My Posesif Uncle

My Posesif Uncle
Resmi Berakhir


__ADS_3

Setiap Wisnu dan Millie pergi ke Bandung untuk mengunjungi Maura Marvin selalu ikut.


Marvin menepati janjinya untuk menjadi sopir cadangan Wisnu demi bisa bertemu dengan Maura sang pujaan hati.


Karena lumayan sering bertemu hubungan Marvin dengan Maura tidak lagi sekaku sebelumnya.


Maura sudah mulai mau menerima telepon dari Marvin dan juga sudah bisa saling berkirim pesan lagi.


Meskipun hubungan mereka sudah mulai membaik namun Maura masih belum mau jika diajak pergi berdua oleh Marvin.


Malam minggu ini Marvin yang sedang berada di Bandung bersama Wisnu dan Millie berencana untuk mengajak Maura nonton.


Namun karena Maura menolak diajak nonton berdua akhirnya Marvin pun mengajak Selina dan Silva.


Selepas magrib mereka pun pergi ke gedung bioskop. Tanpa sepengetahuan Maura Selina memberitahu Zico jika mereka akan pergi nonton malam ini dan Zico pun menyusul.


"Kakak ajak Zico nonton ?" tanya Marvin kepada Maura ketika Zico muncul.


"Tidak Om " jawab Maura.


Karena sudah terlanjur bertemu disana akhirnya mereka pun menonton bersama.


Marvin mengatur nomer tempat duduk agar ia bisa duduk di sebelah Maura. Namun sialnya Zico pun malah duduk di sebelah Maura.


Sepanjang film diputar Maura dan Zico terlihat sangat akrab. Beberapa kali Marvin melihat Zico memberikan minuman dan Snack untuk Maura membuat Marvin menjadi meradang.


Selama di dalam gedung bioskop mata dan telinga Marvin di pakai untuk mengawasi dan menguping percakapan antara Maura dengan Zico.


Setelah film selesai mereka pun keluar dari gedung bioskop. Semua tampak sibuk membahas film yang baru saja selesai mereka tonton, hanya Marvin yang tampak tidak tertarik membicarakannya karena pria tampan itu sama sekali tidak menyimak. Marvin sibuk mengawasi Maura dan Zico.


Keluar dari gedung bioskop Zico mengajak mereka makan di sebuah restoran namun Marvin menolak dan mengajak ketiga gadis itu langsung pulang.Akhirnya Mereka pun berpisah dengan Zico di parkiran bioskop.


Marvin seperti biasa langsung mengantarkan Selina dan Silva pulang.


Setelah mengantarkan kedua sepupunya pulang Marvin mengajak Maura mampir di sebuah coffee shop dengan alasan sedang ingin minum kopi karena ngantuk.


"Kalau Om ngantuk aku saja yang nyetir " Maura menawarkan diri.


"Tidak usah..temani Om ngopi saja sebentar biar ngantuknya hilang " Marvin mulai modus.


Maura pun tidak punya pilihan lain selain mengikuti langkah Marvin ketika tangan pria tampan itu menuntunnya memasuki sebuah coffee shop.


Mereka memesan dua kopi dan dua carrot cake.

__ADS_1


"Om..emang kak Nisa tidak marah kalau Om sering ke Bandung ?" tanya Maura.


Hampir setiap weekend Marvin selalu ikut dengan Millie dan Wisnu ke Bandung.


"Tidak " jawab Marvin santai.


"Pasti Om tidak bilang sama kak Nisa kalau mau kesini " tebak Maura.


"Kak Nisa tau kok kalau Om kesini..kalau tidak percaya sekarang Om bel dia ya " Marvin mengambil ponselnya.


"Eeh..jangan !" Maura langsung terlihat panik membuat Marvin terkekeh.


"Kak..Om mau tanya boleh tidak ?" tanya Marvin dengan wajah serius.


"Mau tanya apa ?"


"Kakak sama Zico apakah..pacaran ?" tanya Marvin lirih.


"Tidak Om.." jawab Maura sambil menunduk.


"Kakak jangan bohong sama Om " bujuk Marvin.


Maura cukup Lama terdiam, setelah sekian lama Maura pun kembali membuka suaranya.


jlebbb


Serasa ada benda tajam yang menusuk jantungnya. Marvin menarik napas dalam ketika ada yang tiba-tiba menyesakkan dadanya.


"Kenapa belum jawab ?" tanya Marvin.


