
Beberapa saat dua orang karyawan butik mulai mendatangi kita kembali. Mereka membawakan sebuah setelah jaz dan juga sebuah gaun berwarna putih yang begitu indah dan menjulang.
"Silakan. Fitting room ada berada di ruangan paling ujung ..." ucap seorang diantara mereka begitu ramah.
Akhirnya kita melenggang bersama dan segera mencoba pakaian itu. Seorang karyawan butik juga membantuku memakaikan gaun itu. Gaun berwarna putih dengan design tanpa lengan dan begitu panjang hingga menjuntai panjang sekali. Gaun itu juga dipenuhi oleh manik-manik kecil bak kristal yang begitu indah dan bersinar.
Indah sekali! Aku sangat menyukainya!! Dan sangat cocok dengan karakterku! Dan sebenarnya gaun ini adalah pilihan dari Haku. Pilihan Haku memang tak diragukan.
Aku mulai berjalan mendekati sebuah cermin yang memanjang hingga menampakkan seluruh tubuhku. Sementara seorang karyawan butik membantu mengangkat bagian belakang gaunku yang memanjang dan menyeret hingga ke lantai.
Aku melihat diriku melalui pantulan cermin yang begitu bening itu. Terlihat seorang gadis dengan wajah yang begitu bersinar sedang memakai gaun pengantin putih bersih. Senyumnya begitu mengembang menandakan keadaan hatinya sedang begitu baik saat ini.
Haku ... kini Haku akan segera menepati janji yang dia buat di masa lalu. Dia akan benar-benar menikahiku. Aku tidak sabar lagi menantikan bulan depan!
Tiba-tiba saja terdengar ritme teratur yang berasal dari suara langka kaki sebuah sepatu yang semakin mendekat. Aku melihat melalui cermin di hadapanku, ternyata Haku sudah datang dan berdiri di belakangku dengan mengenakan sebuah setelan jaz pengantin.
Haku terlihat begitu bersinar dengan pakaian itu. Setelan jaz pengantin berwarna hitam membalut tubuh atletisnya setelah sebuah kemeja putih dan juga dasi bercorak cross line itu. Sangat tampan, gagah dan juga menawan.
Aku sangat terpesona hingga terus menatapnya dengan senyumku yang begitu merekah melalui cermin itu.
"Yuko ..." suara nyaringnya akhirnya membuyarkan anganku yang entah sudah sampai ke dunia mana. Kini aku berbalik dan menatapnya dengan senyum lebar.
"Setelan pakaian itu sangat cocok untukmu, Haku." ucapku sangat bersemangat.
"Benarkah?" kini Haku berjalan mendekati cermin dan melihat pantulan dari dirinya sendiri.
"Hhm. Kau terlihat begitu bersinar ..." ucapku dengan jujur.
"Terima kasih, Yuko." jawab Haku sambil membenarkan letak dasinya yang sedikit miring. "Kau juga sangat cocok dengan gaun itu. Manis sekali ..." kini Haku sudah berbalik dan menatapku kembali.
"Hhm. Iya ... gaun ini sangat cantik. Aku suka sekali, Haku!" ucapku sambil mengusap bagian bawah dari gaun itu. "Gaun ini juga membuatku terlihat sedikit dewasa ..." imbuhku dengan senyum lebar.
"Hhm? Benar sekali. Dengan memakai gaun itu kau terlihat lebih dewasa. Tidak seperti biasanya ya ..." ucap Haku dengan tawa kecil.
"Nah kan ... aku memang masih seperti bocah!" sungutku sedikit merasa kesal dan tiba-tiba cemberut.
__ADS_1
"Aku hanya sedang menggodamu, Yuko." ucap Haku dengan tawa kecil. "Mengapa harus berusaha untuk terlihat dewasa? Bagiku kau sangat lucu dan menggemaskan kok. Aku menyukai kau yang seperti itu."
Ucapan Haku hanya membuat wajahku sedikit merona dan terdiam begitu saja. Sementara kedua karyawan yang sedang berdiri tak jauh dariku terlihat tersenyum saja.
"Tuan Haku benar, Nona. Gaun ini sangat cocok dengan karakter nona. Manis dan ceria ... benar-benar pilihan yang bagus." ucap salah satu dari mereka.
"Uhm ... terima kasih." ucapku sambil melihat sisi-sisi dari gaun yang sedang aku pakai saat ini.
Tiba-tiba terdengar lantunan musik yang berasal dari ponsel Haku. Haku segera meraihnya benda pipih itu dan melihat layar ponsel itu.
