
Pagi ini Wisnu dan Marvin berangkat ke Bandung. Rencananya mereka akan berada di Bandung selama tiga hari untuk meninjau lokasi.
Marvin yang rencananya akan menginap di rumah Adam mengurungkan niatnya karena Wisnu memaksa adik iparnya itu untuk menginap di rumah Bapak dan Ibu bersamanya.
"Kamu menginap di rumah orangtua Mas Wisnu saja biar kita bisa main PS bareng " ajak Wisnu.
Karena sama-sama hoby main PlayStation akhirnya Marvin pun menerima ajakan Wisnu.
Kedatangan dua pria tampan itu disambut dengan hangat oleh orangtua Wisnu.
"Kemana saja Vin sekarang tidak pernah main kesini..dulu sewaktu Maura masih tinggal disini setiap Minggu kesini..giliran Maura pindah lagi ke Jakarta kamu tidak pernah main lagi kesini ?" tanya Bapak.
"Maaf Pak.. kebetulan akhir-akhir ini sedang sibuk dengan pekerjaan " jawab Marvin.
"Marvin setiap Minggu kesini ?" Wisnu melotot kearah Marvin.
"Iya..lebih sering Marvin nengokin Ibu dan Bapak daripada kamu " sindir Bapak kepada Wisnu.
Bukan menengok Ibu dan Bapak tapi ngapelin Maura batin Wisnu sambil tersenyum kecut.
Marvin sendiri terlihat menunduk karena terlanjur ketauan sering datang ke Bandung tanpa sepengetahuan Wisnu.
"Kenapa kamu tidak bilang sama Mas kalau sering kesini ?" Wisnu menatap tajam adik iparnya.
"Takut dimarahin sama Mas Wisnu dan kak Millie " jawab Marvin jujur.
Berbohong pun tidak ada gunanya karena semua sudah terlanjur mengetahui mengenai hubungan diam-diam nya dengan Maura.
"Bagaimana Mas dan kakak kamu bisa sampai kecolongan begini " gumam Wisnu.
"Kecolongan apa ?" tanya Bapak.
Sedari tadi pria paruh baya yang masih terlihat gagah itu tidak mengerti dengan apa yang sedang putranya dan adik iparnya itu bicarakan.
"Tidak apa-apa Pak " jawab Wisnu.
Hari pertama di Bandung Wisnu dan Marvin meninjau lahan yang akan dibangun untuk proyek pabrik. Setelah melihat lokasi kedua pria tampan itu pun pulang.
Mereka akan mengurus semua perijinan dan pembebasan lahan besoknya dengan beberapa orang tim nya.
Sepulang dari meninjau lokasi Marvin dan Wisnu tidak langsung pulang ke rumah. Mereka melanjutkan dengan jalan berdua.
Mereka mengunjungi sebuah coffee shop dan nongkrong disana sambil menikmati kopi kesukaan mereka masing-masing.
__ADS_1
"Vin..Maura sudah cerita banyak kepada kakak kamu tentang hubungannya sama kamu " ucap Wisnu.
"Iya Mas....kak Millie juga sudah cerita " jawab Marvin.
"Sebagai Daddy nya Mas harus selektif memilih calon jodoh untuk Maura..meskipun pilihan Maura itu adalah kamu.. yang Mas tau dengan baik bagaimana keseharian kamu "
"Iya Mas " jawab Marvin.
"Mas harap kamu tidak membuat Mas kecewa dengan mempermainkan putri Mas yang menurut Mas itu masih kecil "
"Tidak Mas..aku berniat serius sama Maura..makanya aku menunggu dia dari kecil " jawab Marvin.
"Kamu yakin jika perasaan kamu itu benar-benar cinta..bukan rasa sayang Om kepada keponakannya ?" tanya Wisnu. Pria tampan itu ingin memastikan jika perasaan Marvin kepada putrinya tidak lah keliru.
"Aku yakin Mas.. perasaan aku ketika diputuskan oleh Nisa tidak ada apa-apa nya dibanding ketika Maura tiba-tiba berusaha menjauhi aku dan memilih pindah sekolah di Bandung " jawab Marvin.
"Berarti selagi pacaran dengan Nisa hati kamu sudah terbagi kepada Maura "tuduh Wisnu.
"Mungkin..pada saat itu aku belum menyadarinya " jawab Marvin sambil tersipu.
Meskipun sedikit tegang namun mengobrol dengan Wisnu Marvin merasa lebih aman daripada mengobrol dengan kakaknya yang selalu menindasnya dengan sesuka hati.
Sepulang dari nongkrong di coffee shop Marvin langsung masuk ke kamarnya untuk beristirahat sementara Wisnu mendatangi kamar orangtuanya.
"Aku ingin membicarakan masalah Maura " jawab Wisnu.
