
Selama tiga hari di Bandung setiap hari Wisnu dan Marvin mengunjungi lokasi proyek bersama , setelah selesai mereka mencari tempat ngopi yang enak dan malamnya mereka akan begadang sambil bermain PlayStation.
Setiap malam Marvin tidak tidur di kamar yang biasa ia tempati jika menginap namun ia tidur di kamar Wisnu.
Kedua pria tampan itu benar-benar menikmati kebebasan mereka jauh dari Millie yang selalu mengomel jika melihat mereka bermain PlayStation sampai malam.
Setelah urusan pekerjaan di Bandung selesai Marvin dan Wisnu pun kembali ke Jakarta.
Sepulang dari Bandung tanpa sepengetahuan Maura dan Marvin Millie dan Wisnu mengadakan pertemuan rahasia dengan Adam dan Mikha.
Mereka membahas masalah hubungan Maura dengan Marvin di sebuah restoran sambil makan siang.
"Kalau kalian sudah setuju sebaiknya mereka dinikahkan saja sekalian biar kitanya tenang..pergaulan anak-anak zaman sekarang sangat mengkhawatirkan " saran Mikha sambil melirik tajam kearah Adam.
Mendapat lirikan tajam dari istrinya Adam hanya menunduk.
Sesungguhnya Adam juga tidak ingin Marvin dan Maura sampai terjerumus pada pergaulan bebas seperti dirinya dulu
Apalagi Adam dan Mikha sempat melihat Marvin dan Maura sedang berciuman di halaman dengan sangat bernafsu.
Mereka khawatir Marvin dan Maura akan melakukan hal yang lebih dari sekedar ciuman dibelakang mereka.
"Papih juga setuju ide Mamih untuk segera menikahkan mereka " ucap Adam.
"Tapi Maura kan baru masuk kuliah Pih " Wisnu terlihat bingung.
"Kuliah kan bisa lanjut kak " jawab Adam.
"Iya juga sih.." jawab Wisnu.
"Lebih baik kalian pikirkan dulu..kalau sudah siap nanti Papih dan Mamih datang ke rumah kalian untuk melamar Maura " ucap Adam.
"Baik Pih " jawab Wisnu.
"Kak..nanti bantuin Mamih untuk persiapan lamarannya ya " pinta Mikha.
"Maaf Mih sebaiknya Mamih minta bantuan Aunty Arin saja..Mamih lupa ya kakak kan ibunya Maura " jawab Millie.
"Oh iya Mamih lupa " Mikha menepuk jidat.
"Ya sudah nanti Mamih akan minta bantuan Aunty kamu saja " ujar Mikha.
Setelah pembicaraan mengenai kelanjutan hubungan Marvin dan Maura selesai mereka pun memutuskan untuk pulang.
Ketika akan pulang mereka berpapasan dengan Marvin dan Maura yang baru turun dari mobil dan akan makan siang disana.
Marvin dan Maura yang sedang bergandengan tangan dengan mesranya kaget ketika bertemu dengan Adam, Mikha, Wisnu dan Millie.
Millie dan Wisnu tampak geram karena sebelumnya Maura minta ijin untuk menengok temannya yang sedang sakit.
Marvin dan Maura buru-buru saling melepaskan tautan tangan mereka dan saling menjauh ketika mata keempat orang itu menatap tajam kearah mereka.
"Om aku tidak jadi makannya.. sepertinya aku belum lapar " cicit Maura.
"Iya Om juga " jawab Marvin lirih.
Melihat kedua orangtua mereka tengah menatap mereka tajam membuat napsu makan Maura dan Marvin lenyap seketika.
"Kenapa tidak jadi makan?..makan saja Daddy akan tunggui kalian sampai selesai makan " ucap Wisnu dengan wajah datarnya.
Marvin dan Maura yang awalnya tidak jadi makan akhirnya terpaksa melanjutkan niat mereka untuk makan disana.
Keduanya makan sambil menunduk karena berada dibawah tatapan tajam Adam, Mikha, Wisnu dan Millie.
"Kita sering makan disini..tapi kenapa hari ini masakannya tiba-tiba tidak enak ya ?" tanya Maura setengah berbisik.
"Mau makan enak bagaimana kalau kita seperti dua ekor ayam yang siap akan disembelih " jawab Marvin pelan.
__ADS_1
"Tidak usah bisik-bisik.. selesaikan makannya dan Daddy akan antarkan kakak pulang " ucap Wisnu.
