
Beberapa saat ponselku berdering. Aku tersenyum mengangkat panggilan itu.
" Hai, Haku!" kataku riang dan bersemangat.
" Yuko. Aku dengar tadi ada kecelakaan di aula Sastra. Apa kau baik-baik saja?" tanya Haku khawatir.
" Aku baik-baik saja kok." kataku ramah.
" Syukurlah. Sekarang kau sedang dimana? Aku tak melihatmu turun dari bus?"
" Ehm.. Sebenarnya aku tidak diijinkan ikut berkemah."
" Tapi kenapa? Apa sesuatu telah terjadi?"
" Ah.. Tidak, Haku. Aku baik-baik saja. Aku hanya merasa sedikit tidak enak badan. Jadi aku meminta ijin saja tidak mengikuti kemah." kataku berbohong. Aku takut jika aku menceritakan semuanya Haku akan sangat khawatir padaku.
" Kalau begitu istirahatlah yang cukup ya. Maaf tidak bisa menemanimu." kata Haku dengan nada menyesal.
" Tidak apa-apa kok. Oya Haku, hari ini aku akan mulai menempati kontrakanku ya. Mumpung aku tidak ada kegiatan jadi aku akan pindahan."
" Baiklah. Tapi selalu kabari aku ya. Jika butuh sesuatu hubungi aku ya."
" Hai." kataku sambil tertawa kecil.
" Nanti kutelpon lagi ya, Yuko. Kita harus segera membuat tenda dulu."
" Baiklah."
Akupun mengakhiri panggilan itu. Aku segera mengirim pesan untuk Sora dan Ken untuk tidak menceritakan tentang kejadian di aula sastra kepada Haku. Aku tak ingin membuat Haku mengkhawatirkan aku.
Beberapa saat kak Zen sudah masuk membawa beberapa camilan. Lalu dia menyodorkan sebuah ice cream strawberry padaku.
Aku tersenyum menerimanya. "Darimana kakak tau aku suka ice cream strawberry?" tanyaku antusias.
" Kakak hanya melakukan sesuai insting saja." kata kak Zen tersenyum ramah. "Karena hanya instinglah satu-satunya cara untuk bertahan hidup di dunia ini."
" Thanks ya, Kak." Aku mulai memakan ice creamku. Takut nanti keburu meleleh.
" Hhm.. Tapi darimana kau tau lampu itu akan jatuh, Yuko?" tanya kak Zen menatapku serius.
" Aku melihatnya di dalam mimpiku, Kak."
__ADS_1
" Mimpi?"
" Hhm.." aku mengangguk pelan. "Sebenarnya aku sempat ragu sih tadi. Tetapi setelah kuperhatikan semuanya memang benar-benar sama persis seperti yang aku lihat di dalam mimpiku. Jadi aku memberanikan diri menemui kakak."
" Apa yang terjadi di dalam mimpimu? Apa kakak tertimpa lampu itu?"
Aku mengangguk pelan. "Bahkan kakak terluka sangat parah. Besi itu menembus tubuh kakak." kataku bergidik ngeri mengingat kembali mimpi itu.
" Apa kau sering bermimpi kemudian mimpi itu menjadi kenyataan, Yuko?" tanya kak Zen serius.
" Tidak. Ini adalah pertama kalinya." jawabku pelan.
" Kakak minta maaf ya."
" Kenapa kakak minta maaf?"
" Kau jadi terluka karena berusaha menyelamatkan kakak." kata kak Zen pelan. "Kalau kau tidak menarikku saat itu, mungkin kakak akan benar-benar sudah tiada." kak Zen berdiri dan menatap keluar dari jendela.
" Aku baik-baik saja kok, Kak. Dan aku akan sangat merasa bersalah jika tidak melakukan apapun saat itu. Dan aku akan terus dihantui rasa bersalahku seumur hidup." kataku tulus.
Kak Zen berbalik menatapku dan tersenyum manis. Dia berjalan mendekat dan mengambil sesuatu yang dia bawa dari kantin tadi. Lalu menyiapkannya dan berusaha menyuapiku.
" Aku bisa sendiri kok kak." tolakku sopan.
" Ah. Tentu saja aku tidak mau..!!" kataku spontan karena takut. Membayangkan jarumnya saja sudah membuatku ngilu.
Kak Zen tertawa kecil melihatku ekspresi ketakutanku.
