
Marvin yang sedang menonton acara pertandingan bola di tv dengan Adam dan Wisnu tiba-tiba dihampiri oleh Maura Yang datang membawa buku ditangannya.
"Sayang bantuin tugas kuliah aku dulu " Maura memberikan buku itu kepada Marvin.
Kerjain sendiri dong kak..masa nyuruh Marvin yang ngerjain " omel Wisnu.
"Aku tidak bisa Dad..makanya minta bantuan Om Marvin " jawab Maura.
"Alasan..bilang saja malas " ujar Marvin sambil mencubit ujung hidung Maura.
"Memang " jawab Maura sambil menarik tangan Marvin ke kamarnya.
"Sebetulnya Maura bukan malas Vin..dia hanya manja saja sama kamu " bela Adam.
"Yaaah kok ditinggal Vin..padahal lagi seru " ujar Wisnu.
"Ngerjain tugas Maura dulu Mas " pamit Marvin sambil mengikuti langkah kaki Maura menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar Marvin pun langsung mengerjakan tugas Maura, sementara wanita cantik itu malah berbaring dengan berbantalkan paha Marvin
Selagi Marvin mengerjakan tugas kuliahnya, tangan Maura iseng meraba kesana-kemari dengan nakalnya.
"Sayang..kamu itu minta dibantuin mengerjakan tugas atau minta diboboin ?" tanya Marvin yang merasa terganggu dengan ulah nakal tangan Maura sehingga ia menjadi tidak fokus.
"Minta bantuin ngerjain tugas dulu.. kalau sudah selesai baru minta diboboin " jawab Maura sambil mengerling nakal.
"Bagaimana kalau diboboin dulu, mengerjakan tugasnya nanti anggap saja minta dibayar dimuka " Marvin mengajukan negosiasi.
"Tidak mau pokoknya tugas dulu " Maura menolak.
"Baiklah..tapi tangannya jangan gerayangan dulu..akunya jadi tidak fokus " Marvin menangkap tangan Maura yang sudah mulai meraba selangka ngannya.
"Baiklah " jawab Maura patuh, ia pun diam sambil memeluk perut Marvin.
Setelah menyelesaikan tugas kuliah Maura Marvin tampak kaget ketika mendapati Maura malah tertidur pulas.
Jika saja tadi ia membiarkan tangan Maura menggerayangi tubuhnya pastinya Maura saat ini masih terjaga dan ia tidak akan kehilangan jatah malam ini.
"Sayang bangun.. tugasnya sudah selesai " Marvin menepuk-nepuk pipi Maura lembut.
"Sudah selesai ya Sayang ?" tanya Maura
"Iya..sekarang kakak tidur sana !" titah Marvin sambil mengelus rambut Maura.
"Iya..tapi kakak lapar " Maura mengambil tangan Marvin dan diletakan diperutnya.
"Kakak mau makan apa ? biar aku suruh pelayan buatkan " Marvin menatap Maura.
"Kita beli ayam goreng yuk !" ajak Maura.
"Ayam goreng..ini sudah malam Sayang.. bagaimana kalau besok " jawab Marvin.
"Baiklah " jawab Maura lirih.
"Lebih baik kita tidur..ini sudah malam " Marvin menuntun Maura ke ranjangnya.
Marvin berbaring sambil menunggu Maura kembali melancarkan aksi nakalnya namun wanita cantik itu malah membelakanginya.
Marvin mencoba memejamkan matanya karena sepertinya Maura sudah kembali tertidur.
Marvin yang nyaris tertidur tiba-tiba membuka matanya ketika mendengar suara tangis tertahan disebelahnya.
"Kakak..kamu mimpi buruk Sayang ?" Marvin menyentuh bahu Maura yang tidur memunggungi nya.
Maura tidak menjawab, ia malah menarik selimut hingga menutupi kepalanya.
__ADS_1
"Sayang..kamu kenapa menangis ?" Marvin berusaha menarik selimut yang menutupi sekujur tubuh Maura namun Maura menahannya.
Marvin langsung bangun ketika ia mengingat sesuatu.Sepertinya Maura marah kepadanya karena ia menolak membelikan ayam goreng.
"Ayok kita pergi sekarang !" Marvin menarik paksa tangan Maura agar bangun.
"Pergi kemana..kakak mau tidur saja ngantuk " Maura menolak.
"Tadi katanya mau ayam goreng..siapa tau ada yang masih buka " ajak Marvin.
"Sekarang sudah tidak mau " Maura menolak dengan airmata berhamburan.
"Kakak Sayang..mau nanti dedeknya ileran ?" tanya Marvin dengan suara lembut.
"Siapa juga yang lagi hamil " jawab Maura ketus.
"Ya siapa tau tanpa sepengetahuan kita diam-diam dia sudah ada di perut kakak..soalnya tidak biasanya kakak minta dibelikan ayam goreng malam-malam begini..pake nangis lagi " ujar Marvin sambil memakaikan sweater kepada Maura.
Marvin menuntun Maura menuju mobilnya kemudian mereka pun pergi untuk mencari gerai ayam goreng kesukaan Maura.
Setelah cukup lama berkeliling akhirnya mereka pun menemukan gerai ayam goreng yang masih buka.
Marvin membeli satu ember ayam goreng untuk Maura.
Senyum Maura langsung mengembang begitu mendapatkan apa yang diinginkannya.
"Sayang..besok kita pergi ke dokter ya..kita periksa siapa tau sudah ada dedek bayi di perut kakak " ajak Marvin.
"Tidak mau ah " jawab Maura sambil anteng menikmati ayam goreng nan renyah itu.
"Kakak itu kenapa sih suka sekali membantah " keluh Marvin dengan suara lembut.