"Iya Dad.. tapi kaliannya jangan melihat kami begitu..kakak kan jadi gugup " Maura masih berani bersuara, berbeda dengan Marvin yang hanya diam sambil menelan makanannya yang terasa macet ditenggorokannya.
"Ya sudah selesaikan makan kalian dengan tenang " Mikha memberi kode agar Millie dan Wisnu tidak menatap Maura dan Marvin dengan tatapan mengintimidasi.
Marvin dan Maura menyelesaikan makannya dengan cepat.Padahal biasanya mereka akan berada disana sampai berjam-jam.
Setelah menyelesaikan makannya mereka pun berpisah. Adam mengantarkan Mikha pulang ke rumah sedangkan Marvin langsung kembali ke kantornya. Maura sendiri langsung pulang bersama Wisnu dan Millie ke rumah.
Sepanjang perjalanan pulang Maura menunduk mendengarkan Omelan dari Wisnu dan Millie.
"Kakak kalau mau jalan sama Om Marvin kenapa tidak bilang saja sama Mommy dan Daddy..kenapa harus berbohong segala bilang mau menengok teman yang sakit " omel Millie.
"Maaf Mom..kakak terpaksa bohong karena kakak takut tidak diijinkan oleh Mommy dan Daddy..karena biasanya juga kan begitu " bela Maura.
Millie dan Wisnu saling lirik sambil menggaruk pelipisnya. Ternyata dengan terus melarang mereka bertemu malah membuat Maura sering berbohong kepadanya. Sepertinya ide Mamihnya untuk segera menikahkan Maura dengan Marvin patut dipertimbangkan.
*
Sabtu sore Maura yang lelah karena baru pulang dari pemotretan di Bogor langsung mengunci kamarnya dan tertidur.
Saking pulasnya gadis itu tidak menyadari jika di dapur Mommy nya sedang sibuk menyiapkan banyak makanan bersama pelayan. Sepertinya mereka akan menjamu banyak tamu.
Sebelum magrib Millie beberapa kali mencoba membangunkan Maura namun tidak berhasil.
Setelah magrib rumah Millie mendadak ramai karena tamu mereka sudah datang.
Mile dan Malik langsung berlari menyambut kedatangan Adam dan keluarga Arin dari Bandung.
"Om Marvin mau kemana ganteng banget ?" Mile dan Malik menatap kearah Marvin yang berpakaian sangat rapi.
Biasanya jika Om nya itu datang hanya mengenakan celana pendek dan kaos santai.Marvin hanya tertawa sambil mengacak rambut kedua tuyul itu.
"Mauranya mana ?" tanya Arin sambil celingukan mencari gadis cantik kekasih keponakan tampannya.
"Maura di kamarnya..dia baru pulang pemotretan dari Bogor tadi siang langsung tidur " Millie menarik tangan Wisnu untuk membangunkan Maura di kamarnya.
"Kaaak..buka pintunya..bangun sayang !" Wisnu mengetuk pintu kamar Maura yang terkunci dari dalam.
"Coba lebih kencang Mas !" Millie terlihat mulai khawatir karena Maura masih belum bangun juga.
"Kaaak..!" Wisnu memanggil Maura dengan suara yang lebih kencang.
"Dari kapan Maura tidurnya ?" Adam dan Marvin juga Seno menghampiri Wisnu yang sedang berusaha membangunkan Maura.
"Dari tadi siang Pih sepulang pemotretan di Bogor " jawab Wisnu.
"Ada kunci cadangan tidak ?" tanya Adam ketika Maura tidak ada tanda-tanda akan bangun.
Millie beranjak menuju kamarnya untuk mengambil kunci cadangan. Setelah dicoba ternyata pintu kamar Maura masih tidak bisa dibuka karena kuncinya terhalang oleh kunci yang ada di dalam kamar Maura.
"Lebih baik di dobrak saja..takut Maura kenapa-napa di dalam " Millie terlihat mulai panik.
Karena tidak ada tanda-tanda Maura akan bangun akhirnya Marvin dan Wisnu mengambil ancang-ancang untuk mendobrak kamar Maura.
Wisnu dan Marvin mengerahkan segenap tenaganya untuk mendobrak pintu kamar Maura dan akhirnya pintu itu pun terbuka.
Suara benturan keras di pintu kamarnya membuat Maura yang sedang tertidur pulas langsung terbangun.