" Buka mulutmu..!" perintah kak Zen pelan.
Akhirnya aku menurut saja. Kak Zen menyuapiku dengan sangat telaten.
" Aku baru tahu kalau ada kue seenak ini di kantin." celutukku.
" Karena kue ini memang tidak dijual di kantin." kata kak Zen sambil menyuapiku kembali.
" Jadi darimana kakak beli?" tanyaku sedikit penasaran.
" Kakak membuatnya semalam. Sebenarnya untuk bekal kemah. Tapi ternyata kita tidak jadi ke Kanto Utara."
" Maaf ya kak. Seharusnya kakak tadi pergi saja bersama mereka." kataku sedikit cemberut.
__ADS_1
" Tidak, Yuko. Kakak senang kok disini." kak Zen tersenyum dan kembali menyuapiku.
" Kakak pandai membuat kue ya. Wah.. Hebat sekali." kataku takjub.
Kak Zen tersenyum sambil mulai meletakkan piring yang sudah kosong itu di atas meja sebelah ranjangku.
" Kau menyukainya, Yuko?"
Aku mengangguk bersemangat. "Tentu saja. Kue buatan kakak sungguh enak sekali." jawabku tulus.
Kali ini kak Zen tertawa kecil memperlihatkan deretan gigi putihnya yang tersusun rapi.
" Kalau begitu akan kakak buatkan lagi besok."
" Tidak usah kak! Bukan begitu maksudnya." kataku cepat-cepat karena merasa tak enak.
" Tidak apa-apa kok. Kakak senang bisa melakukannya. Karena membuat kue seperti itu selalu mengingatkan kakak kepada seseorang."
" Seseorang?"
" Ya. Dia sangat menyukai kue buatan kakak saat itu." kak Zen kembali menatap keluar jendela.
" Lalu kakak juga bisa membuat kue untuknya saat ini."
" Tidak, Yuko. Kakak tidak bisa.." tiba-tiba tatapannya berubah menjadi seperti ada kerinduan dan kesedihan.
" Kenapa?" tanyaku penasaran.
" Karena kakak tidak tau dimana dia berada saat ini." kata kak Zen menerawang jauh. "Kakak bertemu dengannya saat berumur 9 tahun. Saat itu kakak sedang berlibur bersama keluarga ke tempat kerabat jauh. Kakak tak sengaja bertemu dengannya saat di taman bermain. Kakak berniat membeli ice cream saat itu. Tapi ternyata ice cream sudah terjual habis. Tiba-tiba saja dia menghampiri kakak dan memberikan sebuah ice cream dan tersenyum sangat manis sekali. Kebetulan dia memiliki 2 ice cream, jadi dia ingin berbagi dengan kakak saat itu. Dan kakak memberikan sekotak kue yang kakak buat sendiri untuknya. Dia memakannya dengan sangat lahap dan mengatakan itu adalah kue terenak yang pernah dia makan. Semenjak itulah kakak tidak pernah melupakan dia. Padahal itu adalah pertemuan pertama dan terakhir kita. Setelah itu kakak kembali ke Tokyo. Dan bertahun-tahun kakak masih mengingat gadis kecil itu." terlihat seulas senyuman kak Zen. "Hingga suatu saat saat kakak sudah dewasa, kakak memutuskan untuk pergi ke daerah sana lagi untuk mencari tahu tentang dia. Tapi kakak tak pernah menemukannya. Bahkan kakak tidak tau namanya." kata kak Zen pelan.
" Maaf, Yuko. Kakak jadi menceritakan hal seperti itu padamu."
" Tidak apa-apa kak. Aku senang mendengarnya kok. Berarti dia adalah cinta pertama yang kakak bilang itu ya?" tebakku.
" Hhm.. Kakak hanya ingin mengetahui seperti apa dia sekarang dan ingin mengetahui keberadaannya saja. Mungkin dia sekarang sedang memasuki sebuah universitas atau masih SMU."
" Tapi kalau tidak mengetahui namanya akan sedikit sulit untuk mencari tahu tentangnya sih." kataku pelan.
" Kau benar, Yuko." kak Zen berbalik dan tersenyum menatapku. "Jangan kau pikirkan tentang itu. Kau harus fokus untuk kesembuhanmu. Kau juga tidak boleh makan sembarangan agar jahitanmu segera mengering..!!"
..." Eh.. Ehm.. Iya kak.."...
__ADS_1