
POV Sora
"Ya, Aku memang bodoh, Kak! Terlalu mudah untuk dibodohi! Makanya semenjak hari itu aku sudah memutuskan untuk tidak akan menjalin hubungan dengan siapapun sebelum aku menemukan seseorang yang benar-benar tulus padaku ..." ucapku yang kini menjadikanku sedikit murung.
"Maaf ... Bukan maksudku seperti itu." ucap kak Ave sambil mengusap tengkuknya. "Seharusnya kamu lebih berhati-hati dalam menilai seseorang." ucap kak Ave pelan. "Karena kadangkala yang terlihat baik belum tentu dia baik. Dan yang terlihat buruk belum tentu dia buruk!" lanjutnya lagi.
Aku seperti pernah mendengar ucapan itu deh. Hhm ... Yeap, kak Ave pernah mengatakannya saat malam perayaan itu.
"Kakak benar. Aku hanya melihat paras dan ternyata malah tertipu olehnya ..." kataku sedikit tertawa kecil.
"Bagus kamu segera mengetahui dan menyadari semua keburukannya. Dan sangat bagus kamu telah berpisah dengan orang seperti itu!"
"Hhm ... Senior benar." sahutku dengan seulas senyum.
"Jadi harusnya kamu bersyukur karena kehilangan orang yang tidak baik dan tidak mencintaimu. Dan dia yang sangat rugi karena ..."
"Permisi ..." ucap seorang waitress yang tiba-tiba datang lalu menyodorkan beberapa makanan pesanan kita. Lalu dia segera meninggalkan kita kembali.
"Kakak bilang apa tadi?"
"Tidak kok. Ayo kita makan dulu!" sahut kak Ave dengan seulas senyum lalu mulai meraih sumpitnya dengan hati-hati.
Kak Ave masih terlihat sedikit kesulitan saat memegang sumpitnya. Sebenarnya apa yang telah dia alami sehingga membuat kedua tangannya sedikit cedera? Dan kenapa dia tidak mau bahkan menghindari saat aku bertanya soal itu.
"Kak ... Boleh aku melakukan sesuatu?" ucapku dengan hati-hati.
"Ya?"
Aku segera bangkit dari dudukku dan berpindah tempat duduk di sebelah kak Ave. Dan dia hanya menatapku sedikit bingung. Saat ini aku ingin membantunya menyuapinya. Karena kak Ave terlihat sedikit kesulitan.
"Kau mau apa?" tanyanya dengan kening yang sedikit berkerut.
Aku tidak menjawab pertanyaannya itu , aku segera mengambil makanan dengan memakai sumpit lalu berusaha menyuapi kak Ave. Saat makanan itu berada tepat di depan mulutnya dia malah menutup mulutnya rapat-rapat.
"Sora! Jangan seperti ini! Aku bisa melakukannya sendiri!" kata kak Ave sedikit mendorong tanganku.
"Hari ini kakak sudah sangat berbuat banyak untukku. Jadi biarkan sekali saja aku melakukan sesuatu untuk kakak." kataku memelas.
__ADS_1
"Tidak usah, Sora! Aku bisa melakukannya sendiri ..." lagi-lagi kak Ave berusaha untuk makan sendiri. Namun dia masih terlihat sedikit kesulitan. Jadi aku kembali merebut sumpitnya lalu berusaha menyuapinya lagi.
"Sudah! Kakak tidak perlu merasa tidak enak. Aku akan menyuapi kakak!" kataku sambil menyodorkan sesuap daging untuk kak Ave.
Kak Ave masih terdiam menatapku saja. Dan mulutnya masih terkunci rapat. Sedangkan aku tersenyum lebar padanya dan sedikit mengangguk agar dia membuka mulutnya.
Tapi konyol! Aku malah salah fokus setelah menatap bibir tipis kemerahan itu. Tiba-tiba saja aku teringat dengan kejadian saat itu. Kejadian saat dia menciumku saat itu.
Oh My!
Bibir tipis itu yang pernah menciumku saat itu! Oh My! Seketika aku menjadi sedikit salah tingkah dan sangat merasa kikuk.
Aku segera meletakkan sumpit itu kembali dan mengalihkan pandanganku.