"Maura..ada apa dengan Maura ?" tanya Bapak dan Ibu heran.
"Ternyata selama ini tanpa sepengetahuan kita Maura dan Marvin pacaran " ucap Wisnu dengan suara pelan.
Bapak dan Ibu diam, keduanya saling pandang.
"Sebetulnya Bapak dan Ibu juga sedikit curiga sama mereka..tapi Bapak dan Ibu berusaha membuang kecurigaan kami jika mengingat Maura itu dari kecil sudah dekat dengan Marvin " ujar Bapak.
"Menurut Bapak dan Ibu aku harus bagaimana..kalian tau sendiri kalau Marvin itu adik ipar aku ?" Wisnu menanyakan pendapat kedua orangtuanya.
"Menurut Bapak tidak jadi masalah karena Maura dan Marvin tidak ada hubungan darah " jawab Bapak.
"Maksud aku..apa pendapat Bapak dan Ibu mengenai Marvin ?" tanya Wisnu.
Wisnu ingin mendengar pendapat kedua orangtuanya mengenai Marvin sebelum ia memberikan restunya kepada adik iparnya itu.
"Menurut pendapat Bapak Marvin anaknya baik..sopan..Bapak yakin dia bisa membimbing Maura menjadi lebih baik " jawab Bapak.
__ADS_1
"Ibu juga setuju kalau Maura berjodoh dengan Marvin..Ibu senang Maura seberuntung kamu mendapatkan jodoh dari keluarga Papih Adam " jawab ibu.
"Baiklah..kalau Bapak dan Ibu setuju aku jadi tidak ragu untuk merestui mereka " ucap Wisnu lega.
"Kalau mereka sudah cocok jangan ditentang..jodoh itu sudah diatur oleh Tuhan..kita tidak bisa menolaknya " nasehat Bapak.
"Seperti kamu dan Millie..sekeras apapun orangtua Millie menolak kamu jika sudah jodoh akhirnya kalian menikah juga walaupun kamu sudah punya dua anak " nasehat Bapak.
"Iya Pak " jawab Wisnu.
"Hanya orang bodoh yang menolak anak sebaik dan setampan Marvin " tambah Ibu.
Wisnu tersenyum kecut karena merasa jika Ibunya sedang menyebutnya bodoh karena sempat menolak Marvin.
Setelah mendapat keteguhan hati Wisnu pun keluar dari kamar orangtuanya.
Sebelum kembali ke kamarnya Wisnu sempat melongokan kepalanya kearah kamar Marvin.
Disana Wisnu melihat sepertinya Marvin sedang mengobrol dengan Maura melalui sambungan video.
Tidak ingin mengganggu Marvin dan Maura Wisnu pun meneruskan langkahnya menuju kamarnya. Di kamar ia menghubungi Millie dan menceritakan apa yang baru saja ia bicarakan dengan orangtuanya.
"Aku sih menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada kamu..aku berada di pihak yang serba membingungkan..disatu sisi aku adalah ibu Maura dan disisi lain aku adalah kakaknya Marvin.. aku ingin Maura bahagia begitu juga dengan Marvin " jawab Millie.
"Iya Sayang Mas mengerti..intinya Bapak dan Ibu juga sudah setuju dan Mas pun tidak mempunyai alasan lagi untuk tidak merestui mereka..tapi biarkan saja mereka tidak usah diberitahu tentang keputusan kita ini.. Mas tidak mau mereka merasa bebas jika mengetahui jika kita sudah merestui mereka.Kita rahasia kan sampai kita bicarakan ini dengan Papih dan Mamih jika Mas sudah kembali ke Jakarta " ujar Wisnu.
"Iya Mas " jawab Millie.
Wisnu dan Millie cukup lama membicarakan masalah hubungan antara Maura dengan Marvin. Mereka mengakhiri sambungan telepon ketika Meysha mulai merengek ingin tidur.
Wisnu yang belum merasa mengantuk keluar dari kamarnya kemudian beranjak menuju kamar Marvin.
Marvin yang baru mengakhiri sambungan video dengan Maura kaget ketika Wisnu muncul di pintu kamarnya karena memang Marvin tidak menutup pintu kamarnya.
"Vin main PS yuk !" ajak Wisnu.
"Dimana Mas ?" tanya Marvin sambil menyimpan ponselnya.
"Di kamar Mas saja " jawab Wisnu.
Marvin pun mengikuti Wisnu ke kamarnya untuk main PlayStation disana.
"Kita begadang Vin mumpung tidak ada kakak kamu..kalau ada kak Millie mana bisa kita bebas begini " ujar Wisnu..keduanya tertawa sambil menyambungkan perangkat PlayStation ke televisi di kamar Wisnu.
__ADS_1