My Little Prince

My Little Prince
CHAPTER 3 : Is A Choice


__ADS_3

Hari ini, aku tidak terlalu serius pada pembahasan kerja bersama Laurent. Bahkan cenderung memikirkan hal lain dan melamun ketimbang memperhatikan penjelasan Laurent.


"Bisa kita jeda, Laurent?" Pria itu mengangguk. Dia menata ulang beberapa kertas yang baru saja dia tunjukkan padaku.


Aku menggulirkan roda pada kursi ini mendekati jendela kamar.


Melihat kearah luar yang sepi.


Namun, ada satu hal yang menarik perhatianku.


Seorang gadis yang sedang memperhatikan pembicaraan orang.


Jaden Arshon dan anak buahnya sedang membicarakan entah apa itu. Dan sepertinya pembicaraan mereka membuat Rubby tertarik.


Laurent yang mengikutiku ke jendela bertanya apa yang sedang dilakukan Rubby di sana.


Alih-alih menjawab, aku malah tersenyum tipis melihat Rubby yang berjalan pergi meninggalkan pembicaraan itu.


"Laurent antar aku keluar kamar. Malam ini aku merasa bosan. Dan, biarkan berkas itu di sana. Aku akan meninjaunya nanti."


Pria itu mengangguk, dia mendorong kursi rodanya keluar dari kamar.


Tujuan pertamaku adalah tempat Jaden Arshon tadi. Disana, dia sudah tinggal sendirian dengan selembar kertas di tangannya.


"Apa tadi kau menyebut sesuatu tentang Rubby?"


"Iya, saya membahas sesuatu perihal pembaruan kontrak untuk nona."


"Oh, baiklah.. Kau bisa pergi istirahat."


Pria yang berwajah garang itu menunduk, berpamitan pergi.


"Tuan, apa kita kembali ke kamar sekarang?"


"Tidak, kita pergi ke ruang baca. Aku ingin melihat apakah dia ada di sana."


Setelah melihat Rubby tadi, aku tidak mendengar suara apapun dari luar kamarku. Mungkin saja Rubby tidak kembali ke kamarnya.


Dan sesuai dengan dugaanku, gadis itu berada di ruang baca.


Dia sudah tertidur di atas selembar kertas. Aku mengambil kertas itu perlahan, sebuah gambaran yang sepertinya digambar oleh Rubby. Gambar tersebut abstrak namun itu bisa dibaca sebagai ungkapan perasaan Rubby.


Gadis itu tampaknya merasa tidak nyaman dan sedang kebingungan.


"Apa anda ingin saya membangunkannya, tuan?"


"Mungkin biarkan saja dia istirahat di sini. Dia sepertinya sedang lelah pada kedua sisinya.


Aku meminta Laurent mengantarku kembali ke kamar. Membahas beberapa hal yang penting perihal pekerjaan yang sudah lama aku tinggalkan.


Wajal letih Laurent membuatku memintanya untuk berhenti agar dia bisa kembali beristirahat.


Setelah Laurent pergi, aku kembali melihat dan membaca kertas-kertas yang sengaja ditinggalkan Laurent atas permintaanku.


Sesekali aku berpikir ulang perihal kontrak kerja yang terbaru. Namun meski agak ragu, aku berharap agar dia merasa lebih baik lagi setelah menandatangani kontraknya yang baru.

__ADS_1


><><><><><


Pagi ini, tidak sama seperti biasanya. Aku bangun lebih awal tanpa melihat Rubby yang selalu siap untuk mulai mengerjakan tugasnya.


Mungkin dia masih tidur di ruang baca.


Aku menghela napas panjang, menggulirkan roda menuju kedepan tangga.


"Bantu aku pergi ke lantai atas."


Beberapa pria yang berada di sana mengangkatku beserta kursi roda milikku. Merepotkan sekali karena rumah ini tidak punya lift yang bisa digunakan untuk naik ke lantai atas.


Aku masuk ke dalam kamar milik wanita itu lagi. Dia masih terbaring lemas, seperti biasanya.


"Astaga, kapan kau bangun huh. Apa kau tidak merasa kasihan padanya?"


"Hari ini aku akan pergi. Jadi aku harap, setelah aku pergi kau bisa segera sembuh dan membiarkannya ikut campur dengan urusanmu. Kau tahu, kasihan jika dia harus menunggu lebih lama lagi."


"Dan, perihal orang yang seharusnya dilindungi itu. Aku masih belum menemukan titik terang tentang dirinya."


"Kau tenang saja. Aku akan menemukannya dan membawanya menemui dirimu."


Aku berdecak.


