
Aku melangkahkan kakiku dengan riang dan seperti menari menuju gerbang utama kampus Todai. Kenapa? Yeap, jawabannya adalah sangat simple. Karena aku akan bertemu dengan Haku kembali.
Saat ini Haku sudah menungguku di depan kampus. Aku melihat sebuah mobil sport berwarna kuning soft sudah terparkir di seberang jalan. Tak lama kemudian kaca jendela si pengemudi terbuka. Terlihat seorang pria dengan wajah bersinar tersenyum padaku dan melambaikan tangannya.
Aku juga tersenyum dan melambaikan tangan padanya. Dengan bersemangat aku segera melenggang dan berniat untuk segera menghampirinya. Namun betapa cerobohnya aku. Tanpa aku sadari tiba-tiba saja dari arah kiri melaju sebuah mobil siver dengan cukup kencang.
Aku sangat terkejut dan tidak bisa lagi berbuat apa-apa. Bahkan untuk berlari saja tidak bisa saking terkejutnya. Kakiku terasa seperti membeku dan menjadi begitu berat rasanya.
"Yuko!!" teriak seseorang pria tiba-tiba yang kemudian meraih tanganku dan memutar tubuhnya untuk melindungiku. Namun kita tidak sempat menghindari mobil itu.
CKKIITT ...
Mobil itu berhenti tepat hanya tinggal kira-kira berjarak satu meter saja dariku dan pria yang menarikku itu. Aku mendongak dan menatap pria itu ternyata dia adalah Ran.
"Kamu tidak apa-apa, Yuko?" tanya Ran begitu khawatir.
"Aku baik-baik saja, Ran. Terima kasih ..." ucapku masih begitu berdebar karena kejadian itu.
"Syukurlah kau baik-baik saja ..." ucap Ran begitu lega.
"Hhm. Aku tidak apa-apa." jawabku.
Beberapa saat akhirnya seorang pria dengan pakaian rapi turun dari mobil yang hampir saja menabrakku tadi.
"Maaf. Apa kalian baik-baik saja? Aku sedang terburu-buru ... maaf." ucap pria itu dengan ramah.
"Kami baik-baik saja. Aku juga minta maaf karena kurang berhati-hati saat menyebrang." ucapku sambil membungkukkan badanku.
"Jika ada yang terjadi luka serius hubungi saja aku." pria itu merogoh dompetnya lalu memberikan sebuah kartu nama padaku.
"Oh. Iya ... terima kasih." jawabku sambil menerima kartu nama itu.
"Baiklah. Kalau begitu aku permisi ..." ucap pria itu dengan sopan lalu segera berbalik dan melenggang kembali memasuki mobilnya.
Setelah mobil itu melaju aku menyadari jika ada sesuatu yang pria itu jatuhkan. Aku memungutnya dan ternyata adalah sebuah kotak cincin. Saat aku berusaha memanggilnya kembali, ternyata mobil itu sudah cukup jauh.
"Simpan saja dulu. Nanti kamu bisa menghubunginya dan mengembalikannya, Yuko." Ran memberikan saran padaku. Dan akhirnya aku menyimpan kotak cincin itu ke dalam slingbag-ku.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Haku sudah datang menghampiri kita dan terlihat begitu khawatir. Dia masih memakai pakaian formal lengkap.
"Yuko!!" Haku meraih kedua bahuku dan terlihat begitu khawatir. "Kau baik-baik saja?"
"Hhm. Aku baik-baik saja." aku tersenyum dan meggangguk pelan.
"Tolong lain kali lebih berhati-hatilah ... aku sangat khawatir." ucap Haku yang terlihat begitu sedih.
"Maaf ... aku memang sangat ceroboh."
Dengan lembut Haku mengusap kepalaku, "Bukan begitu. Setidaknya lain kali kamu harus lebih berhati-hati."
"Hhm. Aku janji akan lebih berhati-hati."
Lagi-lagi Haku tersenyum dan mengusap kepalaku lagi. Sementara Ran terlihat begitu bingung melihat kita berdua.
"Haku ... Yuko ... sebenarnya ada hubungan apa di antara kalian berdua?" tanya Ran begitu bingung. "Bukankah Haku audah memiliki kekasih dan akan segera menikah?"
Aku dan Haku tersenyum mendengar ucapan Ran. Kini Haku segera meraih jemari kiriku dan menggenggamnya di hadapan Ran.
