
"Masuklah, Yuko! Aku dan Ave akan menunggu disini." ucap kak Yuki ramah.
"Hhm. Iya, Kak." ucapku lalu segera bergegas menuju ke kamar kak Zen. Tapi belum sempat masuk tiba-tiba saja ada rombongan yang datang menghampiri kita. Jadi aku berhenti tepat di depan pintu ruang ICU.
"Dimana Zen?" ucap salah satu mahasiswa. Sepertinya mereka adalah teman-teman kuliah kak Zen.
"Di dalam ..." sahut kak Yuki.
Mereka langsung beramai-ramai hendak memasuki ruangan kak Zen tapi kak Ave segera menghadangnya.
"Kalian masuklah secara bergantian! Dua orang, dua orang. Dan jangan ribut di dalam! Zen sedang koma. Jadi tolong mengertilah!" ucap kak Ave tegas.
"Oke deh. Aku duluan!" kata seorang mahasiswa lalu dia masuk bersama salah satu temannya. Aku sedikit minggir saat mereka memasuki ruangan ICU.
Aku memutuskan kembali menunggu di luar dulu. Tiba-tiba saja kak Ave datang mendekatiku.
"Ikut aku!" ucapnya sedikit tegas dan dingin. Kak Ave mulai berjalan dan aku mengikutinya di belakangnya. Kemana dia akan membawaku?
Kak Ave terus berjalan hingga akhirnya sampai di balkon lantai 3. Dia terdiam beberapa saat sambil memandangi pemandangan di hadapannya. Kedua tangannya dimasukkan pada kantong coat yang sedang dia kenakan. Rambut kecoklatanya berkibar tertiup angin.
Aku masih tetap berdiam dan menunggunya untuk mengatakan sesuatu.
"Ada sesuatu yang mau aku katakan padamu." ucapnya tanpa menatapku sama sekali.
Tiba-tiba kak Ave mencari sesuatu di dalam tasnya. Lalu dia berbalik dan berjalan ke arahku. Dia menatap dengan mata dan alisnya yang begitu tajam dan dingin.
"Apa kau benar-benar tidak mengingat Zen sebelumnya?" tanya kak Ave yang sangat membuatku bingung.
Aku hanya menggelengkan kepalaku karena bingung.
"Kalian pernah bertemu!" ucap kak Ave dengan tegas. Aku dah kak Zen pernah bertemu sebelumnya? Tapi kapan? Kenapa aku sama sekali tidak mengingatnya?
Atau jangan-jangan ini karena kecelakaan saat itu? Saat aku koma 6 bulan. Kata ibuku, kecelakaan itu telah menghilangkan beberapa potongan kenanganku. Apa kak Zen salah satunya?
__ADS_1
"Maksud kakak?"
Kak Ave masih menatapku tajam dan dia memberikanku sebuah foto. Dan aku mulai melihat foto itu.
Aku melihat foto seorang gadis kecil yang sedang tersenyum manis sekali. Dia mengenakan sebuah T-Shirt putih dan sedang tersenyum ceria sekali. Dan aku sangat mengenali gadis kecil ini.
Dia adalah aku saat berumur kira-kira 5 tahun. Tapi darimana kak Ave mendapatkan foto ini? Kenapa foto ini bisa sampai padanya?
"Dia adalah gadis kecil yang Zen maksud!" ucapan kak Ave seperti sebuah petir yang membuatku sangat terkejut dan shock. Aku masih terdiam beberapa saat karena masih tidak percaya dengan ini semua. Tubuh dan bibirku seperti kelu dan tidak bisa mengatakan apapun saat ini.
"Dia selalu menunggumu selama ini. Selama hampir 15 tahun dia selalu menunggumu. Bahkan dia sampai mencarimu kembali saat itu. Tapi dia tak pernah menemukanmu kembali." kak Ave lalu berbalik membelakangiku dan dia menatap kembali gedung-gedung megah di hadapannya itu.
"Hingga suatu saat dia bertemu kembali denganmu disini. Dia melihat foto sepasang anak kecil yang berada di dalam meja belajarmu itu. Dan dia baru menyadari, bahwa kaulah gadis kecil yang selama ini dia cari."
Aku masih masih terdiam mendengarkan kak Ave. Aku tidak tau harus berbuat apa saat ini. Bahkan kemarin aku meminta kak Zen untuk melupakan gadis kecil itu karena menurutku gadis itu sudah sedikit jahat kepadanya. Aku tak menyangka jika gadis kecil yang kak Zen maksud adalah aku. Akulah yang terburuk rupanya. Sungguh aku merasa sangat jatuh sekali.
"Tapi ternyata semua penantian dan semua pencariannya selama ini adalah sia-sia. Dia menemukanmu saat kau sudah bersama pria lain! Aku saja yang mengetahui semua itu sangat marah dan kesal! Berulang kali aku memintanya untuk melupakanmu! Tapi apa? Dia malah selalu berusaha untuk menjadi pelindungmu! Bahkan kini dia rela mengorbankan nyawanya untukmu!" ucapan kak Ave terasa seperti pisau yang menyayatku perlahan. Sangat tajam dan menyakitkan.