"Kakak tidak tau harus jawab apa Om, kakak takut kalau punya pacar nanti akan seperti Om dan kak Nisa..tidak bisa bebas berteman..bahkan sama saudara saja jadi saling menjauh demi saling menjaga perasaan " jawab Maura.


"Tapi kakak suka tidak sama Zico ?" tanya Marvin.


"Suka Om..Zico itu orangnya baik..Zico itu aku anggap sebagai pengganti Om..disaat aku tidak bisa bermanja-manja sama Om seperti dulu Zico lah yang selalu menghibur aku..memberi semangat aku..menemani aku seperti Om Marvin dulu sebelum pacaran sama kak Nisa "


Marvin termangu mendengar isi hati Maura.


"Apakah kakak merasa sedih ketika kita kita tidak bisa dekat seperti dulu ?" Marvin menatap lembut mata Maura.


"Iya " jawab Maura menunduk.


"Tapi aku juga sedih kalau melihat Om bertengkar dengan kak Nisa gara-gara aku " tambah Maura.

__ADS_1


"Ya Tuhan..kakak..jangan selalu menyalahkan diri sendiri " Marvin merengkuh bahu Maura dan memeluknya.


Meski awalnya Maura berusaha menolak pelukan Marvin namun lama-lama Maura pun menikmati kenyamanan itu.


Setelah sekian lama saling berpelukan mereka pun memutuskan untuk pulang karena malam sudah semakin larut.


Maura dan Marvin tidak ingin sampai Millie dan Wisnu khawatir jika mereka pulang terlalu malam.


*


Sejak kepulangannya dari Bandung Marvin terlihat gelisah. Marvin merasa tidak tenang mengingat Zico ternyata sudah menyatakan cintanya kepada Maura.


Kagelisahan Marvin semakin memuncak ketika weekend berikutnya Wisnu dan Millie tidak pergi ke Bandung karena Meysha dan Malik sedang terkena cacar air. Dengan begitu Marvin tidak bisa bertemu Maura Minggu ini.


Di minggu berikutnya Marvin juga absen pergi ke Bandung karena ia harus menemani Papihnya ke Kanada untuk urusan pekerjaan.


Selama dua Minggu tidak bertemu dengan Maura kegelisahan Marvin semakin memuncak. Marvin dilanda ketakutan jika Maura akan menerima cinta Zico.


Sebetulnya Marvin sudah sangat ingin menyatakan perasaannya kepada Maura namun ada banyak hal yang harus Marvin pertimbangkan. Salahsatunya adalah reaksi Maura dan keluarga besarnya.


Selain itu Marvin juga masih punya satu PR lagi yaitu memberitahu keluarganya dan keluarga Nisa jika hubungan mereka telah putus.


Sepulang dari Kanada Marvin dan Nisa mengajak kedua orangtua mereka makan malam bersama di sebuah restoran.


Adam dan Mikha sama sekali tidak curiga. Adam dan Mikha datang ke restoran yang dimaksud bersama Marvin.Disaat yang bersamaan Nisa pun datang bersama kedua orangtuanya.


Diawal pertemuan mereka terlihat biasa saja namun setelah beberapa waktu berlalu ketegangan mulai terlihat ketika Marvin dan Nisa memberitahu kan jika mereka sepakat untuk mengakhiri pertunangan mereka.


"Apa yang membuat kalian nekad mengambil keputusan sebesar ini ?" tanya Adam.


Marvin dan Nisa sekilas saling tatap. Nisa memberi isyarat agar Marvin yang berbicara mewakili mereka berdua.


"Aku dan Nisa belum siap untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan. Selain itu kami merasa jika kami sudah tidak lagi sejalan..oleh sebab kami memutuskan untuk mengakhiri pertunangan ini " ucap Marvin dengan suara tegas dan yakin.


"Jika kalian sudah merasa tidak lagi sejalan memang sebaiknya tidak usah dipaksakan " ujar Papa Nisa.


"Daripada dipaksakan nantinya malah tidak baik " tambahnya.


"Apapun keputusan kalian Papih hargai " ujar Adam akhirnya.


Meskipun kecewa namun Adam dan Mikha berusaha menghargai keputusan Marvin dan Nisa.


Dipenghujung acara makan malam itu Nisa mengembalikan cincin pertunangan mereka kepada Marvin, dan Marvin pun melepas cincin yang sudah hampir dua tahun ini menghias di jari manisnya.

__ADS_1


Tidak ada kemarahan ataupun Isak tangis, baik Marvin maupun Nisa menganggap keputusan yang mereka ambil adalah keputusan yang paling tepat.


__ADS_2