
Hari demi hari berlalu begitu saja dengan cepat. Dan tak terasa besok sudah weekend lagi. Itu artinya aku akan bertemu dengan Haku dan kita berencana untuk pergi ke Sea Paradise bersama. Ah senangnya liburan lagi!
Mungkin aku hanya akan pergi berdua dengan Haku. Karena Sora juga sudah memiliki janji dengan kan Ave, Ken pasti juga akan menghabiskan weekend bersama Hana. Sementara Jessica tak akan mau jika hanya pergi bertiga saja bersama kita. Ahaha ...
Oh, Aku sudah tidak sabar untuk pergi ke Sea Paradise. Cepatlah datang akhir pekan!
...***...
Hari ini aku berangkat ke kampus bersama Ken. Sedangkan Jessica kemarin malam menginap di rumah sepupunya jadi dia berangkat dari rumah sepupunya.
"Ohayoo, Yuko!" sapanya saat kita bertemu di bawah.
"Ohayoo, Ken!" balasku dengan senyum lebar.
"Dimana Jessica?" tanya Ken sedikit menoleh mencari sosok Jessica di lantai 2.
"Dia berangkat dari rumah sepupunya hari ini." jelasku padanya. "Berangkat yuk!"
"Yeap!"
Akhirnya kita hanya berdua menaiki bus menuju kampus. Sebenarnya aku ingin menanyakan beberapa hal kepada Ken. Tapi aku juga sedikit merasa takut karena telah mencampuri urusan mereka. Hhm ...
"Ken ..."
"Hhm ..." sahutnya sambil ponselnya.
"Apa kau berpacaran dengan Hana?" tanyaku sedikit meliriknya yang sedang duduk di sebelahku.
"Hhm. Dia menyatakan cinta padaku. Tidak ada salahnya kan kalau aku mencobanya." sahutnya dengan santai.
Sebenarnya jawaban Ken sedikit membuatku terkejut. Padahal dia pernah bilang tidak mau asal pacaran. Tapi kini tiba-tiba saja dia menjadi seperti ini. Dan bukankah dia bilang kalau dia sudah menyukai seorang gadis? Hhmm ...
"Begitu ya ..." ucapku seadanya dengan sedikit memelankan suaraku.
Kenapa sih Ken kau mudah sekali menyerah? Seharusnya kamu memperjuangkannya terlebih dahulu untuk menggapainya. Hufft ... Sudahlah!
"Kau kenapa, Yuko? Kau terlihat begitu kesal hari ini." ucapnya sambil menyimpan ponselnya kembali. "Apa Haku membuat kesalahan padamu?"
"Tidak! Dia bahkan tidak pernah membuatku kesal." ucapku tanpa sadar.
"Cie ... Iya lah. Haku kan bukan type orang yang seperti itu kok. Dia sangat menyukaimu! Dan dia akan selalu menjaga hatimu!" katanya dengan santai dan menyandarkan tubuhnya.
"Kau sendiri kenapa tidak bisa menjaga hatinya, Ken?" celutukku tak sadar. Aku segera membungkam mulutku sendiri dengan kedua tanganku. Oh tidak!
"Siapa, Yuko? Siapa yang menjaga hati siapa?" kini Ken menatapku dengan mengerutkan keningnya.
__ADS_1
Aku menggeleng dan sedikit melebarkan mataku. Dan aku segera bangkit dari dudukku.
"Sudah sampai di kampus Ken! Aku duluan ya! Mau ke kamar mandi!" ucapku berbohong dan segera meninggalkan Ken dengan cepat.
Aku segera berlari kecil menyusuri jalan utama Kampus. Jalanan halus dan sekitarnya ada rerumputan hijau. Hhm ... Udara pagi masih terasa begitu sejuknya.
Sudahlah Yuko! Jangan ikut campur dengan urusan mereka! Mungkin memang Ken tidak ditakdirkan untuk bersama Sora. Hufft ... Sudahlah!
Pplluukk ...
Tiba-tiba saja ada tangan seseorang mengelus kepalaku begitu saja. Dan aku menoleh ke samping ternyata sudah ada kak Zen yang sudah berjalan beriringan denganku.
"Pagi, Kak ... Eh, Pak ..." sapaku dengan senyuman sedikit kikuk.
"Pagi ... Tapi kenapa memanggil Pak? Saat ini kakak kan hanya mahasiswa biasa." sahutnya dengan seulas senyuman.
"Oh, Iya ... Ahaha ..." sahutku sambil menggaruk kepalaku yang sama sekali tidak gatal.
"Oh ya. Kamu saat jalan pun bisa sambil melamun ya rupanya." kata Kak Zen sedikit tertawa meledekku.