Kali ini aku terduduk lemas sekali. Rasanya seluruh tubuhku terasa sangat berat. Hingga aku tak punya kekuatan untuk bangkit kembali.
Apa yang harus aku lakukan? Aku merem*s dress ku dan mengepalkan tanganku dalam tangisku.
Aku merasa marah dengan diriku sendiri! Aku merasa sangat kesal dengan diriku sendiri! Betapa jahatnya aku! Betapa egoisnya aku! Sampai kak Zen mempertaruhkan hidupnya. Bahkan sekarang dia sedang terbaring melawan maut.
Kak Ave mulai berjalan mendekatiku yang masih terduduk.
"Bagaimana jika Zen pergi untuk selamanya? Bagaimana kalau dia tidak kembali lagi? Tidak puaskah kau selama ini membuatnya terpuruk?" ucap Kak Ave penuh dengan amarah. Bahkan dia juga berteriak padaku.
Aku tidak bisa menjawabnya. Aku semakin mengepalkan tanganku dan aku semakin terisak.
"Huh, benar! Mana pernah kau peduli dengannya. Dia hidup atau mati juga bukan masalah bukan untukmu?!" tambahnya memojokkanku.
Aku menggeleng pelan dalam tangisku, aku tidak seperti itu! Itu semua tidak benar! Aku bahkan menganggap kak Zen seperti kakakku sendiri! Mana mungkin aku tidak peduli dengannya? Mana mungkin aku baik-baik saja jika sekarang dia pergi. Apalagi itu semua gara-gara aku!
__ADS_1
"Berhentilah menangis! Itu tak akan merubah semua ini!" hardik kak Ave.
"Ave, apa-apaan ini?" tiba-tiba terdengar suara seseorang yang datang menghampiri kita. Lalu dia menghampiriku dan jongkok di hadapanku.
"Yuko ... Kau baik-baik saja? Maafkan Ave. Dia memang sering emosian dah sulit untuk mengontrolnya." tiba-tiba sudah ada kak Misha yang meraih tubuhku dan memelukku pelan.
Perlahan kak Misha mulai membantuku berdiri dan mengajakku segera pergi dari balkon. Dia membawaku kembali ke depan ruang ICU. Dan kak Ave juga mengikuti kita.
Ternyata para mahasiswa itu sudah pulang kembali. Karena sekarang sudah sepi hanya ada aku, kak Misha, kak Ave dan Kak Yuki.
"Sudah. Jangan kau pikirkan ucapan Ave tadi! Yang terpenting sekarang adalah kesembuhan Zen. Jadi kita harus selalu mendoakannya dan memberikan semangat untuknya saja. Semoga dia segera melewati masa-masa ini." ucap kak Misha menenangkanku. Dia mengelus pelan bahuku.
"Terima kasih, Kak." ucapku tulus dan mengelap pipiku yang tadi basah terkena air mataku.
Kak Yuki yang baru keluar dari dalam ruangan kak Zen segera menghampiriku karena melihatku yang masih sesegukan.
"Ave, Kau apakan Yuko?" todong kak Yuki yang kini duduk di sebelahku.
Kak Ave yang ditanya hanya diam dan menatap tajam ke arahku.
"Jangan kau pedulikan Ave, Yuko! Dia memang sedikit temperamental. Apalagi jika sudah menyangkut sahabatnya." ucap kak Yuki.
"Ave, mending kau temani aku saja yuk ke mini market depan! Aku mau beli sesuatu!" ucap Kak Misha.
"Yuko. Aku akan segera kembali lagi." ucap kak Misha menatapku. "Setidaknya setelah Ave sedikit tenang ..." bisik kak Misha padaku. Lalu kak Misha segera bangkit dan menghampiri kak Ave.
"Ayo Ave!" kak Misha langsung menarik lengan kak Ave dan mereka segera berlalu.
Kini hanya ada aku dan kak Yuki disini.
"Maafin Ave ya, Yuko. Dia memang sedikit dingin dan temperamen. Tapi sebenarnya dia sangat baik kok." ucap kak Yuki ramah. "Ini semua gara-gara dia yang terlalu mengkhawatirkan Zen."
"Maaf ya, Kak. Gara-gara aku kak Zen jadi seperti ini ..." ucapku lirih.
__ADS_1
"Tidak perlu merasa bersalah. Ini semua sudah takdir. Kita harus bisa melewati semua ini. Zen butuh dukungan dari kita. Kita harus selalu memberinya dorongan dan semangat agar dia bangun kembali. Dia mungkin seperti orang yang sedang tertidur. Tapi dia bisa mendengar saat kita mengajaknya berbicara. Jadi jangan lelah untuk terus menyemangatinya. Jangan lelah untuk terus memberikan semangat untuknya."