
Aku mulai menatap kue yang aku beli di toko kue tadi. Ada rasa sedikit minder dalam hatiku. Apa lebih baik aku pulang saja ya? Hhm ...
Haku sangat populer sekali. Dan dia seperti bintang di langit yang selalu bersinar. Bahkan baru saja dia bekerja disini, tapi sudah ada gadis cantik yang sangat perhatian padanya. Terkadang aku merasa sedang berada di tempat yang sangat jauh dari Haku. Sangat jauh untuk menggapainya.
Tanpa sadar aku sudah cemberut saja sambil memandangi sekotak kue yang aku beli tadi.
"Yuko. Apakah aku terlihat begitu menakutkan? Kenapa kau bersembunyi disini dariku?" tiba-tiba terdengar suara seseorang yang begitu familiar. Aku menoleh ke arahnya. Dan ternyata Haku sudah berdiri di sampingku saja.
Aku melihat mata Haku yang begitu berpijar. Membuatku merasa sedikit bersalah dan tidak tau harus berkata apa? Sehingga aku hanya terdiam menatapnya saja.
"Yuko? Kenapa diam saja?" katanya lagi.
"Uhm. Maaf, Pak ..." kataku sedikit salah tingkah karena bingung harus berkata apa.
"Pak?" dia mengerutkan dahinya menatapku. "Barusan kau memanggilku Pak?" katanya seolah tak percaya dengan apa yang barusan dia dengar.
"I ... Iya. Ini kan sedang di kantor. Jadi aku akan memanggilmu Pak." jawabku sedikit terbata.
Haku tertawa kecil mendengar ucapanku barusan.
"Yuko. Kau cukup memanggil namaku saja. Dimanapun kita berada!" katanya sambil menunduk dan memegang kedua bahuku.
"Tapi barusan ..."
__ADS_1
"Barusan apa? Gadis itu?" potong Haku yang menatapku lurus-lurus. Dan aku hanya mengangguk pelan.
"Dia adalah teman sekolahku saat SD dan SMP. Tapi kita tidak terlalu akrab sih. Hanya kebetulan satu sekolahan dan bertemu disini kembali. Dan dia adalah bawahanku sekarang." jelas Haku padaku.
"Oh ..."
Tiba-tiba Haku melirik sesuatu yang sedang aku tenteng.
"Apa ini untukku?"tanyanya kegirangan lalu mengambilnya dariku.
"Uhm, Iya. Aku membawakan cake untukmu." kataku pelan.
"Thanks ya, Yuko. Aku sedang ingin makan kue saat ini!" katanya sambil tersenyum lebar. "Ayo kita ke ruanganku ..."
Haku mulai berjalan menuju ke ruangannya. Dan aku mulai mengikutinya. Kantor ini cukup besar dan luas. Sepanjang perjalanan aku selalu memperhatikan sekitarku.
Akhirnya kita mulai memasuki ruangan Haku. Ruangannya cukup luas dan tertata rapi. Whoah ... Ini keren sekali. Inikah tempat Haku bekerja? Benar-benar sudah seperti Bos saja dia. Keren sekali!
"Apa aku boleh memakan kuenya sekarang? Ini sungguh menggoda sekali, Yuko ..."
"Ahahaha. Tentu saja, Haku." kataku yang masih melihat-lihat ruang kerja Haku. Aku mendekat ke arah jendela. Dari sini bisa melihat pemandangan kota Shinjuku dari atas. Indah sekali. Apalagi saat malam ya. Pasti akan sangat indah.
"Hhm ... Ini enak sekali, Yuko."
__ADS_1
"Kalau begitu habiskan ya!"
"Hhm. Tentu saja ..."
"Oh iya. Bukannya gadis tadi memberikan makan siang padamu, Haku?"
"Hhm. Kalau kau mau kau boleh memakannya kok." kata Haku yang masih memakan cake yang aku bawa tadi.
"Dia kan memberikannya untukmu, Haku. Masa malah kau berikan padaku?" kataku sambil terus menatap pemandangan di luar.
"Kenapa memangnya? Dia sudah memberikan padaku, berarti aku berhak atas makanan itu sekarang."
"Kamu jangan seperti itu ..." kini aku berbalik dan menatap Haku dari kejauhan. "Setidaknya kau harus memakannya. Dia sudah bersusah payah memberikannya padamu."
"Baiklah. Aku akan memakannya." kata Haku lalu meletakkan sisa kue di mejanya.
"Nah gitu dong!" kataku sambil tersenyum lebar.
"Aku mau memakannya asal kau yang menyuapiku ..."
"Heh? Apa?" tanyaku sedikit terkejut.
"Kau keberatan? Ya sudah, aku nggak mau makan!"
__ADS_1
"Eh. Oke-oke! Aku akan menyuapimu!" sahutku cepat-cepat lalu segera mengambil kotak makan yang diberikan gadis tadi.