
"Kita duduk disini saja!" aku segera menarik Sora untuk duduk di kursi deretan paling depan. Sesangkan Ken dan Ran duduk di kursi tengah.
"Hhm. Baiklah!" sahut Sora dengan ceria lalu duduk di sebelahku.
Perlahan kita mulai mengeluarkan buku kita masing-masing karena asisten dosen sudah mulai memasuki ruang kuliah. Ternyata kali ini kak Zen lagi yang mewakili dosen kita yang sedang berhalangan untuk hadir.
Sora menyikut lenganku dan tersenyum samar menatapku, "Kak Zen tuh ..." ucapnya berbisik.
"Memang kenapa?" ucapku setengah berbisik padanya.
"Aku baru kali ini di kelas kak Zen!" ucap Sora menutup mulutnya dengan tangan kirinya dan tetap menjaga suaranya agar tetap rendah.
"Oh ... Aku sudah beberapa kali sih." sahutku pelan.
"Selamat pagi semuanya!" sapaan pelan namun sangat terdengar begitu jernih seketika membuat seisi ruangan terdiam untuk sesaat.
"Selamat pagi, Pak!" sahut seisi ruangan dengan kompak.
"Hari ini dosen kalian berhalangan hadir. Jadi saya yang akan menggantikan beliau kali ini." jelas kak Zen dengan ramah. "Kali ini saya hanya akan memberikan tugas kelompok untuk kalian. Cari dan tontonlah sebuah film, kemudian buat laporan mengenai film itu. Satu kelompok terdiri dari 5 orang. Penentuan kelompok bisa kalian sendiri yang menentukan." jelas kak Zen lalu menatap bergantian para mahasiswa dan mahasiswi. "Apa ada pertanyaan?"
"Filmnya bebas atau bagaimana kak?" tanya seorang mahasiswi.
"Bebas. Kalian bebas menentukan film apapun itu. Tugas akan dikumpulkan dari 3 hari ini!" jawab kak Zen dengan nada bicara pelan namun tegas.
"Tiga hari??" tanya seorang mahasiswa sedikit membelalak.
"Benar. Tiga hari. Pada jam saya ini kalian bisa mulai untuk menentukan kelompok dan mulai berdiskusi terlebih dahulu. Silakan!" kak Zen tersenyum lalu berjalan sedikit ke depan.
Para mahasiswa dan mahasiswi kini sedikit riuh dan segera mencari dan menentukan kelompok mereka masing-masing.
"Sora. Bagaimana ini? Kita sama siapa?" tanyaku menatap Sora dengan bingung. Kita masih tersuduk di kursi masing-masing. Sementara yang lainnya sudah sibuk mencari kelompok.
"Ehm ..." bola mata Sora berputar dan terlihat sedang berfikir. "Kita akan bergabung bersama yang lainnya saja."
Belum sempat kita beranjak, tiba-tiba Jessica sudah datang menghampiri kita.
"Mau satu kelompok bersama?" Jessica menawarkan dengan ramah. Ternyata dia sudah membawa Ran dan Ken.
__ADS_1
Oh My!
Aku sudah bersusah payah untuk tidak mempertemukan Sora dan Ken. Namun kini Jessica malah mempertemukan mereka begitu saja. Semoga saja semuanya bisa baik-baik saja antara Ken dan Sora. Hufft ...
Pandangan antara Sora dan Ken masih terasa sedikit aneh dan berbeda. Sangat canggung. Tidak seperti dulu saat mereka berteman. Bagaimana ini?
"Bagaimana? Kalian juga belum punya kelompok kan?" tanya Jessica lagi.
"Jessica benar. Kita satu kelompok saja!" Ran menyauti dengan begitu bersemangat.
Aku melirik Sora untuk menunggu jawabannya kali ini. Namun dia hanya terdiam saja.
"Jessica, Ran. Kita tidak boleh memaksa mereka. Kalau mereka tidak bersedia, kita bisa mencari yang lain." ucap Ken tiba-tiba. Perkataannya terdengar datar dan pelan.
"Bukan begitu Ken!" ucapku cepat-cepat. "Kita mau kok satu kelompok dengan kalian. Benar begitu kan, Sora?" imbuhku sambil menyikut lengan Sora.
"Hhm. Iya. Lagian kita kan sudah akrab sebelumnya. Pasti kelompok kita akan sangat kompak!" sahut Sora dengan senyum manis.
"Nah. Sora benar sekali! Ayok!"Jessica segera duduk di sebelahku diikuti oleh Ken dan Ran.