"Oh ... Aku tidak sedang melamun kakak. Tapi sedang berpikir!" kayaku mengelak.
"Benarkah? Berpikikir tentang apa? Tugas kuliah yang harus dikumpulkan hari ini?"
"Jangan bilang kau lupa untuk mengerjakannya!" sahut kak Zen dengan sedikit tersenyum dan mengangakat salah satu alisnya.
"Sebenenarnya aku memang lupa kak ..." kataku sedikit menunduk dan malu.
"Hhm ... Tenang saja. Kakak akan berpesan kepada Profesor Fuller agar mengumpulkannya pekan depan saja!"
"Kakak serius?" ucapku membulatkan mataku dengan sangat sempurna. Aku memiringkan kepalaku dan menatap kak Zen yang masih berjalan pelan.
"Apa kakak pernah berbohong sebelumnya?" ucapnya begitu tenang sambil melirikku sedikit.
"Uhm ..." aku terdiam beberapa saat berusaha mengingat sesuatu. "Tidak pernah ..." ucapku akhirnya.
Kak Zen tersenyum lebar menatapku. "Nah itu tau ..."
"Ahahaha ... Makasih ya, Kak atas toleransinya. Aku benar-benar lupa!" sahutku dengan tawa kecil.
"Apa orang tuamu sudah kembali ke Sapporo?" tanya kak Zen tiba-tiba.
"Orang tuaku?" ucapku sedikit bingung.
"Hhm ..."
__ADS_1
Kenapa kak Zen tau jika orang tuaku datang ke Tokyo ya?Aku terdiam berusaha mengingatnya kembali. Apakah aku pernah menceritakannya kepadanya? Sepertinya tidak deh.
Oh iya, aku baru saja ingat. Saat itu bukannya Ayah dan Ibuku bilang telah bertemu seorang pria berambut coklat dan bermata biru? Benar! Itu adalah Kak Zen!
"Sudah, Kak. Mereka sudah kembali ke Sapporo. Oya terima kasih saat itu sudah mengantarkan kedua orang tuaku ke kontrakanku ya, Kak." ucapku tulus.
"Sama-sama ..." sahutnya ramah. "Yuko, Sebenarnya ada yang ingin kakak tanyakan padamu?"
"Apa itu, Kak?" tanyaku sedikit penasaran.
"Apa kakak punya kenangan yang berhubungan dengan taman bermain?" tanya Kak Zen tiba-tiba.
Sontak aku sedikit kaget dan terperangah mendengarnya. Bagaimana kalau kak Zen mulai mengingatnya kembali? Itu tidak boleh terjadi! Kak Zen harus melupakan kenangan itu.
"Setiap kali melihat taman bermain, kakak merasa sedikit pusing. Jika kakak berusaha untuk lebih mengingatnya maka kepala kakak rasanya sakit sekali!" ucapnya pelan.
"Sebaiknya kakak jangan memaksakan diri dulu. Perlahan pasti kakak akan mengingat semuanya kok." kataku untuk sedikit menghiburnya.
"Jadi benar? Kakak memiliki kenangan dengan taman bermain?" ucapnya lagi menatapku bingung.
"Uhm ... Mungkin saja, Kak! Mungkin saja saat kecil kakak suka pergi ke taman bermain. Atau saat SMP atau SMU kakak pernah pergi bermain di taman bermain bersama teman-teman kakak." sahutku sedikit bersemangat.
"Kalau saat SMP atau SMU kakak masih mengingat semuanya dengan baik, Yuko. Jadi sepertinya ini berhubungan dengan masa kecil kakak ..."
Jujur saja saat ini aku merasa sedikit gelisah karena takut jika suatu saat Kak Zen akan mengingat semuanya lagi. Aku tidak mau melihatnya terpuruk lagi. Kak Zen sangat baik. Dan dia harus bahagia!
"Oya, mungkin saja begitu, Kak." sahutku sedikit meringis. "Aku tidak tau soal itu, Kak. Karena kita baru kenal dan bertemu saat aku kuliah di Todai." kataku berbohong.
"Iya, Kau benar. Kita saja baru bertemu. Kenapa kakak malah menanyakannya kepadamu ya ... Ahaha ..." sahutnya dengan tawa kecil.
...***...
...Assalamualaikum sahabat tersayang...
...♡♡♡...
...Kali ini Author mau merekomendasikan novel karya temen Author yang kece. Yang tentunya seru dan bikin dag dig dug duar. Pokoknya keren deh ......
...Jangan lupa mampir ya, Dear....
...♡♡♡...
...Arigatou minna-san...
__ADS_1