"Daddy..Om Marvin ?" Maura melongo menatap Wisnu dan Marvin yang tersungkur dilantai.
"Kakak itu tidur seperti orang mati saja " Millie memburu Maura yang tampak masih mengumpulkan nyawanya.
"Kakak baru pulang dari Bogor jadi ngantuk banget " jawab Maura.
"Eeh ada Mamih.. Papih..Aunty Arin..Om Seno.." Maura mengabsen semua yang ada disana.
__ADS_1
"Kakak mandi gih..sudah mandi kita tunggu di ruang makan " ucap Millie sambil memilihkan baju untuk Maura.
"Iya Mom " jawab Maura patuh.
Selagi Maura mandi semua menunggu di meja makan karena sudah waktunya makan malam.
"Kakak tidak bilang sama Maura kalau kita akan kesini untuk melamar dia ?" tanya Arin kepada Millie.
"Tidak Aunty..aku sama Mas Wisnu niatnya mau kasih kejutan " jawab Millie.
Setelah menunggu hampir setengah jam Maura pun muncul. Gadis itu terlihat segar dan cantik dalam balutan mini dress yang Millie pilihkan tadi.
Millie menyuruh Maura duduk dikursi yang tepat berada di sebelah Marvin.
"Ada acara apa nih tumben Mommy masak banyak " Maura melongo menatap meja makan yang dipenuhi oleh banyak makanan.
"Papih saja yang bilang " Wisnu menyuruh Adam yang mengatakan kepada Maura mengenai niat mereka berkumpul malam itu.
"Malam ini Papih sekeluarga sengaja datang kesini bermaksud untuk melamar kakak " ucap Adam.
"Melamar kakak ?" Maura melongo menatap kepada Adam.
"Iya Kak..kita datang kesini untuk melamar kakak menjadi istri Marvin putra Papih.. bagaimana kak..apakah diterima ?" tanya Adam..Adam sudah tidak ingin berbasa-basi lagi.
"Kakak tidak tau..tanya Daddy sama Mommy saja " jawab Maura.
"Kenapa harus tanya Mommy dan Daddy..yang dilamar kan Kakak " ujar Arin.
"Jangan bilang Maura takut sama kalian ?" tanya Seno menatap tajam kearah Wisnu dan Millie.
"Jawab saja kak..Daddy dan Mommy tidak akan marah " ucap Wisnu.
Semua menatap kearah Maura menunggu jawaban gadis cantik itu. Marvin tampak menunduk, wajahnya terlihat tegang karena Maura masih belum mau memberi jawaban.
Marvin yakin jika Maura masih takut kepada Mommy dan Daddy nya karena selama ini mereka yang masih tidak setuju dengan hubungan mereka.
"Kakak..kita menunggu jawabannya " ucap Mikha lembut.
"Kakak jawab saja Sayang..Mommy dan Daddy tidak akan marah " Millie menyentuh tangan putrinya.
"Kakak.mmm...kakak mau " setelah sekian lama akhirnya Maura menjawab dengan malu-malu.
"Mau apa ?" tanya Adam menggoda.
"Mau terima lamarannya " jawab Maura dengan wajah merah merona.
Wajah Marvin yang tadi terlihat tegang kini berubah terlihat lega.
"Syukurlah..tidak sia-sia Om dan Aunty Arin datang jauh-jauh dari Bandung kesini " ucap Seno lega.
"Karena Maura sudah menerima lamaran Marvin, Papih putuskan pernikahan kalian akan dilaksanakan bulan depan..ada waktu satu bulan untuk mempersiapkan semuanya " putus Adam.
"Pernikahan..bulan depan ?" Maura melongo.
"Iya..lebih cepat lebih baik biar Mommy dan Daddy tenang karena kakak sudah mulai nakal suka nyolong-nyolong janjian sama Om Marvin " ucap Millie.
"Maaf Mom " cicit Maura.
"Mereka juga kalau tidak kalian larang tidak akan nyolong-nyolong " bela Adam.
"Mmh..mulai deh Papih belain mereka " cibir Millie.
"Om Seno..sepertinya Om punya utang sama aku " Marvin menagih janji Seno yang akan menceritakan kisah cintanya dengan Mikha.
"Kamu punya utang apa sama Marvin Yang ?" tanya Arin.
"Rahasia laki-laki " jawab Seno.
__ADS_1
Dukungannya dong pliiiisss