
Haku segera menarik dan menenggelamkanku pada dada bidangnya sebelum dia mengatakan apapun. Dan dia juga terlihat begitu khawatir saat ini.
Sebenarnya ada apa?
"Haku, ada apa? Apa telah terjadi sesuatu?" tanyaku yang masih berada pada pelukannya. Haku hanya terdiam beberapa saat dan malah mempererat pelukannya.
"Haku ... Ada apa?" tanyaku lagi.
"Maaf, Yuko ... Seharusnya aku tidak meninggalkanmu hari ini." ucapnya begitu pelan. "Kau pingsan dan tidak ada yang menjagamu! Maaf ... Seharusnya aku menemanimu!" imbuhnya lirih.
"Bagaimana jika sesuatu yang buruk tadi terjadi?! Oh! Aku benar-benar sangat kesal pada diriku sendiri!" ucapnya lagi.
Aku tersenyum samar mendengar ucapannya yang menurutku sedikit berlebihan. Jadi gara-gara itu ya dia terlihat begitu khawatir.
"Aku tidak apa-apa kok. Tidak usah terlalu menyalahkan dirimu, Haku." ucapku dengan ramah. "Sora sudah datang dan merawatku tadi kok." imbuhku lagi.
"Aku sungguh minta maaf padamu ..." ucapnya lagi begitu lirih. "Aku selalu saja tidak ada saat kau membutuhkanku! Aku benar-benar buruk sekali!"
"Jangan berbicara seperti itu, Haku. Yang terpenting kan sekarang aku baik-baik saja."
"Malam ini aku akan menjagamu ..."
"Hhm. Baiklah ... "
Kini Haku mulai melepas pelukannya kembali dan menatapku masih dengan ekspresi yang sama. Masih terlihat sedih dan khawatir.
"Kau sudah merasa lebih baik?"
"Hhm ..." aku mengangguk dan tersenyum padanya. "Aku sudah merasa lebih baik kok! Kita masuk yuk!" ucapku dengan bersemangat lalu menarik Haku untuk memasuki kontrakanku. Lalu kita segera bergabung bersama Sora dan kak Ave.
"Hai, Haku!" sapa Sora saat kita sudah di dalam.
"Hhm. Hai ..." sahut Haku lalu duduk bergabung bersama mereka.
"Sora, Senior Ave ... Terima kasih ya sudah menjaga Yuko." ucap Haku dengan tulus.
"Tidak masalah kok. Yuko sudah aku anggap seperti saudara sendiri kok." Sora menyauti dengan senyum lebar menatapku.
__ADS_1
"Karena Haku sudah datang, maka kita akan pamit ya. Dan ini juga sudah malam." sela kak Ave.
"Oh ... Iya, Kak. Terima kasih sudah datang." sahutku. "Dan tolong jaga Sora ya, Kak." imbuhku menggoda Sora.
"Tenang saja. Sora akan aman bersamaku kok." sahut kak Ave dengan penuh percaya diri. "Baiklah. Kalau begitu kita pamit dulu ya ..." imbuh kak Ave lagi lalu mulai bangkit dari duduknya. Dan Sora juga ikut berdiri.
"Aku pulang dulu ya, Yuko. Kamu harus berjanji untuk cepat sembuh ya!"
"Hhm. Iya. Hati-hati di jalan ..."
"Okay. Bye, Yuko. Bye, Haku!"
Sora dan kak Ave mulai meninggalkan kontrakanku. Kini hanya ada aku bersama Haku.
"Kau sudah makan, Yuko?"
"Makan malam belum sih ..."
"Kebetulan sekali. Sebentar lagi makanan kita akan segera sampai. Kalau begitu aku akan mandi sebentar ya."
"Hhm. Baiklah. Aku akan menyiapkan baju ganti untukmu."
Sambil menunggu dia, aku menghidupkan TV untuk mengusir rasa bosanku. Tiba-tiba terdengar suara dering ponsel Haku. Benda pipih itu tepat di atas meja di hadapanku. Ada sebuah panggilan dan aku meraih ponsel itu, khawatir jika keluarga Haku yang sedang menghubunginya.
Namun betapa terkejutnya aku setelah melihat layar ponsel itu menampilkan nama Anzu. Seketika pikiranku kemana-mana dan jantungku berdegup dengan cukup keras. Sebenarnya ada apa ini? Dan kenapa Anzu sampai menghubungi Haku selarut ini? Bukankah dia baru saja pulang dari tempat kerja.