"Jadi siapa yang akan menjadi ketua di kelompok kita?" tanya Jessica begitu antusias.
"Setuju!" sahut Jessica dengan cepat.
"Kenapa harus aku?" tanya Ken sedikit tak terima karena tiba-tiba saja ditunjuk untuk menjadi ketua.
"Ya karena kamu yang paling cocok sih!" sahut Ran lagi.
"Okay! Ketua kelompok kita adalah Ken! Lalu siapa yang akan menjadi sekretarisnya?" tanya Jessica lagi lalu menatap kita semua secara bergantian.
"Sora saja!" sahut Ran lagi.
"Aku?" tanya Sora begitu terkejut dan membulatkan mata menatap Ran.
"Hhm. Ya! Menurutmu kamu cocok! Aku akan lebih banyak bekerja dalam menganalisa film itu!" sahut Ran sambil membenarkan letak kacamatanya. "Bagaimana?"
"Setuju!" sahut Jessica bersemangat.
__ADS_1
"Oke! Aku sih setuju-setuju saja!" sahutku pelan. Seketika Sora hanya menyikut lenganku dan sedikit cemberut.
"Lalu film apa yang akan kita tonton kali ini?" tanya Sora.
"Bagaimana kalau Pride and Prejudice?" usulku tiba-tiba. "Aku pernah membaca novelnya. Dan aku rasa cukup keren. Kita bisa menonton film lama itu kembali. Bagaimana?"
Yeap, saat itu aku membaca novel itu karena rekomendasi dari kak Zen. Dan ternyata cukup keren.
"Aku setuju!" sahut Sora.
"Tidak buruk ..." sahut Ken dengan ekspresi serius.
"Saya suka film itu." ucap seseorang tiba-tiba, membuat kita berlima segera menoleh ke arah si pemilik suara. Ternyata kak Zen sudah berdiri di samping Sora.
"Sebuah romansa klasik tentang benci menjadi cinta. Elizabeth Lizzy Bennet merasa terhina ketika Mr. Darcy menyebutnya tak cukup cantik untuk memikatnya. Sayangnya, Mr. Darcy menghancurkan hatinya lebih jauh lagi dengan memisahkan hubungan Jane, kakak Lizzy dengan sahabatnya Mr. Bingley meski tahu mereka saling mencintai, dengan dalih melindungi Mr. Bingley dari pernikahan tak menguntungkan." jelas kak Zen dengan tenang dan senyuman ramah. Dia sedikit bercerita sambil menatap kita secara bergantian.
"Meski sedih, Lizzy mengakui Mr. Darcy benar tentang reputasi keluarganya. Dia memang kerap malu melihat kelakuan adik-adiknya yang aneh, ibunya meterialistik dan suka bergosip di pesta-pesta, sementara ayahnya tidak selalu bisa diandalkan. Di samping fakta bahwa keluarga Bennet akan berakhir sebagai gelandangan karena rumah mereka akan menjadi hak waris sepupunya jika ayahnya nanti meninggal. Lizzy bagaikan seorang diri melawan dunia." imbuh kak Zen lagi yang terlihat begitu antusias.
"Hhmm ..." aku mengangguk-angguk dengan senyum tipis mendongak menatap kak Zen.
"Tapi itu terserah kalian sih. Mau menonton film itu apa yang lainnya lagi ..." ucap kak Zen lagi.
"Kita sudah memutuskan untuk menonton film itu, Kak!" sahut Ken dengan percaya diri.
"Pilihan yang bagus!" sahut kak Zen dengan senyum lebar. "Kalian bersemangatlah!" imbuh kak Zen lalu berlalu untuk mendatangi kelompok lainnya lagi.
"Jadi kapan kita akan menontonnya bersama?" tanya Jessica.
"Hari ini setelah jam kuliah berakhir kita bertemu kembali dan akan menonton bersama!" sahut Ken.
"Tapi aku ada janji hari ini ..." sela Sora sedikit cemberut.
"Lebih penting mana antara tugas kuliah atau berkencan?!" celutuk Ken tiba-tiba.
Mata Sora kini membulat menatap Ken, antara terkejut dan kesal sangat tergambar dengan jelas dari wajah Sora.
"Baiklah, Ketua! Kita akan menonton bersama!" sahut Sora sedikit kesal.
__ADS_1
Ken tersenyum samar dan terlihat begitu puas dengan keputusan Sora.
"Baiklah." sahut Ken tersenyum penuh kemenangan.