ada yang berubah."


"Sampai kapan kira-kira?"


"Mungkin dua atau tiga bulan lagi. Setidaknya sampai anda merasa jika ini semua sudah aman."


Aku membuang napas kasar.


Entah kenapa harus aku yang bertugas meskipun sedang sakit.


"Tinggalkan aku disini. Aku akan memanggilmu nanti."


Semua orang membungkuk, mereka kemudian keluar dari kamar satu per satu.


Aku menatap wanita yang terbaring itu dengan malas.


"Seharusnya, kau sudah aman." Gumamku.

__ADS_1


Wanita itu masih belum memberikan respon terbarunya.


Entah apa saja yang sudah terjadi padanya. Aku sendiri sudah lama tidak memperhatikan ucapan-ucapan dokter perihal kondisi wanita itu. Terhitung sejak tiga bulan sebelum kondisiku seperti ini.


"Aku tidak bisa terlalu lama berada di sini. Aku sudah memintanya menjagamu saja daripada mengurus hal yang tidak jelas itu. Dia akan datang untuk menemanimu. Tapi, entah kapan dia akan kemari."


Aku menggulirkan kursi rodaku ke belakang. Hendak pergi meninggalkan kamar itu.


Jaden Arshon segera membantuku untuk pergi kembali ke kamar.


"Jangan terlalu keras pada gadis itu. Dan iya, sekitar dua atau tiga bulan dia akan datang kemari. Persiapkan semuanya terutama gadis itu." Jaden Arshon mengangguk paham.


Aku menatap keluar jendela. Sebenarnya, beberapa hari ini aku mendengar isak tangis yang sedikit memilukan. Diakui atau tidak oleh gadis itu, dia selalu menangis akhir-akhir ini.


Mungkin karena dia tidak merasa nyaman di sini.


><><><><><


><><><><><


"Tuan, saya sudah memperbarui kontrak untuk nona. Jika berkenan, anda bisa membacanya terlebih dahulu sebelum kami berikan pada nona untuk ditandatangani."


"Tidak perlu, apapun itu pasti baik untuk Rubby."


Aku menoleh pada Jaden Arshon yang duduk di seberangku.


Kami sekarang berada di ruang baca, Jaden Arshon memberitahuku perihal kontrak untuk Rubby yang sudah diperbarui. Aku tidak ingin merevisi kontrak itu lagi karena sudah pasti isi dari kontrak tersebut, sesuai dengan permintaanku yang sudah dipertimbangkan.


Alasan pembaruan kontrak itu adalah perpindahanku.


Tugasku sudah selesai di sini. Setidaknya aku bisa pergi meninggalkan tempat ini.


Meski aku tetap diharuskan untuk memgunjungi tempat ini pada waktu-waktu tertentu.


Tidak mungkin jika aku tidak membawa Rubby turut serta bersamaku. Aku tidak bisa meninggalkan seorang pekerja keras seperti Rubby.


Orang lain bisa saja beranggapan kinerja Rubby buruk, atau bahkan Rubby sendiri merasa begitu. Namun bagiku tidak seperti itu.


Mungkin jika aku membawanya keluar dari rumah ini, gadis itu bisa merasa lebih nyaman lagi ketika bekerja denganku.


Bagaimanapun, kinerja gadis itu tidak terlalu buruk. Dia perlu untuk membiasakan diri dan membuat dirinya merasa nyaman.


Jika dia benar-benar bekerja tanpa tekanan dan paksaan. Bisa saja kinerjanya menjadi lebih baik.


Tapi yang membuat gadis itu istimewa, dia tidak menyerah meskipun terkadang ucapan Jaden Arshon agak pedas. Dia sosok pekerja keras dan lembut.


Sayangnya, gadis itu lugu. Dia juga tidak mau berbagi lukanya pada orang lain.


Aku melirik selembar kertas kontrak kerja yang baru, diletakkan begitu saja di atas meja.


Rasanya aneh bagiku, terlalu memperhatikan gadis itu.

__ADS_1


><><><><><


__ADS_2