"Kakak tidak yakin saja kalau kakak sedang hamil " jawab Maura.
"Ya kan tadi aku bilang siapa tau.. kalau hamil syukur kalau tidak juga tidak apa-apa..berarti kita harus lebih giat lagi bikin dedeknya "
"Baiklah " jawab Maura akhirnya.
"Nanti kita tanya Mommy dan Mamih dokter kandungan mana yang bagus " ajak Marvin.
"Iya " jawab Maura.
Setelah sampai di rumah Marvin dan Maura langsung masuk ke kamarnya dan tidur.
Malam ini Marvin sengaja tidak meminta jatahnya karena setelah menghabiskan ayam gorengnya Maura tampak mengantuk berat.
Keesokannya pada saat sarapan semua tampak kaget ketika Marvin menanyakan tempat praktek dokter kandungan kepada Millie dan Mikha.
"Kakak sudah telat Sayang ?" tanya Millie kepada Maura.
"Sepertinya iya Mom " jawab Maura.
"Tuh kan sudah telat..kenapa tidak bilang ?" omel Marvin.
"Kakak tidak berpikir hamil Om..karena kadang-kadang memang suka telat datang bulan " jawab Maura.
"Kalau begitu memang sebaiknya segera periksa ke dokter kandungan, siapa tau kakak benar-benar hamil " nasehat Mikha.
"Iya Mih " jawab Maura.
"Semoga saja kakak beneran hamil biar cucu Papih bertambah " ujar Adam.
"Bukan cucu..tapi cicit Pih " ralat Millie.
"Ya.. Cucu sekaligus cicit " jawab Adam sambil tertawa.
__ADS_1
"Lebih baik Cucu saja Pih..kalau cicit belum cocok Pih " ucap Wisnu.
"Iya " jawab Adam sambil tertawa.
Setelah mendapatkan rekomendasi dokter kandungan dari Millie dan Mikha, sore harinya Marvin membawa Maura ke tempat praktek dokter kandungan yang dimaksud.
Pada saat Marvin dan Maura tiba di tempat praktek dokter kandungan, mereka tidak sengaja bertemu dengan Nisa dan Yudhis yang juga akan memeriksa kandungan di sana.
Maura yang baru datang langsung menghampiri Nisa yang sedang duduk dengan perut yang membuncit.
"Aku baru tau kalau kak Nisa hamil, terakhir ketemu perut kak Nisa masih rata " Maura mengelus perut Nisa yang buncit.
"Sudah berapa bulan ?" tanya Marvin sambil menyalami Yudhis.
"Lima bulan " jawab Yudhis.
"Apakah Maura sudah isi ?" tanya Nisa balas mengelus perut rata Maura.
"Belum tau kak..ini baru mau diperiksa " jawab Maura.
"Semoga cepat menyusul ya " ujar Nisa sambil mencubit pipi Maura.
Meskipun mereka sudah sama-sama menikah namun Nisa masih sering melakukan kebiasaannya yaitu mencubit pipi Maura.
Nisa dan Yudhis pamit ketika nama Nisa dipanggil untuk melakukan pemeriksaan karena mereka datang lebih dulu dari Maura dan Marvin.
"Duuuh..yang abis ketemu mantan gimana rasanya deg-degan tidak Sayang ?" tanya Maura meledek.
"Ngomong apa sih kamu Sayang " jawab Marvin santai sambil menggeser duduknya merapat kearah Maura.
Setelah pemeriksaan kehamilan Nisa selesai mereka pun keluar dan kini giliran Maura dan Marvin yang masuk untuk dilakukan pemeriksaan.
Dokter menanyakan beberapa hal mengenai siklus datang bulan Maura sambil memeriksa tekanan darah dan denyut nadi Maura.
Setelah dilakukan pemeriksaan awal Maura pun digiring menuju tempat pemeriksaan USG.
Marvin membantu Maura naik keatas ranjang periksa kemudian berdiri disebelah Maura.
Maura tampak malu-malu ketika perawat menyingkapkan baju bagian bawah Maura.
Marvin dan Maura tampak serius menatap layar komputer.
"Ini bakal janinnya sudah kelihatan " dokter menunjuk dua titik hitam di layar komputer.
Marvin dan Maura tampak melongo menatap pada dua titik hitam di layar komputer.
"Bakal calon janinnya ada dua, kalian akan memiliki bayi kembar..ini usianya sekitar delapan Minggu " ujar Dokter.
"Kembar dok ?" tanya Marvin dan Maura bersamaan.
"Iya " jawab dokter.
"Karena usia calon ibu masih sangat muda jadi harus benar-benar dijaga asupan gizinya dan jangan terlalu banyak beraktifitas..termasuk urusan ranjang " nasehat dokter.
"Maksudnya harus puasa dok ?" tanya Marvin.
"Tidak perlu..hanya dikurangi saja dan jangan terlalu aktif karena di trimester pertama ini biasanya masih rentan..apalagi usia calon ibu yang masih muda " jawab dokter.
"Baik dok " jawab Marvin.
Setelah pemeriksaan selesai mereka pun keluar dengan jemari saling bertautan.
"Ternyata kamu itu peka sekali ya Sayang..bisa menebak dengan benar kalau kakak sedang hamil " puji Maura sambil memeluk tangan Marvin.
"Iya dong " jawab Marvin bangga sambil mengelus perut Maura yang masih rata.
__ADS_1
Ketika mereka dalam perjalanan pulang Mikha dan Millie menghubungi Maura dan menanyakan hasil pemeriksaan dokter kandungan, mereka sudah tidak sabar dan berharap mendengar kabar baik tentang kehamilan Maura.