"Baiklah, kakak makan sendiri saja. Aku akan kembali ke tempat dudukku saja, Kak." sahutku lalu bangkit berdiri. Namun kak Ave malah menahan tanganku. Dan membuatku terhenti.
"Kau mau kemana? Kenapa mudah sekali berubah-ubah seperti ini? Kau bilang tadi kau akan menyuapiku? Jadi cepat lakukanlah!" ucapnya yang terdengar seperti sedang memerintahku.
Beberapa saat aku masih berdiri dan menatapnya dengan sedikit kikuk.
"Kenapa? Kau tidak mau melakukannya ya?" timpal Kak Ave sedikit menyipitkan matanya memandangku.
Aku segera mengambil sumpit itu kembali dan mulai mengambil potongan ayamnya.
Jangan pikirkan apapun, Sora! Atau semua itu akan merusak suasana dan membuatku sangat kikuk di hadapan kak Ave.
Aku mulai mengarahkan dan berusaha menyuapi kak Ave. Kali ini dia membuka mulutnya tanpa membantah sama sekali. Namun tatapannya tak lepas dari mataku dan terus menatapku.
Sementara aku masih terus berusaha fokus untuk menyuapinya.
"Sudah cukup, Sora! Aku sudah kenyang kok. Sekarang kamu makanlah dulu!" ucapnya pelan.
"Tapi kakak baru memakannya setengah saja?"
"Iya, tapi aku sudah kenyang. Kamu makan saja dulu ..."
"Hhm, baiklah." kataku lalu mulai mengambil sumpitku dan menikmati makananku dengan pelan.
__ADS_1
Kak Ave kini sedikit menghadapku dengan siku di atas meja dan menahan kepalanya dengan tangan kanannya.
Aku pura-pura tidak melihatnya dan tetap fokus dengan chicken yakiniku-ku. Hhm ... Ternyata masakannya lumayan juga disini. Enak sekali! Kini aku meraih orange juiceku dan meminumnya.
"Sora, setelah keluar dari tempat ini aku akan memberitahumu semuanya ..."
"Oh, Okay kak!" aku meletakkan kembali orange juice ku di atas meja, namun tak sengaja tanganku malah menyenggol orange juice kak Ave. Minuman itu tumpah dan sedikit mengenai coat kak Ave.
Oh Tidak! Bagaimana ini? Aku segera mengambil serbet yang telah disiapkan oleh cafe ini dan dengan panik segera membersihkannya.
"Maaf, Kak ..." ucapku sangat panik. Jangan bilang lagi deh kalau coat ini juga limited edition! Bisa gila aku. Hiks ...
Aku masih terus berusaha untuk membersihkannya namun noda itu masih ada.
"Kak, tolong lepas. Biar aku cuci saja!" ucapku yang masih sedikit panik.
Kak Ave melepas coatnya tanpa berbicara sepatah kata apapun.
"Aku akan membawanya pulang dan mencucinya, Kak."
"Hhm. Baiklah ..." sahutnya dengan sebuah senyuman.
Dia tidak marah padaku? Apakah itu berarti coat ini bukan salah satu coat limited edition? Oh syukurlah! Aku selamat!
"Aku benar-benar minta maaf, Kak! Aku akan mencucinya dan segera mengembalikannya kepada kakak." ucapku bersemangat.
"Iya. Santai saja. Toh masih banyak coat di rumah kok. Lagian aku juga sudah mulai bosan dengan coat itu." sahutnya ringan.
"Itu artinya kakak tidak marah padaku?" tanyaku membulatkan mataku menatapnya sedikit tidak percaya.
"Tidak ..." sahutnya lalu bertopang dagu dan menatapku dengan seulas senyum.
Kali ini aku melihat mata Kak Ave yang juga seperti sedang tersenyum. Mata kak Ave tidak seperti mata orang Asia pada umumnya. Matanya sedikit keemasan dan sangat cantik seperti mata Bule pada umumnya.
Ah iya, aku baru ingat! Dia kan memang blasteran dan berdarah Jepang-Australia. Keren sekali!
Ah syukurlah ... Aku menghembuskan nafas dengan sangat lega ke udara dan tersenyum lebar.
__ADS_1
"Tapi aku akan tetap mencucinya dan akan aku kembalikan kepada kakak!" ucapku lagi.
"Well. Terserah kamu saja. Kamu buang pun tidak masalah kok!" sahutnya ringan.