
Kak Zen mulai menulis materi pada white board dengan sebuah spidol. Dia menulis dengan sangat elegan. Semua mata terpana menatapnya. Auranya sungguh telah menyihir seisi kelas.
Hhm ... Jadi selain menjadi Asisten Dosen mata kuliah Satra kak Zen juga menjadi Asisten Dosen Profesor Fuller yang mengajar Biologi ya? Wah, seperti apa sih otak kak Zen ya? Padahal kak Zen saja masih kuliah semester 5. Tapi sudah bisa menjadi asisten mereka. Keren sekali! Dan tentu sangat jenius!
"Tidak banyak orang yang menghadiri kelas hari ini. Ini sedikit membuang-buang ruang kuliah ini ..." ucap Kak Zen mulai menatap kita kembali. "Pelajaran hari ini tidak akan banyak teori. Jadi kalian semua bisa sedikit relax dan tenang ..."
"Karena tidak ada banyak orang disini hari ini, para mahasiswa yang duduk di belakang tolong segera pindah ke depan!" perintah kak Zen pelan tapi penuh penekanan.
Aduh! Bagaimana ini? Kalau aku pindah ke depan maka kak Zen akan segera mengetahuiku donk! Oh ... Bagaimana ini? Beberapa mahasiswa yang duduk di belakang sudah mulai pindah tempat duduk di depan kecuali aku. Aku masih bersembunyi di balik buku catatanku.
"Miss Corner! Tolong pindah ke depan!" perintah kak Zen.
Dan aku yakin sekali statement itu ditujukan untukku. Aku memejamkan mataku dan merasa tak bisa berbuat apa-apa kali ini.
"Miss Corner. Apa kau sedang tidur?" ucap kak Zen sedikit mengeraskan suaranya.
Oh My!
Aku mengambil nafas dalam lalu mengeluarkannya perlahan.
Dengan terpaksa aku menurunkan buku catatanku. Perlahan aku mulai mengangkat kepalaku dan mencoba untuk tersenyum padanya. Dan kini kita saling bertatapan beberapa saat. Aku melihat beberapa cahaya berkilau mengalir di matanya di balik lensa kacamatanya.
Bahkan pertanyaannya yang tampak serius sedikit bernada jenaka menurutku. Apa dia sudah mengetahui dan menyadarinya dari awal ya?
Suasana berubah menjadi hening seketika dan kak Zen masih terdiam dan terlihat seperti sedang menungguku untuk menjawabnya. Kak Zen mengangkat tangannya dan mulai membenarkan letak kacamatanya kali ini.
Aku menatapnya memelas berharap dia memahami bahasa mataku yang tidak terucap. Aku berharap agar dia tidak menyuruhku untuk pindah tempat duduk ke depan.
Namun sepertinya percuma saja. Kak Zen menunjuk kursi di tengah-tengah baris kedua, seolah-olah dia tidak melihat perjuangan di tampilan wajahku.
"Duduklah disini ..." ucap Kak Zen lagi. "Dan nikmatilah pelajaran hari ini."
"Uhm ... Iya, Senior!" ucapku memelas.
__ADS_1
Oh sungguh pria ini! Aku merasa sedikit kesal kali ini. Meskipun aku merasa sedikit kesal dan marah namun tubuhku masih mengikuti perintahnya dan patuh untuk memindah posisinya.
Kak Zen menunjukkan senyumannya di sudut bibirnya menunjukkan bahwa dia sangat puas kali ini.
"Bagus. Mari kita mulai!" ucapnya setelah aku berpindah tempat duduk. "Tolong buka halaman 227 di buku kalian masing-masing!" ucapnya kembali.
"Bagi mereka yang tidak membawa buku, tolong buat catatan dengan hati-hati ..." ucap kak Zen lagi sambil melirikku, kemudian dia tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Sepertinya dia juga mengetahui kalau aku tidak membawa buku Biologi.
Aku membalasnya dengan senyum palsuku. Aku segera duduk tegak dengan sangat bersemangat dan mengambil penaku. Seakan memperlihatkan tampilan seorang mahasisiwi yang gemar belajar. Yeap, aku lupa membawa buku hari ini karena bukuku tertinggal di kontrakan.
Kak Zen tetap tersenyum tenang dan mengangguk-anggukan kepalanya, seolah-olah dia memberikan persetujuan. Kemudian dia segera berbalik dan menulis pada white board kembali.