"Iya. Aku sudah punya kekasih dan akan segera menikah, Ran. Dan gadis yang akan aku nikahi itu adalah Yuko ..." jawab Haku akhirnya.
Ran sangat terkejut setelah mendengar ucapan dari Haku. Bahkan dia terlihat sangat tidak percaya.
"Kalian pasti sedang bercanda bukan? Aku tau kekasih Haku juga sedang kuliah di Today juga. Tapi itu bukan Yuko kan? Karena selama ini aku tidak pernah melihat dekat di kampus." kini Ran menatapku dan Haku secara bergantian dan masih terlihat begitu bingung.
Haku tertawa renyah kali ini, "Tentu saja kamu tidak akan melihatku bersama Yuko saat di kampus. Karena Yuko selalu mengambil jam kuliah pagi. Sementara aku selalu mengambil jam kuliah sore. Jadi kita tidak pernah bersama lagi saat di kampus."
"Begitukah? Ahahah ... berarti hanya aku saja yang tertinggal berita ya." ucap Ran dengan tawa kecil. "Selamat ya Haku, Yuko. Semoga semuanya berjalan dengan lancar hingga hari pernikahan."
"Terima kasih, Ran!" Haku menyauti dengan ramah dan semakin memperat genggamanny.
"Aku benar-benar tidak menyangka lho ..." lagi-lagi Ran tertawa kecil.
"Hhm. Iya. Baiklah, kita harus segera pergi. Terima kasih sudah berusaha untuk menyelamatkan Yuko."
"Ah ... iya. Tidak masalah kok." ucap Ran sambil menepuk-nepuk bahu Haku.
__ADS_1
"Baiklah. Kami pergi ..."
"Okay ..."
Haku mulai menggandengku untuk menyeberangi jalan lalu mulai memasuki mobilnya. Sebelum menjalankan mobilnya, Haku menyalakan sebuah lagu. Bukan lebih tepatnya adalah beberapa instrumen yang begitu menenangkan hati. Lantunan irama dari perpaduan biola dan dentingan piano terdengar begitu indah dan menentramkan hati. Bahkan aku memejamkan mataku, menghentakkan kakiku mengikuti melodi itu dan sangat menikmatinya.
Haku melirikku dan tersenyum lebar, "Kau menyukainya, Yuko?"
"Hhm. Sangat menyukainya ... begitu menenangkan hati." jawabku masih memejamkan mataku dan duduk bersandar.
"Oh iya, Yuko. Menurutmu warna apa nanti untuk dekorasi yang mendominasi saat pernikahan? Biru?"
"Aku memang suka biru, Haku. Tapi aku lebih menyukai putih ... karena putih adalah warna kesukaanmu." perlahan aku membuka mataku dan melirik Haku lalu tersenyum padanya.
"Jadi putih saja?"
"Boleh. Warna putih juga sangat cantik. Dengan kombinasi silver atau keemasan. Pasti akan sangat cantik! Iya kan?" ucapku bersemangat.
"Baiklah ... " jawab Haku dengan tawa kecil. "Kau lebih suka outdoor apa indoor, Yuko?"
"Aku terserah kamu saja, Haku."
"Hhm. Baiklah ... tapi untuk bulan madu ke Bali ya!"
"Ahahaha ... kamu masih ingin sekali melihat Bali ya? Baiklah. Baiklah ... aku akan menemanimu ke Bali!"
"Okay!"
Setelah beberapa saat akhirnya kita sampai di sebuah butik khusus untuk pakaian pernikahan. Setelah melakukan parkir, aku dan Haku segera memasuki butik itu.
Begitu banyak gaun-gaun yang begitu indah yang disediakan oleh butik ini. Gaun-gaun indah itu ada yang digantung dan ada juga yang dipakaikan pada boneka manequin.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya seorang karyawan butik ini dengan ramah.
"Saya dan tunangan saya ingin melakukan fitting pakaian pernikahan kami." jawab Haku yang tak kalah ramah.
"Baik, Tuan. Atas nama siapa ya?"
__ADS_1
"Haku Mizaki."
"Baiklah. Silakan tunggu sebentar, Tuan. Saya akan periksa dan mengambilkan pakaiannya terlebih dahulu." ucap karyawan itu lalu undur diri.