
Pagi itu Maura ditinggalkan oleh teman-temannya yang bersiap akan pulang ke Jakarta.
Tanpa sepengetahuan Maura semalam Marvin meminta ijin kepada pihak manajemen untuk melanjutkan menginap di Pulau Putri sampai beberapa hari kedepan dan pihak manajemen pun mengijinkan.
Maura yang terbangun lebih dulu nyaris loncat dari tidurnya ketika melihat jarum jam sudah menyentuh angka sebelas.
"Sayaang..bangun kita kesiangan seharusnya kita kembali ke Jakarta jam delapan pagi " Maura membangunkan Marvin yang masih tertidur lelap.
Karena Marvin tidak mau bangun akhirnya Maura mengambil ponselnya kemudian menghubungi Bang Ihsan.
"Semalam suami kamu minta ijin untuk melanjutkan liburan sampai beberapa hari kedepan ..jadi kalian kita tinggal pulang ke Jakarta "
Ucapan Bang Ihsan mengagetkan Maura.Pantas saja semalam Marvin dan Bang Ihsan terlihat berbicara serius, sepertinya mereka membicarakan rencana perpanjangan liburan Maura dan Marvin.
"Kenapa tidak bilang kalau kita masih akan berlibur disini " Maura mencubit ujung hidung Marvin dengan gemas membuat Marvin megap-megap dan langsung membuka matanya.
"Diam dong kak..masih ngantuk " Marvin menepiskan tangan Maura yang menjepit hidungnya.
"Kenapa tidak bilang kalau kita masih akan liburan disini ?" tanya Maura lagi.
"Belum sempat bilang Sayang..kan semalam kita langsung sibuk bikin dedek bayi " jawab Marvin sambil menangkap tubuh polos Maura dan membawanya kedalam selimut.
"Sudah bilang sama Papih belum kalau kita masih akan menginap disini ?" tanya Maura sambil mengelus dagu Marvin.
"Nanti aku bilang Papih kalau kita sedang bikin cucu disini " jawab Marvin.
"Masa minta ijin nya gitu kan malu Sayang " Maura terkekeh sambil mencubit pipi Marvin.
"Tidak usah minta ijin juga mereka pasti mengerti " jawab Marvin.
*
Menjelang akhir masa liburan Maura dan Marvin sudah kembali dari berlibur di Pulau Putri begitu juga dengan Wisnu dan Millie yang sudah kembali dari Bandung.
Setelah semua kembali dari berlibur rumah Adam kembali menjadi ramai oleh celotehan tiga tuyul.
Milea yang tahun ini mulai masuk SMP tampak terlihat semakin besar dengan seragam putih biru nya.
Maura yang masih bergelung dalam pelukan Marvin terbangun ketika terdengar suara ketukan dipintu kamarnya.
"Kakaak..aku minta tolong dong " Milea memberikan kotak berisi karet rambut ketika Maura membuka pintu kamarnya.
Setiap pagi Milea meminta Maura mengikatkan rambutnya dengan berbagai macam model yang ia lihat di ponselnya.
Milea selalu minta tolong kepada Maura untuk mengikatkan rambutnya yang panjang karena setiap pagi Mommy nya sibuk menyiapkan keperluan Malik dan Daddy nya yang menurutnya semakin hari semakin manja saja.
"Sudah gede masa belum bisa mengikat rambut sendiri " Marvin yang baru bangun iseng mencubit pipi Milea.
__ADS_1
"Kalau ikat biasa bisa Om..kalau seperti ini tidak bisa makanya minta tolong kakak " jawab Milea yang duduk menghadap cermin di kamar Maura.
"Sudah selesai " Maura merapikan hasil pekerjaannya.
"Terimakasih kak " Milea mencium pipi Maura sambil keluar dari kamar dengan centilnya.
"Bayar dong dek..masa gratis " panggil Maura sebelum Milea menghilang dibalik pintu.
"Bayarnya minta sama Om Marvin saja..dia kan banyak uangnya " jawab Milea sambil menjulurkan lidahnya.
"Dasar anak itu " Maura tertawa kemudian menghampiri Marvin yang sedang duduk ditepi ranjang.
Setelah selesai mengurusi rambut Milea kini Maura mengurusi Marvin yang sedang tidak enak badan sepulang dari berlibur di Pulau Putri.
Pada saat perjalanan pulang pergi ke pulau Putri Marvin memang mengalami mabuk laut.
Adam dan Mikha menyuruh putra bungsunya itu untuk istirahat di rumah sampai kondisi tubuhnya pulih.
Pagi itu Maura membuatkan minuman jahe hangat yang dicampur dengan madu untuk Marvin.