Aku mendiamkannya saja dan tidak berusaha untuk mengangkatnya. Mengapa aku menjadi sedikit khawatir lagi?
Beberapa saat kemudian Haku sudah datang lagi dan dia segera mengenakan pakaian ganti yang sudah aku siapkan tadi. Sebuat T-shirt dan celana santai pendek.
"Apa makanan kita belum sampai, Yuko?" tanya Haku lalu duduk bergabung bersamaku. Haku masih mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Belum, Haku ... Mungkin cafenya sedang ramai. Kita tunggu saja. Kau memesan apa?" tanyaku untuk bersikap ceria seperti biasanya.
"Uhm ... Aku memesan Beef Blackpaper dan beberapa makanan lainnya sih. Atau ada yang sedang ingin kau makan sekarang? Biar aku pesankan ..."
"Tidak ada kok. Semua makanan juga pasti sangat enak ..." ucapku tersenyum lebar menatapnya. Dan Haku juga tersenyum hangat menatapku. "Bagaimana hari ini di kantor dan di kampus?" imbuhku sedikit penasaran.
__ADS_1
"Seperti biasa kok. Banyak pekerjaan tadi di kantor, jadi aku sedikit terlambat untuk pergi ke kampus."
"Uhm ... Haku ... Apa Anzu sering menelponmu?" ucapku memberanikan diri, dan aku masih menatap manik-manik indah di hadapanku saat ini.
"Sering sih tidak. Ada apa, Yuko?"
"Berarti memang pernah ya?"
"Hhm? Tentu saja pernah! Kita kan bekerja bersama. Apa kau lupa itu, Yuko?" sahut Haku menggodaku dengan nada jenaka.
"Oh ..." sahutku tanpa tau harus berkata apa lagi. Namun rasanya sedikit sedih ...
"Katakan ... Ada apa, Yuko?" tanya Haku lagi yang kini menatapku dengan serius.
Mata kita saling bertatapan beberapa saat, sebenarnya aku merasa sedikit ragu untuk menanyakan tentang Anzu kepada Haku. Namun, selama ini aku selalu saja merasa jika Anzu itu sebenarnya menyukai Haku. Bagaimana ini? Apa yang harus aku katakan kepada Haku?
"Katakan saja semua yang mengganggu fikiranmu, Yuko. Aku akan merubahnya jika memang membuatmu merasa khawatir." suara Haku terdengar seperti biasanya, lembut dan hangat.
"Haku ... Ini ... Uhm ... Tapi janji kau tak akan marah padaku jika aku mengatakannya padamu!"
"Katakan padaku ... Kapan aku pernah marah padamu, Yuko!" kini Haku sedikit menyisir beberapa helai rambutku dengan menggunakan jemarinya.
"Eh ... Memang iya sih ..." ucapku sambil nyengir kecil karena malu.
"Jadi ada apa?" kini Haku bertopang dagu menatapku dengan senyum tipis.
"Ini soal Anzu ..." ucapku dengan hati-hati.
"Ada apa dengan Anzu?"
"Sepertinya dia menyukaimu, Haku ..." aku mengatakannya dengan lebih hati-hati kali ini.
"Hhm? Memang kenapa kalau dia menyukaiku? Aku tidak menyukainya kok ..." sahut Haku denga sangat santai.
"Jadi kau tau itu, Haku? Jika Anzu memang menyukaimu?" tanyaku membulatkan mata menatap Haku tak percaya.
"Aku tidak tau itu. Namun, jika memang dia menyukaiku ... Kau tidak usah khawatir, karena aku tidak menyukainya." ucap Haku meyakinkanku. "Bukankah selama ini kau cukup memahamiku, Yuko? Aku tidak pernah dekat dengan gadis manapun selain kamu. Anzu hanyalah rekan kerjaku. Jadi kita hanya akan bekerja bersama saja, sekalipun sedang bersama itupun karena sebuah pekerjaan. Tidak lebih dari itu." imbuhnya sambil mengelus kepalaku dengan lembut.
__ADS_1
"Jangan pernah berfikiran yang macam-macam ... Karena aku tidak seperti itu ... Cukup percaya saja padaku! Okay?" ucapnya lagi dengan senyuman yang begitu manis.
Seketika suasana hatiku kini berubah menjadi lebih tenang dan damai. Dan aku hanya tersenyum dan mengangguk pelan.