Huft ... Kenapa kak Zen hari ini sedikit menyebalkan ya? Huft ... Sudahlah. Dia kan hari ini adalah sebagai Pengajarku. Dan apa yang telah dia lakukan itu adalah hal yang wajar saja. Mengapa juga aku berharap akan mendapatkan perlakuan yang berbeda?
"Miss corner ... Tolong sedikit fokuslah!" Kak Zen membuat ketukan suara dengan spidol di White board selama beberapa detik. Mungkin karena melihatku yang sedikit melamun. Aku hanya tersenyum meringis dan mengangguk pelan. Kemudian Kak Zen meletakkan spidol dan berbalik.
Dia membuka sebuah buku lalu mulai berbicara dan menerangkan kembali. Suaranya terdengar tidak terlalu keras namun sangat jernih. Sinar matahari menembus jendela yang transparan dan menyinari rambut kecoklatan itu dan sisi-sisinya. Menguraikan cahaya yang lembut melawan cahaya.
"Saya membutuhkan seorang sukarelawan untuk sebuah eksperimen." ucap Kak Zen lalu menatap beberapa mahasiswa. Dan tatapannya berhenti padaku.
"Miss corner. Apa anda bersedia untuk sebuah kehormatan ini?"
Mengapa kak Zen masih memanggilku dengan sebutan itu? Gara-gara aku tadi duduk di pojok ruangan? Huft ... Aku merasa kak Zen sudah tidak seperti dulu lagi deh. Setelah koma dia sedikit berbeda. It's okay. Yang terpenting kak Zen bisa bangkit lagi sekarang dan melupakan masa lalunya.
Itu sudah sangat cukup bagiku!
"Miss Corner ..." kak Zen sedikit menekan suaranya dan kini dia mulai berjalan ke arahku dengan senyuman di mata birunya.
Aku segera berdiri dan sedikit merasa kebingungan menatap kak Zen yang sudah semakin mendekat.
"Tentu saja, Pak ... Uhm, maksudku Senior!" kataku meringis. "Uhm, Eksperimen apa ya?"
"Just relax. Mari ikuti saya ..." kata kak Zen lalu mulai berjalan ke depan ruangan. Dan aku mengikutinya.
__ADS_1
"Saya menyukai cardigan yang sedang kau pakai. Itu terlihat sangat lembut, nyaman, dan anti angin. Pakaian yang sangat bagus."
"Oh ..." Aku sedikit menyibak rambutku dan sebenarnya aku merasa sedikit bingung untuk menjawab ucapan kak Zen.
Kak Zen terlihat biasa saja dan masih tersenyum menatapku. Dia sedikit melangkah mundur dan membuka lengannya dengan ringan dan mulai menyampaikan sesuatu.
"Apa yang bisa kau lihat dariku? Anda bisa merespon dengan struktur kalimat yang sama." ucapnya begitu formal dan sebenarnya aku merasa sangat canggung sekali.
Dan ... Ekperimen aneh apa ini sebenarnya? Kak Zen terus memperhatikanku dan tersenyum seakan menunggu jawabanku.
"Uhm ... Saya menyukai dasi anda karena style, warna dan gayanya sangat lembut dan kalem. Itu sangat bagus dan cocok dengan style anda." ucapku pelan dan hati-hati.
"Saya suka caramu membuat catatan. Meskipun terlihat sedikit berantakan tetapi sistematis. Juga, itu mencerminkan karaktermu dengan baik. Saya percaya kamu pasti orang yang rajin."
Aku sedikit menahan nafas dan menelan ludah dengan sedikit gugup. Detak jantungku terasa begitu nyaring di ruangan yang tenang ini. Sebennarnya eksperimen apa ini?
Kak Zen membeku beberapa saat kemudian dia mulai tersenyum kembali.
Matahari musim panas membentuk bayangan yang berkedip-kedip padanya bahkan menciptakan cahaya menyilaukan pada lensanya.
Kak Zen memulai eksperimen yang sebenarnya kali ini. Dia membuka bukunya dan segera melakukan eksperimen tentang variabel bebas dan terikat.
...***...
...Hallo selamat siang reader tersayang ♡♡...
...Author mau ngasih recommendasi novel karya temen nih yang nggak kalah seru....
...Pernikahan yang seharusnya membahagiakan dan menyempurnakan hidup tetapi malah menjadi sebuah tiket untuk balas dendam. Hhm ... Kira-kira bakalan jadi seperti apa ya?...
...Jangan lupa mampir ya ......
__ADS_1