"Kalau masih keterusan sakitnya lebih baik ke dokter saja Vin " titah Mikha.
"Sudah agak enakan Mih " jawab Marvin.
"Kamu itu cuma perjalanan satu jam saja mabuk laut..payah " ledek Millie yang langsung mendapat pelototan dari Wisnu.
"Gimana tidak kurang fit kalau tiap malam begadang terus " sindir Adam. Marvin hanya terkekeh.
"Tuh makanya jangan suka begadang Sayang..jadinya sakit kan " Maura sok-sok an menasehati Marvin.
"Kan begadangnya sama kamu Sayang " jawab Marvin sambil nyengir.
Maura yang baru mengerti arah ucapan Marvin akhirnya ikut tertawa.Setelah sarapan Maura bersiap untuk pergi ke kampus.
"Kamu aku antar ya " Marvin mengambil dompet dan kunci mobilnya dari atas meja.
"Tidak usah..kamu kan sedang tidak enak badan " Maura menolak secara halus.
"Cuma mengantar ke kampus saja kuat " jawab Marvin memaksa.
"Beneran kuat.. takutnya nanti malah keterusan sakit " Maura menatap Marvin khawatir.
"Sudah jangan cerewet " Marvin menarik tangan Maura ke mobilnya.
"Kakak selesai kuliah jam berapa ?" tanya Marvin ketika mereka dalam perjalanan pergi ke kampus Maura.
"Hari ini cuma satu mata kuliah jadi jam dua belas siang juga pulang " jawab Maura.
__ADS_1
"Oke " jawab Marvin.
"Nanti jemputannya jangan telat ya Sayang " pesan Maura ketika mobil Maura yang dikendarai oleh Marvin berhenti di parkiran kampus.
"Iya " jawab Maura sambil mencium bibir Marvin.
"Kamu demam Sayang " Maura merasakan bibir Marvin lebih panas dari suhu orang normal.
"Pulang dari sini aku langsung tidur" jawab Marvin.
"Ya sudah.. hati-hati Sayang " Maura terlihat khawatir ketika mobil Marvin mulai melaju meninggalkan parkiran kampus.
Sepulang mengantarkan Maura ke kampus Marvin langsung pulang ke rumah.
Mikha menyuruh Marvin untuk istirahat namun sebelumnya Mikha menyuruh Marvin meminum obat karena putra bungsunya itu sedikit demam.
Setelah meminum obat demamnya Marvin pun langsung tertidur sangat pulas. Saking pulasnya Marvin tidak terbangun meskipun waktu sudah menunjukkan jam dua belas.
Maura yang sudah selesai mengikuti pelajaran di kampusnya menunggu Marvin menjemputnya di parkiran.
Beberapa kali Maura mencoba menghubungi Marvin namun tidak diangkat karena Marvin memang sedang tertidur pulas.
Hampir satu jam lebih Maura menunggu Marvin.Karena tidak kunjung datang menjemput akhirnya Maura memutuskan pulang dengan taksi online.
Setibanya dirumah Maura mendapati Marvin sedang tertidur dengan pulas.
Meskipun awalnya merasa kesal karena Marvin tidak menjemputnya namun Maura menjadi iba ketika mendapati pria tampan itu sedang tidur dengan tubuh yang masih demam.
"Kalau sakit makanya jangan sok-sok an maksa nganterin aku " omel Maura sambil mengelap dahi Marvin yang berkeringat.
Marvin yang masih tertidur lelap tiba-tiba bangun dengan wajah yang panik.
"Ya Tuhan aku harus jemput Maura " Marvin yang tidak menyadari jika Maura ada disana menyibakkan selimut dan hendak turun dari ranjang.
"Sayang..aku sudah pulang " Maura buru-buru menahan tangan Marvin dan menyuruhnya kembali tidur.
"Kamu sudah pulang Sayang ? maaf aku ketiduran " ucap Marvin lirih.
"Tidak apa-apa..aku tadi pulang pake taksi online " jawab Maura sambil menyelimuti tubuh Marvin sampai ke perut.
Setelah melihat Maura sudah ada di sisinya Marvin pun kembali tertidur karena efek obat demam yang diminumnya sudah mulai bereaksi di tubuhnya.
Setelah dua hari beristirahat di rumah di hari ketiga Marvin sudah mulai kembali masuk ke kantor karena kondisi tubuhnya yang sudah mulai pulih.
Maura yang mulai sibuk kuliah dan mengurus suami sedikit-sedikit mulai mengurangi kegiatannya di dunia modeling.
Wanita yang belum genap berusia 20 tahun itu ingin fokus pada pendidikan dan keluarganya saja.
__ADS_1