Kembali menggulirkan kursi rodaku keluar dari kamar itu.


Kali ini aku tidak langsung turun. Aku pergi menuju ruangan lainnya. Pintu itu langsung aku buka setelah diketuk tiga kali tapi tidak ada jawaban dari dalam sana.


Dia yang selalu menunggu wanita itu.


Astaga, dia masih lelap dalam tidurnya sambil memeluk sebingkai foto.


"Permisi, tuan. Setelah ini nona akan pergi ke ruang baca."


Aku mengangguk saat pelayan memberitahuku tentang itu. Segera aku meminta untuk dibantu menuruni tangga.


Aku langsung pergi menuju ruang baca. Menemui Jaden Arshon yang sudah siap di sana.


Kami menunggu beberapa saat, kemudian Rubby datang.


Jaden Arshon mulai menjelaskan perihal alasannya memanggil Rubby sebelum dia memberikan selembar kertas berisi kontrak untuk gadis yang tampak bingung itu.


Selembar kontrak yang harus dia tanda tangani, sekarang sudah berada di hadapan Rubby.


Harus ditandatangani oleh Rubby.Itulah kata Jaden Arshon, dengan nada yang agak memaksa. Terlihat wajah Rubby yang menunjukkan perasaan tidak nyamanm


Aku merasa jika dia merasa terjebak bersamaku melalui kontrak ini?


Atau hanya perasaanku saja karena melihat raut wajah Rubby.


"Apakah ini wajib aku perbarui?" Gadis itu angkat suara setelah lama terdiam melihat kontrak di hadapannya.


"Tentu, karena ada beberapa peraturan baru." Jaden Arshon, lagi-lagi nada bicaranya membuat Rubby tertunduk lesu.


"Serta, anda bisa mendapatkan tambahan bonus."

__ADS_1


Rubby tampak tidak tertarik pada kalimat Jaden Arshon. Dia masih diam.


Gadis itu menarik napas, membubuhkan tanda tangannya pada selembar kontrak yang telah berada di sana.


Dia tampak gelisah, apakah dia memikirkan sesuatu yang mengganggu dirinya?


"Baiklah, terima kasih atas kerja sama anda. Silakan anda mengemas barang-barang milik anda. Pukul sebelas siang kita akan berangkat."


Gadis itu berpamitan untuk pergi meninggalkan tempat ini.


Setelah Rubby benar-benar pergi, aku berdehem. Menegur Jaden Arshon yang memang agak garang.


"Jangan terlalu seperti itu, dia seorang gadis yang lembut."


Pria itu mengangguk paham.


Kami kemudian membahas pekerjaan kami hingga waktu untuk pergi tiba.


Sepanjang perjalanan, aku memejamkan mataku.


Bukan untuk tidur, melainkan untuk menghindari kontak langsung dengan Rubby yang duduk di sampingku.


><><><><><


Tempat baru itu membuat Rubby tampak lebih ceria. Gadis itu semangat dalam makan malam bersama. Dia ikut bercanda bersama pekerja yang lainnya. Mungkin jika ini aku lakukan lebih awal, Rubby bisa saja menjadi lebih bisa menunjukkan ekspresinya lagi.


Aku tersenyum setelah melihat Rubby yang sedang makan malam.


Aku kemudian pergi ke ruang baca yang sudah lama tidak aku kunjungi.


Tak lama setelah aku di sana, Rubby datang sambil berdecak kagum.


Dia dengan semangat langsung membaca buku yang sudah ada di atas meja.


Dia membawaku ke kamar.


Membantuku untuk berbaring di atas ranjang.


Setelah gadis itu pergi, aku kembali duduk karena memang belum merasakan kantuk.


Aku melihat ke arah dinding kiri. Satu-satunya pembatas antara kamarku dengan kamar Rubby.


Jika aku perhatikan tadi, dia membawa sebuah buku yang tadi dia bacakan untukku.


Aku rasa gadis itu menyukai bukunya.


Dengan hati-hati aku turun dari atas tempat tidur. Sebenarnya untuk hal kecil seperti ini, aku sudah bisa melakukannya. Namun, masih tetap tidak boleh terlalu banyak bergerak.


Aku berjalan perlahan menuju sofa yang tidak terlalu jauh dari ranjang tempat tidur.


Beberapa tumpukan berkas masih perlu tinjauan ulang.


Aku meninjau berkas-berkas itu.


Sambil sesekali mengingat hal-hal yang lain. Yang mungkin hampir aku lupakan karena lama melakukan cuti kerja.

__ADS_1


Apapun itu, aku masih punya tugas yang belum selesai.


><><><><><


__ADS_2