Haku menatapku dan akhirnya meminta ijin padaku untuk mengangkat panggilan itu, "Ayah menelpon. Aku akan mengangkatnya sebentar."
"Hhm ..." jawabku diiringi anggukan dan senyuman.
Karyawan butik itu mulai mendekatiku dan memberikan sarannya kembali, "Sepertinya bagian pinggang terlihat begitu sesak. Apa perlu sedikit dilonggarkan kembali, Nona? Kita bisa menjahitnya ulang jika nona Yuko mau."
"Ah ... tidak perlu. Hanya sedikit sesak saja kok. Aku akan mulai mengatur pola makanku Agar bisa sedikit mengurangi lemak di tubuhku." jawabku dengan cepat
"Baiklah, Nona ..."
Aku kembali menatap Haku dari kejauhan. Dia terlihat sedang berbicara serius. Saat dia menyadari aku sedang memperhatikannya, Haku segera melempar senyum manisnya padaku. Manis sekali ...
"Bagaimana? Sudah selesai kan?" tanya Haku saat datang kembali.
"Hhm. Iya. Aku akan berganti pakaian dulu." ucapku. "Siapa yang menelpon?" imbuhku.
"Ayah memintaku untuk melakukan pertemuan dengan klien menggantikannya."
"Oh baiklah. Aku akan berganti pakaian dulu."
"Hhm. Okay."
Aku segera berganti pakaian kembali. Begitupula dengan Haku. Setelah mengantarku pulang Haku segera menghadiri pertemuan itu di sebuah restoran. Sementara aku segera kembali ke kontrakanku dan segera mandi.
Salah satu kebiasaanku adalah menyanyi saat di kamar mandi. Apalagi jika suasana hatiku sedang baik. Dan tentu saja itu membuatku merasa lega sekali. Lagu-lagu yang sering aku lantunkan adalah lagu-lagu soundtrack anime dan lagu manca negara.
__ADS_1
Dan yang paling sering aku lantunkan adalah Life ii like a boat. Salah satu lagu faforitu bersama Haku. Kalian masih ingat? Kita pernah menyanyikan bersama di ruang karaoke? Bahkan saat kecil kita juga pernah menyanyikan bersama.
Aku merebahkan tubuhku di atas sofa dan mulai mencari ponselku di dalam sling bag hitamku. Tiba-tiba tanganku menemukan sebuah kotak kecil yang begitu lembut. Aku segera mengeluarkan kotak itu dan melihat sebuah kotak kecil berwarna merah maroon yang begitu lembut.
"Ini kan cincin milik pria yang hampir saja menabrakku itu ..." gumamku pelan. Dengan cepat aku segera mencari sebuah kartu identitas yang tadi siang pria itu berikan kepadaku.
Disitu tertulis nama pria itu, nomor ponsel dan juga perusahaannya.
"Namanya Sean ya? Hhm ... baiklah. Aku harus mengembalikan cincin ini." kini aku meraih ponselku dan mulai memencet beberapa nomor dan menekan tombol hijau.
Setelah beberapa saat menunggu akhirnya dia mengangkat panggilan dariku.
"Hallo ..." sapanya dari seberang.
"Hallo. Selamat sore." ucapku dengan ramah.
"Selamat sore. Ini dengan siapa ya?"
"Ini aku Yuko, gadis yang hampir saja tertabrak oleh mobilmu siang tadi." jelasku padanya.
"Ah ... yang itu. Ehm ... iya bagaimana keadaanmu? Apa ada luka yang serius? Jika ada segera pergilah ke rumah sakit dan kirimkan saja nomor rekening kamu. Aku akan men-transfer sejumlah uang." ucap pria itu.
"Eh? Bukan ... bukan seperti itu. Aku baik-baik saja kok." ucapku dengan cepat.
"Lalu? Ada apa menghubungiku ya?" tanya pria itu dengan sopan.
"Itu ... kamu menjatuhkan sebuah kotak kemerahan yang berisi sepasang cincin. Dan aku yang memungutnya tadi. Karena kamu sudah pergi, jadi aku simpan dulu tadi ..." jelasku padanya.
"Ah ... cincin itu rupanya! Aku pikir sudah hilang."
"Baiklah. Aku akan mengembalikannya padamu."
"Kirimkan saja alamatmu ... aku akan mengambilnya. Karena aku sedang dalam perjalanan pulang."
"Hhm. Baiklah ... aku akan kirimkan melalui pesan."
__ADS_1
"Okay ..."
Setelah itu aku mengakhiri panggilan itu dan mulai mengirimkan alamat kontrakanku melalui sebuah untuknya.